Hot Family

Hot Family
Zain-Sekar Sah


__ADS_3

Senja dan Beyza terlihat sangat cantik dan anggun, kebaya berbahan brokat pilihan, berwarna kuning mustard di padu jarik batik jogya berwarna putih dengan semburat kekuningan, sangat menyatu dengan kulit keduanya yang putih bersih.


Darren, Dasen, dan Derya sendiri terlihat sangat mempesona. Ketiganya kompak memakai kemeja batik dengan motif yang sama persis dengan jarik yang dikenakan Senja dan Beyza dipadu celana bahan warna hitam. Hanya Genta yang berbeda, karena memang dia belum resmi masuk menjadi anggota keluarga Mahendra. Kekasih Beyza itu mengenakan kemeja batik berwarna kuning mustard yang dominan. Masih senada, meskipun berbeda.


"Mama ke kamar Kak Zain dulu," pamit Senja sembari menyambar clutch pesta berwarna sama dengan kebaya yang dikenakannya.


Beyza hanya menganggukkan kepala sembari memoleskan lipstik ke bibirnya. Sementara Darren, Dasen, Derya, dan juga Genta ikut keluar menunggu di lobby hotel bersama oma-oma dan opa-opa.


"Sudah siap, Zain?" Tanya Senja sembari masuk ke dalam pintu yang baru saja dibukakan oleh anaknya itu.


Zain tampak gagah dengan beskap putih dengan detail payet perak yang elegant, dipadu dengan kain jarik lurik sebagai bawahan, dan blangkon sebagai penyempurna terpasang di kepalanya. Penampilan Zain pagi ini sungguh seperti putra seorang raja.


Dengan dandanan seperti sekarang, Zain sungguh mirip dengan Rafli. Semakin Senja memperhatikan, hatinya semakin sendu.


"Kita berangkat, yuk. Takut macet, lebih baik menunggu dari pada telat." Senja buru-buru mengajak Zain berangkat sebelum drama tangis haru kembali terjadi.


Tapi Zain menahan tangan Senja, dia tahu persis mamanya itu sedang menyimpan pikiran.


"Apa Mama bahagia melihat Zain akan menikah?"


"Apa-apa'an kamu ini, Zain. Tentu saja Mama bahagia, kalau pun ada sedih, itu sedikit," sahut Senja sembari menundukkan pandangannya.


"Ma, lihat Zain sekarang," pinta anak pertama Senja itu.


Perempuan itu menggeleng dengan kuat, lalu langsung memeluk Zain dengan erat. "Kenapa hari ini kamu begitu mirip dengan papamu, Zain. Mama sampai tidak berani melihat matamu."


"Cieyyy... baper sama mantan, awas ketahuan daddy, bisa-bisa Zain langsung disuruh ganti muka," goda Zain. Senja yang tadinya sudah mau menangis, jadi gemas dengan kata-kata anaknya itu.


"Sudah kita berangkat saja. Jangan liatin Mama!" Senja salah tingkah sendiri saat mengatakannya.


Zain mengamit lengan Senja dengan manja. Padahal mau menikah, tapi keinginan untuk berdekatan dengan sang mama semakin besar.

__ADS_1


Saat keluar dari lift yang mengantar mereka ke lobby. Zain masih saja mengamit lengan Senja.


"Berasa berjalan dengan Papa Rafli ya Ma." Lagi-lagi Zain menggoda Senja.


"Ngobrolin apa sih? Kenapa pipinya sampai merah begitu?" Selidik Darren sembari menyambut sang istri.


"Ada yang ingat mantan,Dadd," seloroh Zain, membuat Senja mencubit lengan anaknya itu dengan kuat.


Darren ingin mempertanyakan lebih jauh ucapan Zain, tapi suara Bae yang sudah mengajak mereka berangkat, membuat pria itu membatalkan niatnya.


Zain, Darren dan Senja menaiki mobil yang sama, sedangkan yang lain menaiki dua mobil yang berbeda.


Setelah 30 menit menempuh perjalanan, akhirnya, sampailah mereka di kediaman Sekar. Tidak ada janur kuning yang melengkung. Benar-benar mereka menjalankan amanah dari orang pintar yang mencarikan hari baik untuk pernikahan Zain dan Sekar.


Tapi di rumah itu ramai dengan sanak keluarga dan tetangga terdekat. Mereka datang untuk menyaksikan langsung ketampanan calon suami Sekar yang selama ini hanya didengar dari cerita saja.


Ketika rombongan pihak Zain turun dari mobil, hampir semua kerabat dan tetangga Sekar yang ada di sana berdecak kagum.


kaya, dan ganteng. Itu adik-adiknya punya pacar belum ya? Siapa tahu mau cari jodoh sekalian," bisik Surti, tetangga sebelah rumah Sekar persis.


"Sekar kan juga dokter, pantes dapetnya dokter," timpal seseorang di sebelahnya.


Bapak dan Ibu Sekar menyambut keluarga besannya dengan ramah. Saat memasuki rumah Sekar yang sudah digelari karpet, tidak ada satu hal pun yang berbeda. Tidak ada backdrop sederhana sekali pun yang menegaskan di rumah itu akan berlangsung sebuah pernikahan.


Penghulu rupanya juga sudah datang. Maka acara pun langsung di mulai. Sekar sendiri belum nampak hadir di ruangan. Mempelai wanita akan keluar setelah kata sah di ucapkan para saksi.


Senja, Darren, Sarita, Mahendra, Bae dan Arham berada di deretan depan. Sedangkan anak-anak berada di belakang.


Zain sudah duduk bersimpuh di depan penghulu dan bapak sekar. Mereka hanya dipisahkah oleh meja setinggi bawah dada dengan lebar tidak lebih dari 50 senti.


Dengan mantap anak itu menerima hentakan tangan Diman yang menikahkan Zain langsung dengan Sekar.

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Sekar Puri Larasati binti Diman dengan mas kawin 10 persen saham RSZ Corp dibayar tunai."


Kata 'SAH' seketika menggema di seluruh ruangan. Ketegaran yang sedari Senja kumpulkan runtuh sudah, keharuan dan lega, akhirnya dia sudah bisa menunaikan satu tugas terberatnya sebagai orang tua, yaitu melepas sang anak untuk menjalani mahligai perkawinan.


Darren mengusap punggung tangan sang istri, seolah ingin menyalurkan kekuatan dan ketegaran.


Tidak lama kemudian, Sekar muncul dengan kebaya panjang putih yang ekornya menjuntai hingga ke tanah. Meski tidak ada pesta, dia tetap ingin menggunakan gaun pengantin impiannya.


Sekar berjalan begitu santun dan anggun, dan ketika di tengah jalan dia berjalan menggunakan lututnya laksana putri keraton. Paesan khas jawa yang otentik lengkap dengan paes prada semakin membuat penampilan Sekar berkarisma dan mangklingi.


Paes prada merupakan riasan melengkung yang berada di kening perempuan. Riasan ini diberi warna hitam dan emas. Bentuk paes prada yang besar melambangkan arti kebesaran Tuhan dan yang berbentuk kecil merupakan pengapit. Pengapit ini maksudnya seorang perempuan harus siap menjadi penyimbang di dalam keluarga.


Zain menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan diri dari ketidak sabaran ingin bersentuhan dengan perempuan yang kini sudah resmi menjadi istrinya.


Saat keduanya sudah saling berhadapan, kecanggungan malah terjadi. Penghulu yang menyuruh Sekar mencium punggung tangan Zain, yang terjadi malah Zain mencium kening Sekar terlebih dahulu.


"Belum, Mas. Kita ulang lagi kalau begitu." Penghulu kembali memberikan arahan pada Sekar untuk mencium tangan suaminya.


Kali ini istri Zain itu melakukan dengan benar. Setelah acara akad selesai, mereka melakukan sungkeman pada kedua orang tua.


Saat Sekar dan Senja berpelukan, keharuan benar-benar terjadi. Suasana yang tadinya masih ada bisik-bisik mendadak hening. Hanya isak keduanya, dan suara Senja yang terbata-bata yang terdengar.


"Mama, nitip Zain ya, Kar. Perhatikan benar makanan dan istirqhat Zain. Jika Zain ada salah, tolong kamu bilang ke Mama. Tapi kalau bisa, selesaikan sendiri dulu." Senja mengusap-usap punggung menantunya dengan lembut.


"Ask, Jangan lama-lama, Zain sudah tidak sabar membersihkan riasan Sekar." Darren berbisik lirik di telinga istrinya. Menyampaikan, yang disampaikan Zain persis padanya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Dear Readers yang author kasihi. Mohon maaf ya, author ijin tidak up mulai besok entah sampai kapan. Badan Author benar-benar sedang tidak fit.


__ADS_1


__ADS_2