
"Sofi, antarkan Raka ke kamar tamu. Kami akan langsung ke kamar." Mereka baru saja tiba di apartemen apartemen Rendi pukul 11 malam.
"Bolehkah dia tidur di kamarku?" gurau Sofi seraya tersenyum.
Rendi yang tadinya akan melangkah ke kamarnya seketika menoleh pada adiknya. "Boleh saja. Asalkan besok kau angkat kaki dari sini dan jangan jadi anggota keluarga Wijaya lagi," jawab Rendi dengan wajah santai.
Amel yang mendengar hal itu langsung menyikut perut suaminya. "Sakit sayang. Kenapa kau malah menyikutku?" tanya Rendi seraya menoleh ke samping dan menunduk menatap istrinya.
Amel memilih untuk tidak mengubris Rendi. "Bang, Amel ke kamar dulu ya? Nanti Sofi yang akan mengantarkan abang ke kamar tamu," terang Amel.
Raka mengangguk. "Iyaa, tidurlah. Ini sudah malam."
Amel kemudian menoleh pada Sofi. "Kak Amel minta tolong ya Sof, antarkan bang Raka," pinta Amel dengan lembut.
"Iyaa kak. Tenang saja," ucap Sofi dengan wajah senang.
Amel dan Rendi kemudian berjalan menuju kamarnya. Sementara Sofi mengantarkan Raka menuju kamar tamu. "Masuklah. Ini kamarmu." Sofi membuka pintu kamar tamu dengan lebar.
Raka mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam kamar tersebut. Sofi mengikuti langkah Raka yang berjalan ke tempat tidur. "Raka, sebenarnya apa yang kau bicarakan dengan kakakku?" Sofi masih belum menyerah juga. Dia masih penasaran dengan apa yang kakaknya dan Raka bicarakan tadi. "Apa kakakku mengatakan sesuatu tentangku?"
Raka menatap Sofi sebentar. "Sudah malam. Lebih baik kau tidur juga."
Sofi menggeleng dengan kuat. "Tidak mau. Kau harus memberitahuku dulu."
"Kenapa ingin tahu sekali? Apa ada hal tidak boleh aku tahu?" Sebenarnya Raka tahu, kalau Sofi ingin memastikan apakah kakaknya memberitahukan padanya mengenai perjodohannya dengan Willy.
"Bukan seperti itu. Hanya saja aku heran, semenjak kapan hubungan kalian jadi baik."
Raka berdiri lalu mendekati Sofi yang sedang berdiri di depannya. "Apa kau yakin hanya itu alasannya." Sofi merasa gugup ketika melihat Raka terus berjalan mendekatinya. Perlahan dia mundur sementara Raka terus maju mendekatinya dengan wajah seriusnya.
__ADS_1
"Ak-aku... Aku yakin," jawab Sofi terbata-bata. Sofi yang sedari tadi berjalan mundur, seketika langkahnya terhenti ketika tubuhnya sudah membentur tembok.
Raka menunduk seraya menatap mata Sofi. "Lalu apa maksud dari perkataan kakakmu yang tadi?"
Dahinya mengeryit. Sofi tampak berpikir. Dia tidak tahu, perkataan kakaknya yang mana yang dimaksud oleh Raka. "Kata-kata yang mana?"
"Perjodohan." Raka sengaja berpura-pura tidak tahu. Dia ingin tahu apakah Sofi akan berkata jujur atau tidak.
Sofi sedikit terkejut. Dia menunduk untuk menghindari tatapan Raka. "Sepertinya kau salah dengar. Kakakku tidak pernah membahas mengenai perjodohan." Sofi masih berusaha untuk mengelak. Dia tidak ingin Raka berpikiran yang tidak-tidak padanya.
Raka menunduk seraya mendekatkan wajah mereka berdua. "Sofi, kau pikir aku tidak tahu mengenai perjodohanmu dengan Willy masih berlanjut sampai saat ini?"
Sofi tidak berani mengangkat wajahnya. Matanya sedari tadi bergerak tak tentu arah. Dia masih bingung bagaimana menjelaskannya pada Raka mengenai perjodohan yang tidak diinginkan itu.
"Kau mendekatiku, di sisi lain kau masih menjalin hubungan dengan si berensek itu. Apa kau berencana membodohiku dengan menyembunyikan perjodohanmu dengan Willy? Apa kau sungguh ingin membuatku marah?" cecar Raka dengan wajah yang terlihat mengeras dan sorot mata berkilat.
"Kalau perjodohan kalian masih berlanjut, kenapa kau masih mendekatiku? Kau ingin mempermainkan aku sampai batas mana Sofi?" Raka berusaha untuk mengontrol emosi yang mulai menguasai dirinya.
"Apa kau sungguh ingin mengujiku?" cecar Raka dengan wajah dinginnya. "Kesabaranku ada batasnya Sofi. Jangan sekali-kali kau memancingku."
Mata Sofi mulai berkaca-kaca. Dia kembali menunduk dengan bibir yang bergetar. "Aku tidak menginginkan perjodohan itu, tapi aku tidak tahu caranya untuk menghentikan perjodohan itu, Raka. Orang tuaku tidak akan mau membatalkan perjodohan itu jika aku tidak memiliki alasan kuat untuk membatalkan perjodohan tersebut. Keluargaku tidak akan punya muka lagi dihadapan keluarga Willy jika aku membatalkan dengan alasan tidak jelas. Persahabatan yang mereka bina sejak mereka masih remaja akan hancur hanya karena aku," jelas Sofi dengan suara bergetar.
"Tadinya, aku pikir aku bisa membatalkan perjodohan itu jika kita kembali bersama. Kakak pasti akan membantuku menjelaskan pada mama dan papa kalau aku sudah mencintai orang lain dan tidak ingin melanjutkan perjodohan tersebut kalau kita menjalin hubungan lagi."
"Jadi kau ingin memanfaatkan aku untuk membatalkan perjodohanmu?"
Sofi menghembuskan napas panjang. Dia tidak tahu harus bicara apalagi agar Raka tidak salah paham lagi dengannya. "Aku ingin kita kembali bersama karena aku memang ingin menjalin hubungan serius denganmu Raka bukan karena aku ingin memanfaatkanmu." Air mata Sofi sudah menetes di pipinya. Secepat kilat menghapusnya.
__ADS_1
Raka sempat melihat air mata Sofi yang menetes, seketika dia merasa iba. Raka mengangkat tangannya, lalu mengusap lembut kepala Sofi. "Maafkan aku. Tidurlah. Ini sudah malam." Raka berjalan menuju tempat tidur meninggalkan Sofi yang masih tertunduk.
Sofi terlihat masih diam sementara Raka sudah duduk di tepi tempat tidur. Raka kemudian menoleh pada Sofi ketika melihat dia masih tidak bergerak dari tempatnya. Raka mengusap wajahnya dengan kasar lalu menghampiri Sofi kembali.
"Apa kau tidak dengar perkataanku?" Raka berdiri tepat di depan Sofi.
"Tidak bisakah kau memberikan aku kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki hubungan kita?" Sofi akhirnya berani mengeluarkan suaranya.
Raka memejamkan matanya sejenak. "Kita bahas besok lagi. Ini sudah malam. Lebih baik kau tidur." Raka terlihat sudah melunak. Dia berusaha sabar ketika melihat sikap keras kepalanya Sofi yang tidak juga mau kembali ke kamarnya.
"Aku memang salah waktu itu. Seharusnya aku menjauhi Mike saat kau memintanya, tapi aku sungguh tidak memiliki hubungan apapun dengannya Raka."
Sofi memang sudah bertekad tidak akan kembali ke kamarnya sebelum dia menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka. Dia berpikir kalau mungkin dia tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk berbicara Raka jika Raka sudah kembali ke rumahnya lagi. Dia yakin kalau Raka akan kembali menghindarinya seperti yang dia lakukan setelah mereka berdua putus hubungan.
"Aku sudah tidak mau membahas masalah yang dulu."
"Kalau begitu jawab pertanyaanku, tidak bisakah kau memberikan aku kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki semuanya?" Sofi mengulangi lagi pertanyaan yang tadi belum di jawab oleh Raka.
"Dasar keras kepala." Raka mengacak rambut Sofi seraya tersenyum tipis. "Baiklah. Kalau buktikan padaku kalau kau sungguh mencintaiku."
"Bukankah sudah aku bilang, kalau aku sangat mencintaimu."
"Aku butuh bukti lain."
"Bukti apa yang kau inginkan dariku?"
"Jadilah milikku, Sofi," jawab Raka dengan wajah serius.
Bersambung...
__ADS_1