
Rendi membuka matanya. Dia tampak diam seperti memikirkan sesuatu. "Kalau aku bilang, aku menderita sakit yang parah, apa kamu bakal ninggalin aku?" Rendi menatap Amel dengan wajah serius.
Rendi mengamati wajah Amel sejenak. Dia melihat perubahan pada mimik wajahnya Amel tampak terkejut. "Aku hanya bercanda," sambung Rendi lagi.
Amel berusaha menahan kekesalannya. "Nggak lucu, Kak. Aku nggaj suka Kakak bercanda seperti itu," ujar Amel menatap tajam pada Rendi.
Rendi bangun dari tidurnya. Dia mengacak-acak rambut Amel sambil berkata, "Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Rendi tersenyum paksa. "Dulu aku pernah mengalami gegar otak ringan akibat terjatuh dari tangga lantai 2." Rendi sengaja berbohong karena takut Amle khawatir dengannya.
Dia belum siap menceritakan yang sebenarnya mengenai sakit yang dia derita selama ini. Reka kejadian dulu masih teringat jelas di kepalanya. Kenyataan pahit yang terus membayanginya sampai sekarang.
Amel maju mendekati tubuh Rendi. "Apa itu alasan, kenapa Kakak melakukan pemeriksaan CT Scan gara-gara Raka memukul Kakak waktu itu?"
Rendi berusaha tenang. "Nggak, ini permintaan mamaku. Dia cumq takut terjadi apa-apa denganku, padahal aku baik-baik aja sekarang."
Amel memandang wajah Rendi dengan khawatir. "Benarkah sudah tidak apa-apa? Apakah suatu saat bisa kambuh lagi?"
Rendi mengusap lembut pipi Amel sambil tersenyum "Iya, aku baik-baik aja, tidak akan terjadi apa-apa padaku. Aku sudah sembuh sekarang." Rendi sangat senang melihat Amel mengkhawatirkannya.
"Apa Kakak nggak berbohong padaku? Bisa saja Kakak menyembunyikan kebenaran lain." Amel belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh Rendi, di hatinya seperti masih ada yang mengganjal.
"Aku nggak bohong. Qku akan tetap sehat supaya bisa menjagamu dari laki-laki yang berniat mendekatimu." Rendi berusaha mencairkan suasana karena tidak ingin Amel terus mendesaknya.
"Aku serius Kak. Jangan mengalihkan pembicaraan. Apa Kakak nggak merasakaan sakit lagi setelah kejadian dulu?" Amel belum merasa puas dengan jawaban Rendi.
"Apa kamu khawatir denganku?" Rendi menatap Amel dengan tersenyum.
"Tentu aja aku khawatir. Kakak itu pacarku."
__ADS_1
"Kalau kau memang khawatir denganku menginaplah di sini, temani aku tidur. Aku merasa tenang kalau ada kamu di sampingku. Aku bahkan bisa tidur nyenyak hanya dengan memegang tanganmu."
"Maaf Kak, aku nggak bisa. Aku harus sekolah besok pagi. Lagi pula, mama kakak tidak akan mengijinkan kita tidur dalam satu kamar," ucap Amel pelan.
"Aku akan bicara dengan mama. Dia pasti mengijinkan. Dwri dulu mama selalu percaya denganku kalau aku tidak mungkin melakukan sesuatu hal yang bisa membuat malu keluarga. Lagi pula, di sini ada CCTV.
"Tetap saja Kak. Kita tidak bisa tidur dalam satu kamar yang sama. Pasti akan banyak godaan nantinya. Aku juga takutbtidak bisa menahan diri nantinya," jelas Amel.
"Aku sangat mencintai kamu Mel. Aku nggak akan melakukan hal buruk kepada kamu karena aku sudah berjanji untuk menjagamu. Aku akan sabar menunggu sampai kita menikah nanti."
"Bagaimana klau aku menemani kakak sampai tertidur, baru nanti aku akan pulang?"
"Baiklah kalau begitu."
Rendi berbaring lagi setelah selesai berbicara. Sementara Amel merebahkan tubuhnya menghadap Rendi. Rendi sedikit merasa lega setidaknya untuk sementara waktu Amel tidak akan bertanya tentang sakitnya.
Cukup lama Amel menemani Rendi tidur. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Amel bangun dari tidurnya kemudian turun dari tempat tidur. Amel berjalan ke sisi Rendix menarik selimut untuk menutupi tubuh Rendi lalu mengecup pipinya.
"Selamat malam Kak. Mimpi yang indah." Amel tersenyum lalu keluar dari kamar Rendi. Amel kemudian pulang diantar oleh pak Iyan.
********
Pagi ini Amel datang lebih awal. Dia sudah janjian dengan semua sahabatnya. Saat memasuki kelas, belum ada satu siswa pun yang datang. Amel berjalan menuju tempat duduknya dan memutuskan untuk mengirim pesan kepada Rendi. Amel duduk sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Ameel."
Amel terkejut saat mendengar teriakan ketiga sahabatnya. Mereka lari berhambur menghampiri Amel. "Lo uda dateng dari tadi Mel?" tanya Lisa yang sudah duduk di meja depan Amel.
__ADS_1
"Nggak, baru aja dateng," ucap Amel.
"Hari ini lo harus ceritain semuanya." kali ini Olive yang berbicara.
"Iyaa, ini gue bawain banyak makanan. Kita sarapan di sini aja, sekalian dengar cerita lo." Bela meletakkan 1 plastik besar yang berlabel minimarket dekat sekolahnya.
"Iyaa, tapi dengerin cerita gue sampai selesai baru boleh kalian komentar," ujar Amel mengingatkan. Dia tidak mau disela saat sedang berbicara.
Ketiga sahabatnya mengangguk bersamaan dan menatap dengan wajah serius. Amel mulai menceritakan saat dia janjian dengan Rendi di depan gerbang sekolah, saat Rendi membawanya ke cafe saat dia hampir tertabrak lalu tidak sengaja bertemu Friska, datang ke ulang tahun mama Rendi sebagai pacar pura-puranya, tidur di kamar Rendi, perkelahian Raka dan Rendi.
Dia menceritakan satu persatu sampai akhirnya dia bisa jadian dengan Rendi. Ketiga sahabatnya tampak sangat terkejut sekligus iri, banyak ekspresi yang mereka tunjukkan selama Amel menceritakannya.
"Gilaaa Mel, cerita cinta lo mulus bengetx layak jalan toll. Gampang banget lo bisa jadi pacar kak Rendi." Bela berkomentar sambil memasukkan roti ke mulutnya.
"Iyaa, bener banget. Lo beruntung banget Mel. Ini Rendi looh gaes ... Rendi. Cowok paling tampan sekaligus terpopuler di sekolah kita. Oohh my God ... kalau kemarin gue nggak liat lo pergi sama kak Rendi, gue mungkin nggak bakal percaya sama cerita lo ini," ucap Lisa dengan wajah masih terkejut.
"Setelah sekian lama, bikin kita penasaran, terjawab sudah siapa cewek yang bisa naklukin hati Rendi. Gue masih nggak nyangka kalau lo bisa jadian sama Rendi. Walaupun dari cerita lo tadi, bilang kalau Rendi itu poseseif, gue mah rela banget kalau cowoknya kayak Rendi," timpal Olive sebelum meneguk minumannya.
Amel hanya diam mendengarkan komentar ketiga sahabatnya.
"Iyaa. Gue juga setuju sama lo Liv, apalagi Rendi kayaknya setia. Buktinya selama ini, dia nggak pernah dekat sama cewek lain, walaupun banyak yang suka, tapi dia nggak pernah nanggepin mereka sama sekali," ujar Bela sambil mengangguk.
"Tapi, kata lo ada cewek yang nggak sukankalau lo jadi pacar Rendi. Cewek yang suka sama dia, siapa namanya tadi?" tanya Lisa mencoba mengingat namanya.
"Friska," jawab Amel pendek.
"Ohh iya, emang dia secantik apasih berani-beraninya ngehina lo?" tanya Lisa dengan wajah tidak suka.
__ADS_1
Bersambung.....