Hot Family

Hot Family
Keturunan Darren Mahendra


__ADS_3

Zain langsung membalikkan badannya dengan cepat. Yang dibukakan pintu pun langsung mencebikkan bibirnya. Sudah tidak aneh lagi, ketika Darren datang tapi yang dilihatnya bukan Senja, pasti ekspresinya akan seperti itu.


"Kemana, Mamamu?" tanya Darren sembari mencuci tangannya di wastafel antara ruang tamu dan ruang keluarga.


"Lagi di dapur."jawab Zain.


"Kenapa wajahmu? tidak senang lihat daddy?"


"Kalau Zain senang lihat wajah daddy, itu artinya Zain tidak normal," timpal Zain, sembari menghempaskan bokongnya ke atas sofa dengan santai.


"Mobil Lamborghini Aventador siapa di luar?" tanya Darren melihat mobil sport keluaran terbaru warna merah metalik di halaman samping.


"Owh ... mungkin punya Michel, temannya Dasen."


Perasaan Darren langsung tidak enak. Kalau dia tidak salah menilai, pasti sebentar lagi anak keduanya itu pasti akan merengek meminta sebagai hadiah di ulang tahun ke tujuh belas tahun nanti.


Tidak seperti Deyra yang cocok dengan Genta, karena keduanya anak baik-baik, tidak terlalu banyak tingkah dan sama-sama mengejar prestasi. Dasen dan teman-temannya adalah tipikal yang selalu ingin mencoba apapun yang dianggap orang bahaya. Tapi tentu masih dengan batasan hukum dan juga agama.


Darren langsung tersenyum katika melihat wajah istrinya yang nampak berkeringat.


"Sudah datang, Ask ... Senja baru selesai di dapur. Senja mandi dulu ya," sapa Senja, tapi tidak mendekat karena nerasa tidak enak.


Darren mendekati istrinya, "Mandinya sama-sama saja," bisiknya dengan nakal.


Senja hanya meringis, kata-kata mandi bersama selalu terdengar ambigu, karena pada prakteknya aktivitas itu menjadi tertindih dengan kegiatan lain yang lebih memakan waktu.


Kedua orang tua yang masih dilanda jatuh cinta seperti masa muda itu langsung berjalan ke lantai dua, meninggalkan Zain yang hanya mengelus dada sekaligus berdoa dalam hati, semoga dirinya dan Airin kelak juga bisa menjalani kehidupan rumah tangga seperti mama dan daddynya.


Tidak lama kemudian , Airin dan kedua orangtuanya pun datang. Wajah perempuan yang dicintai Zain itu sudah sangat cerah dan terlihat bahagia.


"Mama dan daddy dan yang lain masih di atas. Sebentar ya, Zain panggilkan dulu. Tunggu sebentar ya," Zain begitu bersemangat, lalu dia memanggil semua yang ada di lantai dua.


Sarita dan Mahendra turun terlebih dahulu, sementara Darren dan Senja saat dipanggil hanya menyahut dengan kata-kata 'Sebentar.'


Zain pun tidak terlalu ambil pusing. Pasti sepuluh menit lagi kedua orangtuanya itu juga akan turun. Dia malah berharap, kali ini sang Mama bisa membuat mood daddynya terjaga.


Suasana hati yang baik, tentu akan mempengaruhi sikap Darren pada Airin.

__ADS_1


"Opa ... Oma ... perkenalkan ini Ayah dan Bundanya Airin." Zain menunjuk Lena dan Rasyid bergantian.


"Saya Omanya Zain, panggil saja Bu Sarita."


"saya Opanya Zain, panggil saja Pak Mahendra."


Keempat orang tua itu saling berjabat tangan dengan ramah. Airin yang sudah pernah bertemu dengan Sarita dan Mahendra, terlihat langsung melemparkan senyum dan mencium punggung tangan kedua orang tua tersebut.


"Sehat-sehat ya, Rin. Yang penting itu semangat dan pikiran harus positif, pasti bisa sembuh," ucap Mahendra sembari mengusap lembut pundak Airin.


"Opa, benar. Zain sudah melewatinya. Tuhan pun pasti akan mengangkat sakitmu," timpal Sarita.


Jantung Airin seketika berdegup sangat kencang, pandangan matanya tertuju pada Darren yang mengamit tangan Senja menuruni anak tangga dengan wajahnya yang terlihat menawan meski usia sudah lebih dari setengah abad.


Ini juga kali pertama bagi Rasyid dan Lena bertemu dengan Darren Mahendra. kedua orang tua Airin itu mengatupkan bibirnya, melihat calon besan mereka semakin mendekat. Foto yang kemarin diperlihatkan oleh Zain pada mereka kemarin, sungguh berbeda dengan kenyataan saat ini. Di foto Darren tersenyum lebar dan hangat, saat ini wajahnya begitu datar tanpa ekspresi.


"Darren Mahendra, daddynya Zain." Tanpa basa basi Darren mengulurkan tangannya pada Rasyid dan juga Lena.


Kedua orang itu menyambut uluran tangan itu sembari menyebut nama mereka bergantian dengan ramah.


Senja bersyukur ada kedua mertuanya malam ini. Pembicaraan menjadi mengalir dan lebih akrab. Andai hanya ada dirinya dan sang suami, pasti suara jangkrik yang akan mengisi pertemuan mereka.


"Aa ... kira-kira daddy bakalan bersikap bagaimana sama Ai?" tanya Airin, raut wajahnya sedikit khawatir.


"Ai nyantai saja. Kalau Daddy bicaranya sudah tidak penting, langsung keluarin saja dari kuping. Belajarlah bersikap seperti mama. Kalau Ai terlalu diam dan pasrah, daddy pasti akan semakin meremehkan. Selagi jawaban, Ai masuk akal dan benar, jangan ragu untuk berpendapat." Zain seperti sedang memberikan kisi-kisi pada Airin agar bisa menghadapi seorang Darren Mahendra.


"Ada lagi?"


Zain berpikir sejenak. "Jangan terlalu mengambil perhatian dan waktu mama, karena itu point penting. Jangan membuat daddy cemburu dengan sikap mama kepadamu. Satu lagi, kamu harus akrab dengan Beyza. Jika kamu berhasil membuat Beyza, tidak bergelayut manja terlalu sering dengan daddy. Pasti daddy akan mempertahankan Ai lebih lama di sini," jelas Zain.


"Astaga ... daddynya Aa, berlebihan sekali."


"Tidak juga. Aa malah berharap bisa seperti daddy. Usia tidak membuat cinta dan perhatian luntur."


"Aa sweet sekali. Ai beruntung dapat Aa." Airin tersipu malu, pipinya kemerahan, dengan bibir merekah merah alami membuat Zain menjadi gemas.


Zain menggeser bokongnya lebih dekat dengan Airin. "Kangen nggak?" tanyanya.

__ADS_1


Airin hanya mengangguk malu-malu. Sikap Zain yang kelewat romantis sering kali membuat Airin melayang.


"Ke taman belakang, yuk! udaranya lebih seger," bisik Zain, lalu menarik tangan Airin dengan lembut.


Dari balkon di kamar Dasen, Michel melihat Zain dan Airin duduk berdua di Gazebo taman.


"Das ... Itu kakak kamu sama ceweknya? mau pacaran mereka?" Michel memanggil Dasen dengan heboh.


"Apaan sih? terus kenapa kalau pacaran? mereka sudah cukup umur? nggak kayak kita. Ktp belum punya, pacaran masih sembunyi-sembunyi, Mana kalau lagi berdua, buka tutorial youtube dulu biar nggak salah jalan. Trik pacaran sehat anak di bawah 17 tahun." Dasen mengatakan sambil terkekeh.


"Semua boleh, asal kita tidak memaksa dan jangan sampai pernikahan dini. Kalau mamiku sih bilangnya gitu." Michel malah mempengaruhi Dasen.


"Big No! Ada satu yang tidak bisa, kita harus menghargai itu karena mama kita perempuan," tegas Dasen.


Dasen menarik tangan sahabatnya itu masuk ke dalam kamar, lalu mengunci conecting door yang menghubungkan dengan balkon.


Kembali pada Zain yang kini tiduran di pangkuan Airin.


"Aa ... rumah Aa nyaman sekali. Nanti pas di rumah Ai bagaimana? rumah Ai kecil, tidak ada seperempatnya dari rumah ini."


"Ya, biasa saja Ai ... Dijalani dan dinikmati, yang penting restu daddy turun." Zain mengusap lembut wajah Airin.


"Terimakasih, Aa selalu bisa membuat Airin tenang."


"Mau lebih tenang lagi?" Zain mengangkat kepala sedikit, lalu menahan tengkuk leher Airin agar maju mendekati wajahnya. Bibir keduanya pun bertautan. Saling mengecup dan membalas dengan penuh perasaan. Tangan Airin meremas lengan Zain dengan sangat erat.


Wati dan bi Ina yang kebetulan lewat, melihat dua insan yang sedang dimabuk cinta itu dengan tatapan tidak heran.


"Kalau tidak sembarang tempat, bukan anak Tuan Darren Mahendra," seloroh wati dengan suara berbisik.


"Empat tahun lagi, kita harus bersiap-siap melihat adegan seperti ini di setiap sudut. Ingat! masih ada tiga anak lagi," timpal bi Ina.


Merasa obrolan basa basi sudah terlalu lama, Senja mengajak semua untuk makan malam. Dia pun mencari Zain dan Airin. Karena di dalam tidak ada, Senja pun langsung ke taman belakang. Di sanalah tempat favorite Zain.


Sampai di sana, Senja disuguhkan dengan pemandangan kemesraan yang luar biasa. Antara malu dan juga kesal. Senja mengambil bakal buah jambu yang masih kecil, lalu melemparkannya tepat pada kepala Zain.


"Aduh ...."

__ADS_1


__ADS_2