Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kuliah di luar negri


__ADS_3

Amel menampilkan wajah cemberutnya. “Besok kakak mau menjemputku atau aku yang ke sini?”


“Aku bakal jemput kamu ke sekolah,” ujar Rendi sambil duduk di sofa.


“Baiklah.” Amel mengikuti Rendi duduk di sebelahnya.


Rendi dan Amel menoleh ke meja yang dekat tempat tidur saat mendengar ponsel Rendi berbunyi.


Rendi berdiri dan mengambil ponselnya. Rendi mengangkat telpon lalu berjalan sedikit menjauh dari Amel. Rendi terlihat memandang Amel cukup lama sambil menerima telpon. Terlihat mimik wajahnya berubah menjadi serius. Tidak terdengar jelas apa yang dibicarakan Rendi. Setelah selesai Rendi berjalan lagi ke sofa.


“Mel, setelah lulus SMA kau akan kuliah jurusan apa?” tanya Rendi tiba-tiba.


Amel mengerutkan dahinya saat Rendi menanyakan hal itu. “Entahlah, Amel masih bingung. Bukankankah kakak yang sebentar lagi lulus? Kakak akan mengambil jurusan apa nanti?” Amel menatap Rendi yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Papa memintaku mengambil Bisnis dan Managemen di Inggris,” ujar Rendi dengan wajah lesu.


“Berarti setelah Kakak lulus SMA, Kakak langsung terbang ke Inggris?” Ada nada tidak rela dalam ucapan Amel.


“Nggak, lebih cepat dari itu. Setelah ujian akhir sekolah sekolah selesai, aku bakal langsung terbang ke sana. Orang tuaku yang akan mengurus segala sesuatunya di sini, termasuk mengambil ijasahku nanti,” sambung Rendi yang sedang menatap penuh makna kepada Amel.


Amel sedikit terkejut mendengar perkataan Rendi. “Berarti tidak sampai 2 bulan lagi Kakak bakal pergi?” Ada perasaan tidak rela saat mengetahui Rendi akan pergi meninggalkannya dalam waktu dekat.


Bukannya menjawab Rendi malah bertanya kepada Amel. “Apa kamu nggak ada niat untuk kuliah di luar negri?” tanya Rendi penuh harap.


Amel menggeleng lemah. “Ibuku nggak akan sanggup membiayai kuliah aku kalau di luar negri,” ujar Amel dengan pelan.


“Teman papaku ada yang memiliki kampus di inggris. Walaupun bukan kampus terbaik di Inggris, tapi cukup bagus dibandingkan kampus yang ada di sini. Aku bisa mengurus untuk program beasiswa untuk kamu kalau kamu mau. Bagaimana?” tawar Rendi.


Rendi sangat berharap jika Amel bisa ikut dengannya ke Inggris, walaupun tidak bisa satu kampus, tapi setidaknya tidak berjauhan dengannya.


Amel tampak berpikir keras. “Maaf kak, aku nggak bisa,” tolak Amel.


“Kenapa?” tanya Rendi dengan dahi yang mengerut.


Amel menatap Rendi yang terlihat kecewa karena dia tidak bisa ikut dengannya. “Aku nggak bisa meninggalkan ibu dan adikku di sini.”


“Baiklah, aku nggak akan maksa kamu kalau begitu, tapi apa kamu bisa nunggu aku sampai aku lulus kuliah?” Ada perasaan khawatir di hati Rendi saat dia membayangkan akan berjauhan dengan Amel.


Amel tersenyum. “Tenang saja. Aku bakal nunggu sampai Kakak kembali,” ucap Amel menenangkan Rendi.

__ADS_1


“Apa kamu yakin nggam bakal berpaling dariku? Karena nanti kita bakal terpisah dalam waktu yang lama.”


“Aku justru khawatir Kakak yang bakal ngelupain aku nanti di sana. Aku takut Kakak bakal terpikat dengan gadis bule dan memutuskan untuk tinggal di sana,” ucap Amel dengan nada bercanda.


Rengi mengacak-acak rambut Amel, saat mendengar perkataan konyol Amel. “Tidak akan, percaya sama aku, tapi kalau memang suatu saat aku tiba-tiba menghilang atau ngelupain kamu, bahkan nggak ngenalim kami wakti kita bertemu. Kamu nggak boleh pergi ninggalin aku. Kamu harus berusaha untuk mengingatkan aku sama kamu. Kamu juga harus tetap menepati janjimu untuk menikah denganku,” ujar Rendi dengan tatapan serius.


Amel mengerutkan dahinya. “Kenapa kakak berkata seperti itu?” apa justru kakak yang akan menjauhiku nanti?”


Rendi menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa. Aku cuma mai kamu berjanji sama aku. Apapun yang terjadi dengan aku nanti. Kau nggak boleh ninggalon aku.”


“Aku nggak mau. Itu sama saja Lakak berniat ninggalin aku.” Amel membuang pandangannya ke samping.


Rendi menatap Amel dengan tatapan sendu. “Baiklah, aku nggak akan memaksamu untuk berjanji. Kalai kamu nggak bisa menungguku. Kamu cukup bilang samaku nanti. Aku bakal ngelepasin kamu dan nggal akan nahan kamu lagi.”


Amel merasa tidak nyaman ketika mendengar perkataan Rendi. Dia merasa Rendi sedikit Aneh. Biasanya dia akan memaksanya untuk berjanji sampai Amel menyetujuinya, tapi kali ini dia dengan mudah mau melepas Amel. Rendi seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


“Apa Kakak sudah nggam cinta sama aku lagi? Atau ada yang lain di hati kakak sekarang?” tanya Amel dengan suara sedikit bergetar.


“Mana mungkin. Aku cinta banget sama kamu, tapi aku sadar, aku nggak bisa nahan kamu kalau kamu aja nggak mau bersama aku.”


“Baiklah, aku bakal janji nggak akan pernah ninggalin Kakak, apapun yang akan terjadi nanti, walaupun Kakak nggak cinta sama aku lagi, aku bakal tetap di samping Kakak, seperti saat ini,” ujar Amel sambil mengaitkan jari kelingkingnya mereka berdua.


“Apa aku boleh menemui keluarga kamu sebelum aku keluar negri?”


“Untuk apa?” tanya Amel heran.


“Nggak apa-apa. Aku cuma mau mengenal keluarga kamu.”


“Baiklah. Bagaimana kalau 3 minggu lagi. Aku rencana mau pulang kampung untuk menemui ibuku.”


“Baiklah kalau begitu.” Rendi berdiri. “Ayook aku akan mengantarmu pulang sekarang.”


Amel mengangguk dan berjalan keluar dari kamar Rendi.


*******


“Ada perlu apa bapak ingin menemuiku pagi-pagi” tanya Amel saat sudah berada di depan Devan yang tampak sibuk dengan laptop di depannya. Devan sedang duduk di meja panjang yang ada di perpustakaan.


Devan mengalihkan pandangannya, saat mendengar suara Amel. “Duduklah!” perintah Devan saat melihat Amel tampak hanya berdiri di depannya.

__ADS_1


Amel duduk di kursi yang paling ujung, jauh dari Devan. Devan menaikkan alisnya sebelah. “Kenapa kau duduk jauh sekali? Aku tidak akan menggigitmu. duduklah di depanku!” ujar Devan yang sudah mengalihkan pandangannya kembali ke laptop. Tampak dia sedang mengetik sesuatu.


Amel tidak menggubris ucapan Devan. “Di sini saja pak, ada perlu apa bapak memanggil saya?”


Devan menghentikan kegiatannya, dia menatap Amel dengan wajah datar. “Apa kau berniat akan terus bersikap seperti ini kepadaku Mel?” ujar Devan dengan sorot mata tajam.


Amel sedikit terkejut saat Devan menatap tajam dirinya. Itu adalah tatapan yang sama saat mereka tidak sengaja bertemu di cafe waktu itu. “Aku tidak mengerti maksud bapak!” Amel mengalihkan pandangannya.


“Kau jangan berpura-pura tidak tahu, aku selama ini diam saja, bukan berarti kau bisa seperti ini kepadaku. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau terus berusaha menjauhiku. Aku tidak suka jika kau bersikap seperti ini kepadaku Mel,” ucap Devan dengan suara berat.


Amel sedikit heran dengan perkataan Devan. “Aku tidak mengerti dengan perkataan bapak, bukankah bapak tahu kalau murid dan guru tidak boleh terlalu dekat.”


Devan tersenyum sinis. “Aku tahu kalau kau hanya mencari alasan untuk menjauhiku dengan mengatakan itu. Apa kau akan terus bersikap seperti ini, jika kau tahu siapa aku?”


“Kenapa bapak berkata seperti itu? aku merasa seperti bapak mengenalku sebelumnya?” tanya Amel dengan curiga.


“Seandainya kita saling mengenal sebelumnya, apa kau akan bersikap baik kepadaku?” Devan menatap Amel datar.


Amel tampak bingung dengan mendengar perkataan Devan. “Tapi aku belum pernah bertemu dengan bapak sebelumnya.”


”Apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Kau bahkan berhutang janji padaku.”


“Hutang janji apa? Kita bahkan tidak mengobrol sebelumnya,” tanya Amel penasaran.


“Kau harus mengingatkannya sendiri, aku tidak akan memberitahumu!” ucap Devan dengan wajah datar sambil mengalihkan pandanganya ke laptopnya.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


*Maaf jika masih ada typo dan banyak kesalahan dalam penulisan. Karna author baru pertama kali membuat cerita, harap maklum, mohon dukungan dan sarannya, dengan Like, comment, klik Favorit dan Vote. Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2