
Teruntuk Dedek Gemes apalagi Bocil diharap minggir..!! Ini hanya untuk yang sudah dewasa.. Banyak adegan 21+. Diharapkan bijak dalam mencari bacaan. Bagi yang tidak suka boleh di skip.
“Aku mohon ampuni aku sekali ini saja kak. Aku janji tidak akan memancing kakak lagi. Maafkan aku kak.” Amel mulai panik ketika Rendi sudah meletakkan tubuhnya di atas kasur lalu mengungkung tubuhnya.
Amel bisa merasakan tubuh bagian bawah Rendi sudah menengang. “Tenanglah sayang. Aku akan melakukannya dengan pelan. Percayalah padaku. Akan kubuat kau terbang ke atas awan." Rendi tersenyum sambil menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.
“Ini masih pagi Kak. tolong lepaskan aku. Kakak bisa menghukumku dengan cara lain.”
Rendi tidak menghiraukan permintaan Amel. Dia langsung melu*matt bibir Amel dengan lembut. Dia menghimpit tubuh Amel kemudian menyantukan kedua tangan mereka. Amel tidak mempunyai tenaga untuk melawan karena Rendi menahan kedua tangannya.
Rendi menyesap bibir bawah Amel, lalu perlahan melu*mat bibir tipis Amel. Amel mulai membalas ciuman panas Rendi, mereka berdua saling mencecap dan melu*mat, sementara tangan Rendi bergerak membuka pakaian yang melekat pada tubuh Amel. Setelah pakaian Amel terlepas, Rendi beralih melepaskan celananya. Amel memeluk tubuh polos suaminya ketika tidak ada kain satupun yang melekat di tubuhnya.
Rendi kembali menempelkan bibir mereka, mendesak masuk ke rongga mulut Amel dan membelit lidahnya.
Puas bermain di dalam mulut Amel, Rendi beralih ke lehernya, menelusurinya dengan bibirnya, lalu memberikan banyak tanda merah. Perlahan Rendi turun ke bagian bahu Amel dan mengecupnya lembut hingga Amel melenguh panjang
Bola mata Rendi menatap ke atas, dia melihat pupil mata Amel membesar dan ekspresi wajahnya tampak sudah bergairah. "Nikmati saja sayang. Kita tidak akan ke mana-mana hari ini, jadi tidak usah terburu-buru," ucap Rendi dengan suara parau.
Amel mulai terbawa suasana, tangannya bergerak meraba tubuh bagian depan Rendi.
Rendi berhenti sejenak lalu menatap wajah istrinya. "Aku sangat mencintaimu sayang." Amel memegang wajah suaminya. "Aku juga Kak." Amel tersenyum lalu mengecup singkat bibir suaminya.
Setelah dia melakukan pemanasan cukup lama, Rendi mulai menekan masuk tubuh bagian bawahnya. Amel kembali melemguh ketika Rendi berhasil memasuki tubuhnya. Amel mencengram kuat lengan suaminya.
Setelah milik Rendi terbenam semua, Dia memulai bergerak secara perlahan. Tidak ada satupun bagian tubuh Amel yang terlewat dari sentuhan Rendi.
Rendi mulai menge*rang ketika dia mencapai puncaknya. Tubuh mereka sudah dipenuhi oleh keringat. Pagi ini mereka awali dengan berolahraga panas.
Sesuai perkataannya Rendi tadi, dia benar-benar tidak melepaskan istrinya. Amel tampak hanya diam saat Rendi mulai kembali menjamah tubuhya lagi setelah berisitirahat sebentar.
Setelah melakukan pelepasan, Rendi tersenyum melihat wajah Amel yang tampak kelelahan. “Kita lakukan sekali lagi ya sayang.” Tanpa menunggu jawaban dari Amel. Rendi kembali melanjutkan pergulatan panas mereka tanpa istirahat sampai mencapai puncaknya.
__ADS_1
"Sudaah ya Kak," ucap Amel lemah..
“Iyaa sayang.. Istrirahatlah.” Rendi mengecup kening Amel. Dia tersenyum tipis ketika melihat Amel tampak mengangguk pelan. Perlahan Amel memejamkan matanya.
“Maafkan aku sayang. Aku sungguh tidak bisa menahan diriku tadi.” Rendi mengelus pipi Amel dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Amel tidak merespon ucapan Rendi karena merasa sangat mengantuk.
Rendi kemudian turun dari tempat tidur. Membereskan pakaian yang berserakan di lantai dekat tempat tidur mereka. Setelah itu dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Saat dia berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi dia cukup terkejut ketika melihat banyak tanda yang ditinggalkan Amel di tubuhnya, terutama di lehernya.
Ternyata, kau sudah mulai nakal sekarang sayang...
Setelah selesai mandi, Rendi berjalan menuju lemari untuk memakai baju. Karena merasa lapar, dia kembali memesan beberapa menu sarapan dan buah untuk diantarkan ke vilanya. Rendi kemudian duduk di tepi tempat tidur. Terlihat dia sedang membalas pesan dari ibunya, Sofi, Raka dan Kenan.
Selesai membalas pesan masuk di ponselnya. Rendi berjalan keluar kamarnya. Rendi memutuskan untuk duduk di ruang keluarga dan membiarkan Amel tidur dengan nyenyak. Beberapa menit kemudian pelayan resort datang mengantarkan makanan yang dia pesan. Rendi mulai mengisi perutnya. Dia merasa energinya terkuras banyak setelah melakukan pergulatan panas tadi.
Ponsel Rendi tiba-tiba bergetar, Rendi kemudian mengangkat telponnya. Dia terlihat berbicara dengan seseorang. Dia kemudian membuka pintunya, lalu berjalan keluar.
“Ren,” teriak Kenan. Rendi langsung mematikan sambungan ponsel setelah melihat Kenan berada tidak jauh darinya. Orang yang menelponnya adalah Kenan. Dia sedang mencari via tempat Rendi menginap.
Kenan merasa kesal dengan Rendi. Dia sudah menelponnya beberapa kali untuk menanyakan letak vilanya. Dia bahkan menunggu di loby resort selama 2 jam karena Rendi tidak kunjung mengangkat telponnya.
Rendi tampak acuh. Dia kembali membukan pintu vilanya. “Apa kau tidak tahu kalau aku sedang membuat ponakan untukmu. Mengganggu kesenanganku saja,” ucap Rendi acuh.
“Mana aku tahu, kalau kau tidak memberitahuku,” ucap Kenan asal.
“Masuklah.” Rendi berjalan masuk diikuti oleh Kenan.
Rendi langsung duduk di sofa ruang tamu. “Kau ini, giliran butuh bantuan saja, selalu menggangguku, tapi saat melakukan hal yang mantap-mantap saja lupa padaku,” gerutu Kenan dengan wajah kesal.
Rendi menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Untuk apa juga aku ingat padamu. Aku tidak mau kalau sampai wajah anakku nanti mirip denganmu,” ucap Rendi enteng.
Kenan menatap sebal pada Rendi. Pandangan Kenan beralih pada leher Rendi. “Waah ternyata Amel ganas juga. Sepertinya dia jago dalam urusan ranjang,” ucap Kenan saat melihat leher Rendi penuh dengan tanda merah di lehernya.
__ADS_1
“Tentu saja, istri siapa dulu. Dia bukan hanya cantik, dia juga bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh wanita lain,” ucap Rendi dengan bangga.
"Dasar tidak tahu malu. Bangga sekali kau mendapatkan tanda seperti itu," cibir Kenan.
"Kenapa harus malu, aku sudah menikah, dan tanda ini dibuat oleh istri tercintaku. Lain ceritanya kalau kau yang mendapatkan tanda itu lalu dengan bangga mengatakan kalau itu dibuat oleh kekasihmu," ucap Rendi dengan wajah acuh. "Aku tahu kau hanya iri, kan padaku?"
Kenan menatap kesal pada Rendi. "Aku bukannya iri padamu, tetapi aku juga mau sepertimu."
"Sama saja, dasar bodoh!"
“Apakah ada wanita lain yang seperti Amel lagi? Aku juga mau yang seperti dia.” Kenan merasa Rendi beruntung mendapatkan Amel.
Dulu saat pertama kali bertemu dengan Amel, dia sempat tertarik kepada Amel ketika bertemu dengannya di pesta ulang tahun mama Rendi, tapi ketika mengetahui Amel adalah pacar Rendi. Dia langsung membuang niatnya untuk mendekati Amel.
“Kalaupun ada, tidak mungkin mau denganmu,” ucap Rendi dengan wakah acuh.
“Sialan kau Ren..! Asal kau tahu saja, di luar sana banyak wanita yang tergila-gila padaku. Kau saja yang tidak tahu.” Kenan merasa kesal saat Rendi meremehkannya.
“Kalau banyak yang menyukaimu lalu kenapa kau masih sendiri sampai sekarang?”
“Kau jangan pura-pura bodoh Ren. Aku seperti ini karenamu. Aku disibukkan dengan urusan perusahaanmu dan menjaga wanitamu sehingga tidak memiliki waktu untuk sekedar berkencan dengan wanita. Waktuku terkuras habis hanya untuk mengurusi hidupmu,” ucap Kenan dengan nada ketus.
Rendi memangku tangannya sambil menatap Kenan. “Kau jangan marah-marah. Wajahmu bertambah jelek jika marah seperti itu. Lagi pula, selama aku amnesia kau sudah membodohiku. Jangan kau pikir aku tidak tahu.”
Kenan tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih. “Jadi, kau sudah tahu?” Kenan pikir selama ini Rendi tidak tahu karena dia tidak pernah mengungkitnya setelah ingatakanya kembali.
“Tentu saja. Aku tidak pernah membahasnya karena selama ini kau sudah berjasa menyatukanku dengan Amel. Jika tidak, aku sudah mengambil alih perusahaanmu. Otakku ini diatas rata-rata, kau jangan meremehkan aku. Meskipun aku pernah amnesia tapi kecerdasanku tidak hilang seperti ingatanku. Kau tidak bisa membodohiku dengan kapasitas otakmu itu.”
“Kurang ajar kau Ren. Jangan meremehkan kemampuan otakku. Aku ini hanya malas berpikir bukannya bodoh,” ucap Kenan tidak terima.
Bersambung...
__ADS_1