
Devan tampak terdiam sejenak lalu dia membuka suaranya. "Dua hari yang lalu Friska mencoba untuk bunuh diri lagi."
Kata-kata yang dilontarkan Devan sukses buat Rendi sangat terkejut, belum sempat Rendi merespon ucapan Devan, laki-laki yang di depannya itu kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku akan membawanya ke Singapura. Mungkin ada baiknya dia menenangkan diri di sana. Aku tidak ingin meninggalkan dia di sini sendiri. Aku takut dia akan merusak rumah tanggamu dan Amel."
"Kenapa dia mencoba bunuh diri lagi?" Rendi masih belum bisa mengerti, kenapa Friska selalu mencoba untuk bunuh diri.
"Alasannya masih sama seperti yang sebelumnya. Dia belum bisa menerima kalau kau sudah menjadi milik Amel."
Rendi menapak menarik napas dalam. "Lalu bagaimana keadaannya?"
"Untuk saat ini keadaannya sudah membaik. Sebelumnya, dia selalu menangis dan berteriak histeris ketika mengingat dirimu. Sepertinya dia sangat depresi kehilanganmu. Perasaannya sangat rentan saat ini. Aku rasa lebih baik kalau kau memberikan pengertian kepadanya. Jangan menjauhinya, itu hanya akan membuatnya terluka dan semakin membuatnya depresi. Berikan dia pengertian Ren dengan cara lembut. Aku takut dia akan mencoba untuk bunuh diri lagi. Aku hanya kasihan kepadanya," ucap Devan dengan sorot mata iba.
"Baiklah, aku akan berbicara dengannya. Di mana dia berada?" Rendi juga merasa kalau perkataan Devan ada benarnya selama ini dia terus menghindari Friska.
"Kamar itu. Masuklah." Devan menunjuk kamar yang ditempati oleh Friska.
Rendi berdiri sambil mengangguk. "Kau bisa berbicara dengan istriku sebentar selagi aku menemui Friska, tapi ingat, jangan pernah berpikiran untuk merebutnya dariku." Rendi hanya ingin membuat semuanya jelas. Dia masih harus waspada terhadap Devan.
Devan tidak menanggapi ucapan Rendi. Dia kemudian berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Kenan dan Amel, setelah melihat Rendy sudah masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Friska.
Rendi tampak diam memandang Friska yang sedang yang duduk di sebuah kursi sambil memandangi pemandangan di luar jendela. "Ellen." panggil Rendi dengan suara pelan.
Seketika Friska langsung menoleh ketika mendengar suara yang sangat dia rindukan selama ini. "Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Friska dengan mata yang berkaca-kaca.
Diakui Frsika, dia sangat merindukan sosok laki-laki yang sedang berdiri menatap sedih padanya. Dia sangat ingin memeluk laki-laki yang sangat dicintai itu.
"Devan memberitahuku kalau kalian akan ke Singapura sore ini. Oleh karena itu, aku ingin berbicara sebentar kepadamu sebelum kau pergi."
Rendi perlahan berjalan mendekati Friska, kemudian duduk di sebelah Friska. "Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau terlihat kurus sekali? Apa kau tidak makan dengan benar?" tanya Rendi dengan suara bergetar. Dia merasa sedih ketika melihat keadaan Friska yang tampak sangat memprihatinkan.
Tubuh sangat kurus, wajah tirus, mata cekung dan sembab, ada lingkaran hitam dibawah matanya, rambut terurai begitu saja dan bibir pucat. Sorot matanya menggambarkan luka yang sangat dalam.
Friska langsung menitikkan air mata ketika Rendi menanyakan keadaannya. "Aku baik-baik saja Ren. Aku... aku...." Friska tidak untuk melanjutkan kata-katanya. Air matanya sudah tumpah tanpa bisa dicegah lagi.
Melihat Friska mulai menangis, Rendi merengkuh tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. Hatinya seperti teriris melihat Friska tampak begitu rapuh.
“Maafkan aku karena sudah membuatmu seperti ini, Ellen. Tidak seharusnya aku mengabaikanmu dan bersikap dingin padamu. Melihat hidupmu berantakan seperti ini membuat hatiku sakit,” ucap Rendi dengan suara lirih. Friska merasa tubuh Rendi seperti bergetar, seperti sedang menahan tangisnya keluar.
__ADS_1
“Ren....” Friska berucap dengan suara sangat pelan sambil melepaskan pelukannya.
Rendi kemudian menggenggam tangan Friska. “Maafkan aku. Maaf Ellen karena sudah membuat hidupmu hancur. Melihatmu terus saja berusaha untuk mengakhiri hidupmu terasa begitu menyakitkan bagiku.” Air mata Rendi sudah menetes di pipinya tanpa bisa dia cegah.
Friska tampak terkejut melihat Rendi menangis. Baru kali ini, dia melihat Rendi menitikkan air matanya lagi, selain ketika mengetahui kematian Kila dan setelah berpisah dengan Amel.
“Ren....” Air mata Friska bertambah deras mendengar perkataan Rendi.
“Kupikir dulu dengan menjauhimu, bisa membuatmu berpikir untuk berhenti mencintaiku dan bisa melepasku dengan sendirinya. Aku tidak pernah berpikir kalau sikapku yang selalu mengabaikanmu, menjadikanmu hilang akal. Karena sikap dinginku itulah kau jadi seperti ini. Kau jadi tidak bisa membedakan yang mana yang salah dan mana yang benar. Kau tidak tahu yang kapan saatnya kau harus berhenti dan harus merelakan. Seharusnya aku tidak mengabaikanmu. Seharusnya aku lebih sabar dalam menghadapi sikapmu sampai kau tidak mengharapkan cintaku lagi.” Rendi menggenggam erat tangan Friska dengan wajah bersalah.
“Aku terus memikirkannya. Mungkin kalau dulu aku tidak mengabaikanmu dan dengan sabar memberikan pengertian padamu dan tidak menjauhimu, mungkin kau bisa melepasku dengan suka rela dan kita semua bisa hidup bahagia. Mungkinkah kau tidak akan berakhir seperti ini. Mungkin saja kita bisa seperti dulu, tidak saling membenci dan menyakiti. Maafkan sikap egoisku selama ini Ellen. Maafkan karena aku terus mengabaikanmu dan tidak berusaha mengerti bagaimana perasaanmu. Seharusnya aku memperlakukanmu dengan baik alih-alih menjauhimu.”
Friska menjadi lebih sakit saat melihat Rendi menagis karenanya. Dia memeluk Rendi dengan rasa bersalah juga. “Kau tidak salah Ren. Aku yang salah. Seharusnya aku tidak terus menerus memaksamu untuk bersamaku. Tidak seharusnya aku bersikap keras kepala sehingga membuat kau dan Amel merasakan sakit akibat keegoisanku. Karena pikiran angkuhku jugalah yang membuat kita semua terluka.”
Rendi melepaskan pelukan Friska. “Kalau aku tidak mengabaikanmu lagi, bisakah kau kembali menjadi Ellen yang dulu? Asalkan bukan cinta, aku bisa memberikan semuanya untukmu dan menuruti semua keinginanmu. Aku akan menjadi Rendi yang hangat seperti dulu, tapi bisakah kau hidup dengan baik kedepannya? Bisakah kau lepaskan semua perasaanmu padaku?” tatap Rendi dengan wajah sedih.
Friska menunduk. “Aku butuh waktu, Ren. Tidak mudah bagiku untuk melepasmu begitu saja. Aku sudah lama menyukaimu. Aku juga sudah memikirkannya berulang kali beberapa hari ini. Kita mungkin tidak ditakdirkan untuk hidup bersama. Sekeras apapun selama ini aku mencoba untuk menahanmu di sisiku kalau kita tidak berjodoh. Kau tetap tidak akan menjadi milikku.”
Selama tinggal bersama Devan, Friska banyak merenung dan menyendiri. Untung saja ada Devan yang dengan sabar menghadapinya.
“Aku pikir ketika kau mengajakku untuk Bali waktu itu, kau sungguh sudah merelakan aku. Aku tidak pernah berpikir kalau itu adalah salam perpisahan darimu karena kau ingin mengakhiri hidupmu lagi. Mengabaikanmu selama ini juga berat untukku, Ellen. Aku terpaksa melakukannya karena aku pikir itu cara terbaik untuk kita supaya kau tidak mengarapkan cintaku lagi. Ternyata aku salah. Justru sikap acuhku membuatmu menjadi tidak terkendali. Aku sungguh minta maaf Ellen karena sudah merubahmu menjadi seperti ini.”
Rendi menghapus air mata Friska. “Apakah dengan pergi ke Singapura, kau bisa menenangkan pikiranmu?”
“Aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin mencari suasana baru, Ren. Aku harus menyembuhkan luka hatiku dulu, sebelum memulai lembaran baru.”
Rendi mengangguk. “Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu. Aku harap kau bisa dengan cepat mendapatkan penyembuh luka yang aku torehkan padamu.”
“Terima kasih, Ren.” Friska menatap Rendi. “Bisakah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya? Aku sangat merindukannmu Ren. Anggap saja kalau ini adalah pelukan perpisahan untuk merelakan semua perasaanku padamu.”
Rendi langsung memeluk Friska. “Maafkan aku Ellen karena tidak bisa membalas perasaan cintamu. Terima kasih karena kau sudah mencintaiku selama ini.”
Friska mengangguk. Dia kembali menitikkan air matanya. “Aku tidak pernah menyesal karena sudah mencintaimu, Ren.” Friska melepaskan pelukannya. Dia kemudian menghapus air matanya.
“Apa kau sudah makan?”
Friska mengangguk. “Hhmmm.”
“Apa selama ini kau mengalami kesulitan selama tinggal di sini?”
__ADS_1
“Tidak.”
“Apakah Devan memperlakukanmu dengan baik?”
“Iyaaa.”
“Apa dia pernah menyakitimu?”
Friska menggeleng. “Tidak. Dia sangat baik padaku.”
Rendi mengangguk lega. “Baguslah. Jam berapa kau akan berangkat ke Singapura?”
“Aku tidak tahu. Devan yang mengurus semuanya.”
Setelah menyetujui ajakan Devan. Friska tidak pernah bertanya mengenai kepergian mereka. Devan hanya mengatakan kalau mereka akan berangkat sore hari. Dia meminta Friska untuk menyiapkan barang yang ingin dia bawa.
“Apa perlu aku mengantar kalian sampi ke Singapura?”
Friska menggeleng. “Tidak perlu, Ren. Berlama-lama denganmu hanya membuatku semakin tidak bisa melepasmu.”
“Baiklah. Apakah orang tuamu sudah tahu kalau kau akan pergi ke Singapura?”
“Sudah. Devan menghubungi papa semalam.”
Devan menepati janjinya untuk meminta ijin kepada orang tuanya. Entah bagaimana cara Devan meyakinkan ayahnya. Friska sedikit terkejut karena ayahnya mengijinkan Devan untuk membawanya ke Singapura.
“Kenapa ponselmu tidak aktif?” Rendi beberapa kali mencoba untuk menghubungi Friska ketika dia mendengar kabar dari Kenan kalau Friska mencoba untuk bunuh diri lagi.
“Ponselku hilang di pantai ketika aku mencoba untuk bunuh diri. Devan baru saja membelikan aku ponsel. Aku akan mengirimkan pesan dengan nomor baruku nanti.”
Sebenarnya Friska mencoba untuk tidak menghubungi Rendi sampai dia bisa merelakan Rendi. Dia hanya takut kalau dia masih berhubungan dengan Rendi, dia tidak akan bisa menghilangkan perasaan cintanya.
Rendi mengangguk tanda mengerti. “Keluarlah. Ada Kenan di luar. Aku ke sini dengan Kenan dan Amel. Kenan sangat mengkhawatirkan dirimu. Bicaralah dengannya sebelum kau pergi.”
Wajah Friska terlihat sedikit terkejut. “Baiklah.” Friska berdiri. “Apakah Amel tahu kalau kau sedang di sini bersamaku?”
“Aku sudah meminta ijin padanya tadi.”
“Baiklah.” Friska berjalan keluar mendahului Rendi.
__ADS_1
Bersambung..