
Raka langsung menjauhkan tubuhnya dari Sofi ketika merasakan suhu tubuh Sofi bertambah panas dan bergetar. Raka memegang dahi Sofi kembali. "Sofi, badanmu panas sekai. Aku akan mengambil termometer dulu." Saat Raka hendak turun dari tempat tidur, tangannya kembali ditahan oleh Sofi.
"Dingin Raka," ucap Sofi dengan suara lemah dan wajah yang memerah.
Sofi juga mulai berkeringat. Panas dan dingin secara bersamaan, berarti dia sedang meriang bukan? Apakah Sofi berhalusinasi? Atau dia sungguh merasakan dingin di saat tubuhnya sedang demam dan mengeluarkan banyak keringat.
Sejenak Raka tertegun, beberapa saat kemudian, dia kembali menguasai dirinya. "Kau harus mengisi perutmu agar kau bisa minum obat," bujuk Raka dengan suara lembut. Dia merasa khawatir ketika melihat Sofi mulai menggigil.
Sofi menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Diiingiiiinnn," racau Sofi lagi. Sofi mendekap tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Tubuhnya tampak bergetar menahan dingin yang menyergap tubuhnya.
Raka menyampirkan selimut yang menutup tubuh Sofi. Keringat dingin terus keluar dari sekujur tubuh Sofi. "Aku akan mengambilkan air hangat dulu." Untuk sesaat, Sofi bisa menangkap raut wajah cemas Raka. Detik kemudian, dia kembali berpikir kalau Raka mungkin hanya kasihan padanya.
Raka berniat untuk mengompres tubuh Sofi dengan air hangat untuk menurunkan demamnya. Dia terpaksa mengompresnya dengan air hangat karena Sofi tidak mau makan sehingga dia tidak bisa meminum obat penurun panas dengan perut kosong.
Sofi terlihat menarik ujung baju Raka. "Jangan pergi," pinta Sofi dengan suara pelan. Dia terlihat sangat lemah, "temani aku," pinta Sofi lagi.
Raka menghembuskan napas halus lalu berkata, "Baiklah, tapi kau harus makan ya?" bujuk Raka dengan suara lembut.
"Dingiiiiiiinn."
"Iyaaa, makanya kau harus makan dulu, setelah itu minum obat." Raka berusaha untuk membujuk Sofi lagi.
"Pahit. Mulutku pahit Raka."
"Sedikit saja ya?" bujuk Raka lagi dengan lembut.
Sofi menggelengkan kepalanya. "Baiklah. Aku akan mengompresmu."
Sofi masih menggiggil. Raka meraih tisu lalu mulai menyeka keringat Sofi yang ada di wajah dan tubuhnya.
"Dingin Rakaaa." Sofi hanya bisa menatap tidak berdaya pada Raka.
__ADS_1
Raka tidak tahu harus berbuat apa. Sofi agak sulit untuk dibujuk. "Pusing." Sofi berucap dengan nada rendah.
"Ya sudah kau tidur dulu sebentar, setelah itu kau harus makan," ucap Raka pasrah.
"Temani aku tidur." Sofi menarik-narik ujung baju Raka.
"Baiklah, tapi kau harus makan nanti."
Raka masih berusaha untuk membujuk Sofi. Raka tidak menyangka kalau Sofi akan bersikap manja padanya ketika dia sakit. Raka kemudian berjalan ke sisi lain tempat tidur lalu berbaring di samping Sofi.
"Tidurlah." Raka sedikit memberi jarak di antara mereka.
Sofi membalikkan badannya menghadap Raka lalu mendekatkan tubuhnya setelah itu memeluk Raka. "Sofi, jangan begini." Raka berusaha untuk melepaskan pelukannya.
"Dingiiin Raka."
Sofi masih menggigil dengan mata yang terpejam seolah dia melakukannya tanpa sadar. Dia sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Yang dia hiraukan adalah bagaimana caranya agar dia merasakan hangat pada tubuhnya.
"Baiklah. Tidurlah," ucap Raka sembari membalas pelukan Sofi. Dia membelai rambut Sofi dengan lembut agar Sofi cepat tertidur. Dia berencana mengompresnya setelah Sofi terlelap.
Sofi mulai memejamkan matanya. Tidak butuh waktu lama Sofi pun tertidur. Dia merasa sangat nyaman berada di pelukan Raka.
Perlahan napas Sofi mulai teratur. "Sofi," panggil Raka dengan suara pelan. "Sof, apa kau sudah tidur?" Raka kemudian mencium pucuk kepala Sofi.
"Apa yang harus aku lakukan padamu, Sofi. Aku sudah berniat untuk melepasmu, tapi kau justru datang lagi meruntuhkan pertahananku dan memporak-porandakan hatiku dengan mudahnya hingga membuatku tidak berdaya untuk menolak kehadiranmu," monolog Raka masih dengan membelai rambut Sofi.
"Aku tidak menyangka kalau rasa cintaku begitu besar padamu. Tanpa sadar aku melukaimu dengan sikap posesifku. Aku juga tidak tahu, bagaimana bisa aku begitu marah dan emosi saat melihatmu dipeluk oleh laki-laki lain. Aku bahkan tidak pernah seperti ini saat menyukai Amel dulu. Aku masih bisa menahan diriku, walaupun Amel berpacaran dengan kakakmu, tapi saat denganmu, melihatmu berbicara dengan teman laki-lakimu saja sudah mampu membangkitkan amarah dan emosiku." Raka kemudia menghela napas panjang.
"Itulah sebabnya aku menjauh darimu Sofi agar kau tidak tersakiti oleh sikap egoisku. Aku tidak ingin membuatmu menderita jika bersamaku. Aku takut kau akan terluka lagi jika kita kembali bersama. Kau tidak suka dibatasi dan dikekang, sementara aku tidak bisa melihatmu dekat dengan laki-laki lain, terlebih laki-laki yang memiliki perasaan terhadapmu. Sifat kita berlawanan Sofi. Kita hanya akan saling menyakiti jika kita paksaan untuk tetap bersama."
Raka mengurai pelukannya lalu menatap wajah Sofi dengan tatapan lembut. "Aku harap kau mengerti Sofi. Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Andai kau tau, kalau rasa cintaku padamu lebih besar dari pada rasa cintamu padaku. Aku hanya berusaha untuk menekan perasaanku selama ini. Tidak bertemu denganmu membuat dadaku sesak. Terkadang ingin rasanya aku menemuimu, tapi lagi-lagi aku menahan diriku," monolog Raka dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Maafkan aku karena sudah membuatmu jatuh cinta padaku sehingga membuatmu terluka karena sikap egoisku."
Setelah puas mencurahkan isi hatinya, Raka kemudian melepaskan tangan Sofi yang berada di tubuhnya lalu berjalan keluar dari kamarnya.
Beberapa saat kemudian, dia kembali lagi ke kamarnya dengan membawa baskom dan handuk kecil yang berisikan air hangat lalu meletakkan di atas nakas. Setelah itu dia berjalan menuju lemari tempat dia meletakkan kotak P3K. Dia mengambil termometer, lalu kembali duduk di samping Sofi.
Perlahan dia mengarahkan alat pengukur suhu tubuh pada kepala Sofi. Raka sedikit terkejut saat melihat angka 39.4 derajad Celcius yang tertera di layar. Raka langsung meletakkan alat pengukur suhu tubuh di atas nakas, kemudian dia memeras handuk kecil yang sudah terendam air hangat agar suhu tubuh Sofi segera turun.
Raka terlihat mulai menempelkannya pada dahi Sofi. Pantas saja wajah Sofi merah padam dan dia merasa gerah saat Sofi memeluknya tadi, ternyata demam Sofi sangat tinggi. Raka terus mengompres Sofi berkali-kali. Dia berniat membawa Sofi ke rumah sakit jika panasnya tidak juga turun dalam waktu satu jam. Dia merasa sangat khawatir, apalagi Sofi tertidur dengan perut kosong.
Raka kembali mengganti airnya setelah tidak terasa hangat lagi. Dengan telaten dia mengompres dan menyeka keringat Sofi. Raka lalu menatap Sofi setelah selesai mengompresnya. Perlahan demam Sofi mulai turun. Raka mengecek kembali suhu tubuhnya. Terlihat menunjukkan angka 38,8 derajad celcius masih demam, tapi setidaknya panasnya sudah tidak setinggi tadi.
Raka mulai membelai wajah Sofi seraya menatap cemas padanya. "Melihatmu tidak berdaya seperti ini membuatku sedih Sofi. Cepatlah sembuh. Jangan membuatku khawatir. Bagaimana aku bisa melepasmu jika kau saja tidak bisa menjaga dirimu," ucap Raka lirih.
Raka mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian menoleh pada Sofi yang masih tertidur di sampingnya. Raka tanpa sadar ikut tertidur ketika menunggu panas Sofi benar-benar turun. Dia menoleh pada ponsel yng tergeletak di atas nakas yang menunjukkan pukul 3 pagi.
Raka kemudian menempelkan telapak tangannya di dahi Sofi. Tubuh Sofi masih demam. Raka kembali memeriksa suhu tubuh Sofi. Raka langsung merasa lega ketika melihat angka 38,4 derajad Celcius yang tertera di termometer, panasnya sudah turun lagi. Sebenarnya Raka ingin membangunkan Sofi agar mengisi perutnya, tapi dia tidak tega membangunkannya saat melihat wajah lelapnya.
Raka kembali berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air hangat. Dia berencana untuk mengompres Sofi lagi. Dengan telaten dia kembali mengompres Sofi hingga beberapa kali. Setelah selesai, Raka kembali berbaring miring di samping Sofi seraya memandangi wajah mantan kekasihnya.
Pagi harinya, Sofi terbangun terlebih dahulu. Dia menatap wajah Raka yang berada di sebelahnya. Terlihat masih tertidur dengan pulas karena dia kelelahan akibat menjaga Sofi semalaman. Dia hanya tertidur sebentar. Sofi mengedarkan pandangannya sejenak ke sekitar karena ingin tahu, di mana saat ini dia sedang berada. Ruangan tersebut tampak tidak asing baginya.
Sofi menoleh ke kanan dan melihat ada termometer, baskon dan handuk kecil tergelatak di sana. Apa mungkin Raka mengompres dirinya dan menjaganya sepanjang malam, tapi mengingat sikap dingin Raka terhadapnya, ada sedikit keraguan di hatinya.
Sofi lalu memiringkan tubuhnya ke kiri menghadap Raka. Dia tidak ingat dengan jelas bagaimana bisa dirinya bisa sampai di sini. Terakhir kali dia ingat, dirinya dan Raka sedang berdebat di tengah hujan deras di pinggir jalan.
Dia menduga kalau Raka pasti yang membawa dirinya kembali ke rumahnya, yang Sofi tidak mengerti adalah kenapa dia bisa berada di kamar Raka, sementara dia tahu kalau ada kamar Amel dan kamar tamu yang bisa Raka gunakan untuk di tempati olehnya.
Perlahan tangannya terulur ke wajah Raka. Dia mengusap wajah tampan yang ada di depannya. "Kau sudah bangun?" Raka membuka matanya ketika merasakan sentuhan tangan di wajahnya.
Bersambung...
__ADS_1