
Berbagai macam pertanyaan munculan dipikirinnya. Melihat Amel diam saja, Rendi pun berkata, "Kamu nggak mau ya?" tanya Rendi sambil menatap Amel.
Amel yang tersadar lalu berkata, "Bukan gitu Kak. Amel enggak enak kalau tiba-tiba dateng ke acara ulang tahun mama Kakak. Amel kan enggak kenal sama keluarga Kak Rendi."
Rendi terseyum. "Nanti aku kenalin," jawab Rendi enteng.
"Tapi...." Amel tampak ragu.
"Pasti Friska sudah cerita sama mama soal hubungan kita, jadi kamu harus ikut."
"Maksud Kakak cewek yang ketemu kita di toko kue tadi?" tanya Amel penasaran.
"Hhmmm," gumam Rendi.
Jadi namanya Friska.
"Kalau Amel datang, takutnya malah nambah masalah Kak," kata Amel lagi.
"Aku bakal kenalin kamu sebagai pacar aku, mama nggak bakal marah," ujar Rendi.
Amel terkejut dengan perkataan Rendi. Dadanya berdebar kencang mendengar perkataan Rendi. Dia kemudian berkata, "Tapi, kita kan enggak pacaran Kak."
"Kita akan pura-pura pacaran," ucap Rendi.
Amel kembali syok. Hari ini banyak kejadian yang membuatnya terkejut. Lama-lama Amel merasa bisa sakit jantung kalau begini ini.
"Tapi kenapa harus Amel?" Amel menatap heran Rendi.
"Karena tadi gue uda terlanjur bilang sama Friska kalau lo pacar gue," jelas Rendi.
"Lagian Kakak kenapa bohong?" ujar Amel.
Rendi terdiam, dia tidak menjawab seperti sedang memikirkan sesuatu.
Amel yang melihat ekspresi Rendi yang berubah, kemudian berkata, "Kok diem, Kak?"
Rendi tak mau menjelaskan alasannya apa, dia hanya berkata, "Cuma lo yang bisa nolongin gue."
Sebenarnya Amel sangat senang saat ini, walaupun Rendi memintanya hanya pura-para pacaran, tapi itu sudah cukup membuat Amel bahagia, apalagi selama ini sangat sulit mendekati Rendi.
"Okee, Amel akan bantu Lakak," ucap Amel setuju.
Rendi yang mendengar hal itu langsung senang. "Makasih Mel. Aku pulang dulu, nanti aku jemput kamu jam tujuh malem. Eggak usah bawa apa-apa, kamu tinggal bawa badannya," jelas Rendi lagi.
Amel mengangguk. "Iyaa Kak, Amel masuk dulu, Kakak hati-hati di jalan," ucap Amel sebelum berjalan masuk ke dalam kosnya.
"Iyaa," ucap Rendi lalu berjalan meninggalkan kos Amel dan mencari taksi untuk pulang.
__ADS_1
*********
Amel sedang duduk di meja belajarnya, menunggu kedatangan Rendi. Dia sudah siap sedari tadi. Amel nampak gugup memikirkan akan bertemu dengan keluarga Rendi, walaupun ini cuma pura-pura tetap saja membuat Amel ketar-ketir.
Apa nanti tanggapan keluarga Rendi jika melihat dirinya. Amel merasa minder dengan dirinya sendiri. Penampilannya sangat sederhana, memakai dress selutut warna tosca dan rambutmya dibiarkan tergerai.
Amel duduk dengan gelisah, tangannya terus berkeringat. Saat terdengar suara klakson mobil di depan, Amel segera keluar dari kosnya.
Amel melihat sudah ada mobil sedan mewah warna hitam yang terparkir di depan kosnya. Tidak lama kemudian pintu depan terbuka dan Rendi keluar dari mobil sambil tersenyum kepada Amel.
Amel dibuat terkejut dengan penampilan Rendi yang sangat tampan, memakai kaos putih polos dengan blazer kasual hitam model slim fit dan celana jeans hitam.
Amel berdiri mematung dan menatap Rendi dengan kagum. Rendi yang melihat Amel diam saja, kemudian melangkah ke tempat Amel berdiri.
"Mel, uda siap?" tanya Rendi membuyarkan lamunan Amel.
"Udaah Kak," jawab Amel singkat.
"Ayok kita berangkat," ajak Rendi sambil berjalan menuju mobil. Setelah mereka masuk, mobil kemudian melaju.
Amel hanya diam, sesekali melirik pada Rendi yang sedang menyetir. Rendi yang sedang fokus melihat ke depan terlihat sangat keren. Rendi tiba-tiba menoleh pada Amel. "Kamu uda makan?" tanya Rendi.
"Belum Kak," jawab Amel.
"Kenapa enggak makan dulu?" tanya Rendi lagi.
"Lagi nggak selera makan, Kak," jawab Amel.
"Kamu sakit?" Rendi spontan menoleh pada Amel dengan wajah cemas.
"Nggak Kak, Amel cuma gugup aja."
"Nggak usah gugup, kita cuma pura-pura. Santai aja," ucap Rendi menenangkan, "orang tua aku baik kok," sambung Rendi lagi.
"Iyaa Kak. Harusnya tadi Amel bawa sesuatu untuk mama Kakak," ucap Amel.
"Tenang aja, uda aku siapin, ada di kursi belakang nanti kamu tinggal kasih ke mama."
Mobil nampak berhenti di depan butik langganan keluarga Rendi, lalu mereka turun.
"Kita mau ngapain?" tanya Amel.
"Rahasia," jawab Rendi singkat.
"Ayoook masuk," ajak Rendi kepada Amel.
Amel mengangguk dan mengikuti Rendi.
__ADS_1
"Selamat malam mas Rendi," sapa pegawai butik itu.
Rendi hanya mengangguk. "Tolong carikan dress model terkini yang cocok untuk pacar saya," ujar Rendi kepada pegawai itu.
Amel spontan menoleh ke Rendi, dia kaget mendengar ucapan Rendi.
Pacar?? Bolehkah aku berharap lebih?
"Baik, mari ikut saya, Nona," ajak pegawai itu.
Amel hanya mengikuti pegawai itu dan kembali lagi dengan membawa beberapa baju untuk ditunjukkan kepada Rendi.
"Kak, ini bajunya." Amel menunjukkan dua gaun berwarna putih dan maroon kepada Rendi.
"Menurut aku bagusan yang warna putih itu," tunjuk Rendi pada baju yang dia maksud.
"Ya udah, aku coba dulu," ucap Amel berjalan masuk ke ruang ganti.
Rendi menoleh pada pegawai yang sedang berdiri. "Mba, tolong sekalian dirias."
"Baik, Mas," jawab pegawai itu. Dia kemudian mengikuti Amel.
Butik tersebut melayani jasa makeup sehingga tidak perlu repot mencari salon jadi bisa menghemat waktu. Pertama Amel dirias dulu, kemudian rambutnya dibuat bergelombang dengan model perm korea/natural curls. Setelah itu, Amel masuk ke ruangan ganti. Tidak lama kemudian, Amel keluar dari ruangan ganti. Berjalan ke arah Rendi dengan langkah pelan.
Rendi sedang duduk di sofa sambil bermain ponsel menunggu Amel selesai dandan. Dia tak menyadari kalau Amel sudah berdiri tidak jauh dari tempat duduknya. Melihat Rendi terlihat fokus pada ponselnya, kemudian Amel memanggil Rendi.
"Kak Rendi," panggil Amel.
Saat Rendi mengangkat kepalanya. Dia terlihat tertegun, matanya menatap Amel dengan tatapan terpesona. Rendi menatap tak berkedip ke arah Amel untuk beberapa detik. Terlihat jelas kalau Rendi terpana melihat kecantikan Amel.
Amel mengenakan dress putih selutut tanpa lengan, dengan hiasan mutiara di bagian dadanya. Malam ini, Amel terlihat sangat anggun dan cantik, walaupun aslinya sudah cantik.
"Kok diem Kak, jelek ya?" tanya Amel sambil menunduk malu.
Rendi kemudian tersadar langsung berkata, "Nggak kok, itu cocok sama kamu," ucap Rendi sambil berdiri.
"Ayok nanti kita telat," ajak Rendi.
Amel mengangguk, mengikuti Rendi dari belakang.
Mereka sudah ada di dalam mobil lalu mobil melaju ke tempat acara diadakan.
Setelah beberapa menit, mereka akhirnya sampai di De Glace Hotel. Mereka turun dari mobil, dan berjalan menuju ballroom hotel tersebut tampat acara diadakan.
Bersambung...
Visual Friska
__ADS_1