
Devan dan Friska baru saja tiba di apartemen Devan yang ada di Singapura. Sebenarnya apartemen itu sudah lama kosong. Dia berencana untuk tinggal di situ sementara bersa Friska sampai kondisinya membaik.
"Masuklah." Devan membuka pintu lebar dan kembali menutupnya setelah Friska berada di dalam.
Friska mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Apartemen itu tidak jauh berbeda dengan milik Devan yang ada di Jakarta. Sebelum Devan berangkat di Singapore, dia sudah menyuruh irang untuk membersihkan apartemennya lebih dulu. Dia juga meminta orng tersebut menyingkirkan semua barang pecah belah dan benda tajam.
Dia hanya takut disaat dia bekerja, Friska lepas kendali dan kembali mencoba bunur diri. Dia juga sebenarnya tidak mengerti, mengapa dia begitu peduli terhadap wanita itu. Padahal, sebelumnya mereka bisa dikatakan mereka selalu berdebat jika tidak sengaja bertemu.
"Kau tinggal di sini dengan siapa sebelumnya?" tanya Friska ketika dia sudah duduk di ruang tamu.
"Sendiri." Devan menyeret koper Friska menuju salah satu kamar yag ada di apartemennya. "Ikut aku."
Friska mengikuti Devan dari belakang seraya melihat-lihat ruangan yang dia lewati. "Ini kamarmu."
Devan sengaja memilihkan kamar yang tidak memiliki balkon karena takut Friska bisa saja melompat dari gedung jika dia kembali depresi. Tidak ada jendela di kamar Friska, yang ada hanya dinding kaca bening yany bisa melihat pemandangan kota saja.
Frsika masuk lalu duduk di tepi ranjang. "Devan, kenapa kau begitu baik padaku?"
Friska bertanya dengan wajah polosnya. Bagaimana pun, di dunia ini tidak banyak orang lain yang menolong dengan tulus. Itu pun biasanya mereka menolong orang yang dikenalnya. Sementara Friska dan Devan, tidak saling mengenal sebelumnya, jadi wajar saja kalau Friska merasa heran.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Aku hanya tidak mau melihat kau terpuruk karena masalah cinta."
Friska termenung sejenak. "Istirahatlah. Kau pasti lelah," ucap Devan setelah melihat wajah Friska kembali suram.
"Devan, kenapa berat sekali bagiku untuk melepas Rendi?" Friska kembali terisak.
Devan menghela napas lalu menghampiri Friska. "Aku tahu sangat berat untuk melepaskan orang yang kita cintai, tapi yang kau rasakan pada Rendi sebenarnya bukan cinta Friska, tapi obsesi. Kau harus tahu dulu mengenai perasaanmu yang sesungguh supaya kau bisa melepasnya."
Friska mengangkat kepalanya. "Untuk saat ini, jangan pikirkan apapun. Melupakan seseorang adalah hal yang mustahil, Friska. Yang harus kau lakukan sekrang adalah buatlah dirimu bahagia dengan cara melakukan hal positif yang kau sukai. Jangan terlalu lama mengurung diri."
Friskan berpikir sejenak. "Apa aku boleh bekerja di perusahaanmu sementara? Aku ingin menyibukkan diri seperti yang kau bilang. Karena tidak memiliki kenalan di sini, bisakah kau membantuku? Hanya kau satu-satunya yang kukenal," ucap Friska setelah dia menghapus air matanya.
"Baiklah, kau bisa menggantikan tugas Stefani untuk sementara waktu."
__ADS_1
Mendengar nama itu kembali disebut, seketika bertanya, "Devan, apa kau tidak memiliki perasaan apapun terhadap Stefani?"
Devan menggeleng. "Tidak," jawab Devan dengan yakin.
"Diantara aku dan Stefani, kau lebih memilih siapa untuk kau jadikan kekasih?"
Pertanyaan Friska membuat dahu Devan mengerut. "Jangan bicara omong kosong. Sepertinya otakmu sudah lelah. Lebih baik kau tidur."
*********
Friska mengetuk pintu ruangan Devan sebelum dia masuk. Saat dia masuk, sudah ada Stefani di ruang kerja Devan. "Devan, aku lapar. Ayo kita makan," ajak Friska.
Sudah 4 hari Friska bekerja di perusahaan Devan sebagai pengganti Stefani, tetapi mulai hari ini, Friska akan menjadi asisten dari Stefani karena Stefani sudah kembali aktif bekerja lagi.
"Maaf Friska, aku akan makan siang dengan Devan di luar," sela Stefani sebelum Devan menjawabnya.
"Kalau begitu aku kita makan bersama saja," usul Friska dengan wajah acuu tak acuh.
"Kami akan meeting di luar setelah makan siang, jadi kau tidak bisa ikut kami. Lebih baik kau makan sendiri saja di kantin kantor," ucap Stefani lagi.
Melihat kedua wanita itu akan berdebat, Devan kemudian membuka suaranya. "Friska, benar yang dikatakan Stefani, lebih baik kau makan di sini."
Friska menampilkan wajah kesal. "Baiklah, pergi saja. Jangan pernah pedulikan aku lagi." Friska berjalan menuju pintu lalu menutupnya demgan keras
Devan kemudian menyusul Friska setelah menyuruh Stefani untuk menunggunya sebentar. Amarah Friska memang masih meledak-ledak. Dokter bilang, butuh waktu lama baginya untuk bisa mengontrol emosinya. Sebenarnya Dena sudah terbiasa dengan mood Friska yang cepat sekali berubah, tapi terkadang dia tidak lupa kalau kondisi mentalnya sedang terganggu.
"Friska, tunggu dulu." Devan meraih tangan Friska dengan cepat sehingga langkahnya seketika terhenti.
Friska menoleh. "Pergilah, aku sedang ingin sendiri."
"Maaf karena tidak bisa mengajakmu. Sebagai gantinya, ikutlah denganku nanti malam ke rumah orang tuaku," bujuk Devan.
"Untuk apa aku ikut denganmu? Kau ajak saja dia?" ucap Friska dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Dia memang akan ke rumah orang tuaku untuk bertemu dengan kakakku. Bukankah waktu itu kau bilang ingin mengenal keluargaku?"
"Kau tidak perlu mengajakku, aku bisa saja mengacaukan dan mengganggu acara kalian jika aku ikut."
"Friska, sikapmu yang seperti ini, seperti sednag cemburu dengan Stefani. Jangan sampai aku salah paham padaku jika kau masih bersikap seperti ini."
Friska memalingkan wajahnya dan tidak menggubris ucapan Devan. "Friska?" panggil Devan lagi.
"Aku mau pulang."
"Ke mana?"
"Ke Jerman," jawab Friska tanpa menoleh pada Devan.
Devan memandang Friska dengan tatapan rumit, beberapa detik kemudian dia menghela napas halus. "Baiklah kalau itu memang maumu. Aku akan menghubungi ayahmu." Devan tidak berusaha untuk menahan Friska lagi karen menurutnya ada baiklah kalaimu Friska lembali dengan keluarganya.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Friska melepaslan pegangan tangan Devan lalu lembali melangkah menuju lift.
"Friska, aku tidak mengijinkanmu pulang sendiri ke Jerman." Devan kembali menahan tangan Friska sebelum dia masuk ke dalam lift.
"Kau tidak berhak mengaturku."
Devan yang semula masih terlihat tenang, terlihat mulai marah. "Tentu saja aku berhak atas dirimu. Aku menyelamatkan hidupmu. Sudah aku bilang hidupmu adalah milikku." Tatapan Devan mengandung emosi yang tak terbaca.
Friska langsung terdiam. Wajah menunduk lalu terlihat suram. "Ikut denganku." Devan menarik tangan Friska masuk ke dalam lift yang yang sudah terbuka.
"Mau ke mana?" tanya Friska heran.
"Kita makan siang bersama di luar." Devan terpaksa membatalkan makan siangnya dengan Stefani. Dengan satu tangan, dia meraih ponsel yang ada di sakunya lalu menelpon Stefani.
"Kau bilang ada meeting di luar bersama dengan Stefani?"
Devan menoleh pada Friska. "Aku akan bertemu dengannya nanti di tempat meeting setelah makan siang denganmu."
__ADS_1
Diam-diam Friska merasa senang karena Devan akhirnya mau makan siang dengannya. Sebenarnya dia bisa saja makan di kantin kantor hanya saja dia tidak memiliki teman sama sekali karena dia baru saja beberapa hari bekerja di perusahaan Devan.
Bersambung...