Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Merajuk


__ADS_3

Kenan langsung duduk di sofa. “Hai Mel.. Bagaimana kabarmu?”


Rendi duduk di sebelah Amel. “Kenapa kau menanyakan kabar istriku. Kau tidak melihat wajah bahagia istrku.” Rendi langsung menyela sebelum Amel membuka suara. Dia tidak suka kalau Kenan terlalu akrab dengan istrinya.


Kenan menatap kesal pada Rendi. Dia tahu kalau Rendi masih kesal karena dia mengganggunya. “Aku bertanya pada Amel bukan denganmu!”


Amel tersenyum. “Kabarku baik Kenan,” ucap Amel lembut.


Kenan beralih pada Amel. Dia melihat beberapa tanda merah di lehernya. “Apa kau habis diterkam binatang buas Mel? Kenapa lehermu banyak bekas merahnya?” Amel berusaha untuk mengejek Rendi, tetapi tampaknya tidak berpengaruh sedikitpun padanya. Rendi tampak acuh.


Wajah Amel langsung memerah mendegar perkatan Kenan. Walaupun dia tidak menyebutkan secara gamblang, tetapi dia mengerti maksud dari pertanyaan Kenan. “Apa kau bodoh? Jangan sok polos!” jawab Rendi dengan ketus. “Itu namanya tanda cinta. Bukankah kau sering memberikan tanda seperti itu pada gadis yang kau kencani!” Rendi sengaja membalas ucapan Kenan karena melihat wakah malu Amel.


“Enak saja.. Kau pikir aku laki-laki brengsek!”


“Iyaaa, memang itu kenyataannya,” jawab Rendi acuh.


“Kau ini membuatku kesal saja,” ucap Kenan malas. “Kalian seharusnya menutupi tanda merah di tubuh kalian. Apa kalian tidak kasihan dengan pria single sepertiku?” Amel memang hanya mengenakan baju kaos Rendi yang kebesaran, karena baju miliknya masih ada di kamar satunya. Saat ini dia duduk dengan ditutupi selimut untuk menutupi pahanya.


“Itu salahmu sendiri, kenapa mengganggu pengantin baru seperti kami. Gunakanlah otakmu untuk berpikir, jangan kau gunakan hanya untuk merayu wanita.”


“Apa aku amnesia lagi? Aku jomblo juga karena sibuk menjaga istrimu, sampai aku tidak punya waktu untuk berkencan dengan wanita,” ujar Kenan kesal.


“Maafkan aku Kenan, karena sudah merepotkanmu selama ini!” Amel yang mendengar perkataan Kenan langsung merasa bersalah. Tidak bisa dipungkiri kalau peran Kenan sangat besar dalam mempersatukan hubungan Rendi dan Amel.


“Ini bukan salahmu Mel. Semua ini salah suamimu itu!”


“Jangan banyak bicara, cepat katakan ada apa kau kemari.” Rendi mulai tidak sabar karena Kenan belum juga mengatakan maksud kedatangannya.


“Mel, tolong kau ajari suamimu ini bersikap baik padaku! Aku benar-benar kesal dibuatnya!”


Amel tersenyum sambil melirik ke suaminya yang terlihat acuh, walaupun namanya sudah disebut oleh Kenan. “Maafkan dia Kenan,” ucap Amel tulus.


Rendi langsung menatap kesal pada Kenan. “Kau mau bicara tidak? Kalau tidak lebih baik kau pergi! Apa kau tidak tahu kalau kau itu menggangu kami!”


Amel langsung menepuk paha Rendi. “Kak, jangan begitu!”


“Lihatlah Mel, suamimu itu. Aku takut terkena darah tinggu jika terus berdekatan dengannya!” ucap Kenan dengan tatapan menghunus.

__ADS_1


Dia kemudian beralih pada Amel. “Mel, bisakah kau menghubungi Devan sebentar?” tanya Kenan pelan.


Rendi langsung menatap tidak suka pada Kenan. “Sepertinya kau sudah bosan hidup. Aku mati-matian menjauhkannya dari Amel, tapi kau justru dengan bodohnya meminta Amel untuk menghubungi sainganku itu.”


Kenan menegakkan tubuhnya. “Dengar dulu Ren. Saat pesta pernikahanmu, aku melihat Devan membawa Friska. Saat aku mengikutinya dari belakang, aku tiba-tiba kehilangan jejak mereka,” jelas Kenan cepat.


“Ponsel Friska tidak aktif semejak kejadian itu. Dia bahkan belum pualng sampai saat ini." Kenan tidak sengaja melihat Friska keluar dari ballroom. Kenan memutuskan untuk menyuruh Friska karena di atelrihat sedang tidak sehat. Saat tiba depan ballroom. Dia justru melihat Friskq masuk ke dalam mobil Devan.


Dahi Amel dan Rendi berkerut. “Untuk apa Devan membawa Friska?” Mereka berpikir kalau Devan dan Friska tidak saling mengenal, jadi tidak mungkin kalay Friska pergi dengan Devan.


“Dasar bodoh. Kalau aku tahu untuk apa aku ke sini!” ucap Kenan kesal.


“Kak, tolong ambilkan ponselku di atas nakas?” Rendi mengangguk lalu berjalan ke arah tempat tidur. Dia tahu kalau Amel tidak bisa berjalan saat ini.


Kenan mengikuti pandangan matanya pada langkah Rendi. “Waah, kau memang luar biasa Mel. Kau bisa menjinakkan beruang kutub ini ternyata. Hanya dengan berkata sekali dia langsung menurutimu. Selama ini tidak ada yang bisa menyuruhnya.”


“Jangan bicara omong kosong!” sela Rendi.


Amel mulai menghubungi ponsel Devan. Telponnya masuk tetapi tidak diangkat. Amel mencoba lagi. tetapi tetap sama. Amel menatap Kenan. “Tidak diangkat!”


Kenan menyandarkan tubuhnya. Kenan berusaha memikirkan jalan lain. “Berikan alamat apartemen Devan padaku. Aku sudah ke rumah orang tuanya tetapi tidak ada orang di sana!”


“Aku sudah mencari tahu, tetapi tidak menemukannya.”


“Apa kau yakin Friska masih bersama kak Evans saat ini?” Amel bertanya-tanya apa benar Devan membawa pergi Friska. Selama ini Devan dan Friska tidak dekat. Mereka juga hanya bertemu 1 kali saja. Amel masih meragukan kalau Devan bersama Friska kali ini.


“Aku tidak begitu yakin. Aku hanya ingin memastikan saja. Bukankah kau tahu alamat apartemen Devan yang baru!” Kenan hanya menduganya saja karena orang yang bersama dengan Friska terakhir kali adalah Devan, jadi dia memutuskan untuk bertanya tentang Devan pada Amel.


Amel mengangguk pelan. “Iyaa.” Amel mengetahui alamat baru Devan karena dia sering ke sana bersama dengan kakak Devan.


Amel langsung memberikan alamat beserta nomor ponsel Devan pada Kenan, Setelah mendapatkannya, Kenan langsung pamit pulang.


******


“Sayang apa kau lapar?” Rendi mengelus pipi Amel setelah kepergian Kenan.


Amel mengangguk cepat. “Iyaa kak!” Terakahir kali Amel adalah siang, dia hanya memakan sedikit makanan. Seharian ini dia sangat merasa lelah, jadi dia lebih banyak tidur untuk mengembalikan tenaganya.

__ADS_1


Rendi mengangkat tubuh Amel di atas pangkuannya. Amel duduk menyamping dipangkuan Rendi. “Kau mau makan apa?” Rendi melingkarkan tangan di pinggang Amel sembari merapikan anak rambutnya.


Mata Amel menatap ke langit-langit. “Aku ingin makan berkuah kak, yang pedas.”


Rendi menyadarkan kepalanya di bahu Amel. Dia selalu merasa nyaman jika berada di dekat Amel. “Mau soto, bakso, atau sop?”


Amel mengelus kepala Rendi. “Aku mau bakso kak,” Rendi mengangkat kepalanya dari bahu Amel dan menatapnya.


“Aku akan meminta chef hotel ini untuk membuatkan untukmu!” Amel langsung menggeleng. “Aku ingin bakso yang di pinggir jalan kak.”


“Kenapa tidak makan di restoran hotel ini saja sayang!” Rendi berusaha untuk membujuk Amel. Dia belum pernah merasakan makan bakso di pinggir jalan karena orang tuanya selalu melarang dirinya untuk makan sembarangan.


Amel mengerucutkan bibirnya. “Kalau kakak tidak mau membelikan aku. Aku aja pergi sendiri.” Rendi langsung mencegah Amel yang akan berdiri dari pangkuannya. Baru kali ini melihat Amel merajuk karena makanan. Dia merasa gemas melihat tingkah istrinya.


“Baiklah sayang.. Aku akan pergi membelikannya untukmu.” Amel berdiri dari duduknya. “Aku mau ikut kak!” ucap Amel manja. Amel merasa bosan seharian di kamar hotel. Dia ingin menghirup udara segar di luar.


Rendi ikut berdiri lalu memeluk pinggang istrinya. “Jangan sayang! Kau di sini saja. Aku tidak akan lama.” Rendi tidak ingin Amel ikut karena dia mengkhawatirkan keadaan istrinya. Dia takut kalau Amel akan kesakitan jika dia banyak berjalan.


Amel menggeleng kuat. “Aku ingin ikut dengan kakak! Aku tidak ingin di tinggal sendiri di sini!” Rendi tampak bingung dengan sikap Amel. Sebelumnya dia tidak pernah bersikap manja seperti ini. Amel selalu menyembunyikan perasaanya.


Rendi menatap ragu pada Amel. “Apa sudah tidak sakit lagi? Aku takut kau akan sulit berjalan.” Rendi tidak ingin kalau Amel memakaakan dirinya hanya untuk ikut pergi bersamanya.


“Masih, Aku akan menunggu di mobil saja kak!


Aku bosan kak di kamar terus seharian ini.”


Rendi melepaskan pelukannya. “Baiklah, aku akan pergi mengambil baju untukmu.” Rendi berjalan keluar kamarnya menuju kamar yang digunakan Amel ketika mereka belum resmi menikah. Kamar itu adalah kamar yang digunakan Amel saat dirinya dirias.


Setelah mengambil baju milik Amel, Rendi memberikannya kepada istrinya. “Ganti bajumu dengan pakaian yang tertutup.” Rendi berjalan ke tempat tidur lalu duduk.


Amel mengangguk dan berjalan ke kamar mandi. Dia berjalan kembali setelah mengganti pakaiannya. “Apa kau benar ingin ikut denganku?” Rendi ingin memastikan lagi keinginan Amel. Dia berpikir mungkin saja akan berubah pikiran.


Amel berjalan ke depan Rendi. “Apa kakak tidak suka kalau ikut denganmu? Apa kakak terganggu denganku?” Amel merasa kalau Rendi tidak ingin dia ikut pergi dengannya.


Rendi berdiri dan mengecup pucuk kepala Amel. “Tidak Sayang! Aku hanya takut kau merasakan sakit dan tidak nyaman saat pergi keluar bersamaku.” Rendi merasa hari ini Amel tampak sangat sensitif.


Rendi meraih tangan Amel dan menggenggamnya. “Baiklah, ayoo kita pergi.” Rendi tidak ingin memperpanjang masalah. Dia langsung menarik tangan Amel untuk keluar dari kamarnya. Mereka berjalan bersama keluar dari apartemen.

__ADS_1


“Jangan buru-buru sayang!” ucap Rendi ketika melihat Amel berjalan sedikit cepat. Dia melihat Amel tampak berjalan dengan tidak nyaman. Amel langsung berjalan perlahan setelah mendengar ucapan Rendi “Aku sudah lapar kak!” Rendi tersenyum lalu merangkul pinggang istrinya berjalan menuju mobil.


Mereka menuju bakso langganan Amel yang tidak jauh dari rumah Raka. Setelah makan mereja kembali ke hotel.


__ADS_2