
Setelah makan malam, Raka mengantar Amel dan Sofi pulang ke hotel. Dia memastikan mereka berdua masuk ke dalam kamar Sofi dulu baru dia pulang. Raka mengatakan akan langsung mengabarinya, kalau dia sudah mendapatkan kabar tentang Rendi.
Amel meminta kunci kamar Rendi pada Sofi. Dia memutuskan untuk menunggu di kamar Rendi. Dia tidak mau pulang ke pulang ke apartemen sebelum dia mendapatkan kabar dari Rendi.
Setelah makan di restoran dekat hotel, Amel sempat mampir ke apartemen untuk membawa makanan untuk ibu dan adiknya. Amel meminta ijin kepada ibunya untuk pergi lagi dengan Sofi.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam, Rendi belum juga ada kabar. Amel mulai gusar, dia berjalan kesana-kemari sambil terus menghubungi ponsel Rendi. Amel mulai menangis di tempat tidur. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Raka juga belum mengabarinya. Tepat pukul 23.20 pintu kamar Rendi terbuka.
Amel langsung bangun dari tempat tidur saat mendengar bunyi pintu terbuka. Amel sangat terkejut ketika Rendi langsung memeluk erat dirinya. “Aku kira kau pergi meninggalkan Mel. Aku mencarimu ke apartemen tadi, kata mereka kau pergi. Aku panik sekali!”
Amel mulai terisak. “Kakak ke mana saja! Aku menghubungimu dari siang tadi ponselmu tidak aktif,” ucap Amel sambil menangis.
Rendi memperat pelukannya. “Maakan aku! Jangan menagis! Aku tahu aku salah! Seharusnya aku menghubungimu tadi. Maafkan aku Mel karena sudah membuatmu khawatir,” ucap Rendi panik saat mendengar Amel terus menangis. Rendi mencoba untuk menenangkan Amel dulu.
Setelah Amel tenang, Rendi melepaskan pelukannya. Dia mengarakan Amel untuk duduk di sofa panjang. Rendi kemudian duduk di samping Amel. Dia merubah posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Amel.
“Ada yang ingin aku katakan padamu! Tapi kau harus mendengarkan semua ceritaku dulu. Kau harus berjanji padaku, kalau kau tidak boleh marah padaku, apalagi sampai salah paham padaku,” jelas Rendi dengan wajah cemas. Penampilan Rendi saat ini sudah berantakan. Wajahnya juga terlihat sangat lelah.
“Baiklah! Kakak harus menjelaskan semua. Kenapa sampai kakak tidak ada kabar sama sekali dan baru pulang jam segini,” ucap Amel tegas.
“Baiklah!”
Rendi mulai menceritakan semuanya pada Amel. “Maafkan aku Mel karena tidak meminta ijinmu dulu! Ini memang salahku, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku juga tidak tega untuk menolaknya,” ucap Rendi setelah dia selesao menceritakan kejadian sebenarnya.
“Apa kakak yakin tidak melakukan apa-apa dengannya?”
“Apa kau meragukan aku?”
__ADS_1
“Bukan begitu kak! Aku hanya...”
“Mel, kalau aku mau melakukan apa-apa dengannya, tidak perlu sampai menunggu hari ini. Aku hanya memeluknya dua kali, saat dia menagis dan saat kami berpisah di depan apartemennya. Aku bersumpah tidak melakukan apa-apa dengannya Mel. Kau harus percaya padaku,” Rendi menyela ucap Amel yang terlihat ragu padanya.
“Aku hanya takut kakak meninggalkan aku kak!”
“Mel, aku hanya jalan-jalan dengannya saat di Bali! Kami tidak melakukan seperti yang ada dipikiranmu! Kau tahu aku sangat mencintaimu. Selama ini aku bisa menjaga diriku Mel, jadi tidak mungkin aku melakukan hal diluar batas dengan Friska,” jelas Rendi.
“Maafkan aku kak! Aku takut kalau pernikahan kita akan batal kali ini,” ucap Amel mulai terisak lagi.
Rendi maju dan memeluk Amel lagi. “Harus aku katakan berapa kali Mel. Aku sangat mencintaimu! Aku tidak mungkin membuat pernikahan kita batal. Justru aku takut kau yang akan membatalkan pernikahan kita,” ucap Rendi sambil mengelus kepala Amel. “Maafkan aku karena sudah membuatmu khawatir. Aku janji tidak akan melakukannya lagi,” ucap Rendi sambil menenangkan Amel.
“Aku juga minta maaf karena sudah berpikir yang tidak-tidak pada kakak!”
Rendi melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mata Amel. “Apa kau sudah makan malam?” tanya sambil menatap Amel.
“Raka tadi ke sini?” tanya Rendi penasaran.
“Iyaa, aku memintanya untuk mencari tahu tentang keberadaan kakak! Aku sangat cemas tadi!” ucap Amel pelan.
“Hubungi Raka kalau aku sudah pulang! Supaya dia tidak mencariku lagi.”
Amel mengangguk dan mencoba mengirim pesan singkat pada Raka. “Kau menginap di sini saja ya! Ini sudah malam,” pinta Rendi saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. ”Aku juga masih sangat merindukanmu Mel,” sambung Rendi lagi.
Amel menggeleng cepat. “Tidak kak! Kalau mama dan ibuku tahu, mereka pasti akan marah,” tolak Amel.
“Kau bisa tidur di kamar Sofi, aku akan bicara dengan Sofi, atau kau bisa tidur di kamar ini dan aku tidur di kamar lain!” saran Rendi. Dia masih tidak ingin Amel pulang ke apartemen. Dia masih ingin bersama Amel.
__ADS_1
“Baiklah. Aku tidur di sini saja! Aku tidak enak jika harus mengganggu Sofi.” Amel terpaksa menyetujui ide Rendi saat melihat wajah lelahnya. Amel merasa kasihan kalau Rendi harus mengantarnya pulang ke apartemennya.
Rendi membimbing Amel ke tempat tidur. “Tidurlah! Ini sudah malam. Aku juga lelah ingin istirahat.” Amel mengangguk “Selamat malam sayang!” ucap Rendi sambil mengecup kening Amel. Setelah itu dia berjalan keluar dari kamarnya.
Flashback pagi hari
Rendi melajukan mobilnya untuk menjemput Friska. Rendi sudah menghubungi Friska terlebih dahulu sebelum datang menjemputnya. Rendi berhenti tepat di depan apartemen mewah. Apartemen itu adalah milik orang tua Friska.
Friska sudah menunggu Rendi dari tadi, dia berdiri di loby apartemennya. Setelah melihat mobil Rendi, Friska langsung berjalan masuk ke dalam mobil Rendi. "Kita mau ke mana?" tanya Rendi setelah Friska masuk dan memasang seatbeltnya.
Friska menoleh pada Rendi. "Bandara." Rendi langsung terkejut saat mendengar ucapan Friska. "Untuk apa kita ke sana?" tanya Rendi.
"Ke Bali, aku sudah meminta papa untuk menyewa Private Jet untuk kita ke sana! jadi kita bisa kembali lagi di sore hari," jelas Friska.
"Tapi.. kau tidak bilang kalau kita harus ke sana! Aku tidak bisa Ellen. Amel akan marah jika dia tahu." tolak Rendi. Dia tidak menyangka kalau Friska akan mengajaknya ke sana. Dia berpikir kalau Friska hanya akan mengajaknya di sekitar Jakarta.
"Ren, aku hanya meminta waktumu sehari saja. Bukankah kau sudah berjanji kalau kau akan ikut denganku!"
"Iyaa, tapi tidak dengan pergi ke Bali Ellen. Apa kau sengaja mau membuat aku dan Amel bertengkar dan batal menikah?" ucap Rendi dengan nada sedikit tinggi.
"Apa aku harus membuat kalian batal menikah baru mau ikut dengan aku ke Bali?" tanya Friska dengan wajah serius.
"Kau jangan gila Ellen! Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai kau berbuat macam-macam apalagi kalau sampai pernikahanku batal," ucap Rendi dengan nada tinggi.
Friska menatap tajam pada Rendi. "Kau tidak bisa mengancamku Rendi. Kau tahu, ancamanmu tidak akan bekerja padaku. Kalau aku mau, aku bisa membuat kalian batal menikah! Kau tahukan aku bisa melakukan apapun supaya tujuanku tercapai. Oleh sebab itu, turuti saja permintaanku, selagi aku memintamu dengan cara yang baik."
Bersambung..
__ADS_1