
Amel terdiam sejenak, setelah mendengar perkataan Rendi. “Iya aku tahu, aku salah. Maafkan aku kak. Aku juga sudah berusaha menolaknya. Aku janji kedepannya akan bertanya kepada kakak dulu, apakah aku boleh menerimanya.”
“Aku sudah berusaha untuk menahan amarahku dari tadi. Aku sudah berusaha memaklumimu, tapi kalau kau terus saja memancingku seperti ini. Aku juga bisa marah padamu, Mel.”
Rendi berhenti sejenak. “Aku juga nggak mau terlalu banyak mengaturmu. Aku berusaha mengerti kamu, Mel. Aku juga sadar, terkadang rasa cemburuku ini berlebihan. Aku juga selalu berusaha untuk menekannya, tapi aku butuh waktu untuk itu. Kau juga harus memahamiku. Mungkin karena aku terlalu mencintaimu jadi sikapku seperti itu.”
Amel hanya terdiam saat mendengarkan isi hati Rendi. Amel dibuat tidak berkutik dengan kata-kata Rendi. “Aku lelah. Apa ada yang ingin kau katakan lagi padaku?” tanya Rendi saat melihat Amel tidak merespon ucapannya.
Amel langsung mencengkram kuat lengan Rendi karena takut dia akan bangun dari duduknya. “Tunggu, Kak. Aku masih ingin bicara satu hal lagi dengan Kakak. Aku juga tidak mau menyembunyikan ini dari Kakak. Aku tidak mau kakak salah paham lagi denganku.”
Rendi melepaskan tangan Amel yang sedari tadi memegang lengannya. “Katakanlah. Aku akan mendengarkan.” Rendi duduk berpangku tangan dengan satu kaki yang bertumpu pada tepi luar kaki satunya lagi.
“Ini mengenai, Devan.”
Alis Rendi naik sebelah. “Siapa lagi dia? Mantanmu?" tanya Rendi dengan wajah malas.
“Bukan Kak. Dia adalah laki-laki yang tidak sengajabaku tabrak saat dirumah sakit itu.”
Rendi tersenyum sinis. “Kamu bahkan sudah tahu namanya sekarang. Kamu benar-benar luar biasa, Mel. Apa kamu sudah bertemu dengannya di belakangku? Sepertinya, kata-kataku kau anggap angin lalu. Padahal, jelas-jelas aku sudah melarangmu berdekatan dengannya.”
“Bukan seperti itu, Kak.” Amel menarik napas dalam lalu menghembuskan secara perlahan. “Aku memang bertemu dengannya, tapi bukan disengaja, Kak. Dia menjadi guru magang di kelasku dan memilihku sebagai murid bertugas untuk membantunya dalam proses belajar mengajar di kelas. Aku sudah menolaknya Kak, tapi dia memintaku untuk bicara dengan wali kelasku kalau aku tidak keberatan membantunya. Aku juga sudah berusaha menghindarinya saat pertama kali dia masuk ke kelasku, tapi ternyata dia mengenaliku. Bahkan dia sudah tahu nama lengkapku duluan.”
Amel berusaha memberitahukan semua kepada Rendi. Dia tidak mau ada yang di tutupi lagi lagi dari Rendi yang nantinya akan menjadi masalah untuknya.
__ADS_1
“Nggak ada yang namanya kebetulan di dunia ini Mel kalau kamu terus bertemu denganya tanpa sengaja lebih dari 3 kali. Kamu pikir kenapa dia memilihmu di antara sekian banyak siswa dikelasmu kalau dia nggak ada niat untuk mendekati kamu? Aku sudah pernah bilang kepadamu waktu pertama kali bertemu dengannya kalau dia itu suka sama kamu. Kau justru nggak percaya sama ucapanku. Sekarang terbukti, dia dengan sengaja membuatmu dekat dengannya. Bahkan setelah tahu kamu sudah mempunyai pacar pun dia masih saja nggak terganggu dengan hal itu.”
“Aku sudah berusaha tegas waktu dia narik aku untuk berbicara dengannya, Kak. Aku tegasin kalau kami nggak boleh berdekatan. Aku juga nggak mau ada yang salah paham dengan sikapnya kepadaku.”
“Bahkan dia sudah berani menyentuhmu tangan kamu. Sepertinya dia benar-benar berniat untuk merebutmu dariku.”
“Aku nggak suka sama dia, Kak. Aku juga terus menghindarinya saat berada di sekolah. Aku harap Kakak nggak membuat masalah saat bertemu dengannya di sekolah. Mungkin kedepannya. Aku nggak bisa menghindar lagi darinya. Bagaimanapun aku bertugas membantunya.”
Rendi terdiam cukup lamandan memandang Amel dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Jari-jarinya terlihat mengetuk-ngetuk pinggiran sofa seperti sedang memikirkan sesuatu yang rumit.
Amel terus memandangi Rendi yang terlihat masih diam. “Kak... Kakak harus percaya sama aku. Aku bakal berusaha untuk ngejauhin dia sebisa aku.”
“Dulu... nggak mudah untuk aku mendapatkanmu, tapi aku baru menyadari sekarang kalau mempertahankan kamu disisiku lebih sulit dari mendapatkanmu. Sepertinya aku masih harus bersaing lagi dengan mereka supaya ku tetap berada disisiku, tapi sekeras apapun aku berusaha menggenggam kamu kalau kamu nggak menggenggam tanganku dengan kuat, semua bakal percuma saja.”
Rendi menghela napas sebentar, setelah itu dia mengalihkan pandangannya kepada Amel. “Apa masih ada lagi yang kamu sembunyikan dariku?”
“Tidak ada, Kak. Apa Kakak nggak mau maafin aku?” Ada nada khawatir dalam ucapan Amel.
“Entahlah. Aku nggak bisa mikir sekarang. Aku butuh waktu menenangkan diri dulu. Kamu bisa menunggu di sini atau ke kamar Sofi kalau kamu bosan.” Rendi bangun dari duduknya kemudian berjalan ke tempat tidur.
Amel kemudian menyusul Rendi. “Tunggu, Kak.” Langkah Rendi terhenti saat mendengar perkataan Amel. “Harus dengan cara apa lagi agar Kakak nggak marah sama aku?"
Rendi menoleh pada Amel. “Kamu nggak perlu melakukan apa-apa. Aku nggak marah sama kamu. Aku cuma kecewa saja,” ucap Rendi yang sudah mengalihkan pandangannya lagi ke depan. “Beginilah aku Mel, disaat aku udah terlalu kecewa dengan seseorang atau aku sudah terlalu marah. Aku memilih untuk diam. Aku nggak mau kalau sampai aku berbicara akan menyakiti orang lain nantinya."
__ADS_1
Rendi mematung saat Amel memeluknya dari belakang. “Aku minta maaf soal cincin itu dan soal ponsel itu, Kak. Aku juga minta maaf karena baru memberitahu kakak soal Devan. Aku lebih suka Kakak marah dari pada mendiamkan aku.”
Amel berhenti sejenak. “Yang Kakak harus tahu, aku menerima pemberian mama dan Raka karena memang aku sudah menganggap mereka sebagai keluargaku. Aku nggak mau nyakitin perasaan mereka dengan menolak pemberian mereka karena jauh sebelum aku mengenal kakak, mereka memang sudah menyayangiku dan selalu saja memberikan aku sesuatu. Terutama, mama Tamara ”
“Jadi, selama ini kamu nganggap aku hanya sebagai orang luar? Karena itulah kamu menolak pemberianku?”
“Bukan Kak. Aku cuma merasa nggak pantas untuk nerimanya. Aku takut akan membebani Kakak. Aku juga nggak mau memanfaatkan kebaikan Kakak padaku, tapi kalau yang menjadi masalah karena Kakak merasa aku nggak nganggap Kakak karena kartu itu, baiklah, mulai sekarang aku akan gunain disaat aku butuh, tapi aku mohon Kakak juga harus mengerti kalau nanti mama Tamara memberikan aku sesuatu, aku juga nggak bisa menolaknya.”
“Aku nggak akan marah kalau mereka memberikannya sesuatu yang biasa Mel, tapi lain lagi ceritanya kalau soal cincin itu. Kalau soal pemberian Raka, aku punya alasan kenapa aku marah. Raka mempunyai maksud lain denganmu, Mel.”
Amel melepaskan pelukannya dan berjalan ke hadapan Rendi. “Kita sudah sering membahas soal masalah Raka. Kenapa Kakak masih saja waspada sama dia? Lagian, sudah ada yang disukai oleh Raka. Dia bilang ngga bisa membuka hatinya untuk orang lain karena dia sudah menyukai gadis itu.”
“Apa dia bilang siapa gadis yang disukainya?”
“Nggak. Dia cuma bilang, aku bakal tahu kalau sudah waktunya. Dia bilang nggak bisa ngelepasin gadis itu dan berniat untuk memperjuangkannya, walaupun gadis itu sudah mempunyai pacar. Aku baru pertama kali melihat wajah Raka sangat serius waktu dia bicarain gadis itu. Aku rasa dia sangat mencintainya jadi Kakak nggak perlu khawatir lagi dengannya.”
Rendi tersenyum sinis. “Justru karena dia berbicara seperti itu, aku jadi lebih waspada dengannya. Bahkan saat gadis itu mempunyai pacar, dia tidak berniat sama sekali untuk mundur. Dia bisa saja merebutmu dariku kau dia mempunyai pemikiran seperti itu.”
“Tidak mungkin, Kak. Dia bahkan berencana melamar gadis itu kalau waktunya sudah tepat. Jadi, dia nggak mempunyai waktu untuk melihat ke gadis lain,” ucap Amel polos.
Rendi tampak memijit pelipisnya. “Sepertinya kali ini dia nggak main-main dengan ucapannya. Ternyata penilaianku tidak pernah salah.”
“Maksud kakak apa?”
__ADS_1
Bersambung....