
Keesokan harinya Rendi mencoba menghubungi Amel tetapi tidak bisa, ponsel Amel tidak aktif. Rendi mulai gelisah. ucapan Amel kemarin kembali terngiang. Dengan panik Rendi pergi ke rumah Raka.
Saat tiba di sana, dia bertemu dengan penjaga keamanan di rumah Raka. Dia terkejut saat mendengar kalau Amel tidak pulang kemarin. Rendi ingin bertanya langsung pada Raka, tetapi dia sedang tidak ada di rumah. Rendi akhirnya memutuskan untuk pulang.
Dia kembali apartemennya dan menghubungi seseorang. Rendi terus mencoba menghubungi ponsel Amel, tetapi tetap saja tidak aktif. Rendi berjalan untuk membuka pintu saat mendengar bel kamarnya berbunyi.
“Ada apa?” tanya Kenan saat mereka sudah duduk di sofa.
“Cari keberadaan Amel sekarang,” ucap Rendi dengan suara berat.
Kenan menghela napas panjang. “Dia itu bukan istriku, kenapa kau menyuruhku untuk mencari keberadaanya? Bukankah kau sudah berbaikan dengannya? Sekarang ada masalah apalagi?” Kenan merasa kesal karena Rendi selalu saja melibatkannya setiap mereka memiliki masalah.
“Ceritannya panjang, minta orang yang selalu membuntuti Amel untuk menemukannya dengan cepat. Aku akan membayarnya 10 kali lipat jika dia bisa menemukan keberadaan Amel hari ini,” ucap Rendi dengan wajah serius.
Kenan menatap wajah Rendi. “Ren, kau harus menceritakan dulu kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi?”
Rendi terdiam sebentar lalu memutuskan untuk menceritakan pada Kenan. “Bukankah sudah aku pernah bilang, kau harus melepas salah satu dari mereka?” ujar Kenan setelah Rendi selesai menceritakan semua padanya.
“Aku sudah memilih Amel, tetapi aku tidak bisa langsung meninggalkan Ellen begitu saja setelah melihat dia mencoba bunuh diri karena aku. Aku hanya bermaksud memberikan dia pengertian tanpa harus menjauhinya. Dulu aku sudah pernah menjauh dan tidak memperdulikannya, tapi apa yang aku dapat, dia justru semakin tidak bisa melepasku. Dia mencari segala macam cara untuk membuat Amel pergi dariku. Mungkin dengan cara halus dia akan mengerti Kenan. Kau tahu sendiri dia itu sebenarnya berhati lembut, hanya karena dia selalu tersakiti membuatnya hatinya menjadi keras.”
“Aku akan menghubungi orang itu, tetapi aku tidak berjanji untuk menemukannya,” ucap Kenan sambil berdiri dan menghubungi orang yang dimaksud Rendi.
Rendi juga mencoba untuk menghubungi seseorang lagi. Dia terlihat berbicara dengan suara memohon. Nada bicara terdengar naik turun. Terkadang meninggi dan terkadang pelan. Rendi kemudian mematikan telpon bersamaan dengan Kenan.
__ADS_1
“Dia akan menghubungimu setelah mendapatkan info tentang Amel,” ucap Kenan setelah dia duduk di sofa.
“Apa dia bisa menemukan Amel hari ini?” tanya Rendi cepat.
“Sepertinya tidak, ponsel Amel tidak aktif, sulit untuk melacaknya.”
Kenan berdiri. “Aku akan pergi ke rumah sakit menemui Ellen dan memberikan pengertian padanya.”
Rendi menmgangguk. “Tapi jangan terlalu memaksanya, dia bisa saja berbuat nekat lagi. Tunggu sampai orang tuanya datang, biarkan orang tuanya menasehatinya juga. Kemungkinan nanti sore mereka tiba di Indonesia.”
Kenan mengangguk tanda mengerti. Dia kemudian berjalan keluar meninggalkan Rendi. Sampai malam tiba Rendi belum juga mendapatkan kamar tentang keberadaan Amel.
*******
Beberapa hari yang lalu Devan sudah menghubunginya dan menjelaskan beberapa hal, tetapi Devan tidak memberi tahu dimana alamatnya saat Raka ingin melihat Amel. Raka juga sudah beberapa hari selalu sibuk mencari Amel. Dia hanya ke kantor jika ada urusan kantor yang tidak bisa ditinggalkannya.
Dia sudah mencari Amel ke mana-mana, tetapi tidak menemukannya. Raka bahkan sudah pernah mendatangi rumah Devan, tetapi tidak ada orang. Menurut info yang dia dapat keluarga Devan sedang berada di Singapore.
Rendi mengepalkan tangannya saat mendengar cerita dari Raka. Dia meninggalkan kartu namanya dan meminta Raka untuk menghubunginya jika dia tahu tentang keberadaan Amel.
Setelah berpamitan pada Raka, Rendi pergi menemui Kenan di rumahnya, tetapi saat tiba di sana. Kenan sedang tidak ada di rumah. Rendi lalu pulang ke hotelnya dan mencoba menghubungi Kenan lagi karena telponnnya tidak diangkat. Dia memutuskan untuk mengirim pesat singkat pada Kenan untuk menyuruhnya datang ke hotelnya.
Pikiran Rendi sangat kalut sekarang. Dia tidak bisa berpikir jernih. Karena tubuhnya lelah, Rendi merebahkan tubuhnya di sofa. Tiba-tiba dia teringat dengan Bela, mungkin saja Bela mengetahui di mana keberadaan Amel.
__ADS_1
Rendi menghubungi Raka untuk meminta nomor ponsel Bela, setelah mendapatkan nomor ponsel Bela, Rendi langsung mengubunginya. Bela yang masih berada di kantor juga sedang cemas karena tidak bisa menghubungi Amel sejak beberapa hari yang lalu.
Sudah beberapa hari Amel tidak masuk kantor dan Amel juga tidak pernah menelponnya. Dia tidak memberikan kabar apapun padanya sehingga membuat Bela jadi cemas.bRendi menjadi frustasi saat Bela mengatakan tidak tahu keberadaan Amel. Tidak lama kemudian Kenan datang.
“Aku sedang di rumah sakit menjenguk Ellen. Dia sudah bisa keluar dari rumah sakit hari ini,” ucap Kenan sambil berjalan masuk ke dalam kamar Rendi.
“Aku tahu, aku sudah pergi menemuinya tadi pagi,” ucap Rendi sambil merebahkan tubuhnya di sofa. “Apa kau belum juga mendapatkan kabar tentang Amel?" tanya Kenan saat melihat wajah lelah Rendi. Sudah berapa hari ini Rendi tidak bisa tidur dengan nyenyak karena belum juga mengetahui keberadaan Amel.
Rendi menggeleng lemah. “Belum, di mana sebenarnya si brengsek itu menyembunyikan Amel?” umpat Rendi sambil mengusap kasar wajahnya.
“Kenapa tidak meminta orang itu untuk melacak ponsel Devan? Dengan begitu akan mudah menemukan Amel,” ucap Kenan santai.
Rendi menoleh pada Kenan. “Aku sudah mencobanya, tetapi tidak aktif juga. Aku rasa dia sudah mempersiapkan semuanya. Dia benar-benar berencana menyembunyikan Amel sampai pernikahan mereka tiba. Aku harus menemukan Amel sebelum hari itu tiba.”
“Kenapa kau tidak relakan saja Amel? Kau bisa memulai hidup baru dengan Ellen. Dia juga sangat mencintaimu.”
“Sudah aku bilang, aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai Amel,” ucap Rendi dengan nada tinggi. Rendi menjadi kesal saat mendengar perkataan Kenan. "Kalau aku bisa memulai hubungan baru dengan orang lain, sudah lama aku melepasnya. Kau tahu sendiri aku bahkan sampai depresi karena dia memutuskanku waktu itu," lanjut Rendi lagi.
"Percuma mempunyai wajah tampan kalau kau hanya mencintai satu wanita dari dulu. Kalau aku jadi kau, aku akan membuka pintu hatiku lebar-lebar untuk orang lain. Bukankah di Jerman banyak yang ingin menikah denganmu?"
"Lalu kenapa kau masih jomblo kalau menurutmu mudah untuk membuka hati? Kau bahkan tidak pernah serius menjalani sebuah hubungan semenjak kepergiannya. Jangan mengangguku, aku sedang tidak ingin mendengar omong kosongmu."
Rendi meraih ponselnya di atas meja dan mencoba menghubungi Amel lagi. Rendi langsung berdiri saat ponselnya tersambung. “Mel, kau di mana? Apa kau tidak tahu aku sangat mengkhawatirkanmu?” ucap Rendi saat panggilanya sudah diterima.
__ADS_1
Bersambung...