Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kekecewaan Rendi


__ADS_3

Amel menyusul Rendi. Dia tahu kalau saat ini Rendi sedang marah. Dia harus bisa menenangkan Rendi agar tidak marah lagi dengannya. “Maaf kak, Amel benar-benar tidak tahu mengenai cincin itu,” ucap Amel saat sudah berdiri belakang Rendi.


Melihat belum ada juga respon dari Rendi, Amel berjalan ke depannya. Rendi masih menatap ke taman tanpa ekspresi. Dengan satu tangan yang dimasukkan ke saku celananya. Amel mengangkat kepalanya, memandang wajah Rendi.


“Kak, kok diem saja? Kakak marah sama aku?” tanya Amel sambil menarik kedua sisi baju Rendi.


Rendi menunduk ke bawah, menatap iris hitam Amel. “ Aku tidak marah,” jawan Rendi datar.


“Terus kenapa kakak diam saja?” Dia masih memandang Rendi yang terlihat sudah mengalihkan pandanganya lagi ke depan. Rendi mengacak-acak rambut Amel,


“Masuklah, di sini panas.” Rendi berjalan masuk ke dalam kamarnya lagi diikuti oleh Amel di belakangnya.


Amel kemudian duduk di sofa sambil menatap Rendi sedang duduk di depannya sambil membuka ponselnya. Lama Amel terdiam, dia merebut ponsel Rendi dari tangannya. Dia merasa kesal saat Rendi bersikap acuh dengannya. Rendi mengalihkan pandangannya kepada Amel.


“Kembalion ponselku Mel." Rendi menyodorkan telapak tangannya sambil menatap Amel.


Amel berusaha menyembunyikan ponsel Rendi di belakang tubuhnya sambil mengalihkan pandangannya ke samping. “Jangan coba-coba memancingku Mel,” ucap Rendi dengan suara berat dan tatapan tajam.


“Kalau Amel nggak mau, Kakak mau apa?” tantang Amel yang sekarang sedang menatap berani kepada Rendi.


Rendi terdiam. Amel tidak bisa melihat maksud dari tatapan Rendi saat ini kepadanya. Beberapa saat kemudian Rendi menyeringai. “Kamu bakal nyesel Mel karena sudah ganggu aku.”


Rendi langsung mengecup singkat bibirnya lalu menggigit bibir bawah Amel secepwt kilat. Amel yang terkejut, mendadak serangan tiba-tiba dari Rendi, tanpa sadar langsung melepas ponsel Rendi dari tangannya.


"Kenapa Kakak gigit bibir aku?" Amel memegang bibirnya.


Rendi tersenyum saat melihat Amel yang sedang menatap tajam kepadanya dengan wajah cemberut “Jangan menampikan wajah seperti itunatau aku bakal cium kamu lagi.”


Rendi mengangkat wajah Amel agar menatap matanya dan Amel berusaha mengimhindari tatapan Rendi karena tidak berani menatap langsung mata Rendi.


Rendi memeluk tubuh Amel saat menyadari wajah Amel bertambah merah saat mendengar perkataannya. “Maafkan aku. Aku nggak bermaksud mengabaikan kamu tadi. Aku cuma berusaha menekan marahku. Aku nggal nyakitin kamu dengan kata-kata aku. Itu sebabnya aku diam saja.” Rendi masih memeluk Amel sambil mengelus pucuk kepalanya.

__ADS_1


Rendi melihat Amel hanya mengangguk dan merasa sedikit canggung. Tidak lama kemudian Rendi melepaskan pelukannya. “Kau boleh menyimpan cincin itu. Dengan syarat, kau harus memakai cincin pemberianku nanti.” Rendi menundukkan wajahnya sedikit menatap wajah Amel.


“Iyaa Kak, tapi boleh nggak aku make cincin itu sesekali waktu aku mau ketemu sama mama Tamara?” tanya Amel dengan hati-hati. Dia takut Rendi akan marah lagi.


“Kamu ini ....” Rendi mengangkat tangannya lalu mengarahkan jemarinya ke dahi Amel.


Amel mengelus dahinya yang di sentil oleh Rendi. “Sakit, Kak."


“Itu Nggak seberapa dengan rasa sakit yang aku rasain waktu lihat kamu pake cincin itu.”


Kalau Rendi tahu kalau aku dibelikan ponsel juga. Jangan-jangan dia bakal mengusirku langsung dari sini. Aku aja belum sempat bercerita tentang Devan. Aku harus gimana ini? kalau aku nggak cerita soal itu, dia pasti bakal lebih marah sama aku nanti.


“Amel kan sudah minta maaf,” protes Amel dengan wajah cemberut.


“Aku belum maafin kamu. kamu harus menciumku dulu baru aku maafin.” Ada saja akal-akalan Rendi untuk mengerjai Amel.


“Oke, nggakk masalah.. Aku bakal cium Kakak 2 kali, tapi dengan satu syarat ....”


“Kakak janji dulu nggak akan marah denganku.”


“Tentu saja aku nggak akan marah kalau ku cium aku, apalagi 2 kali." Rendi tersenyum bahagia.


Kalau kakak tahu aku bakal ceritaim 2 hal yang bakal membuat kakak marah, apa kakak masih akan tersenyum senang seperti ini? Aku harus mulai dari mana dulu! Aku takut dia akan memukul kepalaku dengan ponselnya setelah mendengar ceritaku.


“Kakak janji dulu!m.”


“Iyaa aku janji.”


“Bilang dulu Kakak nggak akan marah sama aku nanti.”


Rendi menghembuskan napas berat. “Aku janji nggak akan marah sama lacarku ini,” ulang Rendi sambil memegang pucuk kepala Amel.

__ADS_1


“Sebelum itu, aku mau kasih tahu sesuatu sama Kakak. Kakak harus dengarin aku baik-baik dan hati yang tenang.”


Amel terdiam sejenak. Dia ingin melihat reaksi Rendi dulu. Setelah memastikan Rendi hanya diam dan mengangguk, Amel melanjutkan perkataannya, “Aku bakal nyampaikan 2 hal yang berbeda.”


“Sebenarnya kau akan nyampaikan apa? Kenapa lama sekali?" cecar Rendi yang mulai tidak sabar saat melihat Amel tampak berbicara yang tidak langsung pada intinya.


“Sebenarnya kemarin waktu aku bilang sama Kakak bakal menemani Raka ke mall, dia beliin aku ponsel." Amel mengucapkannya dengan pelan saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Dia kemudian melirik pada Rendi untuk melihat reaksinya.


Rauk wajah Rendi berubah. “Kamu menerimanya?” tanya Rendi dengan wajah datar. Terlihat wajah hya tanpa ekpresi dab hanya matanya terlihat dingin saat memandang Amel.


“Kalau aku tolak, aku takut mama Tamara akan kecewa. Aku juga nggam lihat waktu Raka beliin ponsel itu.”


“Kenapa harus takut mamanya kecewa? Sepertinya mereka benar-benar berniat untuk membuatmu menjadi bagian dari keluarga mereka,” ujar Rendi dengan nada sinis.


“Sebenarnya, mama Tamara yang meminta Raka untuk membelikan aku ponsel itu, tapi karena Mama takut nggak sesuai sama kesukaan aku, makanya dia minta Raka yang membelikan aku kemarin.” Amel sudah memegang tangan Rendi. Dia takut Rendi akan pergi meninggalkannya seperti tadi.


Tatapan Rendi masih tidak berubah. Wajanya justru terlihat lebih datar lagi dan sikapnya terlihat lebih dingin. “Apa kamu yakin, itu permintaan mamanya? Bukan kemauan Raka sendiri?” Tidak ada senyum sedikitpun di wajah Rendi.


“Kata Raka, mamanya mengirim pesan kemarin untuk langsung membelikan ponsel itu waktu kami sampai di mall itu.”


Rendi tersenyum sinis. “Kalau nanti mereka beliin kamu rumah, apa kamu bakal nerima juga? Apa kamu nggak berniat menolaknya sama sekali?”


“Bukan kayak gitu itu, Kak ...."


Rendi tersenyum miring. “Kau bahkan menolak dengan keras menerima kartuku, dan mggak mau menggunakannya. Sementara kamu dengan mudah menerima ponsel dari Raka, bahkan kaum memakai cincin terbilang nggam murah dari mamanya. Aku jadi ragu, apa kamu benar-benar mengganggap aku ini sebagai pacarmu?”


Amel mendekat ke Rendi. Dia langsung menggenggam tanga Rendi. “Bukan seperti itu, Kak. Dengarin aku dulu. Kakak jangan marah seperti ini. Bukannya Kakak udah janji nggj akan marah sama aku? Kakak harus tenang dulu.”


Rendi masih menatap Amel dengan wajah datarnya. “Menurut kamu, bagaimana aku harus bersikap kalau kamu berada di posisiku saat ini?” Rendi menyandarkan punggungnya ke sofa dengan raut wajah tenang dan tatapan mata yang berkilat.


Dia lebih mengerikan waktu diam, kalau terlihat tenang kayak itu, malah buat aku lebih takut. Aku jadi nggak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini. Sepertinya lebih baik kalau dia marah, jadi aku bisa tahu apa yang dia rasakan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2