Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Perubahan Sikap


__ADS_3

Amel menatap heran kepada Amel, dahinya tampak mengerut. “Memangnya kak Amel tidak tahu, kalau kakak pacar pertama kak Rendi?”


Sofi memang sudah tahu kalau Amel akhirnya secara resmi berpacaran dengan kakaknya. Amel memberitahunya lewat pesan singkat waktu itu. Mereka sering curhat saat malam hari.


Amel sedikit terkejut dengan perkataan Sofi. “Masa sih??”


Sofi mengangguk. “Memangnya kak Rendi tidak bilang sama kakak?”


Amel menggeleng. “Nggak.”


“Kak Rendi itu tidak pernah dekat dengan cewek selama tinggal di sini, kecuali dengan Friska.”


“Di sini? maksud kamu?”


“Dulu kita sempat tinggal diluar negri. Di sana kak Rendi memiliki banyak teman, tetapi karena ada kejadian besar waktu itu, membuat kak Rendi berubah jadi dingin, cuek dan tempramental. Dia selalu membatasi diri dengan orang lain.


Karena melihat perubahan yang signifikan dari kak Rendi, mama dan papa memutuskan untuk pindah ke sini.”


“Kejadian apa sebenarnya yang terjadi waktu itu? Apakah ini masalah yang sama dengan yang Friska sering ungkit?"


Raut wajah Sofi berubah panik. Dia baru menyadari kalau dia tanpa sadar membicarakan hal yang sudah dilarang oleh Rendi dan keluarganya untuk diberitahukan kepada siapa-siapa.


“Hemm.. Maaf Kak. Sofi tidak bisa memberitahu kakak. Kak Rendi bisa marah besar nanti. Mama dan Papa juga melarang memberitahukan kepada siapa-siapa. Kakak bisa bertanya langsung kepada kak Rendi” ujar Sofi dengan wajah ketakutan dan ada guratan rasa bersalah juga di wajahnya saat memandang Amel.


Amel yang mengerti dengan posisi Sofi, lalu berkata, “Iyaa, tidak apa-apa Sof. Kak Amel mengerti, tapi boleh nggak, kak Amel tanya hal lain?” Amel menatap wajah Sofi dengan wajah yang serius.


Alis Sofi dibuat menyatu. “Apa kak?”


“Apa Friska dan kak Rendi tidak pernah pacaran sama sekali?” tanya Amel penasaran.


“Tidak, tapi satu-satunya orang yang selalu ada untuk kak Rendi adalah Friska, termasuk saat kak Rendi terpuruk. Dari dulu tidak ada yang bisa menggantikannya di hati kak Rendi.”


Amel yang mendengar perkataan Sofi mengenai Friska, merasa tidak nyaman. Ada rasa takut saat mengetahui hubungan mereka sangat dekat dulu. “Tapi kenapa sekarang kak Rendi berusaha menjauhinya?”


“Kak Rendi tidak pernah bermaksud menjauhi kak Friska. Hanya saja keadaan yang memaksanya begitu. Kak Friska dulu tidak seperti sekarang. Dulu dia lembut, baik, tidak pernah marah, sabar, dia tidak pernah menyakiti orang lain, dan dia juga sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya,” ucap Sofi melihat ke langit yang berwarna biru cerah.


Kata-kata Sofi sama seperti yang pernah di ucapkan oleh Rendi, mengenai sifat asli Friska yang terbanding terbalik dengan sekarang. Tapi kenapa dia bisa berubah drastis? Bagaimana jika Friska tiba-tiba berubah ke sikap aslinya yang dulu? Apakah Rendi akan meninggalkanku demi Friska? Aku benar-benar tidak bisa merelakan Rendi untuk orang lain. Aku sangat mencintainya sekarang.

__ADS_1


“Tapi kenapa Friska jadi berubah seperti yang sekarang?” tanya Amel lagi.


“Itu berhubungan dengan masalah yang terjadi dulu. Maaf kak, Sofi tidak bisa memberitahu kakak.”


Amel mengangguk pelan. “Oke, kakak mengerti, tapi apakah kamu mengenal Ellenia?"


Sofi terkejut. Dia langsung menoleh ke Amel. “Dari mana kakak tahu nama itu? Apa kak Rendi yang memberitahu kakak?”


Amel sedikit heran dengan reaksi Sofi. “Bukan, aku tidak sengaja pernah melihat nama itu di ponsel kak Rendi.”


Sofi tersenyum canggung. “Ellenia mana yang kakak maksud? Karena ada 2 yang bernama Ellenia?"


“Aku juga tidak tahu. Aku hanya melihat nama itu saja yang tertera di ponsel kak Rendi. Tidak ada nama lain di depan atau di belakangnya.”


“Kakak bisa menanyakan langsung ke kakak, karena aku tidak punya hak untuk memberitahu kak Amel. Kakak harus hati-hati jika ingin mengetahui masalalu kak Rendi. Saran Sofi, kakak lebih baik menunggu kak Rendi yang menceritakan semuanya.” Sofi berhenti sejenak, mengamati wajah Amel.


Sofi melajutkan lagi. “Memang butuh waktu, tapi jika kakak tetap memaksa kak Rendi menceritakan semuanya. Kakak hanya akan menyakiti kak Rendi. Kakak tidak akan pernah menyangka akibat dari keingintahuan kakak, yang harus kakak tahu adalah kak Rendi sangat mencintai kakak sekarang. Kakak tidak perlu ragu dengan kak Rendi. Sofi berkata seperti ini bukan karena Sofi adiknya, tapi ini untuk kebaikan kakak dan kak Rendi juga,” jelas Sofi panjang lebar.


Amel tampak hanya diam sambil berpikir. Dia merasa masalahnya sangat serius, karena orang tua Rendi bahkan meminta Sofi merahasiakan dari yang lain. Amel menghela napas. “Kakak akan menunggu kak Rendi yang akan menceritakannya, seperti saran kamu.”


Amel mengelus lembut punggung Sofi. “Iyaa, kakak tahu.”


Sofi melepaskan pelukannnya. “Bagaimana kalau kita berenang sekarang?” ajak Sofi mengalihkan pembicaraan.


Amel berdiri dan tersenyum. “Ayoook..! Kita ganti baju dulu kalau gitu,” ajak Amel sambil menarik tangan Sofi untuk berdiri. Amel berusaha menutupi perasaannya saat ini.


Mereka lalu berjalan ke ruangan ganti sekaligus ruang bilas yang berada tidak jauh dari kolam renang dengan membawa baju renang mereka masing-masing. Setelah selesai berganti pakaian, mereka melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum berenang.


Terlihat Amel mengenakan baju renang one piece berwarna monokrom, perpaduan warna hitam dan putih. Model halter neck dengan potongan tanpa lengan, dengan tali dari dada melilit leher sehingga leher Amel terlihat lebih panjang. Ada lubang di area pinggang membuat Amel terlihat lebih seksi, dengan potongan high cut yaitu potongan tinggi pada pangkal paha membuat kaki Amel terlihat lebih tinggi saat menggunakan baju renang itu.


Sementara Sofi mengenakan baju renang two piece, yang terdiri dari bra dan celana renang yang bisa di lepas pasang berwarna hitam. Baju renang yang di kenakan Sofi tidak kalah seksi dari pada Amel.


Amel berdiri di dekat Sofi setelah melakukan pemanasan. “Sof, apa nggak terlalu terbuka kalau kak Amel pake baju renang ini?” tanya Amel sambil melihat ke tubuhnya sejenak.


Sofi tertawa mendengar perkataan Amel. “Nggak kok kak, cocok malah di badan kakak. Namanya juga berenang. Bajunya pasti begini, lagian di sinikan cuma ada kita. Lain ceritanya, kalau kita di kolam renang umum. Sofi juga nggak berani pake ini kalau di luar.”


“Tapi kakak ngerasa nggak pede Sof,” ucap Amel sambil memegang tengkuknya. Dia merasa sedikit risih karena baju renangnya terlalu terbuka.

__ADS_1


“Kenapa nggak pede? Bagus kok, kelihatan seksi lagi.” Sofi tersenyum lebar.


“Kak Amel takut dimarahin kakak kamu, kalau dia lihat kakak pake baju renang kayak gini.” Amel menatap ragu pada Sofi.


“Nggak apa-apa kak. Nanti Sofi yang tanggung jawab, kalau sampai kakak marahin kak Amel.” Sofi menarik tangan Amel.


Amel mengangguk dan mengikuti Sofi, mereka perlahan turun ke dalam kolam. Amel memegang pinggiran kolam, semetara Sofi sudah mulai berenang.


Saat Sofi sudah berenang satu putaran, dia berhenti dan mengajarkan Amel untuk berenang. Karena Amel tidak terlalu bisa berenang. Sofi mengajarkan Amel selama setengah jam.


****


Rendi sudah bangun dari tidurnya. Dia tadi mencari Amel dan Sofi di dalam rumah, tapi tidak ada. Dia lalu berjalan ke belakang menuju kolam renang, setelah mendengar tawa Sofi dan Amel berasal dari sana. Saat ini dia sedang berdiri di pintu belakang. Dia sedang memandang Sofi dan Amel yang tampak sedang bersenda gurau di dalam kolam sambil sesekali tertawa. Terlihat raut wajah bahagia dari mereka berdua.


Rendi memutuskan untuk mendekati mereka berdua. "Kalian berenang dari jam berapa?" tanya Rendi yang sudah duduk di kursi dekat kolam.


Amel dan Sofi menoleh bersama. "Udaah lama kak, kakak mau ikut?" Sofi yang menjawab pertanyaan kakaknya, saat Rendi tampak sedang memandang ke arah mereka.


"Nggak..Kalian aja," tolak Rendi yang menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalian istirahat dulu, jangan kelamaan di dalam air. Nanti baru lanjutin lagi," saran Rendi yang sambil meminum minuman yang dia bawa tadi.


"Iyaa kak," jawab Sofi yang sudah mulai naik ke atas. Sementara Amel tampak masih di dalam kolam sambil memegang pinggiran kolam.


Alis Rendi naik sebelah. "Kamu nggak mau naik?" tanya Rendi saat melihat Amel tampak tidak bergerak naik ke atas.


Amel menatap ragu Rendi, kemudian berkata, "Iyaa kak, ini mau naik," ucap Amel dengan wajah khawatir.


Setelah Amel naik ke atas, dia berjalan mendekati Sofi yang sudah duduk di sebelah Rendi.


"Uhuk..uhuk..uhuk" Rendi yang baru saja meneguk habis minumannya, terbatuk saat melihat Amel mengenakan baju renang yang terbuka. Amel terlihat sangat seksi. Lekuk tubuhnya terlihat jelas karena baju renangnya basah, sehingga melekat sempurna di tubuh Amel.


Sofi hanya tertawa melihat reaksi kakaknya yang terkejut melihat penampilan Amel.


Amel berlari menghampiri Rendi, lalu Amel sedikit membungkuk sambil menepuk-nepuk punggung Rendi. "Kalau minum pelan-pelan kak. Kakak nggak apa-apa?" Amel menatap khawatir kepada Rendi.


Rendi menoleh ke samping menatap tajam pada Amel. "Ini gara-gara kamu..! Kenapa kamu pakai baju seperti itu?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2