
Rendi menyusul Amel lalu menghentikan langkahnya. "Aku mohon jangan begini Mel, kamu sudah janji kan akan bantu aku untuk menjauhkan Friska dari aku."
"Sepertinya Kakak nggak perlu bantuanku lagi karena sebenarnya masalahnya hanya bisa di selesaikan oleh Kakak sendiri."
Amel hanya merasa seperti orang bodoh. Kata-kata Friska tadi langsung menghujam tepat di hatinya.
"Tolong jangan kayak ini, Mel." Rendi memegang kedua tangan Amel untuk membujuknya.
"Aku nggak bisa bantu Kakak lagi. Aku yang salah. Harusnya dari awal aku nggak setuju sama permintaan Kakak." Amel lalu menghempaskan tangan Rendi.
"Kasih aku alasan, kenapa kau nggak mau bantuku lagi? Apa memang benar karena perkataan Friska tadi?" tanya Rendi.
"Aku nggak mau dihina seperti tadi. Aku juga punya harga diri, Kak."
"Apa kamu yakin hanya itu alasannya? Bukan karena kamu ingin bebas dari aku biar kamu bisa berdekatan sama cowok lain dan bebas bertemu dengan siapa aja?" tuduh Rendi.
"Kenapa Kakak malah nuduh aku kayak gitu? Jangan bawa orang lain ke dalam masalah ini. Itu nggak ada hubungannya sama keputusan aku," ujar Amel kesal.
"Kalau bukan karena itu lalu apa alasan kamu nggam mau jadi pacar aku lagi?"
"Kakak tidak lihat gimana Friska ngehina aku karena aku nggak selevel sama Kakak?"
"Aku udah bilang, aku nggak peduli sama status kamu, jadi kau harus tetap di samping aku."
"Maaf Kak, Amel nggak bisa." Amel berjalan menjauhi Rendi dan berjalan ke pintu.
"Kamu nggak akan bisa ke mana-mana Mel, aku udah ngunci pintunya," ucap Rendi dingin.
Amel sekerika berhenti. "Tolong jangan kayak ini, Kak. Aku mau pulang."
"Kau nggak boleh pergi dari sini. Aku nggak akan buka lintunya sebelum masalah kita selesai."
Amel menoleh ke belakang. "Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Masalahnya selesai sampai di sini. Kalau Kakak nggak biarin aku pergi, aku bakal telpon Raka untuk jemput aku. Kalau dia tahu Kakak nahan aku di sini, dia bakal buat keributan lagi seperti waktu itu. Dia nggak akan ngelepasin Kakak kali ini," ancam Amel.
__ADS_1
Darah Rendi seketika mendidih mendengar perkataan Amel. "Kalau memang itu mau kamu. Nggak masalah, silahkan aja telpon Raka. Kita lihat apa dia bisa bawa kamu dari pergi dark sini. Kali ini, aku nggak akan bersikap lunak lagi pada Raka. Setidaknya, dia harus buat aku terkapar dan nggam bisa bangun lagi kalau mau bawa kamu pergi. Kalau nggak, aku yang akan buat dia nggak bisa pergi dari sini. Aku nggak ngelepasin dia, jadi kamu jangan coba nguji kesabaranku, Mel."
Amel setika terdiam. Dia takut kalau Rendi benar-benar melakukan apa yang dia katakan. "Kakak nggak boleh ngelibatin Raka dalam masalah kita," ujar Amel putus asa.
"Kamu dulua ngelibatin dia, bukan aku," ujar Rendi dingin.
"Kenapa Kakak Kayak gini ini?" Amel menatap Rendi dengan wajah pasrah sambil menahan air matanya.
"Kamu yang maksa aku jadi kayak gini, Mel."
"Kalau sampe Kakak buat Raka terluka. Aku nggak akan pernah maafin Kakak. Aku bakal benci Kakak selamanya."
Mendengar hal itu, wajah Rendi menggelap. Amarahnya semakin besar. "Segitu besarkah cinta kamu pada Raka sampe kamu bilang kayak gitu itu?"
Amel yang sudah tidak tahan dengan tuduhan Rendi yang tidak berdasar itu, kemudian menatap marah kepada Rendi. "Iyaa, aku memang sangat mencintai Raka, jadi jangan coba-coba Kakak melukainya."
Rendi mematung. Aliran darahnya serasa berhenti seketika saat mendengar penuturan Amel. Dia tidak menyangka kalau Amel akan mengatakan seperti itu. "Jadi alasan sebenarnya kau ingin menjauhi aku adalah Raka?"
"Iyaa, aku udah capek jadi pacar pura-pura Kakak. Aku juga mau bahagia sama orang yang aku cintai." Amel tidak berani menatap mata Rendi lebih lama lagi karena takut akan meneteskan air mata setelah mengatakan itu.
"Iyaaa."
Rendi berjalan mendekati Amel. "Kamu benaran mau jauhin aku?"
"Iyaa, aku nggak mau lagi jadi pacara pura-pura Kakak."
"Apa nggak ada sedikitpun rasa cinta untuk aku, Mel?"
Amel membuang pandangannya ke samping. "Nggak ada." Wajah Rendi berunah menjadi dingin dan suram.
Amel menatap ke bawah saat tangannya sudah dilepaskan oleh Rendi secara perlahan. "Okeee kalau begitu. kamu bebas sekarang. Aku nggak akan pernah ganggu kamu lagi."
Rendi membuka pintu yang tadi dia kunci. Kemudian berjalan melewati Amel lalu berhenti tepat di samping tempat tidur. "Aku nggak akan menampakkan wajah aku lagi di hadapan kamu. Kamu boleh pergi sekarang."
__ADS_1
Ada rasa sakit saat mendengar perkataan Rendi. Dia merasa bersalah dengan Rendi karena sudah mengatakan kata-kata seperti itu. Sebenarnya Amel hanya terbawa emosi sehingga asal bicara.
Amel kemudian keluar dari kamar Rendi dan menuruni tangga. Dia kemudian menghampiri Sofi. "Sofi, Kakak mau ambil baju Kakak yang ada di kamar kamu." Amel berdiri di dekat Sofi yang terlihat sedang duduk dengan Friska di sampingnya.
"Kakak mau ambil sendiri apa aku temenin?" Sofi berdiri menghampiri Amel. "Kak Amel ambil sendiri aja, Kakak juga lupa kalau tas kak Amel masih di kamar Kakak kamu." Amel berusaha tersenyum di depan Sofi dan tidak mau memperlihatkan wajah sedihnya lada Sofi terlebih lagi pada Friska.
"Iyaa, Kakak masuk aja ke kamar Sofi."
Amel mengangguk lalu berjalan menuju kamar Sofi. Setelah mengambil bajunya, dia berdiri cukup lama di depan pintu kamar Rendi. Dia ragu untuk masuk lagi ke kamar Rendi untuk mengambil tasnya.
Setelah menguatkan dirinya, akhirnya Amel memberanikan diri lagi untum masuk ke kamar Rendi. Saat Amel masuk kamar Rendi, dia terkejut saar melihat kamar Rendi sudah berantakan. Pecahan kaca bertebaran di mana-mana.
Matanya terbelalak saat melihat Rendi sedang berdiri menghadap keluar jendela dengan tangan terluka yang masih memegang pecahan kaca. Lantai yang semula bersih kini sudah berubah warna menjadi merah karena darah terus menetes ke lantai.
Rendi nampak hanya diam dan tidak memperdulikan tangannya yang terluka. Penampilannya juga sudah berantakan. Rambut acak-acakan dan baju sudah terkena noda darah.
Amel langsung berlari menghampiri Rendi. "Kenapa Kakak melukai tangan kakak seperti ini?"
Dengan wajah khawatir, Amel memegang tangan Rendi yang terluka dan membuang pecahan kaca yang ada di tangannya. Darah masih tetap mengalir keluar dari telapak tangannya.
Punggung tangannya pun terluka, sepertinya Rendi juga habis menghantam dinding di sebelahnya menggunakan tangannya, karena ada noda darah yang tertinggal di sana.
Rendi menepis tangan Amel dengan kasar. "Untuk apa kamu datang ke sini lagi?" Wajah Rendi terlihat sangat dingin dan suram.
Sebenarnya Rendi terkejut melihat Amel kembali lagi ke kamarnya. Dia mengira Amel sudah pergi meniggalkan rumahnya.
Amel meraih kembali tangan Rendi. "Tangan Kakak harus diobati dulu. Kakak nggak lihat luka robek di tangan Kakak?" Amel menatap tangan Rendi. Dengan perasaan cemas dan bersalah.
"Kau nggak perlu pura-pura peduli sama aku lagi. Aku nggak butuh!" Rendi menghempaskan tangan Amel lalu berjalan menjauh Amel. Rendi sangat marah saat mengingat perkataan Amel tadi.
Amel menghela napas lalu berjalan mengejar Rendi. "Aku minta maaf Kak kalau kata-kata aku tadi menyakiti Kakak. Aku cuma emosi sesaat tadi." Amel berhenti di depan Rendi.
"Kalau kau sudah selesai bicara, kau boleh pergi, aku sedang ingin sendiri." Ada kilatan kemarahan dan kecewa di mata Rendi.
__ADS_1
Bersambung....