Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Sulit dijangkau


__ADS_3

Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tidak ada yang bicara. Mereka sudah memasuki kawasan perumahan elit, terlihat rumah-rumah besar dan megah yang terlihat sangat luas.


Amel belum pernah masuk ke kawasan perumahan elit, membuatnya menatap penuh kekaguman. Sepanjang jalan perumahan Amel tidak hentinya melihat keluar. Rendi hanya menatap Amel dari tadi dan tersenyum saat melihat wajah Amel yang terlihat menggemaskan.


Mobil berhenti di salah satu rumah termegah di kawasan elit itu. Amel sedikit terkejut saat melihat rumah Rendi yang sangat mewah, terlihat pintu depan yang besar dan berdesign modern.


Ini bukan rumah, tapi seperti istana, besar sekali. Jiwa miskinku meronta-ronta.


Rendi membuka pintu mobil lalu mengajak Amel turun. Sofi pun ikut turun dan berjalan memasuki rumahnya. Rendi menggandeng tangan Amel dan mengajaknya masuk ke dalam. Terlihat Amel hanya bisa diam dan mengikuti Rendi.


Saat masuk ke dalam, nampak ruangan yang luas dengan kursi yang bergaya modern. Lantai yang terbuat dari marmer, terdapat juga vas bunga yang besar dan dinding-dindingnya di hiasai dengan hiasan dinding dan foto-foto keluarga.


Selanjutnya terdapat ruang keluarga di mana terdapat sebuah sofa untuk menonton TV dan berkumpul bersama keluarga.


Rendi pun berhenti di ruangan keluarga dan mengajak Amel untuk duduk.


"Duduk di sini." Rendi menepuk pelan sofa di sebelahnya. Amel mengangguk dan ikut duduk agak jauh dari Rendi. Setelah melihat rumah Rendi, Amel merasa seketika merasa minder karena status sosialnya terlalu jauh dengan Rendi.


Dia tidak berani lagi berharap lebih kepada Rendi karena merasa kalau Rendi tidak akan bisa dijangkau olehnya. Muncul keinginan untuk sedikit menjauh dari Rendi, bahkan untuk menyukai Rendi saja, dia merasa tidak pantas. Kepercayaan dirinya pun luntur seketika.


Rendi melihat Amel duduk agak jauh darinya, kemudian bertanya, "Kenapa kamu duduknya di situ?"


Amel menoleh pada Rendi, menampilkan wajah canggungnya "Nggak apa-apa. Kak, di sini aja."


Rendi yang tidak suka langsung menarik tangan Amel supaya berdekatan dengannya. "Kamu takut sama aku?" Rendi menatap Amel dengan dingin.


Amel yang sudah duduk tepat di sebelah Rendi, tidak berani memandangnya. "Nggak, Kak."


"Terus kenapa kamu kayak ngejauh gitu tadi duduknya?" Rendi masih menatap wajah Amel sedikit kesal.


"Kalau deket Kakak takutnya, nanti kena luka Kakak kayak tadi," ucap Amel bohong, padahal hatinya sedang bergejolak.


"Kamu mau minum apa? Biar aku minta bi Minah ambilin."


"Apa aja, Kak," jawab Amel masih menunduk.


"Bi Minah," panggil Rendi.


Terlihat wanita paruh baya berjalan mendekati Rendi, namun dia sangat terkejut ketika melihat wajah Rendi.


"Astaga Aden, kenapa mukanya begitu?" tanya Bi Minah dengan ekspresi terkejut.


Rendi tersenyum. "Biasa Bi, urusan laki-laki," ucap Rendi, "Bi, kenalakan, ini pacar Rendi, namanya Amel."


Amel tersenyum kepada bi Minah. "Saya Amel, Bi."


Bi minah mengangguk. "Cantik sekali pacarnya Den. Cocok sama Den Rendi." Bi Minah tersenyum kepada Amel.

__ADS_1


"Iyaaa, doain semoga langgeng sampai menikah ya, Bi," sahut Rendi.


Langgeng? Menikah? Sudah lah, aku males menanggapi omong kosong kak Rendi, aku seperti orang bodoh mengikuti sandiwaranya.


"Iyaa Den, amin."


"Bi, tolong ambilin minum sama makanan buat Amel ya?" pinta Rendi sopan.


Walaupun dia adalah majikan, tapi Rendi selalu sopan terhadap orang yang bekerja di rumahnya.


"Baik Den." Bi Minah berjalan meninggalkan mereka.


Tidak lama kemudian bi Minah datang membawakan minum dan makanan ringan untuk Amel, setelah itu pergi meninggalkan mereka.


Rendi menggeser duduknya menghadap Amel. "Kamu kenapa diam aja?" tanya Rendi ketika melihat Amel tampak melamun.


Amel menoleh sebentar ke Rendi. "Nggak apa-apa, Kak."


"Kalian di sini rupanya." Terdengar suara ibu Rendi dari belakang mereka, mereka pun menoleh.


"Mama mau kemana?" tanya Rendi melihat mamanya sudah berganti pakaian dan berdandan cantik.


"Mama ada urusan, mau ke butik dulu. Ada janji sama temen mama." Lilian duduk di depan mereka.


"Papa mana?"


"Papa lagi tidur dikamar, besok papa akan keluar negri, ada urusan bisnis, jadi harus istirahat yang cukup."


"Tadinya mama mau ikut, tapi karena kamu tiba-tiba terluka gini. Mama nggak jadi ikut deh, nanti nggak ada yang ngurus kamu kalau mama juga pergi," jelas Lilian


"Disini ada bi Minah, ada banyak orang. Ada Amel juga yang bisa nemenin aku kalau uda pulang sekolah."


"Nanti mama pikir-pikir lagi. Mama nggak tenang ninggalin kamu kalau begini."


"Mama bisa minta Amel untuk nginap di sini, jadi bisa nemenin Aku dan Sofi."


Kenapa nggak tanya aku dulu mau apa nggak, seenaknya kalau ngomong.


"Kasian dong Amel nanti, apalagi harus ngurus kamu yang lagi sakit begini."


"Rendi bukannya sakit parah, Ma. Rendi cuma lula-luka doang. Amel juga pasti seneng bisa nemenin aku dan Sofi di sini."


Atur aja kak, anggep aja aku robot, yang bakal ngelakuin apa yang kakak bilang.


gak perlu tanya pendapat aku lagi.


Lilian beralih menatap Amel. "Beneran Mel kamu bisa menginap di sini untuk temenin Sofi dan Rendi, sekaligus ngerawat luka-luka Rendi?"

__ADS_1


"Bisa kok, iya, 'kan Mel?" Rendi yang menjawab sebelum Amel membuka suaranya.


"Mama tanya Amel, bukan kamu." Lilian melemparkan tatapan tajam pada anaknya.


"Kalau Amel nggak sibuk, bisa Tante," jawab Amel terpaksa.


"Oke, nanti tante bilang sama papanya Rendi dulu. Kalau jadi, nanti tante kasih tahu kamu."


"Baik, Tante," jawab Amel.


"Mel, tante minta tolong jagain Rendi sebentar ya? Dia kan masih sakit, tolong ingetin minum obat sama ingetin buat ngoles salepnya nanti, tante ada urusan." Lilian mengeluarkan obat dari tasnya memberikan kepada Amel.


Amel mengambil obat itu dan berkata, "Iyaa, Tante."


"Aku bukan anak kecil, Ma." Rendi menampilkan wajah cemberutnya setelah mendengar perkarataan ibunya.


"Kamu itu kalau nggak disuruh, pasti obatnya nggak di minum nanti." Lilian menutup kembali tasnya.


"Mel, kamu pulangnya malem aja ya? Nggak apa-apa kan temenin Sofi sama Rendi di sini, dari pada kamu sendirian di kos kamu."


"Iyaa Tante, nggak apa-apa." Amel tersenyum paksa.


"Kalau kamu capek, istirahat di kamar Sofi, atau di kamar tamu. Nanti malem biar supir yang anterin kamu pulang."


"Baik, Tante," jawab Amel lagi.


"Kamu jangan sungkan kalau di sini, anggep rumah sendiri " Lilian tersenyum hangat kepada Amel.


"Iyaa, Tante." Cuma itu yang Amel bisa jawab.


Lilian memegang tasnya lalu berdiri. "Mama pergi dulu." Lilian berjalan meninggalkan mereka.


Mereka mengangguk. Amel mengeluarkan ponselnya yang bergetar. Terlihat ada pesan masuk dari Raka yang menanyakan dia sedang ada di mana.


Rendi yang melihat Amel sedang mengetik, melirik sedikit ke arah layar ponsel Amel, tapi tidak terlihat jelas. Selesai mengetik Amel meletakkan ponselnya di pangkuannya.


"Siapa?" tanya Rendi setelah melihat Amel terdiam


"Raka, nanyain Amel lagi mana," jelas Amel.


"Terus kamu jawab apa?" Rendi menoleh ke wajah Amel.


"Amel bilang lagi di rumah, Kakak"


"Emang dia mau ngapain?" tanya Rendi dengan tatapan menyelidik.


"Mau ngajak Amel ketemuan." Amel membuka pesan lagi dan terlihat mengetik.

__ADS_1


"Kamu nggak boleh ketemu sama dia!" Rendi merebut ponsel Amel itu dari tangannya. Amel terkejut saat melihat ponselnya sudah berpindah ke tangan Rendi.


Bersambung...


__ADS_2