Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Jawaban Sofi


__ADS_3

Dengan langkah tenang dan senyuman yang mengembang di wajah cantiknya, Sofi berjalan menuju lift kantor Raka. Dia berencana menjawab dari lamaran pribadi Raka hari ini. Ketika dia membuka ruangan Raka, dia langsung dibuat terkejut dengan pemandangan di depan matanya.


"Ternyata begini kelakuan kalian jika di kantor." Sofi berusaha menahan emosinya ketika melihat Nita sedang menunduk sambil membuka kancing kemeja Raka.


Raka dan Nita yang tidak menyangka dengan kedatangan Sofi, seketika menoleh dengan wajah terkejut. Dengan gerakan cepat Nita berdiri tegak menjauhkan tubuhnya dari Raka, semetara Raka masih duduk di kursinya.


"Kenapa kau bisa di sini?" tanya Raka dengan wajah heran.


Sofi mengepalkan tangan dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa? Apa kau merasa terganggu dengan kedatanganku?"


Raka berdiri menghampiri Sofi dengan baju yang setengah terbuka. "Kau salah paham, ini tidak seperti yang kau lihat."


"Pantas saja kau sudah tidak pernah menghubungiku, rupanya kau bersenang-senang dengan pacarmu." Sofi tertawa getir. "Aku memang bodoh karena sempat menganggap kalau kau mencintaiku dan berniat serius padaku."


Mereka memang sudah beberapa tidak pernah bertemu dan sudah tidak berkomunikasi semenjak pertemuan mereka di salah satu restoran.


Raka meraih tangan Sofi. "Duduk dulu. Aku akan menjelaskan semuanya." Raka hendak menarik tangan Sofi tetapi langsung dihempaskan olehnya.


"Menjelaskan apa lagi? Kau pikir aku tidak tahu apa yang akan kalian lakukan jika aku tidak datang!" Sofi menatap marah pada Raka sambil menahan air matanya.


Nita menghampiri Sofi dan Raka. "Kau salah paham, tadi aku hanya...."


Sofi menatap tajam pada Nita. "Hanya apa? Hanya ingin bercumbu dengan Raka?" ujar Sofi dengan suara tinggi.


"Sofi, jaga bicaramu! Jangan mengatakan hal buruk pada Nita kalau kau tidak tahu apa-apa." Raka mulai terpancing emosi.


Jantung Sofi berpacu dengan cepat, rasa nyeri menyebar keseluruh dadanya ketika Raka membentaknya. "Raka, kau membentakku karena membelanya?" tatap Sofi dengan wajah kecewa.


Raka memegang dahi sembari menutup matanya sebentar, setelah itu beralih menatap Sofi. "Sofi, maafkan aku, tapi kau...."


"Raka, aku menyesal sudah mengenalmu dan aku juga menyesal sudah mencintaimu," ucap Sofi dengan suara bergetar. "Kedepannya, jangan pernah muncul lagi di hadapanku." Sofi berbalik lalu berjalan ke arah pintu.


"Tunggu dulu! Kau salah paham." Raka mencekal tangan Sofi agar tidak meninggalkan ruangannya.


"Lepaskan aku! Jangan pernah menyentuhku lagi!" Sofi terlihat sangat marah pada Raka.


"Aku tidak akan melepaskan sebelum kau mendengar penjelasanku." Raka menarik tangan Sofi menuju sofa di dalam ruangannya.


"Lepaskan aku!" Sofi memukul tangan Raka berkali-kali dan menahan tubuhnya agar Raka tidak bisa menariknya.


"Jangan keras kepala Sofi." Nita hanya diam sambil menyaksikan pertengkaran Sofi dan Raka. Dia bingung harus berbuat apa sehingga dia memilih untuk tidak membuka suaranya.


"Lepaskan aku! Aku membencimu Raka. Aku tidak mau lagi memiliki hubungan apapun denganmu!"


Sofi terus memberontak ketika Raka menariknya menuju tempat sofa panjang. Sofi berusaha meloloskan diri dari Raka dengan memukul ke tangannya.


"Biarkan aku pergi, kau bisa melanjutkan kemesraan kalian yang sempat tertunda tadi," pekik Sofi sambil terus berusaha melepaskan tangan yang dipegang oleh Raka. Bayangan Raka akan bercumbu dengan Nita membuat amarahnya naik.


"Sofi, jangan membuatku marah!"


"Aku bilang lepas! Aku mau pulang!"


Ketika pegangan Raka terlepas, Sofi segera berlari tapi ditangkap kembali oleh Raka. Kali ini, Raka memeluk Sofi dengan dari belakang dengan erat agar Sofi tidak bisa lolos lagi.


Raka menoleh pada Nita. "Nita cepat keluar! Tinggalkan kami berdua," perintah Raka ketika Sofi mulai memberontak lagi dalam pelukannya. "Jangan biarkan siapapun masuk ke ruanganku sebelum ada ijin dariku."


Nita terlihat ragu sesaat. "Baik Pak." Nita buru-buru keluar dari ruangan Raka lalu menutup pintunya dengan rapat.


"Lepaskan aku Raka!" Sofi menoleh ke belakang dengan wajah emosi.

__ADS_1


"Sofi dengarkan dulu penjelasanku."


"Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun." Sofi kembali memberontak.


Melihat Sofi yang tidak mau mendengarkan penjelasannya, Raka memegang pergelangan Sofi, menarik tangannya lalu menyudutkan tubuhnya ke tembok kemudian membungkam mulut Sofi dengan bibirnya.


Raka, melu*mat bibir Sofi dengan sedikit kasar. Sofi membelalakkan matanya karena terkejut. Awalnya dia masih berusaha memberontak, lama-kelamaan, dia akhirnya menyerah. Dia justru mulai terbuai ketika Raka mulai mencium bibirnya dengan lembut.


Melihat Sofi sudah tenang, Raka melingkarkan satu tangannya di pinggang Sofi lalu merapatkan tubuh mereka dengan bibir yang terus bergerak menikmati lembutnya bibir Sofi.


"Itu adalah hukuman untukmu karena kau tidak mau mendengarkanku," ucap Raka setelah melepaskan pagutannya.


Sofi menunduk dengan wajah memerah. "Sofi, lihat aku." Raka meraih dagu Sofi agar dia menatapnya.


"Aku tidak berniat melakukan apapun dengan Nita." Raka berkata dengan lembut sambil menatap lekat mata Sofi.


Sofi masih bungkam. "Tolong dengar dulu penjelasanku, jika nanti setelah aku jelaskan kau masih tidak percaya padaku. Maka, aku akan melepasmu dan tidak akan mengganggumu lagi."


Sofi berpikir sejenak lalu mengangguk. "Kita duduk dulu." Raka menarik tangan Sofi menuju sofa kemudian mendudukan sofi di sebelahnya.


"Tadi itu, aku tidak sengaja menumpahkan kopi di kemejaku. Aku langsung meminum kopi panas yang baru saja dibawa oleh Nita sehingga membuat mulut dan lidahku seperti terbakar. Aku terkejut sehingga membuat kopi yang sedang kupegang tumpah mengenai kemejaku," papar Raka.


"Nita dengan reflek mengambil tisu lalu membersihkan bagian luar kemejaku. Melihatku meringis, Nita berniat membuka kemejaku untuk memeriksa apakah kulitku melepuh akibat tumpahan kopi panas itu," jelas Raka.


"Setelah Nita membuka 3 kancing kemejaku, dia melihat dadaku memerah. Dia berniat untuk mengoleskan salep sehingga dia ingin membuka kemejaku lagi agar lebih mudah mengoleskan salepnya, tapi tidak sempat karena kau sudah masuk lebih dulu," ungkap Raka.


Sofi masih terdiam. "Lihatlah kalau kau tidak percaya." Raka menunjukkan noda hitam di kemejanya dan dadanya yang memerah karena terkena air panas.


Sofi menatap dada Raka yang memerah dengan wajah bersalah bercampur malu.


"Di mejaku juga ada kotak obat yang Nita ambil untuk mengobatiku," tambah Raka lagi sambil menoleh ke arah meja kerjanya.


Sofi mengikuti arah pandangan Raka dan melihat kotak obat di meja Raka yang sudah terbuka. "Aku sudah menjelaskan yang sebenarnya. Terserah kau mau percaya atau tidak."


"Kau harus meminta maaf pada Nita karena sudah menuduhnya yang tidak-tidak."


"Iyaaa, aku akan meminta maaf padanya nanti."


"Katakan padaku, kenapa kau tiba-tiba datang ke sini?" tanya Raka dengan wajah penasaran.


"Ak-aku.... " Sofi terlihat ragu untuk memberitahu Raka. "Lain kali saja."


Raka merubah posisi duduknya menghadap Sofi. "Aku tidak akan membiarkanmu pulang sebelum kau mengatakan padaku."


Ditatap serius oleh Raka, Sofi merasa kikuk. "Tadinya, aku ingin memberikan jawaban mengenai lamaranmu waktu itu."


"Lalu, apa jawabanmu?" tanya Raka cepat.


"Ak-aku.... Aku...."


"Sofi, jangan membuatku menunggu. Cepat katakan apa jawabanmu."


Sofi kembali menunduk. "Jawabanku adalah Iya."


"Iyaa apa?" tanya Raka tidak sabar.


Sofi mengangkat kepalanya lalu menatap Raka. "Aku menerima lamaranmu. Aku mau menikah denganmu."


Senyum lebar langsung tercetak jelas di wajah tampan Raka. "Kau sungguh mau menikah denganku?"

__ADS_1


"Iyaa," jawab Sofi sambil mengangguk.


Raka langsung memeluk tubuh Sofi. "Terima kasih Sof, aku akan segera menemui orang tuamu setelah aku mengatakan kepada orang tuaku mengenai rencana pernikahan kita."


"Kapan kau akan menemui orang tuaku?"


Raka melepaskan pelukannya. "Minggu ini."


"Secepat itu?"


"Kenapa? Apa kau bermaksud menundanya lagi?"


Sofi menggeleng dengan senyum kaku. "Tidak, aku hanya sedikit takut."


Raka menggengam tangan Sofi. "Jangan takut, aku akan berusaha menyakinkan orang tuamu agar mereka memberikan restu pada kita."


Raka mengerti maksud dari perkataan Sofi. Orang tua Sofi tidak tahu kalau Sofi pernah menjalin hubungan dengan Raka, yang mereka tahu kalau Sofi masih menjalin hubungan dengan Willy.


"Baiklah, tapi lebih baik kita beritahu kak Rendi dulu."


"Biar aku yang bicara dengan kakakmu."


"Iyaaa, kalau begitu aku pergi dulu."


Raka menahan tangan Sofi ketika dia akan berdiri. "Kau mau ke mana? Kenapa buru-buru?"


"Aku mau pulang."


Raka berdiri lalu menarik tangan Sofi menuju ke meja kerjanya. "Aku belum selesai denganmu."


"Memang ada apa lagi?" tanya Sofi dengan wajah heran.


Raka mengangkat tubuh Sofi lalu mendudukkan di atas meja kerjanya. "Kau harus mengobatiku dulu karena kau sudah membuat Nita keluar dari sini." Raka berdiri depan di depan Sofi sambil membuka seluruh kancing kemejanya.


Wajah Sofi memerah. Ini pertama kalinya dia melihat tubuh Raka langsung tanpa balutan kain. "Kenapa tidak menyuruh Nita saja masuk dan mengobatimu?" ujar Sofi sambil mengalihkan pandangannya ke samping.


Raka mendekatkan tubuhnya kepada Sofi. "Apa kau sungguh rela kalau Nita memegang tubuhku?" bisik Raka.


Sofi menelan salivanya dengan wajah gugup. Wangi parfum di tubuh Raka menyeruak masuk lewat indra penciumannya ketika Raka berbisik. "Jangan dekat-dekat. Nanti ada yang melihat dan bisa salah paham," ucap Sofi sambil mendorong tubuh Raka dengan pelan.


Raka tersenyum tipis melihat kegugupan Sofi. "Tidak akan ada yang berani masuk ke sini tanpa ijinku."


Sofi mengalihkan pandangannya ke kotak obat, mencari salep untuk Raka. Setelah menemukannya, dia membuka tutupnya lalu menatap Raka. "Jangan bergerak." Sofi mulai mengoleskan salep ke dada Raka dengan hati-hati.


"Sudah selesai. Pakai kembali kemejamu." Sofi menutup kembali salepnya setelah selesai mengoleskan salep pada Raka.


"Ini masih sakit, apa kau tidak mau membantu meniupnya?" goda Raka.


"Raka jangan bercanda," ucap Sofi dengan wajah cemberut.


"Ini memang sakit sayang. Coba kau liat dari dekat."


Sofi menghela napasnya lalu berkata, "Kalau begitu mendekatlah."


Raka tersenyum tipis lalu memajukan tubuhnya tepat di depan Sofi. Luka di dada Raka tepat berada di depan wajah Sofi sehingga membuatnya lebih mudah meniupnya.


Raka menunduk menatap Sofi yang nampak meniup lukanya dengan pelan. Setelah meniupnya cukup lama, Sofi berkata, "Apakah sudah lebih baik?" Sofi mendongakkan kepalanya menatap Raka yang terlihat sedang menunduk menatapnya.


Suasana hening, mereka bertatapan sejenak. "Sofi, aku sangat merindukanmu." Raka langsung menempelkan bibir mereka berdua.

__ADS_1


Kali ini, Sofi tidak menolak, melainkan melingkarkan tangannya di pinggang Raka seraya membalas pagutannya. Tidak bertemu selama beberapa hari membuat mereka saling melepas rasa rindu yang sempat tertahan.


Bersambung...


__ADS_2