
Kenan tertawa lebar. “Kau ini masih saja kaku. Aku tidak serius dengan perkataanku Ren.” Kenan pikir setelah Rendi menikah dia akan berubah ternyata dia masih sama dengan Rendi yang dulu. “Ngmong-ngomong Amel ke mana?”
Rendi langsung menatap tidak suka pada Kenan. “Untuk apa kau menanyakan istriku?”
“Aku hanya ingin tahu. Apakah aku sudah tidak boleh lagi mengobrolnya dengannya?”
Rendi menjawab cepat. “Tidak boleh. Dia adalah istriku sekarang."
Kenan menatap jengah pada Rendi. "Heey Ren, sebelum Amel menjadi istrimu, dia adalah sekertarisku," ucap Kenan dengan wajah kesal.
"Dia memang sekertarismu, tetapi perusahaan itu milikku," ucap Rendi santai.
"Kau memang pemiliknya, tetapi aku adalah CEOnya. Dia lebih tunduk kepadaku dari pada kau," ucap Kenan tidak mau kalah.
"Tapi aku bisa memecatmu kapan saja."
“Kau ini benar-benar membuatku kesal.”
“Aku tidak peduli." Rendi tampak masih acuh.
“Aku benar-benar heran, kenapa Amel bisa menyukai pria kaku sepertimu. Tidak sekalian saja kau kurung dia, jangan biarkan dia pergi ke mana-mana agar dia tidak bertemu dengan orang lain,” ucap Kenan kesal. Dia kira sikap poseseif Rendi akan menghilang setelah dia menikah, ternyata dia salah.
“Aku memang berencana mengurungnya apalagi setelah kedatangamu.”
“Aku rasa kau memang sudah gila,” ucap Kenan sambil mengeleng-gelengkan kepala.
“Apa kau tidak tahu, ada fenomena aneh saat ini, di mana pria lajang lebih menyukai istri orang lain dari pada para gadis. Aku hanya berjaga-jaga saja.”
“Ren, ketampananmu itu mendekati kata sempurna. Kau juga cerdas dan uangmu banyak. Untuk apa kau setakut itu? lain ceritanya kalau wajahmu jelek dan berasal dari keluarga biasa saja, baru kau boleh khawatir.”
“Kau pikir laki-laki tampan dan kaya hanya aku saja? Di luar sana banyak bertebaran orang sepertiku.”
Kenan merasa geram mendengar perkataan Rendi. Menurutnya tidak banyak ditemui orang yang memiliki segalanya seperti Rendi.
“Heyy.. Di mana yang kau bilang orang sepertimu bertembaran di mana-mana?” ucap kenan dengan nada tinggi.
“Kau bisa melihatnya di jalan-jalan dan di tempat keramaian. Apa kau tidak pernah keluar rumah selama ini? Apa kau selalu mengurung diri karena tidak memiliki teman?”
“Apa saat ini kau sedang menyamakan dirimu dengan orang biasa?”
“Apa menurutmu aku ini dewa?” Kenan rasa ingin sekali memukul kepala Rendi setelah mendengar perkataannya.
Kenan menghela napas panjang. “Bukan dewa, tapi dewi karena wajahmu lebih cantik dari pada Amel.”
“Kenan.. Apa perlu aku mencarikanmu wanita untuk berkencan? Sepertinya kau sudah mulai setres!”
__ADS_1
“Kau yang membuatku stres. Setelah pulang dari Bali, aku harus meminta Jhon untuk memeriksaku. Aku takut terkena darah tinggi. Aku selalu saja emosi jika berbicara denganmu.”
“Kenapa kau meminta Jhon untuk memeriksamu? Bukankah ada kak Bianca?”
“Dia sudah kembali lagi ke Amerika. Dua hari setelah pernikahanmu, dia langsung pulang ke sana.” Bianca sempat menghadiri pernikahan Rendi dan Amel. Dia kembali lagi ke Amerika karena harus bekerja. Dia hanya mengambil cuti sebentar.
“Apakah hubungan Jhon dan kak Bianca tidak mengalami kemajuan?”
Setelah kedatangannya Rendi Indonesia, dia belum pernah berbicara santai lagi dengan Jhon karena kesibukan dokter Jhon yang sudah menjabat Direktur Utama di rumah sakit Rendi, jadi dia tidak tahu mengenai kelanjutan kisah dokter Jhon dan dokter Bianca.
Kenan menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan malas. “Kau seperti tidak tahu saja bagaimana Jhon. Dia belum juga berani untuk mengungkapkan isi hatinya pada kak Bianca. Dia penakut. Sementara kak Bianca walaupun sudah tahu kalau Jhon juga menyukainya juga, tidak berani mengambil inisiatif duluan, jadi ya hubungan mereka tidak ada kemajuan sama sekali.”
“Jhon itu bukannya takut, dia hanya tidak percaya diri saja. Dia hanya anak yatim piatu. Dia merasa tidak pantas untuk kakakmu. Menurutnya status sosialnya dengan kakakmu jauh berbeda. Dia takut orang tuamu tidak setuju dengannya. Walapun aku sudah pernah bilang kalau dia adalah bagian dari keluargaku, tapi tetap saja dia merasa dirinya bukan siapa-siapa.”
“Kak Bianca itu akan menyerahkan semuanya padaku. Dia hanya akan mengandalkan dirinya sendiri. Dia tidak mau bergantung pada warisan orang tuaku. Kalau Jhon tidak mencobanya untuk berbicara dengan orang tuaku, bagaimana bisa dia bisa tahu, orang tuaku setuju atau tidak dengannya. Lagi pula aku merasa ayahku menyukainya, terbukti saat kuliah di luar negri dia menitipkan kak Bianca pada Jhon.”
“Aku juga sudah pernah mengatakan padanya, tapi dia bilang akan mempersiapkan diri dulu. Dia harus mempunyai bekal untuk melamar kak Bianca. Aku berpikir akan memberikan rumah sakit itu padanya. Agar dia tidak merasa rendah diri terus.”
“Apa kau pikir dia akan menerima begitu saja. Kau tahu sendiri Jhon tidak suka dikasihani dan tidak suka bergantung pada orang lain.”
“Ayahku yang pernah bilang akan memberikannya pada Jhon ketika dia akan menikah. Dia tidak mungkin menolak permintaan ayahku.”
“Apa ayahmu tidak berniat memberikanku perusahannya padaku?”
“Kubur saja mimpimu itu!”
"Apa yang perlu dikasihani darimu, kau itu pewaris dari Merion Group."
"Siapa tahu saja..!" ucap Kenan dengan senyuman konyolnya. "Ren, sepertinya kau melupakan sesuatu?”
“Apa?”
“Aku sudah dari tadi di sini, tetapi kau belum juga menawariku minuman dan makanan.” Seketika Kenan merasa lapar dan haus.
“Aku bukan babumu, ambil sendiri!”
Kenan langsung menampilkan wajah sebalnya. “Aku ini tamu. Seharusnya kau yang pergi mengambilkan untukku!”
Rendi menatap malas pada Kenan. “Kakimu tidak pincang, kan? Ambil sendiri!”
“Tentu saja. Kau mendoakan aku cacat?”
“Aku hanya memastikan saja,” ucap Rendi cuek.
“Aku takut salah masuk nanti, bagaimana kalau aku masuk ke dalam kamarmu. Apa kau tidak takut aku melihat Amel tanp...”
__ADS_1
Rendi langsung berdiri. Dia langsung teringat kalau Amel masih polos belum mengenakan apa-apa. Rendi tidak ingin ada yang melihat istrinya, walaupun dia sudah menutupi tubuh istrinya dengan selimut.
“Jangan berani-berani masuk ke kamarku. Aku akan mengambilkannya. Kau tunggu di sini!” Rendi berjalan menuju dapur dengan cepat.
Kenan sudah menduga kalau cara itu akan berhasil untuk membuat Rendi mengambilkan dia makanan dan minuman.
Rendi berjalan keluar dengan membawa beberapa minuman dan makanan untuk Kenan. Dia meletakkan di atas meja dengan malas. “Kau ini hanya bisa merepotkanku saja,” gerutu Rendi ketika dia sudah duduk di sofa.
“Apa benar Amel belum..”
“Hentikan ucapanmu dan buang pikiran kotormu itu!” Rendi bisa menduga apa yang ada di pikiran Kenan saat ini.
“Padahal tadi aku hanya menebak saja. Ternyata benar kalau Amel bel...”
“Tutup mulutmu! Atau kuusir kau dari sini!” ucap Rendi dengan tatapan tajam.
Kenan tersenyum penuh senang, setelah berhasil memancing emosi Rendi. “Kau kejam sekali padaku,” ucap Kenan sambil menampilkan wajah sedih.
“Jangan sekali-kali kau membayangkan tubuh istriku!”
Kenan tertawa lebar. “Kau pikir aku maniak?” ucap Kenan cepat.
“Iyaa, terlihat jelas di wajahmu!” ucap Rendi ketus.
“Aku ini laki-laki polos. Aku tidak pernah berpikir macam-macam apalagi pada istri orang lain.”
Rendi menatap datar pada kenan. “Aku tidak percaya pada mulut laki-laki sepertimu.”
"Sialan kau Ren..!" Kenan berdiri. "Aku lelah.. di mana kamarku?
"Kau mau ke mana?" tanya Rendi ketika melihat Kenan ingin melangkahkan kakinya.
Kenan menoleh pada Rendi dengan tatapan malas. "Tentu saja istirahat, badanku pegal semua."
Rendi berdiri. "Kau jangan berlagak bodoh Kenan. Ini adalah Vilaku. Kau tidak boleh tidur di sini! Apa kau berencana mengganggu bulan maduku?" tanya Rendi dengan tatapan menyelidik.
"Aku hanya penasaran, apa saja yang pengantin baru lakukan saat bulan madu."
Rendi maju mendekati Kenan. "Plaak."
Kenan menatap tajam pada Rendi. "Kenapa kau memukul kepalaku?" ucap Kenan setengah berteriak.
"Karena kau bodoh. Jangan menggangguku! dan buang pikiran kotor yang ada di kepalamu itu! Aku hanya takut kau akan tersiksa karena tidak mempunyai pelampiasan." Rendi menarik baju Kenan untuk keluar dari vilanya.
"Sombong sekali kau karena sudah menikah!" Kenan yang tidak siapa ditarik oleh Rendi, hampir terjatuh. "Kita mau ke mana?"
__ADS_1
Rendi membuka pintu dan menyeret Kenan keluar. "Tentu saja ke vilamu. Jangan pernah berpikir untuk mengacaukan bulan maduku!"
Bersambung...