
Amel tersenyum paksa. "Sebenarnya...."
Saat Amel berniat untuk menceritakan semuanya pada ketiga temannya, bel sekolah berbunti tanda pelajaran akan segera di mulai. Amel menelan kembali apa yang tadi akan keluarkan dari mulutnya.
Pulang sekolah Amel langsung meluncur ke rumah Rendi sesuai permintaan Rendi tadi pagi. Dia juga sudah memiliki janji dengan Sofi untuk menonton bersama di bioskop mini yang ada di rumah Rendi.
"Rendinya ada di mana, Bi?" Amel berjalan masuk ke dalam rumah setelah bi Minah membuka pintu. "Ada di kamarnya, Non."
Amel mengangguk. "Kalau tante Lilian di mana?"
"Nyonya lagi keluar Non," jawab Bi Minah, "Den Rendi bilang, Non Amel bisa langsung ke kamarnya kalau sudah datang."
Selesai berpamitan pada bi Minah Amel melangkah menuju kamar Rendi. Amel mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kamar Rendi. Saat dia masuk, Rendi ternyata sedang tertidur.
Amel memutuskan duduk di kamar Rendi sambil memainkan ponselnya, tidak lama kemudian terdengar suara ponsel bergetar. Awalnya Amel mengabaikanya karena dia tahu itu pasti ponsel Rendi yang bergetar.
Ternyata ponsel Rendi terus bergetar tanpa henti sehingga membuat Amel menjadi penasaran. Dia mencari sumber suara dan melihat ponsel Rendi ada di atas nakas. Amel tidak bisa melihat siapa yang menelpon karena jaraknya cukup jauh.
Amel memutuskan untuk siapa yang terus menelpon Rendi. Terlihat nama yang memanggil. "Ellenia is calling"
Amel memandang nama yang tertera di layar ponsel Rendi. Saat panggilan berakhir terlihat di layar 15 panggilan tak terjawab, setelah itu bunyi pesan masuk.
Siapa Ellenia? Apa dia gadis yang selama ini Rendi sukai?
Sebuah tanda tanya besar ada di kepalanya. Pasti ada yang penting sampai orang tersebut menelpon Rendi berkali-kali. Ada rasa cemburu saat melihat ada perempuan lain menghubungi ponsel Rendi.
Amel kemudian kembali ke tempat duduknya dengan pikiran kalut. Nama Ellenia mengganggu pikiran Amel. Tanpa sadar dia melamun. Setengah kemudian, Rendi terbangun.
"Kamu uda lama di sini?" Rendi bangun tidurnya setelah melihat Amel yang sedang duduk di dekat jendela kamarnya.
Amel menoleh. "Nggak," jawab Amel kemudian membalik setengah tubuhnya ke arah Rendi. "Kakak habis begadang?"
Rendi menganguk. "Nggak bisa tidur soalnya."
Amel kembali menatap ke arah luar jendela. "Kalau nggak bisa tidur biasanya Kakak ngapain?" Rendi pernah menceritakan pada Amel kalau dirinya sering mengalami insomnia.
"Baca buku kalau nggak main hanphone."
Apa mungkin dia sering telponan dengan cewek lain kalau dia nggak bisa tidur?"
"Oohh." Rendi mengertukan keninganya saat melihat sikap Amel aneh.
"Kenapa?" Rendi menghampiri Amel dan berdiri tepat di depannya.
"Nggak apa-apa."
"Aku laper, ayo kita makan." Rendi menarik tangan Amel menuju ruang makan. Ternyata di sana sudah ada Sofi juga yang baru saja pulang sekolah.
__ADS_1
"Kak Amel, hari ini jadi nggak nonton filmnya?" tanya Sofi di sela-sela makannya.
"Amel ke sini bukan untuk nemenin kamu nonton, tapi buat nemenin kakak," sahut Rendi dengan ketus.
Sofi menaikkan bibir atasnya sebelah. "Apaan sih Kak! Sofi uda janjin sama Kak Amel juga dari kemarin," kata Sofi dengam wajah sebal.
Amel menoleh pada Rendi yang sedang menikmati makan siangnya dengan wajah ncuh tak acuh. "Kak, Amel pengen nonton. Gimana kalau Kakak ikut kita nontoj juga," usul Amel dengan wajah sumringah.
"Aku males nonton sama Sofi, dia berisik."
Sofi langsung melayangkan tatapan menusuk pada kakaknya. "Sofi juga males nonton sama Kakak. Mendingan juga nonton berdua sama kak Kenan," sahut Sofi tak mau kalah
Rendi nampak masih acuh tak acuh. "Ya udah nonton sama Kenan aja sana!"
Sofi kemudian menoleh pada Amel. "Kak Amel, kapan-kapan kita nonton di bioskop yuk, ajak kak Kenan juga. Kak Kenan seru orangnya, nggak kaku kayak kak Rendi."
Rendi meletakkan sendoknya lalu menatap tajam adiknya. "Nggak boleh. Kakak nggak ijinin dia pergi, apalagi kalau ada Kenan." Rendi bisa merasakan ketertarikan dari mata Kenan saat pertama kali bertemu dengan Amel di pesta ulang tahun ibunya.
"Idiiiih posesif banget. Kalau Sofi jadi Kak Amel, nggak bakal mau Sofi pacaran sama Kakak," ujar Sofi dengan wajah kesal.
"Tapi sayangnya kamu bukan Amel, jadi Kakak nggak peduli." Rendi kembali melanjutkan makanannya dengan wajah acuh tak acuh.
Selesai makan, mereka ke lantai 3 tempat di mana biokop mini mereka berada. Rendi akhirnya setuju untuk ikut menonton dengan Amel dan adiknya seteha dibujuk oleh Amel beberapa kali.
"Kamu duduk sama aku." Rendi menarik tangan Amel yang sedang berdiri dekatnya agar duduk di sebelahnya. Rendi memilih tempat duduk paling atas yang berada di tengah.
"Terus Sofi gimana?" tanya Rendi ketika melihat Sofi duduk di kursi barisan tepat di bawah mereka.
Sofi kemudian menoleh ke belakang. "Sofi juga males duduk dekat Kakak." Sofi membalik tubuhnya dengan kasar setelah menatap tidak sedang pada kakaknya.
Film yang mereka nonton adalah film horor, selama film di putar, sudah tidak terhitung berapa kali Sofi berteriak kencang dan itu membuat Rendi kesal. Itah sebabnya Rendi tidak suka nonton bersama Sofi karena dia selalu berisik saat menonton film terutama film horor.
Padahal Rendi sudah sering mengatakan pada adiknya untuk menonton film lain kalau dia takut film horor, tetapi ditolak oleh Sofi karena dia mengatakan kalau dia penasaran dengan film horor dan ingin melatuh dirinya agar menjadi penakut.
Amel yang sama takutnya dengan Sofi tidak berteriak histeris seperti Sofi, tetapi justru menyembunyikan wajahnya di bahu Rendi ketika ada adegan menegangkan dan hal itu membuat Rendi senang. Apalagi Amel selalu memegang lengannya dengan erat saat Amel ketakutan.
Rendi menoleh ke samping kiri saat melihat Amel menyembunyikan wajahnya di bahunya karena takut. Dia tersenyum lalu mencium pucuk kepala Amel dan seketika membuar Amel mengangkat kepalanya sehingga mereka bertatapan dalam jarak dekat.
"Kalau kamu takut, kita ganti aja filmnya." Rendi akhirnya membuka suaranya setelah beratatapan dengan Amel selama 5 detik.
"Nggak usah Kak, ini aja. Filmnya bagus, cuma agak serem sedikit."
Amel kembali menatap layar depan tanpa melepaskan tangannya dari lengan Rendi. Selama film di putar, Rendi hanya fokus pada Amel, tidak sekalipun dia memperhatikan filmnya. dia bahkan tidak tahu jalan cerita film tersebut.
Mereka baru selesai menonton setelah pukul 4 sore. Amel ke kamar Sofi sedangkan Rendi belajar di ruang kerja ayahnya. Dia mengejar ketinggalannya setelah tidak masuk selama beberapa hari. Rendi sudah berpesan pada Amel untuk beristirahat di kamarnya kalau dia lelah.
Saat Sofi akan mandi, Amel juga memutuskan untuk mandi di kamar Rendi karena badannya lengket. Amel sengaja mandi di kamar Rendi karena Rendin sedang tidak ada di kamarnya. Selisai mandi, Amel mengeringkan rambutnya yang masih basah sambil menunggu kesatangan Rendi.
__ADS_1
Karena merasa bosan, Amel berjalan keluar menuju balkon kamar Rendi. Terlihat pemandangan yang memanjakan mata. Taman yang dipenuhi bunga warna-warni cantik yang sedang bermekaran.
Amel duduk di kursi sambil menikmati minuman dingin yang dia ambil di kulkas kecil yang ada di kamar Rendi. Amel memejamkan matanya sebentar, merasakan hembusan angin lembut menerpa wajahnya.
"Kamu sedang apa?" Terdengar suara Rendi sari arah belakang.
Amel menoleh dan Rendi sedang berdiri sambil menyipitkan matanya dan tangannya menghalau cahaya yang mengenai wajahnya. "Lagi menikmati udara sore sambil melihat bunga-bunga itu," tunjuk Amel ke arah taman.
Rendi yang melihat rambut Amel tergerai dan wangi tubuhnya menyeruak masuk ke hidungnya, seketika bertanya, "Kamu habis mandi?" Rendi berjalan mendekati Amel.
Amel tersenyum. "Iyaa, maaf Kak, Amel nggak ijin dulu."
Rendi kemudian duduk di samping Amel. "Hal seperti itu kamu nggak perlu ijin sama aku." Rendi memandang ke taman dengan santai.
Suasana hening, Amel tiba-tiba teringat sesuatu. "Tadi ada yang menelpon Kakak. Ada 15 panggilan tidak terjawab dan ada pesan juga."
"Siapa yang menelpon?" tanya Rendi.
"Ellenia." Amel melirik ke arah Rendi untuk melihat reaksinya.
"Kenapa nggak kamu angkat?" Amel melijat Rendi nampak tetap tenang.
"Emangnya boleh kalau Amel yang angkat telponnya?"
"Hhhmmm," gumam Rendi sambil mengangguk pelan tanpa menoleh ke Amel.
"Kakak nggak marah?" tanya Amel penasaran.
"Nggak."
"Apa Kakak nggak takut kalau aku bicara aneh-aneh nantinya?"
"Itu terserah kamu."
"Gimana kalau yang nelpon orang yang Kakak sukai atau pacar Kakak?"
Rendi tersenyum geli mendengar pertanyaan konyol Amel. "Pacarku ada di sini, nggak mungkin kamu menelpon dirimu sendiri, 'kan?" Rendi tertawa kecil.
Amel menampilkan wajah cemberut. "Aku serius Kak, nggak lagi bercanda."
"Aku juga serius. Kamu boleh angkat kalau ada yang menelpon ke handphone aku, terlebih saat aku sedang nggam ada atau lagi tidur," jelas Rendi.
"Benaran Kakak nggak akan marah kalau aku ngangkat telponnya?"
Amel nampak bersemangat tanpa sadar dia mendekatkan wajahnya menatap wajah Rendi. Amel sudah berpikir yang tidak-tidak setelah melihat ada panggilan telpon dari Ellenia, nyatanya, Rendi nampak biasa saja dan justru memperbolehkan dirinya untuk menjawab telpon dari ponselnya.
Tentu saja hal itu membuat Amel senang. Sikap Rendi yang seperti itu membuat Amel tidak menaruh curiga lagi pada Rendi. Amel justru merasa kalau Rendi memperlakukannya sama seperti pacar sungguhannya.
__ADS_1
Rendi mendorong dahi Amel dengan jari telunjuknya ketika melihat wajah Amel berada di dekat wajahnya. "Jauhkan wajahmu itu. Jangan terlalu dekat. Apa kamu mau aku cium lagi?"
Bersambung...