Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kecemburuan Rendi


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang sudah kau lalukan padaku? Kenapa kau terus menggangguku?" Rendi terlihat menampilakn wakah seriusnya. Sudah beberapa hari ini dia selalu memimpikan Amel. Entah itu mimpi entah itu ingatannya yang hilang, dia juga tidak tahu.


Amel yang tidak mengerti maksud dari perkataan Rendi seketika mengeryit. "Aku tidak pernah mengganggu Kakak," jawan Amel dengan wajah bingung.


"Kau selalu berlarian dipikiranku. Apa kau sengaja ingin menyiksaku?"


Amel tersenyum mendengar perjelasan dari Rendi. "Aku mencintaimu, Kak. Tidak mungkin aku menyiksamu."


Jawaban Amel membuat Rendi tersipu. "Kau sengaja menggodaku?"


"Siapa juga yang mau menggoda pria kaku sepertimu," timpal Kenan.


Meskipun dia sibuk dengan pekerjaannya, tetapi diam-diam dia menyimak obtolan Rendi dan Amel.


"Kau menguping pembicaraan kami?" tanya Rendi sambil menoleh pada Kenan dengan wajah kesal.


"Kau kira kupingku ini tidak berfungsi? Kau berbicara di dekatku, tentu saja aki bisa mendengarnya. Kalau kau tidak ingin di dengar oleh orang lain, pergi sana ke tempat yang jauh. Jangan di sini," usir Kenan.


"Kau berani mengusirku?"


Kenan mengehntikan kegiatannya sejenak. "Iyaa. Kau menggangguku konsentrasiku."


"Aku tidak peduli denganmu." Rendi kemudian beralih menatap Amel. "Kita pindah ke sofa. Aku tidak mau ada orang yang menguping pembicaraan kita," sindir Rendi.


Kenan melengos. Karena dia sedang banyak pekerjaan dia tidak menggubris lagi ucapan Rendi. Setelah duduk di sofa, Rendi berkata pada Amel. "Tetap di sini. Aku mau tidur sebentar. Belakangan ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karenamu."


Permintaan Rendi mengingatkan Amel pada masa mereka berpacaran dulu. Rendi selalu minta di temani tidur jika dia sedang berkunjung ke rumahnya.


"Baiklah." Kali ini Amel menuruti permintaan Rendi tanpa membantah sedikitpun. Beruntung pekerjaannya sudah tinggal sedikit dan hampir selesai. Tidak masah baginya kalau harus menemani Rendi tidur sebentar di ruangan Kenan.


Sore harinya, Rendi bersikukuh untuk mengantar Amel karena dia ingin memastikan apakah bebar Amel tinggal bersama Raka.


"Kamu tinggal di mana?" Rendi berpura-pura tidak tahu karena ingin tahu apakah Amel berbohong padanya atau tidak. Mereka neruda berjalan menuju mobil Rendi yang ada di depan kantor.


"Tinggal di rumah Raka. Mungkin Kakak nggak inget dia juga," jelas Amel.


"Kenapa kamu tinggal sama dia? Memangnya dia pacar kamu? Bukannya kau dekat dengan pria yang pernah datang ke kantor waktu itu?"


Amel bingung harus bercerita dari mana. "Ceritanya panjang, Kak." Amel merasa serba salah. Dia tidak bisa menjelaskan secara detail karena akan panjang jadinya nanti.


Rendi dan Amel masuk bersamaan ke dalam Mobil. "Seperti kamu dekat dengan banyak pria, lalu apa motifmu mendekatiku? Apa kau sengaja ingin mempermainkan aku?" Rendi memasang sabuk pengaman sambil meneliti wajah Amel.


"Bukan seperti itu Kak. Aku nggak bisa bercerita sekarang karena waktunya tidak akan cukup."


"Baiklah, aku mengerti." Dengan wajah serius Rendi kembali bertanya, "Sekarang aku tanya, apa alasan hubungan kita berakhir waktu itu?"


Wajah Amel menegang. Dia menelan salivanya tanpa sadar. Bagaimana bisa dia menjelaskan mengenai kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka berdua. Kalau dia menjelaskannya, apakah Rendi akan percaya kalau mereka putus karena salah paham dan apakah Rendi akan memaafkan kesahannya.


Melihat Amel diam. Rendi tersenyum sinis lalu berkata, "Sepertinya dugaanku benar kalau kau yang menghinati dan mencampakkan aku. Aku rasa hubungan kita berakhir karena pria lain dan kini kau merasa menyesal karena sudah salah pilih."


"Itu memang salahku. Aku yang menyebabkan hubungan kita berakhir, tetapi aku tidak pernah menghianatimu, Kak." Amel tertunduk dengan mata berkaca-kaca. Dia berusaha menahan diri agar tidak menangis. Rasa bersalah yang sangat besar kembali dirasakan oleh Amel.


"Tentu saja itu salahmu. Hubungan kita berakhir tidak mungkin berasal dariku. Aku tidak akan pernah mencampakkan wanita yang aku cintai. Alasan kenapa aku bisa melupakanmu karena kau sudah menyakiti hatiku hingga hatiku mati rasa terhadapmu."


Air mata yang sedari tadi ditahan oleh Amel lolos begitu saja. "Maafkan aku, Kak. Aku memang salah. Semuanya salahku. Aku minta maaf."

__ADS_1


Rendi mengerutkan keningnya ketika mendengar suara Amel bergetar. "Mel, angkat kepalamu."


Amel mengusap air matanya lalu mengangkat kepalanya. Melihat mata Amel memerah hati Rendi seketika terasa nyeri. Ada rasa sakit saat melihatnya menangis.


"Maafkan aku. Aku tidak bermasud untuk membuatmu menangis." Rendi memajukan tiubuhnya lalu memeluk Amel.


Rendi melepas sabuk pengaman lalu memajukan tubuhnya. "Maafkan aku. Jangan menangis lagi. Aku tidak bisa melihatmu menangis. Aku tidak akan bertanya lagi. Maafkan aku." Kata-kata itu sama seperti yang pernah Rendi ucapkan saat Amel menangis dulu.


Amel mengusap air matanya lalu melepaskan pelukan Rendi. "Aku akan mengatarkanmu pulang sekarang. Tunjukkan saja jalannya."


Amel mengangguk. Selama dalam perjalanan, Amel nampak diam, begitu pun Rendi. Sesekali, dia hanya melirik ke arah Amel untuk memastikannya tidak akan menangis lagi. Saat melihat air matanya tadi keluar, hatinya langsung terasa sakit.


Sesampainya di depan gerbang rumah Raka, Rendi mengajak Amel berbicara sebelum dia turun. "Jadi kamu tinggal di sini selama ini?" Rendi nampak meneliti sejenak rumah Raka yang ada di depannya.


"Iyaa Kak."


"Apa dulu aku juga pernah ke sini?"


Amel mengangguk. Dia kembali mengingat masa di mana Rendi menunggunya di depan rumah Raka tanpa lelah ketika dia tidak mau menemui Rendi. Seketika air matanya menetes lagi. "Apa aku salah bicara? Kenapa kamu menangis lagi?" Rendi menatap ke arah Amel dengan tatapan bingung dan bersalah.


"Nggak Kak. Aku cuma teringat masa di mana kamu datang ke sini dulu," aku Amel dengan jujur.


Rendi memegang bahu Amel lalu memutar sedikit tubuh Amel agar bisa berhadapan dengannya. "Mel, sejujurnya aku sangat penasaran dengan masa lalu kita berdua. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kita dulu. Apa kamu tidak keberatan kalau aku mencoba untuk mengingatmu kembali?"


Amel terdiam sejenak. Kalau Rendi berniat mengembalikan ingatannya yang dulu, itu berarti dia harus siap untuk dibenci oleh Rendi. Bagaimana pun dulu Amel memperlakukan Rendi dengan buruk setelah dia memutuskan hubungan dengan Rendi. Pastinya Rendi akan membencinya setelah dia ingat semuanya.


"Aku nggak keberatan, tapi jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat kembali ingatan Kakak yang hilang."


"Baiklah. Masuklah. Maaf karena sudah membuatmu menangis tadi." Rendi mengusap kepala Amel dengan lembut. Perlakuan spontan Rendi membuat hatinya terenyuh dan matanya kembali berkaca-kaca. Dia teringat kenangan saat di mana Rendi memperlakukannya dengan sangat lembut.


Dia akhirnya dia memutuskan bangun dari tidurnya dan berjalan keluar dari kamar. Dia mengemudikan mobilnya tanpa tujuan. Ketika melihat rumah besar yang ada di depannya, seketika dia tersadar. Dia sudah berada di depan rumah Raka.


Dia juga tidak mengerti bagaimana bisa dia berakhir di depan rumah Raka saat waktu sudha menunjukkan pukul 1 dini hari.nDia hanya duduk diam di dalam mobilnya sambil memandang rumah Raka, tepatnya ke kamar lantai 2 yang menghadap ke arah jalan sambil memikirkan sesuatu.


Sebuah bayangan melintas tiba-tiba di kepalanya. Bayangan demi bayangan melintas di kepalanya. Rendi mengerjapkan matanya beberapa kali sambil memegang kepalanya yang sakit. Dia meringis menahan sakit yang mendera kepalanya.


Ketika kepalanya tidak sakit lagi, Rendi mulai bertanya-tanya. Bayangan yang sempat melintas di kepalanya, apakah itu adalah ingatannya yang hilang atau itu hanya halusinasinya. Rendi akhirnya memutuskan untuk pulang setelah berada di depan rumah Raka selama satu jam.


*******


Rendi turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di depan kantornya. Saat dia menutup pintu mobilnya, dia melihat Amel baru saja turun dari sebuah mobil di loby di antar oleh seorang pria. Pria itu adalah Devan. Orang yang pernah bertemu dengan dirinya di dekat lift kantornya.


Salah satu sudut bibirnya naik membentuk senyuman sinis di wajah tampannya. Dengan langkah cepat dan wajah acuh tak acuh, Rendi berjalan melewati mereka berdua yang terlihat sedang berbicara.


Saat Rendi lewat, dia menoleh ke arah Devan dan Amel sejenak dengan wajah dingin dan tatapan tajamnya, sementara Devan dan Amel terlihat melirik sekilas pada Rendi. Bahkan Devan dengan sengaja memegang bahu Amel saat Rendi sedang melihat ke arah mereka berdua.


Amel hanya bisa menghela napas melihat tatapan tidak bersahabat dari Rendi. Setelah kepergian Devan, Amel berjalan masuk ke dalam dan sengaja memperlambat jalannya agar dia tidak satu lift dengan Rendi.


Dia hanya takut kalau Rendi akan bersikap letus padanya, seperti waktu pertama kali Rendi bertemu dengan Devan waktu itu di lift kantornya. Rendi terlihat sangat tidak senang dan berkata dengan tajam padanya setelah bertemu dengan Devan di lift.


Melihat Rendi sudah masuk dalam lift, Amel sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain, berharap Rendi lebih dulu baik ke atas, tapi sayangnya, pintu lift tidak juga tertutup, seperti sengaja ditekan agar tetap terbuka.


"Amel." Amel seperti mendengar Rendi memanggil namanya, tapi dia berpura-pura tidak mendengarnya.


"Amelia Putri," panggil Rendi lagi dengan suara keras.

__ADS_1


Seketika Amel beralih menatap Rendi yang terlihat seperti sedang marah. "Cepat masuk."


Ternyata Rendi sengaja menunggunya. Dia menahan pintu lift karena menunggu dia masuk. Padahal Amel sudah sengaja melambatkan langkahnya agar Rendi nik ke atas lebih dulu.


Dengan senyum canggungnya, Amel berjalan cepat masuk ke dalan lift. Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Lift itu adalah lift khusus untuk petinggi di perusahaan jadi tidak sembarang orang bisa naik lift itu. Setelah lift naik ke lantai atas, Rendi berbalik ke belakang, menghadap pada Amel dan berjalan mendekatinya secara perlahan.


"Kamu berpura-pura tidak melihatku. Apa kamu sengaja ingin membuat aku menunggu?"


Amel memundurkan langkahnya hingga tubuhnya membentur dinding lift. Rendi sengaja mendekatkan tubuhnya pada Amel dan memberikan sedikit jarak bagi mereka agar bisa menatap Amel dari dekat.


"Nggak Kak. Aku cuma mau berjalan santai tadi," elak Amel dengan wajah menengang.


Wajah Rendi sangat dekat dengannya dan itu membuatnya gugup dan salah tingkah. Matanya terus bergerak tidak tentu arah menghindari tatapan intens dari Rendi.


"Kau mengobrol dengan kekasihmu begitu lama di depan kantor. Apa kau sengaja ingin membuatku cemburu?"


Tatapan lekat serta hembusan napas halus Rendi yang menerpa wajah Amel dan aroma parfumnya yang tercium lembut di indra penciumannya membuat Amel semakin salah tingkah.


"Nggak Kak. Kakak salah paham." Amel berusaha menjawabnya dengan suara pelan dan lembut agar Rendi tidak bertambah marah.


Sebenarnya dia senang melihat Rendi yang nampak sedang cemburu dengan Devan, itu berarti masih ada rasa cinta yang tersisa untuknya di dalam hati Rendi, meski dia tidak bisa menginngatnya.


Rendi nampak masih kesal. "Saat ada kekasihmu kau mengabaikan aku. Saat dia tidak ada, kau mencoba mendekatiku. Sebenarnya apa alasanmu masuk ke dalam perusahaanku? Kau ingin menunjukkan padaku kalau setelah kita putus kau bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku?"


Sikap cemburu dan posesif Rendi mengingatkan dirinya pada diri Rendi yang dulu. "Kak, Devan bukan kekasihku. Aku juga tidak seperti yang kakak tuduhkan padaku. Kami memang dekat karena ...." Amel belum menyelesaikan ucapannya karena pintu lift terbuka.


Sebelum keluar dari lift, Rendi meraih dagu Amel lalu berkata. "Setelah putus dariku, kau berdekatan dengan banya pria, tapi setelah kedatanganku kembali ke sini, jangan harap kau bisa berhubungan dengan pria lain. Jangan coba-coba memancing kemarahanku dengan sengaja menunjukkan kemesaraanmu dengan pria lain. Kau adalah milikku. Ingat itu." Rendi mengecup singkat bibir Amel kemudian keluar dari lift.


Amel mematung sesaat. Matanya mengerjap tiga kali dengan wajah linglung. Dia tidak menyangka kalau Rendi akan mengecup bibirnya. Amel memegang bibirnya dengan wajah terkejut. Rona merah seketika muncul di wajahnya. Sebelum keluar dari lift, Amel menetralkan perasaannya setelah itu keluar dari lift.


Dia memandang ke sekitar karena takut ada melihat adegan tadi. Dia merasa malu kalau sampai ada yang memergoki mereka berdua. Saat Amel sedang berjalan menuju meja kerjanya, ternyata Bela sudah datang lebih dulu.


"Mel, barusan kak Rendi masuk ke ruangan pak Kenan. Lo nggak naik bareng dia?"


Amel nampak salah tingah saat Bela membahas Rendi. "Iyaaa... Tadi gue lihat dia. Maskudnya gue bareng dia."


Bela memicingkan matanya. "Lo kenapa gugup gitu?" Bela memicingkan matanya. "Jangan-jangan ...." Bela sengaja menggantung ucapannya sambil tersenyum penuh arti pada Amel.


"Apaan sih, Bel. Jangan mikir macem-macem."


Amel duduk dengan cepat duduk di mejanya untuk menghindari tatapan menyelidik dari Bela. Dia berpura-pura sibuk mencari berkas agar Bela tidak curiga padanya.


Siang harinya Amel mendapatkan kiriman bunga dari seseorang. Bunga itu berasal dari salah satu rekan bisnis perusahaan Rendi yang mengangumi Amel. Saat bunga baru saja diterima oleh Amel, Rendi dan Kenan baru saja keluar dari ruangan Kenan untuk makan siang.


"Bunga dari siapa, Mel?" Kenan berhenti sejenak dan menatap bunga besar yang ada di tangan Amel.


Sebelum menjawab, Amel lebih dulu melirik kepada Rendi. "Dari ... dari tuan Aefar," jawab Amel pelan.


"Aefar?" ulang Kenan. Dia sedang mencoba mengingat wajahnya. "Aah, aku baru ingat," ucap Kenan setelah berhasil mengingat orangnya.


"Dia masih sering mengirimkan bunga untukmu?" Kenan memang tahu kalau Aefar menyukai Amel dan sering mengirimkanya bunga.


Wajah Rendi terlihat acuh tak acuh. "Iya Pak. Padahal sudah sering di tolak sama Amel," sahut Bela.


Kenan menyungging sudut bibirnnya. "Sepertinya dia masih belum menyerah padamu, Mel."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2