
“Mel, gimana rasannya jadi Nyonya Rendi?” tanya Lisa penasaran.
“Gue bahagia banget Lis. Gue masih nggak nyangka kalau kak Rendi udah jadi suami gue,” ucap Amel malu-malu.
“Lo harus jaga baik-baik kak Rendi Mel. Pelakor ada di mana-mana, apalagi yang ngantri mau jadi istrinya itu banyak. Kalau dikumpulin semuanya bisa penuh ini Mall,” ucap Bela. Saat masih di SMA hampir semua siswi SMA mereka menyukai Rendi.
“Bener tuh Mel. Justru setelah nikah itu godaannya banyak, Jangan sampai kak Rendi diembat pelakor. Pelakor sekarang pinter-pinter Mel. Mereka main halus,” timpal Olive.
“Tapi gue yakin kak Rendi itu setia,” seru Bela dengan yakin. Dia bisa mengatakan itu, karena dia tahu bagaimana perjuangan Rendi untuk mendapatkan Amel kembali.
“Gue juga yakin, tapi lo tau sendiri, pelakor sekarang bisa ngelakuin apa aja sampe tujuannya tercapai,” seru Olive lagi.
“Gue juga was-was sebenarnya,” ucap Amel pelan. Dia merasa ucapan sahabatnya ada benarnya.
“Udaah, kalian jangan nakut-nakutin Amel. nanti dia jadi kepikiran,” ucap Bela ketika melihat Amel terdiam.
“Gimana kalau kita shopping, besokkan kita bakal pisah,” ajak Bela cepat.
“Oyyaa, kata kak Rendi besok kalian ikut kita aja. Kak Rendi ngajak gue ke Bali, kebetulan kita bawa pesawat jet pribadi.”
“Waahhh mauu Mel. Kapan lagi bisa naik pesawat jet pribadi,” seru Lisa dengan wajah bahagia.
“Enak banget jadi lo Mel. Bikin gue iri aja,” ujar Olive.
“Yaaah, gue juga pengen ikut sebenarnya tapi gue harus kerja,” seru Bela dengan wajah sedih.
“Lo ikut aja Bel, kak Rendi udah bilang ke Kenan untuk ngijinin lo nggak masuk beberapa hari. Kerjaan lu bakalan dihandle sementara sama kak Fadil.”
“Beneran Mel?”
Amel mengangguk. “Iyaa beneran.”
“Asyikkk, makasih Mel,” ucap Bela sambil memeluk Amel sejenak. ”Enak juga punya temen istri yang punya perusahaan.”
“Mel, jadi lo uda nggak kerja lagi dong sekarang?” tanya Lisa.
“Nggak, kak Rendi ngelarang gue kerja.”
“Lo mah nggak usah kerja juga duit ngalir terus,” seru Olive.
“Iyaaa bener. Duitnya nggak berseri,” timpal Bela.
“Udaah ah.. Mendingan kita shooping yuuk,” ajak Amel sambil berdiri. “Kalian bebas mau beli apa aja di mall ini, gue yang bayar.”
“Waaah memang beda kalau udah jadi istri bos ya,” seru Olive.
“Bukan gitu Liv, kak Rendi yang nyuruh gue beliin buat kalian. Dia ngasih kartunya sama gue. Katanya sebagai ucapan terima makasih karena selama ini kalian uda jadi teman yang baik buat gue,” jelas Amel.
Amel pernah menceritakan pada Rendi, kalau dulu temannya sering mentraktirnya makan. Mereka juga sering meminjamkan Amel uang, ketika Amel belum mendapatkan uang kiriman dari ibunya. Sebab itulah Rendi ingin bersikap baik pada temannya. Dia ingin sedikit membalas kebaikan teman-teman Amel, dengan menyuruh Amel untuk mengajak teman-temannya shopping.
__ADS_1
“Kak Rendi benar-benar suami idaman. Uda ganteng, cerdas, baik, setia, tajir, royal pula,” puji Bela.
“Gue juga pengen punya suami kayak kak Rendi,” timpal Olive.
“Udaah yuukk, keburu sore,” ajak Amel sambil menarik tangan Olive. Mereka akhirnya berjalan bersama. Satu persatu toko mereka masuki. Terlihat mereka sudah menenteng beberapa paperbag besar di tangan mereka. Setelah puas berbelanja. Mereka memutuskan untuk makan.
“Mel, tolong sampein ke kak Rendi, makasih atas traktirannya,” ucap Olive ketika mereka sudah selesai makan. Mereka memborong banyak sekali hari ini. Awalnya mereka merasa tidak enak, tapi Amel terus memaksanya.
“Iyaa,” jawab Amel singkat. “Besok kalian ke hotel aja ya! Kita kumpul di sana. Nanti gue kabarin jamnya.”
“Oke.” Jawab mereka serempak.
“Gue pulang duluan ya! Kak Rendi uda mau sampe depan soalnya,” pamit Amel.
“Oke, hati-hati Mel,” ucap mereka.
Amel berjalan ke arah pintu keluar setelah melabaikan tangan pada teman-temannya. Saat tiba di loby mall, Rendi sudah menunggunya. Mobil melaju setelah Amel masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di hotel Rendi dan Amel langsung menuju kamar mereka. Langkah mereka terhenti saat melihat Raka dan Sofi sedang berdiri di depan kamar Sofi. Sofi memang menghubungi Amel terlebih dahulu sebelum menunggu mereka di depan pintu kamarnya.
“Kenapa kalian berdiri di sini?” tanya Rendi heran.
Sofi maju selangkah. “Kak, bisa bicara sebentar nggak?” tanya Sofi hati-hati.
“Ada apa?” Sofi melirik ke Amel sebentar. “Bisa ngomong di kamar Sofi nggak kak!”
Rendi menoleh pada Amel. “Sayang, ke kamarlah duluan! Nanti aku menyusul,” ucap Rendi lembut.
“Iyaa,” ucap Raka singkat.
Sofi membuka kamar, kemudian masuk diikuti oleh Raka dan Sofi di belakangnya.
Rendi duduk berhadapan dengan Sofi dan Raka. Dia menatap Sofi dan Raka bergantian. “Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian bisa datang bersama?”
Raka menoleh pada Sofi. “Sof, tolong tinggalkan kami berdua,” pinta Raka. “Tapii...”
“Aku ingin bicara berdua saja dengan kakakmu. Kau tenang saja, percaya padaku.” Raka langsung memotong ucapan Sofi.
“Kalian ini kenapa? Jangan membuang waktuku. Amel sedang menungguku di kamar,” ucap Rendi tidak sabar.
“Tunggulah di kamar Amel.” Sofi mengangguk lalu berjalan keluar.
Rendi menatap lurus ke Raka. “Katakan ada apa?” Rendi langsung bertanya pada Raka saat pintu sudah tertutup.
“Aku ingin meminta restu padamu. Aku akan melamar adikmu.” Raka langsung mengutarkan niatnya tanpa basa-basi. Dia tahu kalau Rendi lebih menyukai percakapan yang langsung pada intinya.
Rendi terdiam sesaat, dia kemudian menatap Raka dengan wajah serius. “Jangan main-main dengan adikku Raka. Bukankah aku sudah memperingatkan padamu waktu itu. Apa kau lupa?”
“Aku masih ingat. Aku serius dengan adikmu. Sebab itulah aku ingin langsung melamarnya.”
__ADS_1
“Apa Sofi sudah tahu mengenai hal ini?”
“Sudaah.”
“Bukankah dia masih terlibat hubungan dengan Willy? Kenapa dia bisa setuju untuk menjalin hubungan denganmu? Apa yang sudah kau lakukan pada adikku?” Rendi belum tahu kalau hubungan Sofi dan Willy sudah lama berakhir. Sebab itulah dia heran saat adiknya setuju untuk menjalin hubungan dengan Raka
“Mereka sudah lama putus. Kau pasti tidak tahu apa yang sudah hampir bajingan itu lakukan pada adikmu.”
“Kalau begitu ceritakan padaku. Aku ingin mendengarnya.” Raka langsung menceritakan semuanya, mulai dari pertemuan pertamanya dengan Willy sampai akhirnya Sofi dan Raka menjalin hubungan mereka.
“Untung saja dia masih di rumah sakit. Jika tidak aku akan mematahkan kakinya karena sudah berani ingin menyentuh adikku.”
“Kau perlu ikut campur lagi. Aku yang akan mengurusnya, jika dia berani macam-macam lagi dengan Sofi.”
“Baiklah, untuk sementara rahasiakan dari orang tuaku.”
“Oke, tidak masalah.”
“Apa kau yakin mencintai adikku? Bukan hanya pelampiasan karena Amel sudah menikah denganku?” Rendi masih sedikit ragu dengan Raka. Pasalnya kejadiannya tidak lama setelah Amel menikah dengannya.
“Ren, aku sungguh mencintai adikmu, aku baru sadar perasaanku pada Amel, berbeda dengan perasaan cintaku pada adikmu,” ucap Raka tenang.
“Apa kau pernah melihatku mempermainkan wanita selama ini? Kau bisa menghajarku hingga babak belu kalau sampai aku hanya mempermainkan adikmu,” ucap Raka meyakinkan. “Bukankah kau pernah bilang, kalau kau akan setuju, jika aku bisa meluluhkan hati adikmu?”
“Baiklah aku akan memberikan kesempatan padamu untuk membuktikan keseriusanmu pada adikku. Ini tidak akan mudah Raka, orang tuaku memiliki hubungan baik dengan orang tua Willy. Kau harus berjuang keras untuk mendapatkan restu kedua orang tuaku.”
“Tidak masalah. Aku akan berusaha meyakinkan orang tuamu, yang terpenting saat ini, kau merestui hubungan kami. Aku akan langsung melamar adikmu setelah mendapatkan restu dari orang tuanmu.”
Rendi menyungingkan bibirnya. “Apa kau tidak merasa seperti mengalami De Javu?” tanya Rendi dengan alis terangkat satu. “Dulu, aku yang meminta restu padamu sebagai kakak dari Amel. Sekarang kau meminta restu padaku sebagai kakak dari Sofi.”
“Yaa, kita memang tidak bisa menebak apa yang terjadi di masa depan. Aku hanya berharap hubungan kita jadi lebih baik seperti yang kau ucapkan waktu itu padaku.”
Rendi mengangguk. “Selagi kau tidak menyakiti adikku, hubungan kita akan tetap baik.”
“Tentu saja. tapi, kau juga harus ingat Ren! Kau juga tidak boleh menyakiti Amel.”
“Baiklah, kita pegang janji masing-masing!” Rendi berdiri. “Kalu sudah tidak ada yang ingin kau katakan. Aku akan kembali ke kamarku.”
“Baiklah.” Raka juga berdiri. “Oyaa, besok aku dan keluargaku akan ke Bali, kau bisa ikut jika kau mempunyai waktu,” ucap Rendi sebelum melangkah.
“Aku akan mengabari Amel jika aku bisa ikut. Aku ingin melihat agendaku dulu.”
“Baiklah.” Rendi berjalan keluar menuju kamarnya.
Bersambung..
Kunjungi Novel Author yang lainnya.
__ADS_1