Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kekecewaan Devan


__ADS_3

“Kau jangan berkata omong kosong Rendi!” Lilian melirik tajam anaknya. “Jangan dengarkan perkataan Rendi Mel, Dia memang seperti itu. Kau mandilah sekarang.”


Amel menoleh ke Lilian. “Iyaa, Tante!” Amel meletakkan tasnya di meja kecil dekat tampat tidur Rendi, lalu berjalan menuju kamar mandi.


“Kau yakin tidak ingin aku temani?” Langkah Amel terhenti saat mendengar perkataan Rendi.


“Rendi..!!” teriak Lilian dengan nada tinggi.


Rendi tersenyum lebar dan memegang tengkuknya saat mendengar teriakan mamanya.


“Pergilah, aku akan menunggu di sini. Jika ada apa-apa, kau teriak saja. Aku akan langsung datang,” ucap Rendi lagi.


Amel tampak tidak memperdulikan lagi ucapan Rendi, dia berjalan masuk ke kamar mandi.


Lilian tidak berniat menanggapi lagi celotehan anaknya. Dia tampak menghela napas sambil menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya. Semenjak kapan dia berubah jadi seperti itu.


“Kak Amel itu hanya pergi mandi, Kak. Bukannya mau berperang jadi jangan berlebihan,” ucap Sofi dengan ketus sambil menunjukkan wajah jengahnya.


“Kau anak kecil tahu apa? Lebih baik kau tidu, jangan mengangguku,” ucap Rendi menatap adiknya dengan wajah kesalnya. Dia kemudian merebahkan tubuhnya saat melihat Amel sudah masuk ke kamar mandi.


“Telingaku gatal saat mendengar ocehan bodohmu itu, Kak. Inilah akibatnya karena kau terlalu lama menjomblo, sekalinya punya pacar sifatmu jadi seperti anak kecil,” cibir Sofi.


Rendi melempar tatapan menghunus pada adiknya. “Apa kau tidak tahu kalau kakakmu ini berada di peringkat pertama sebagai siswa terbaik di seluruh sekolah di negri ini? Bahkan siswa terpandai di sekolah internasionalmu itu masih ada di bawahku.”


“Aku tahu..Maka dari itu, jangan kau sia-siakan otak cerdasmu dengan tingkah bodohmu itu,” ucap Sofi dengan wajah sinis. Dia lebih melilih menikmati makanan yang ada di depannya dari pada meladeni kakaknya.


“Kauu....”


“Sudah, kalian kenapa jadi ribut,” ucap Lilian menengahi perdebatan kedua anaknya. Dia memilih untuk merebahkan tubuhnya di sofa.


Tidak lama kemudian pak Iyan masuk ke ruanganan Rendi di rawat. Dia mengantarkan pesanan yang diminta oleh majikannya. Setelah memberikannya, dia langsung berpamitan untuk pulang.


Sofi masuk ke dalam kamar mandi, setelah tadi dia memberikan baju ganti kepada Amel, saat Amel sudah selesai mandi. Amel berjalan mendekati ke Rendi. Rendi tersenyum tipis saat melihat wajah polos Amel yang sangat imut menurutnya. Dia mencium wangi bunga segar saat Amel berada di sampingnya.


“Kenapa Kakak menatapku seperti itu? Apakah ada yang aneh dengan wajahku?” tanya Amel sambil memegang wajahnya dengan jemari lentiknya saat melihat Rendi terus menatapnya tanpa berkedip.


“Tidak. Kau terlihat imut dan cantik,” jawab Rendi singkat.

__ADS_1


Amel tampak salah tingkah dengan perkataan Rendi. Dia terlihat mengalihkan pandangannya ke samping.


“Kak, di sini masih ada aku dan Mama. Kau anggap kami ini apa? Berhenti membuat kak Amel malu. Kau tidak lihat wajah kak Amel sudah memerah seperti kepiting rebus. Aku jadi curiga, apa kau itu benar kakakku atau bukan? Kenapa tingkahmu jadi seperti orang aneh sekarang?” ujar Sofi dengan nada sinis.


Rendi terlihat menatap tajam adiknya. “Siapa yang menyuruhmu menguping pembicaraanku. Kalau kau tidak suka, lebih baik pindah ke kamar VVIP yang lain. Aku tidak mau terganggu olehmu.”


“Aku ini punya telinga jadi bisa mendengar perkataanmu. Aku juga tidak ingin mendengar perkataan-perkataan bodoh yang akan keluar dari mulutmu, Kak,” desis Sofi menoleh sekilas kepada kakaknya. “Kau pikir ini rumah sakit milikmu, seenaknya saja mengusirku dari kamar ini.”


“Apa kau lupa siapa yang akan menjadi pemilik rumah sakit ini nantinya?”


“Yang aku tahu dia adalah laki-laki terbodoh dan teraneh yang pernah aku lihat,” jawab Sofi acuh.


Amel yang tidak mengerti dengan pembicaraan mereka hanya bisa diam sambil mendengarkan perdebatan mereka. Rendi merasa jengah dengan adiknya. Dia kemudian menoleh kepada Amel.


“Jangan pedulikan Sofi. Lebih baik kau istirahat di tempat tidur itu,” tunjuk Rendi ke tempat tidur yang berada di sebelahnya.


Amel menggeleng kuat. “Amel di sini saja, jika Kakak sudah tidur, nanti baru aku pindah ke sana.”


“Kau bisa sakit jika terus menjagaku. Lebih baik kau tidur juga sekarang.”


“Kakak harus tidur duluan. Aku tidak tenang jika kakak belum tidur.”


Rendi merebahkan tubuhnya saat melihat Amel mengangguk sambil tersenyum. Rendi meraih tangan Amel dan mendekatkan ke wajahnya. Seperti biasa, dia merasa nyaman saat tidur sambil menggenggam tangan Amel.


Rendi terbangun saat mendengar pintu kamar terbuka, dia melihat 2 orang perawat datang untuk memeriksanya. Rendi melirik jam dinding, terlihat jam menunjukkan pukul 5 pagi.


“Suuuutsss.”


Rendi meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberikan isyarat kepada kedua perawat itu agar tidak menimbulkan suara berisik, saat dia melihat Amel tertidur pulas di kursi sampingnya dengan kepala yang berada di pinggir kasur.


Kedua perawat itu mengangguk dan berjalan dengan hati-hati mendekati Rendi. Mereka tahu kalau Rendi adalah anak dari pemilik rumah sakit tersebut, jadi mereka bersikap sesopan mungkin di depan Rendi. Mereka mulai melakukan pemeriksaannya. Mereka juga mengganti cairan infus yang terlihat sudah mau habis.


Setelah selesai mereka keluar dari ruangan Rendi dengan menutup pelan pintu itu agar tidak menimbulkan suara. Rendi terlihat membelai rambut Amel dengan pelan lalu mengusap lembut pipi Amel. Rendi tersenyum saat melihat Amel yang tampak terlelap sambil memegang tangannya. Ada keinginan di hatinya untuk terus bersama Amel.


Rendi kemudian menoleh ke sebelah, tampak Sofi dan mamanya tidur di ranjang sebelah. Rendi merasa bersalah karena merasa sudah merepotkan semua orang.


*****

__ADS_1


“Ada apa dengan Amel? Apa dia sakit?” tanya Devan saat melihat Amel tertidur di kelas pada saat jam pelajarannya.


“Maaf pak, Amel sepertinya kelelahan, dia baru pulang dari rumah sakit tadi pagi,” jawab Bela dengan wajah tidak enak, saat melihat tatapan datar Devan.


Amel memberitahu kepada semua sahabatnya kalau dia baru pulang dari rumah sakit jam 6 pagi. Dia hanya tidur 2 jam selama menunggu Rendi di rumah sakit semalam. Tidurnya benar-benar tidak tenang. Dia terus saja terbangun untuk mengecek keadaan Rendi. Dia baru bisa terlelap saat pukul 3 pagi.


“Amel sakit apa?” tanya Devan menatap pada Bela.


“Bukan Amel yang sakit, Pak. Amel habis menjaga orang sakit. Dia kurang tidur, Pak,” jawab Olive sebelum Bela membuka suaranya. Olive tidak menyebutkan kalau orang yang dijaga Amel adalah Rendi.


“Saya akan bangunkan Amel, Pak,” ucap Lisa yang merupakan teman sebangku Amel.


Devan menggeleng. “Tidak perlu, Biarkan dia tidur. Jangan ganggu dia.” Devan lalu memandang Amel sejenak dengan tatapan yang sulit diartikan, setelah itu, dia mengalihkan pandangannya kembali ke papan tulis, dia melajutkan pelajarannya.


Setelah bel istirahat berbunyi, semua siswa keluar dari kelas, tidak terkecuali dengan Amel. Ketiga sahabatnya membangunkannya saat jam pelajaran telah selesai. Amel berencana menemui Devan, saat Bela mengatakan kalau Devan menyuruh Amel menemuinya jika dia sudah bangun.


“Duduk,” ucap Devan saat melihat Amel yang sudah berdiri di depannya. Devan tampak sibuk dengan kertas ada yang di depannya.


Amel menurut, dia duduk di depan Devan. “Kata Bela, bapak meminta saya menemui Bapak.”


“Kenapa kamu tertidur di kelas saya?” tanya Devan tanpa basa-basi, dia tidak menoleh sama sekali kepada Amel. Dia tetap sibuk menuliskan sesuatu pada kertas di depannya.


“Maaf Pak, saya kurang tidur,” jawab Amel singkat.


Devan mengangkat kepalanya menatap Amel. “Apa kau sudah makan? Kenapa wajahmu tampak pucat?”


“Belum pak, saya cuma kurang istrirahat.”


Devan menyodorkan nasi box yang ada di sampingnya. “Makanlah. Kau bisa saja sakit juga tidak menjega tubuhmu dengan baik.” ucap Devan menatap Amel tanpa ekspresi.


“Apa ada yang ingin bapak katakan lagi? kalau tidak ada saya permisi, Pak,” ucap Amel sambil berdiri dan mengabaikan perkataan Devan yang menyuruhnya makan.


“Berhenti,” ucap Devan saat melihat Amel mulai melangkah keluar.


Amel menghentikan langkahnya saat merasa tanganya ditahan oleh Devan. “Maaf Pak, Tangan saya sakit, tolong lepaskan,” ucap Amel membuang pandangannya ke samping, saat menyadari tatapan tajam dari Devan.


Devan masih memegang tangan Amel. “Apa kau akan terus bersikap seperti ini kepadaku Mel? Apa begini caramu membalasku, dengan semua yang pernah aku lakukan untukmu? Apa kau masih marah denganku, karena aku meninggalkanmu. Apa aku tidak cukup berarti untukmu selama ini?” tanya Devan dengan tatapan dingin ada kilatan kekecewaan di dalam sorot matanya.

__ADS_1


Dahi Amel berkerut, matanya menyipit. "Aku tidak mengerti maksud bapak berkata seperti itu?"


Bersambunt....


__ADS_2