Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Keputusan Sofi


__ADS_3

"Jadilah milikku, Sofi," jawab Raka dengan wajah serius.


"Haaaaahh...??" Sofi terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Raka.


Raka menyunggingkan senyumnya, lalu berbisik pada Sofi. "Aku tidak mau menjadi kekasihmu lagi. Jadilah istriku jika kau memang ingin kembali padaku. Jika kau tidak mau. Anggap saja pembicaraan kita selesai sampai di sini dan jangan pernah membahas mengenai hubungan kita lagi." Raka lalu menjauhkan wajah dari Sofi.


Setelah berbicara dengan Rendi, Raka mulai bimbang apakah dia harus merelakan Sofi pada Willy atau dia kembali lagi dengan Sofi. Raka berpikir keras bahkan ketika mereka makan di restoran tersebut. Itulah sebabnya Raka lebih banyak diam setelah keluar dari ruangan kerja Rendi. Dia tidak ingin mengambil keputusan yang salah yang mengakibatkan dia akan menyesal nantinya.


Akhirnya Raka memilih untuk kembali pada Sofi, tetapi dia tidak ingin hubungannya sama seperti sebelumnya. Dia ingin langsung menikahi Sofi agar kejadian yang sebelumnya tidak terjadi. Dia berpikir kalau sudah menjadi istrinya, setidaknya Sofi akan lebih menuruti perkataanya dan lebih mudah untuk mengaturnya.


Mata Sofi terbelalak. "Istri??"


Sofi menatap tidak percaya pada Raka. Wajar saja kalau Sofi sangat terkejut dengan apa yang dilontarkan oleh Raka. Pasalnya sebelumnya Raka seperti sangat acuh padanya dan terkesan sudah tidak mau kembali lagi padanya. Menjadi istri, tidak pernah terpikirkan oleh Sofi untuk menikah dalam usia yang masih terbilang muda yaitu umur 23 tahun.


Raka memasukkan tangannya di saku celana lalu menatap Sofi dengan alis yang terangkat. "Kenapa? Apa kau tidak mau menjadi istriku?"


"Bukan.. Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya.. Aku masih muda Raka. Aku memang ingin menikah tapi tidak sekarang. Aku hanya...."


Raka tersenyum sinis. Dia sudah mendunga kalau Sofi pasti akan menolak tawarannya. "Baiklah. Kalau begitu aku anggap kau menolakku. Pembicaraan kita selesai sampai di sini. Jangan pernah membahas masalah ini lagi denganku. Aku sudah memberikanmu kesempatan tapi kau yang menyia-nyiakannya."


Raka langsung berjalan menuju tempat tidur. Saat ini, Raka sangat kecewa dengan Sofi. Disaat dia sudah ingin memulai lagi dengan Sofi. Justru Sofi langsung menolaknya tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Raka tunggu." Sofi menahan tangan Raka. "Aku hanya belum siap untuk menikah sekarang, Raka." Sofi mulai panik ketika melihat wajah dingin Raka.


Raka kemudian menoleh pada Sofi. "Kenapa?" Sofi terlihat bingung. "Apa karena kau takut tidak bisa bebas lagi? Atau kau masih ingin bermain-main dengan pria lain? Atau kau memang tidak pernah mau menjalin hubungan serius denganku?" cecar Raka, "jadi, kau berniat untuk mempermainkan perasaanku, Sofi?" tanya Raka dengan dahi mengerut dan wajah kecewa.


Sofi terlihat gusar. "Aku tidak bermaksud mempermainkanmu, Raka. Hanya saja umurku masih muda. Aku belum sanggup memikul beban berat sebagai seorang istri. Aku takut tidak bisa mengurusmu dengan baik nanti. Aku harus mempersiapkan mentalku terlebih dahulu. Tolong mengerti, Raka," mohon Sofi dengan wajah penuh harap.


Raka membalikkan badannya lalu melepaskan tangan Sofi dari tangannya. "Berapa lama aku harus menunggu sampai kau siap menikah denganku?"

__ADS_1


Sofi menatap ke sebelah kanan bawah. "Aku juga belum tahu," jawab Sofi pelan.


Raka mencibir. "Kau bilang tidak bisa menolak perjodohan dengan Willy dan hanya bisa menerima begitu saja perjodohan tersebut, tapi disaat aku mengajakmu menikah, kau justru langsung menolakku tanpa berpikir panjang. Aku juga memiliki perasaan Sofi. Aku bisa kecewa dan marah jika terus kau permainkan," ucap Raka dengan wajah frustasi.


"Aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu, Raka. Aku juga mau menikah denganmu, tapi aku masih bel..."


Raka langsung menyela ucapan Sofi. "Dengarkan aku," Raka memegang kedua bahu Sofi. "Aku tidak akan memaksamu jika kau memang tidak ingin menikah denganku. Itu adalah hakmu. Aku akan menghargaimu keputusanmu, tapi aku tidak bisa menunggumu tanpa adanya kejelasan darimu. Jadi, kalau kau tidak mau menikah denganku, lebih baik kita akhiri semuanya." Raka lalu melepaskan tangannya dari bahu Sofi.


"Jadi, maksudmu kau akan menikah dengan wanita lain, jika aku tidak mau menikah denganmu sekarang?" tanya Sofi.


Raka hanya diam, tidak membalas ucapan Sofi. "Keluarlah. Aku ingin tidur." Raka kembali duduk di tepi tempat tidur.


"Apa kau berencana menikah dengan wanita yang akan kau kenalkan pada mama?" Sofi seketika teringat dengan wanita yang disebut-sebut akan menjadi calon istri Raka.


Raka menatap ke bawah sejenak lalu beralih menatap Sofi. "Jangan membahas orang yang tidak ada kaitannya dengan masalah kita," ucap Raka dengan wajah malas.


Sofi masih berdiri di tempatnya seraya menatap kecewa pada Raka. Sofi lalu tersenyum getir. "Tentu saja ada hubungannya. Kau tidak mau menungguku karena kau ingin menikahi wanita tersebut, bukan?"


"Melihatmu tidak menjawab pertanyaanku membuat aku semakin yakin kalau kau pasti akan menikahinya nanti."


Raka mengusap kasar wajahnya. Dia sedari tadi sudah menahan amarahnya terhadap Sofi. Dia kemudian berjalan mendekati Sofi kembali. "Sebenarnya apa maumu? Aku sudah memberikanmu kesempatan tapi kau langsung menolaknya. Sekarang kau justru membawa orang lain dan menuduhku tanpa bukti."


Raka masih berusaha untuk tetap tenang. "Kalau seandainya aku pada akhirnya menikah dengan orang lain, itu karena kau yang sudah menolakku terlebih dahulu."


Mata Sofi berkaca-kaca. "Aku bukannya menolakmu, Raka. Aku hanya memintamu untuk menunggu sampai aku siap."


Raka mendesis. "Kau mau aku menunggu sampai kapan? 2 tahun? 5 tahun? atau 10 tahun?" cecar Raka. "Kau bahkan tidak bisa memberikan kepastian padaku. Bagaimana bisa kau dengan mudahnya menyuruhku menunggumu?"


Sofi langsung terdiam. Sejujurnya dia juga tidak tahu sampai kapan dia akan siap untuk menikah. Dia sama sekali belum pernah memikirkan hal itu.

__ADS_1


"Bisakah kau memberikan aku waktu untuk berpikir." Sofi juga menyadari kalau ucapan Raka ada benarnya. Oleh karen itu dia meminta Raka untuk memberikan waktu padanya untuk berpikir.


Raka mendekatkan wajahnya ada Sofi. "Bagaimana kalau aku tidak mau?" Raka menjauhkan wajahnya lalu menatap Sofi dengan wajah serius.


Sofi berpikir sejenak. Dia lalu menunduk tidak berani untuk menatap Raka. Matanya mulai berair. "Jadi kau tidak ingin memberikan waktu padaku?" tanya Sofi dengan suara bergetar. Air matanya mulai menetes.


Raka menunduk, memejamkan matanya sambil menghela napas berat. Dia merasa tidak tega melihat Sofi yang mulai mulai meneteskan air matanya. Raka berusaha menetralisir perasaannya terlebih dahulu sebelum melangkah mendekati Sofi.


"Jangan menangis. Maafkan aku," ucap Raka sambil memeluk Sofi. Dia mengusap-usap kepala Sofi dengan lembut. "Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir," sambung Raka lagi.


Kelemahannya yang sampai sekarang tidak bisa dia hilangkan adalah tidak bisa melihat wanita menangis terlebih lagi wanita yang dia cintai.


Sofi langsung mendongakkan kepalanya menatap mata Raka. "Benarkah kau akan memberikan waktu?" tanya Sofi dengan wajah tidak percaya.


Raka mengangguk. "Tidurlah. Ini sudah malam. Aku juga harus pulang pagi-pagi sekali karena harus bekerja besok."


"Baiklah." Sofi melepaskan pelukan Raka. "Aku kembali ke kamarku dulu."


Raka mengantarkan Sofi sampai depan pintu. "Pikirkan baik-baik sebelum kau mengambil keputusan. Ini akan menjadi yang kesempatan terakhir untuk memperbaiki hubungan kita."


"Iyaaa, aku mengerti."


Raka maju lalu mencium pucuk kepala Sofi. "Tidurlah."


Sofi terlihat tersipu malu. "Iyaa. Kau juga langsung tidur."


"Iya."


Raka menutup pintu setelah kepergian Sofi. Dia berjalan menuju kamar mandi lalu membasuh wajahnya. Raka memandang wajahnya di cermin. Dia terlihat sedang berpikir. Sofi sungguh membuatnya tidak berdaya kali ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2