Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Pemberian Mama Raka


__ADS_3

“Iya, Amel akan terima Ma. Makasih ya Ma.” Amel memeluk Tamara. Tamara mengelus punggung Amel dengan lembut, “coba kamu pakai,” pinta Mama Raka setelah melepas pelukannya.


Amel mengangguk, cincin itu terlihat manis saat Amel sudah memakainya. “Bagus, Ma,” ujar Amel tersenyum.


Tamara terlihat senang, saat Amel memakai cincin pemberiannya. “Jangan dilepas ya Mel,” pinta Mama Raka lagi.


“Iya, Ma.”


“Coba kamu pakai salah satu baju yang Mama belikan. Mama mau lihat, apa ukurannya sesuai sama kamu.”


Amel mengangguk dan berjalan menuju kamar tamu yang biasa dia pakai jika sedang menginap di rumah Raka. Setelah selesai dia berjalan kembali. Amel mencoba dress selutut, dengan kerah sabrina tanpa lengan berwarna putih.


“Waah kamu cantik banget pakai baju itu,” puji Mama Raka saat melihat Amel tampak terlihat cantik saat menggunakan baju itu. Dengan kulit yang putih menambah kesan elegan saat Amel memakainya.


“Makasih, Ma,” ujar Amel malu.


"Buat Raka mana Ma?" Mereka menoleh ke belakang, saat mendengar suara Raka. Terlihat Raka sudah berjalan dan duduk di depan Mereka.


"Nggak ada," jawab Mamanya singkat.


"Nggak adil dong Ma. Masa cuma Amel yang di beliin, Raka nggak."


"Kamu mau pake baju cewek? Ambil aja itu punya mama." Amel terkekeh saat mendengar penuturan Tamara.


Raka menampilkan wajah kesal. "Yang benar aja dong Ma. Raka bisa jadi cantik kalau pakai baju mama. Takutnya Amel merasa kesaing nanti."


"Nggak apa-apa. Mamakan dari dulu emang pengen punya anak cewek. Nanti nama kamu, ama ganti jadi Rika, gimana?" canda Mama Raka yang menatap putranya sambil tersenyum.


"Jangan bercanda dong Ma. Mau dikemanain kegantengan Raka ini," ucap Raka kesal.


"Lagian kamu selalu aja iri sama Amel."


"Soalnya Mama pilih kasih. Tiap Mama pergi belanja yang diingat selalu Amel. Keluar negri bawa oleh-olehnya buat Amel. Kalau liburan ngajaknya Amel. Raka kayak nggak dianggep."


"Kamu kan biasanya sibuk. Lagian kamukan bisa beli sendiri apa yang mau kamu beli. Emang nggak cukup uang jajan yang ada di kartu kamu? Kamu kan juga punya kartu kredit "


"Ya bedalah, Ma. Kalau dibeliin itu rasanya beda"


"Ya udah bawa sini semua kartu kamu." Mama Raka menyodorkan tangannya ke Raka.


"Untuk apa?"


"Buat beli kamu baju dan lain-lain."


"Kan kartu Mama juga ada," ujar Raka tidak terima.

__ADS_1


"Ya pake kartu kamulah. lagian isinya juga banyak, kan? Nggak akan habis kalau cuma buat shopping di mall. bNahkan masih cukup buat beli 1 rumah "


"Mama mau buat Raka jadi gembel beli rumah pake kartu Raka?" tanya Raka dengan wajah kesal.


"Kamu tinggal minta sama Papa lagi."


"Tega banget Mama sama Raka. Mama mau, kalau Raka ditendang keluar dari rumah ini sama papa?"


Amel yang sejak tadi mendengar perdebatan Raka dan Mamanya tidak bisa menahan tawanya.


"Nggak mungkin papa ngusir kamu. Paling parah, paling kamu cuma dicoret dari ahli waris papa."


"Mama, jangan ngaco."


Raka berdiri lalu menarik tangan Amel. "Ayoo Mel. Mendingan kita pergi sekarang. Males ngeladenin Mama."


"Kalian mau kemana?" Langkah Raka dan Amel terhenti saat mendegar pertanyaan Mamanya. "Mau jalan-jalan sama Amel," ujar Raka menoleh.


"Amel ... itu dibawa dulu yang mama beliin buat kamu," ucap Mama Raka mengingatkan Amel.


Amel berbalik dan berlari mengambil paperbagnya. "Maaf Ma, Amel lupa. Makasih ya Ma." Amel tersenyum lebar. "Amel pergi dulu." Amel berlari dan mencium pipi Mama Raka lalu berjalan keluar menyusul Raka yang sudah tidak terlihat.


****


Raka dan Amel sedang berada di sebuah Mall terbesar di jakarta. "Kalau makan es krim, jangan belepotan kayak anak kecil Mel." Raka mengusap sudut bibir Amel yang terkena es krim.


Raka menggeleng "Buat kamu aja. Abang uda kenyang ngeliat kamu makan." Raka menatap Amel yang terlihat bersemangat memakan es krim yang dia pesan.


“Habis ini kita mau cari apalagi Nang?” tanya Amel sambil terus menyendokkan es krim ke mulutnya. Dia tampak sedikit mengernyit saat memakan es krim dalam bentuk yang besar.


Raka tampak berpikir sejenak. "Udah. ini juga sudah banyak," tunjuk Raka pada barang-barang yang dibelinya tadi bersama Amel. “Ini buat kamu.” Raka menyerahkan paperbag berwarna hitam dengan ukuran sedang, yang ada ditangannya.


Amel tampak diam sejenak, dia menatap heran ke arah Raka. “Itu apa?” Amel belum mengambil barang itu dari tangan Raka.


“Kamu lihat aja sendiri.” Amel mengambil paperbag itu. .


"Abang kapan belinya?” tanya Amel heran, saat memegang ponsel keluaran terbaru itu, karena dia tidak melihat sewaktu Raka membeli ponsel tersebut.


“Tadi waktu kamu pamit ke toilet,” jawab Raka, “Ini mama yang minta abang buat belikan kamu karena mama takut salah pilih jadi minta Abang yang beliin.”


“Tapi kenapa mama nggak ngomong sama Amel tadi?


"Mama tadi kirim pesan ke abang waktu kita baru sampe sini.” Jelas Raka. “Terima aja. Kalau mama tahu kamu nolak pemberiannya, dia pasti sedih. kamu, kan tahu mama sayang sama kamu.”


Amel tampak ragu sejenak. Dia serba salah jika menerima, dia berasa terbebani. Jika tidak menerimanya, dia takut menyinggung perasaan mama Raka. Setelah terdiam lama. Akhirnya Amel menerima paperbag yang berisi ponsel itu.

__ADS_1


Amel mangut-mangut. “Abang nggak beli juga?” tanya Amel pada Raka.


“Beli, samaan sama kami,” jawab Raka melihat paperbag satu lagi.


"Makasih Bang. Nanti Amel telpon mama lansung bilang makasih "


"Hhmmm," gumam Raka. "Oya, besok kamu temenin abang temuin Nita ya?” pinta Raka.


Amel menggeleng. “Maaf Bang, nggak bisa. Amel besok mau ketemu sama Rendi.”


Ada guratan kekecewaan saat mendengar penuturan Amel “Ya sudah, abang temuin Nita sendiri aja kalau gitu.”


“Bang, emang siapa sih cewek yang abang suka aampe bikin abang nggak bisa buka hati buat orang lain? Cewek secantik Nita aja abang nggak suka.”


Raka tampak bingung menjelaskannya. “Dia cewek yang istimewa pokoknya, sederhana tapi abang nyaman kalau ada di dekatnya.”


“Kenapa abang nggak pacaran sama dia aja? Malah pacaran sama yang lain?


“ Dia uda punya cowok.”


Amel terlihat tidak bisa menyembunyikan keterjekutannya. “Dia nolak Abang? Cewek mana yang berani nolak abang Amel yang ganteng ini” ucap Amel sambik terkekeh


“Nggak. Abang belom pernah bilang sama dia.” Raka meraih minuman di dekatnya lalu meminumnya.


Amel memiringkan sedikit kepalanya. “kenapa?”


“Tadinya abang mikir mau langsung lamar dia kalau Abang udah siap. Karena yang Abang tahu selama ini dia tidak pernah dekat dengan cowok manapun, makanya abang merasa tenang. Tapi ternyata abang salah, Abang nggak pernah berpikir kalau dia bisa aja suka sama orang lain.” Terlihat ada penyesalan di wajah Raka.


“Ya udaah, kan masih banyak cewek lain di luar sana. Cewek yang ngantri jadi pacar Abang juga banyak,” ucap Amel enteng.


“Abang nggak bisa ngelepas dia begitu aja, selama dia belum menikah. Abang akan berjuang buat dapetin dia,” ucap Raka dengan mimik wajah yang serius. Dia tampak terdiam setelah mengatakan itu.


“Apa Amel kenal sama orang itu?” tanya Amel memajukan sedikit tubuhnya dan menatap penasaran kepada Raka.


Raka menatap Amel sebentar. “Iyaa,” jawab singkat Raka.


“Kasih tahu dong? Amel penasaran banget, Seperti apa, cewek yang uda buat abang Amel ini jatuh cinta,” ujar Amel memasang mimik memohon.


“Nanti kalau waktunya sudah tepat, kamu akan tahu sendiri.” Raka menghindar dari tatapan Amel. Dia menyandarkan tubuhnya.


Amel menampilkan wajah cemberut. “Abang nggak seru.”


Raka tersenyum tipis melihat ekspresi Amel.


Setelah cukup lama berada di cafe itu, mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai gelap.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2