Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Tidak mengijinkan pulang


__ADS_3

"Kita bicara di bawah, aku takut, tidak bisa menahan diri kalau terus berduaan dengan kamu di kamar ini." Rendi berjalan keluar dari kamarnya.


Amel terdiam sesaat kemudian dia mengambil makanan yang tadi dia bawa dan membawanya lagi turun ke bawah. Amel berjalan menuju ruangan keluarga dan melihat Rendi sedang menyadarkan tubuh dan di sofa dengan mata terpejam.


Amel menghampiri Rendi lalu duduk di sampingnya setelah meletakkan makanan di depan Rendi.


"Kak Rendi makan dulu. Nanti baru kita bicara," ucap Amel membuka suara.


"Nanti aja, belum laper," ucap Rendi tanpa membuka matanya.


"Kata bi Minah, kakak belum makan dari pagi. Ini Amel buatkan makanan kesukaan Kakak."


Rendi membuka matanya, kemudian menoleh ke Amel. "Kamu yang masak sendiri?" tanya Rendi.


"Iyaa, Amel belajar masak makanan kesukaan Kakak sama bi Minah."


Ada rasa bahagia di hati Rendi saat mendengar Amel belajar membuat makanan kesukaannya.


"Kamu juga makan." Rendi mengubah posisi duduknya menjadi tegak."


Amel mengangguk. "Amel ambil piring dulu." Amel hendak berdiri, tapi ditahan oleh Rendi.


"Kamu di sini aja, biar bi Minah yang ambilin," ucap Rendi. Setelah itu Rendi memanggil bi Minah dan meminta membawakan piring dan makanan tambahan. Mereka tidak mengeluarkan suara sedikitpun sampai mereka selesai makan.


Selesai makan Rendi menyenderkan kembali tubuhnya ke sofa. "Kamu jadi bicara atau nggak? Kalau nggak aku mau ke kamar. Aku capek, mau tidur," ucap Rendi ketus.


Amel terdiam sesaat, dia ragu untuk bicara setelah melihat reaksi Rendi terlihat ingin menghindarinya dan tidak ingin berlama-lama bersamanya. Sepertinya Rendi masih marah dengannya.


Amel meremas ujung bajunya. "Kalau kakak capek, kakak istirahat saja. Amel bisa bicara nanti kalau Kakak sudah ada waktu." suaranya sedikit bergetar berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Hatinya sakit ketika melihar sikap dingin Rendi.


Rendi yang sedang menunduk, tidak melihat ekspresi wajah Amel yang sudah berubah. Rendi kemudian berdiri setelah mendengar perkataan Amel. Dia berjalan menuju kamarnya meninggalkan Amel sendirian.


Sebenarnya dia tidak tega dengan Amel, hanya saja dia memang lelah karena semalamam dia tidak tidur. Sebelum Amel datang ke rumahnya, Rendi baru tidur 1 jam jadi dia masih butuh istirahat.


Setelah badan Rendi tidak terlihat lagi, Amel memutuskan untuk membereskan meja dan membawa piring bekas mereka makan tadi ke dapur. Amel berusaha menghibur dirinya, walau hatinya sakit karena diacuhkan Rendi. Meskipun begitu, Amel berusaha tetap untuk terlihat biasa seperti tidak terjadi apa-apa.


Saat ini Amel sedang memainkan ponselnya dan mengetik sesuatu. Setelah menunggu beberapa saat di ruang keluarga sendiri,  Amel memutuskan untuk pergi ke kamar Rendi.


Amel mengetuk pintu kamar Rendi, membukanya kemudian Amel masuk dengan langkah pelan karena takut mengganggu istrirahat Rendi.

__ADS_1


Amel sedikit terkejut ketika melihat Rendi sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponselnya, ternyata Rendi belum tidur. Dia mengira Rendinaudah tidur karena dia bilang capek dan ingin istirahat.


"Maaf mengganggu Kak, Amel cuma mau mengambil tas." Rendi menoleh saat Amel berjalan masuk kamarnya untuk mengambil tas sekolahnya.


Rendi kemudian meletakkan ponselnya di tempat tidur. "Kamu mau kemana?" Rendi memandang Amel yang terlihat sudah mengambil tasnya.


Amel memegang tasnya lalu berbalik tanpa menoleh ke Rendi. "Amel mau pulang, Kakak bisa lanjutin istirahatnya." Amel berjalan cepat keluar dari kamar Rendi. Ada rasa kesal di hatinya melihat Rendi terlihat memainkan ponselnya bukannya istirahat.


Rendi yang melihat Amel sudah berjalan keluar kamarnya, tiba-tiba hatinya merasa tidak tenang. Rendi turun dari tempat tidur lalu pergi menyusul Amel.


"Tunggu!" Rendi melihat Amel hendak menuruni tangga.


Amel berhenti ketika mendengar perkataan Rendi. Dia hanya diam tanpa menoleh sedikitpun.


Rendi mendekati Amel dengan cepat memegang tangan lalu menarik Amel menuju kamarnya. Amel hanya mengikuti Rendi tanpa berkata apapun. Rendi terus menarik Amel sampai ke dalam kamarnya, menutup pintu lalu menguncinya.


Amel yang melihat Rendi mengunci pintu, lalu bertanya, "Kakak mau ngapain?" tanya Amel gugup. Dia melihat kunci kamarnya dimasukkan oleh Rendi di saku celananya.


Rendi hanya diam, dia terus maju mendekati Amel selangkah demi selanhkah. Amel yang takut kemudian melangkah mundur sampai badannya membentur dinding. Amel mengangkat kepalanya saat menyadari Rendi sudah berada di depannya dengan satu tangan bertumpu di dinding dan satu tangan lagi dimasukkan ke saku celananya. Rendi menatap Amel dengan tatapan yang dalam.


Merasa terdesak, Amel mengeluarkan suaranya lagi, "Ka-kakak mau ngapain?" Amel menunduk untuk menghindari tatapan Rendi. Dia menahan dada Rendi dengan kedua tangannya untuk memberikan jarak agar tubuh Rendi tidak menempel dengan tubuhnya.


"Angkat kepalamu," ucap Rendi dengan suara parau.


Amel reflek langsung mengangkat kepalanya san tatapan mereka pun bertemu. "Siapa yang mengijikan kamu pergi begitu saja?" tanya Rendi.


"Tadi Amel sudah bilang sama kakak kalau mau pulang," jawab Amel pelan.


"Tapi aku belom ijinkan kamu pulang, kenapa kamu langsung pergi?"


"Amel tidak mau mengganggu istirahat Kakak, lagianx sepertinya kakak tidak suka aku datang ke sini " Amel mengalihkan pandangannya karena tidak sanggup terus bertatapan dengan Rendi.


"Apa aku tadi bilang kalau aku nggak suka kamu datang ke sini?"


"Nggam, tapi terlihat dari sikap Kakak yang terus menghindari Amel."


"Aku hanya lelah, Mel. Aku tidak tidur semalaman."


Wajah Amel sedikit berubah. Dia terkejut setelah mendengar perkataan Rendi, kemudian dia menatap Rendi. "Kenapa nggak tidur? Memangnya Kakak ngapain?" tanya Amel heran.

__ADS_1


Rendi tidak menangapi pertanyaan Amel. Dia justru menghela napas lalu mengacak-acak rambut Amel. Setelah itu, menjauhkan tubuhnya dan berjalan ke tempat tidur.


"Kamu belum menjelaskan masalah kemarin denganku." Rendi mengalihkan pembicaraan mereka.


Melihat Rendi duduk di tempat tidur, Amel mulai mengatur napasnya. Rasanya seperti tidak bisa bernapas kalau terlalu dekat dengan Rendi. "Iyaa, sebelum Amel menjelaskan, Amel mau minta maaf untuk masalah kemarin," ujar Amel menunduk.


"Apa kamu akan berdiri di situ terus sampai malam?" Rendi melirik Amel sekilas, "duduk di sini " Rendi menunjuk tempat kosong di depannya.


Amel berjalan mendekati Rendi lalu duduk di depannya. Amel tampak memainkan kedua tangannya, tanda dia sedang gugup.


"Kenapa kamu duduk jauh sekali. Aku bakal gigit kamu." Rendi menarik tangan Amel supaya Amel duduk lebih dekat dengannya.


Aku tahu kamu nggak akan gigit aku, tapi kamu bisa saja tiba-tiba menciumku. Walaupun aku tidak menolak, tapi aku merasa kau hanya mempermainkanku.


Amel mulai menjelaskan kepada Rendi kejadian kemarin, mulai dari awal Rendi mengirimkan pesan sampai Amel diantar pulang oleh Raka.


"Amel beneran lupa Kak kemarin, bukan sengaja mengabaikan pesan dan telpon dari Kakak," terang Amel dengan wajah bersalah.


"Sepertinya kamu sudah akrab banget sama keluarga Raka sampai kamu lupa sama aku." Ada nada cemburu saat mengatakannya.


"Jauh sebelum aku kenal Lakak, aku memang sudah akrab dengan keluarga Raka, terutama mama Tamara karena kami sering menghabiskan waktu bersama," jelas Amel.


Ada rasa iri di hati Rendi kepada Raka saat mengetahui kalau Amel sudah sangat akrab dengan keluarganya.


"Kalau begitu, kamu juga harus akrab sama keluargaku mulai sekarang."


"Kenapa begitu? Aku bukan pacar sungguhan Kakak," sahut Amel heran.


"Kamu juga bukan pacarnya Raka, tapi kamu sangat akrab dengan keluarganya, bahkan sampai memanggil mamanya dengan sebutan "Mama"" Rendi terlihat tidak terima dengan alasan Amel.


"Iya, tapi Raka sudah seperti Kakak aku sendiri, Kak"


"Kamu juga pacar aku," balas Rendi tidak mau kalah.


Amel tertawa kecil. "Ya tetap saja beda, Kak"


"Apa bedanya? Kalian bukan kakak-adik sungguhan. Kita juga bukan pacar sungguhan, itu sama aja, 'kan?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2