
Rendi tersenyum saat mendengar nada curiga dari Amel. “Bukan sayang, tapi dengan keluargaku,” ucap Rendi sambil membelai wajah Amel.
“Lalu, kakak kemana saja waktu itu dengannya?”
“Hanya berjalan-jalan saja sayang. Kami tidak memesan Vila saat itu.” Rendi merasa kalau Amel sedang cemburu saat ini.
“Benarkah..??” Amel masih merasa tidak percaya dengan perkataan suaminya.
“Iyaa sayang, untuk apa aku berbohong padamu.”
“Tapi, kenapa kakak pulang hingga larut malam saat itu? Apa saja yang kakak lakukan dengannya?”
“Kami hanya berbicara dan mengenang masalalu sayang. Kami tidak melakukan apa-apa.” Sepertinya Amel tidak berniat untuk segera mengakhiri percakapan mengenai Friska.
“Kakak bisa saja berbohong padaku.”
Rendi menghadapkan wajah Amel padanya. “Aku tidak pernah mencium ataupun menyentuh wanita lain selain dirimu Mel. Apa kau belum tahu juga sebesar apa aku mencintaimu?”
“Tidak tahu.” Amel mengalihkan pandangannya.
“Aku tidak pernah mengijinkan siapapun menyentuh tubuhku Mel. Aku selalu menjaga jarak dengan wanita lain dari dulu.”
“Tapi bukankah kakak pernah bertunangan dengan Friska? Tidak mungkin kalau kalian tidak pernah melakukan apa-apa.”
“Dia memang beberapa kali ingin menciumku, tetapi aku selalu menolaknya. Tanya saja pada kakak Bianca. Friska sering bercerita dengan kak Bianca dulu.”
“Kenapa kakak tidak mau? Bukankah kalian sudah bertunangan?”
Rendi langsung mengangkat tubuh Amel. “Mau ke mana kak?” tanya Amel ketika Rendi berjalan menuju kamar.
Rendi menurunkan Amel perlahan di tempat tidur. Dia kemudian menatap Amel yang sudah berada di bawahnya. “Tubuhku hanya milikmu. Aku tidak ingin ada orang lain yang menyentuhnya.” Rendi langsung meluma*t bibir Amel penuh kelembutan. Rendi menghisap dan mulai membelit lidah Amel.
Amel yang awalnya hanya diam mulai membalas ciuman Rendi. Perlahan Rendi melepaskan ciumannya. “Istirahatlah sayang. Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya mencintaimu. Selamanya akan tetapi begitu.” Rendi merebahkan tubuhnya di samping Amel sambil membelai wajah istrinya.
“Kak, bagaiman kalau sore nanti kita jalan ke pantai?” Amel sudah lama sekali tidak pernah pergi berlibur ke pantai. Waktunya dia habiskan untuk bekerja.
“Besok saja sayang. Hari ini kita beristirahat di Vila saja.”
Amel menampilkan wajah cemberutnya. “Kalau kakak tidak mau, aku akan pergi sendiri,” ancam Amel.
“Jangan sayang. Aku akan menemanimu, tetapi kita istirahat dulu. Sore nanti kita baru keluar, bagaimana?” usul Rendi.
Amel langsung tersenyum. “Baiklah.” Amel juga merasa sedikit lelah, saat di pesawat dia tidak tidur. Melainkan hanya berbaring sambil menonton televisi.
“Tidurlah dulu.” Rendi bangun dari tidurnya. “Kakak mau ke mana?” Amel memegang tangan Rendi saat melihat dia akan melangkah turun dari tempat tidur.
“Aku mau keluar sebentar, Sayang. Barang-barang kita masih di ruang tamu. Aku akan mengambilnya.”
“Nanti saja kak. Aku tidak mau sendirian,” ucap Amel manja.
“Cuma sebentar sayang. Tidak akan lama!”
“Ya sudah pergi sana, jangan ke sini lagi.” Rendi langsung merebahkan tubuhnya di samping Amel melihat wajah kesal Amel.
Rendi kemudian memeluk tubuh istrinya. “Baiklah, aku tidak akan pergi. Tidurlah!”
__ADS_1
Amel membenamkan wajahnya di dada suaminya sambil tersenyum. “Kenapa kau manja sekali sekarang? Apa jangan-jangan kau hamil?”
Amel langsung memukul dada Rendi. “Tidak mungkin kak, kita kan baru saja menikah. Tidak mungkin aku langsung hamil.” Amel merasa pikiran Rendi hanya mengada-ada.
“Benihku adalah bibit unggul. Tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Kau pasti akan cepat hamil.”
“Kakak mau punya anak berapa nanti?”
“Bagaimana kalau 5,” usul Rendi.
Mata Amel terbelalak. “Banyak sekali.”
“Kalau begitu 8 saja.”
Amel merasa gemas dengan suaminya. “Genapkan 10 saja sekalian, Kak,” gurau Amel.
“Baiklah, kalau begitu. Agar rumah kita menjadi lebih ramai.”
“Kaak, kau kira aku kucing yang bisa melahirkan banyak anak sekaligus.”
“Kau bukan kucing sayang, tetapi bidadari,” gombal Rendi.
“Mulutmu manis sekali, Kak. Apa dulu kau terbiasa merayu wanita?”
Rendi mencium singkat bibir Amel. “Aku hanya mencintaimu, Sayang, jangan berpikir macam-macam.”
“Aku harap anak kita nanti mirip denganmu, Kak.”
Dahi Rendi mengerut. “Kenapa?”
“Aku tidak mau anakku mirip Sofi, akan lebih baik kalau mirip denganmu.”
Amel cemberut. “Bibitku tidak bagus, Kak.”
Rendi menangkup wajah Amel. “Kata siapa tidak bagus, buktinya banyak laki-laki yang menyukaimu.”
“Tidak banyak Kak, hanya kak Evans saja.”
“Jangan menyebut namanya. Aku tidak mau kau terus mengingatnya.”
Rendi masih merasa trauma terhadap Devan. Hampir saja dia menikahi Amel. Kejadian saat Devan membawa Amel membekas di benaknya. Bayangan akan kehilangan Amel selama-lamanya terus berputar saat mendengar nama Devan.
Amel membalas pelukan Rendi. “Aku mengantuk, Kak.”
Rendi mencuim pucuk kepala Amel. “Tidurlah sayang.”
*****
Sofi sedang berjalan keluar dari Vilanya sendirian. Dia merasa bosan karena tidak memiliki teman untuk mengobrol. Rendi menyuruhnya untuk satu Vila dengan orang tua mereka. Akhirnya Sofi memutuskan untuk pergi ke pinggir pantai. Dia duduk di hamparan pasir putih sambil menatap lurus ke depan.
“Nona, apakah saya boleh duduk di sini?” Sofi langsung menoleh ketika mendengar suara berat dari belakangnya. “Mikee...?” Sofi langsung berdiri dan secara reflek langsung memeluk Mike.
“Maaf Mike.” Sofi melepaskan pelukannya saat menyadari kalau dia sedang memeluk tubuh Mike.
“Tida apa-apa,” ucap Mike sambil tersenyum. “Aku kira kau sudah lupa denganku?”
__ADS_1
Mike adalah teman SMA Sofi. Mereka sangat dekat ketika masih duduk di bangku SMA. Komunikasi mereka terputus semenjak kepergiannya ke Amerika untuk pengobatan Rendi. Sofi kehilangan ponselnya saat berada di toilet Bandara.
“Bagaimana kabarmu?” Sofi kembali duduk diikuti oleh Mike di sampingnya.
“Baik. Kau ke mana saja? Ponselmu kenapa tidak bisa dihubungi?”
Sofi menoleh pada Mike. “Ponselku hilang Mike, jadi aku tidak bisa menghubungimu.”
“Aku dengar dari penjaga rumahmu, kau pindah ke Jerman?”
“Iyaaa.”
“Lalu kenapa kau bisa ada di sini?”
“Aku akan tinggal di sini mulai sekarang!”
“Benarkah??” tanya Mike dengan wajah senang.
“Iyaaa, aku tidak ingin kembali lagi ke Jerman.”
Mike menyodorkan ponselnya. “Berikan nomor ponselmu!”
Sofi langsung meraih ponsel Mike lalu mengetikkan nomornya. “Aku sudah menyimpannya.” Sofi memberikan lagi ponsel Mike.
“Terima kasih.”
“Kau sedang apa di sini?”
“Aku sedang liburan bersama dengan keluargaku. Kakakku baru saja menikah. Sekalian menemaninya berbulan madu di sini.”
“Jadi, kau menginap di sini berapa lama?”
“Sekitar 5 hari.”
“Bisakah kita bertemu lagi besok. Aku harus pergi sekarang.”
“Tentu saja. Hubungi saja aku besok. Aku juga tidak mempunyai teman di sini.”
Mike berdiri bersamaan dengan Sofi. “Kalau begitu aku pergi dulu.”
“Iyaaa.”
Sofi duduk kembali setelah kepergian Mike. “Jadi begini kelakuanmu saat aku tidak ada. Bermesraan dengan laki-laki lain!” Sofi terperajat saat melihat Raka sedang menatap marah padanya.
Sofi langsung menghampiri Raka. “Kau salah paham. Dia adalah temanku. Kamu tidak memiliki hubungan apa-apa Raka.”
“Jadi, kau selalu memeluk semua teman priamu secara bebas?”
“Aku refleks Raka, aku hanya senang karena bisa bertemu dengannya lagi. Dia adalah teman baikku saat sekolah dulu.”
Raka berjalan meninggalkan Sofi. Dia merasa sangat kesal saat ini. Dia berniat memberikan kejutan kepada Sofi dengan tidak memberitahukan pada Sofi tentang rencananya menyusul ke Bali. Dia berusaha menyelesiakan semua pekerjaannya agar bisa berlibur dengan kekasihnya, tetapi justru dia melihat Sofi sedang memeluk laki-laki lain sambil tersenyum bahagia.
“Raka Tunggu!” Sofi berusaha menyusul langkah Raka. "Kau salah paham," teriak Sofi.
Bersambung...
__ADS_1