
Dokter Jhon berjalan keluar bersama Amel. Mereka menuju ruang ICU. Dari kejauhan terlihat Sofi dan Friska sedang duduk di kursi depan ruang ICU. “Kalian sudah masuk ke dalam?” tanya dokter Jhon saat sudah berada di depan ruangan ICU.
“Sudah kak!” jawab Friska dan Sofi serempak.
“Kalau begitu aku akan masuk ke dalam bersama Amel.” Sofi mengangguk. Friska tampak menatap tidak suka pada Amel. Dokter Jhon dan Amel masuk ke dalam.
“Nyonya!” sapa dokter Jhon pada ibu Rendi, saat melihat Lilian sedang duduk di samping tempat tidur Rendi.
Lilian berdiri menghadap dokter Jhon. Dia memegang tangan dokter Jhon. “Jhon kenapa Rendi belum sadar juga? Kenapa dia tidur lama sekali? tidak bisakah kau berbuat sesuatu untuk adikmu agar dia cepat sadar? Kamu tahu aku tidak bisa hidup, jika terjadi apa-apa dengan Rendi! tolong sembuhkan adikmu Jhon!” ucap Lilian dengan pilu, air matanya sudah mengalir di pipinya.
Sebenarnya keluarga Rendi sudah menganggap dokter Jhon bagian dari keluarganya. Lilian sudah sering kali protes dengan panggilan dokter Jhon kepadanya. Dia juga sudah sering meminta dokter jhon untuk memanggilnya dengan sebutan mama, tetapi dokter Jhon selalu beralasan tidak ingin menjadi anak yang tidak tahu diri, jika memanggilnya seperti itu. Dokter Jhon merasa tidak pantas.
Dokter Jhon sangat bersyukur, karena keluarga Rendi sudah mengangkatnya sebagai anak. Selama ini dia dibesarkan dan di sekolahkan oleh orang tua Rendi, bahkan dia disekolahkan ke luar negri saat menempuh pendidikan kedokterannya.
Setelah lulus dia langsung di tempatkan di rumah sakit milik keluarga Rendi. Maka dari itu, seumur hidupnya, dia berjanji akan mengabdi kepada keluarga Rendi. Dokter Jhon akan bersikap formal jika sedang bertugas sebagai dokter, jika diluar jam kerja, dia akan menyesuaikan panggilannya terhadap orang tua Rendi begitupun sebaliknya. Lilian akhirnya hanya bisa membiarkannya.
Dokter Jhon menggenggam erat tangan ibu Rendi, “Aku akan berusaha semampuku, nyonya lebih baik istirahat di atas! Aku sudah mengatur ruang VVIP untuk nyonya dan Sofi. Aku akan memberitahukan, jika Rendi sudah sadar nanti.”
“Tapii..”
“Percayakan Rendi kepadaku Ma, aku akan melakukan yang terbaik untuk Rendi!” ucap dokter Jhon dengan wajah serius.
“Baiklah, mama akan menunggu di atas, kabari mama jika Rendi sudah sadar!” ucap Lilian melepaskan pegangan tangannya.
“Iyaa,” jawab dokter Jhon.
Lilian yang panik tidak menyadari, kalau di ruangan itu ada Amel yang dari tadi berdiri tidak jauh darinya dan dokter Jhon. Saat dia akan keluar dia baru menyadari keberadaan Amel.
“Mel, ternyata kau di sini? Mama tidak tahu, kalau kau ada di sini juga,” sapa mama Rendi.
“Iyaa tante, Amel mau melihat keadaan kak Rendi!” ucap Amel sopan.
Lilian mengangguk. “Jika sudah selesai melihat Rendi, kau bisa ke atas juga, Mama menunggu di atas dengan Sofi ya!” ujar Lilian dengan pelan.
__ADS_1
“Baik tante!” sambil mengangguk.
Lilian berjalan keluar dan menuju ke ruang perawatan, yang sudah diatur oleh dokter Jhon untuknya bersama dengan Sofi dan Friska.
Amel berjalan mendekat, ketika dokter Jhon sedang memeriksa Rendi. Amel terdiam saat melihat tubuh Rendi terbaring lemah di ranjang pasien, dengan dibantu alat pernapasan yang menempel di hidungnya. Air mata yang tadi sudah mengering, kini kembali mengalir di pipi Amel.
Dokter Jhon menoleh ke Amel. “Saya sudah selesai memeriksanya. Saya keluar dulu!”
“Apakah saya bisa menunggu di sini sampai kak Rendi sadar?” ujar Amel saat melihat dokter Jhon sudah melangkahkan kakinya.
Dokter Jhon berhenti, lalu menoleh pada Amel. “Yaa, jika Rendi sadar, kau bisa langsung memanggil perawat atau menghubungiku.” Dokter Jhon berjalan meninggalkan ruang ICU setelah melihat anggukan Amel.
Amel berjalan mendekat ranjang Rendi, dia duduk di kursi sebelahnya. “Kak.. bangun! kenapa kakak membahayakan diri sendiri hanya untuk menemaniku! jika aku tahu akan begini, aku tidak akan pernah mau kakak ajak ke wahana itu!” ucap Amel lirih sambil menggenggam tangan Rendi.
Tidak ada reaksi apapun dari Rendi. “Banguun kak!” Amel mulai terisak. Amel terdiam dengan wajah sedih. “Kak, apa kau tidak mendengarku! Apa kau marah masih marah denganku? Kau sakit apa sebenarnya?” Amel terus saja meracau, dia sudah tidak tahu apa saja yang dia katakan. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, Amel belum juga beranjak dari duduknya. Dia masih memandang Rendi yang masih belum juga membuka matanya.
“Mel..? Kenapa tidak ke atas?” Amel menoleh saat mendendengar suara mama Rendi, terlihat Lilian sedang berjalan menghampirinya bersama dengan Sofi di sampingnya.
“Amel mau menunggu di sini sampai Rendi sadar tante!” jawab Amel saat Lilian dan Sofi sudah berada di dekatnya.
“Amel masih mau di sini! Amel juga belum lapar tante.” Amel mengalihkan padangannya ke wajah Rendi.
“Kalau kamu nggak makan, kamu juga bisa sakit. Rendi akan marah sama mama, kalau sampai dia tahu kamu juga sakit,” ucap Lilian membujuk Amel. Dengan wajah sendu, Lilian menatap anaknya yang belum juga sadar.
“Iyaa kak, benar kata Mama! Lebih baik kakak makan dulu, setelah itu istrirahat sebentar. Nanti kita baru ke sini lagi!” saran Sofi saat melihat Amel tampak enggan untuk meninggalkan kakaknya.
“Kalian tunggu di sini dulu! Mama akan temuin Jhon dulu! Setelah itu baru kita ke atas,” ujar Lilian sambil meninggalkan ruangan itu.
Sofi berjalan ke sisi lain tempat tidur Rendi, dia memandang wajah kakaknya. “Kakak, bangun!” ujar Sofi sambil memegang lengan kiri Rendi.
“Kakak tidak kasihan dengan kak Amel? Dia bahkan tidak mau beranjak dari duduknya sebelum kakak bangun! Apa kakak tidak takut kalau kak Amel pergi meniggalkan kakak dan pergi bersama orang lain karena lelah menunggu kakak yang tidak bangun juga?” ucap Sofi asal.
Amel hanya diam mendengar kata-kata Sofi. Dia masih memegang erat tangan Rendi.
__ADS_1
“Sof?” panggil Amel tiba-tiba, dia terkejut saat merasakan pergerakan tangan Rendi. Sofi langsung menoleh ke arah pandangan Amel sedang menatap tangan Rendi yang tampak bergerak.
Amel langsung bangun dari duduknya. “Kakak sudah sadar?” tanya Amel cepat saat melihat maat Rendi perlahan terbuka.
Rendi tampak mengerjapkan matanya, bola matanya tampak bergerak. Amel merasa genggaman kuat dari Rendi. Rendi hanya dia diam dan memandang lemah pada Amel. Sofi dengan sigap memencet tombol untuk memanggil perawat untuk datang.
“Kakak jangan begerak dulu! tunggu perawat dan dokter datang,” ucap Amel saat Rendi mencoba untuk bangun dari tidurnya.
Rendi mencoba untuk bangun. “Mel.. Ma..”
“Kakaaak! teriak Amel dan Sofi serempak, saat melihat Rendi memuntahkan cairan dari mulut dan hidungnya. Tampak Rendi memegang kepalanya. Tidak lama kemudian dia pingsan lagi.
Amel dan Sofi langsung histeris, wajah mereka panik, Amel tampak sudah menangis sambil terus memanggil nama Rendi.
“Rendi kenapa?” tanya Dokter Jhon saat melihat Sofi dan Amel sudah mengeluarkan air mata mereka. Sofi langsung menoleh saat mendengar suara dokter Jhon yang terlihat datang bersama ibunya, diikuti oleh perawat di belakangnya.
“Sof kakak kamu kenapa?” timpal Lilian panik, dia meremas tangannya dengan kuat.
“Tadi kak Rendi sempat sadar, setelah itu muntah dan langsung pingsan lagi!” jawab Sofi dengan suara bergetar dan tangis yang sudah pecah.
Dokter Jhon mendekati ranjang pasien, dia melihat bekas muntahan Rendi mengenai sebagian tubuh Rendi, terdapat juga di seprai dan lantai rumah sakit. “Kalian tunggu di luar dulu!” pinta dokter Jhon kepada mereka.
Mereka langsung keluar saat perawat mengarahkan mereka ke pintu keluar.
Dokter Jhon tampak menghubungi seseorang sebelum menutup pintu ruang ICU.
Mereka bertiga berdiri di depan ruang ICU. “Kenapa kakak kamu bisa tiba-tiba pingsan lagi Sof?” tanya Lilian.
“Sofi juga tidak tahu Ma! Kak Rendi tiba-tiba bangun dan muntah!” ucap Sofi jujur. "Mama tenang dulu! Lebih baik Mama duduk sambil menunggu kakak diperiksa!” saran Sofi sambil memegang lengan mamanya, dan membawa mamanya untuk duduk di sampingnya.
Sementara Amel tampak diam, menatap lurus ke depan! tatapannya kosong.
Mereka semua menoleh, saat mendengar beberapa langkah menuju ke arah mereka. Terlihat beberapa dokter spesialis yang menangani Rendi tadi siang datang kembali. Mereka langsung masuk ke ruang ICU dan menutup kembali pintunya.
__ADS_1
Bersambung...