
"Beyza?!" Sapa dan tanya seketika langsung dari bibir orang yang dikejar Bey.
"Om Rangga." Gadis itu langsung memeluk pria di depannya itu dengan erat.
Rangga menggigit bibir bawahnya, ada rasa haru yang menyesakkan dadanya. Tidak menduga mereka akan dipertemukan secepat ini. Enam tahun berlalu, menahan dan menyembunyikan diri agar tidak bertemu. Tapi waktu Tuhan memang selalu datang tidak terduga dan tidak bisa dihindari.
"Apa kabar, Bey?" Rangga merenggangkan pelukan Beyza karena merasa tidak enak.
"Baik, Om. Tapi tidak pernah sehidup dulu. Semua berjalan karena sudah ada jadwal." Beyza menjawab dengan jujur.
"Ayah, i--" Genta tidak melanjutkan ucapannya begitu melihat Beyza ada di depannya.
Ya, selama ini, Genta selalu melihat dan menjaga gadis itu dari kejauhan. Waktu yang sudah lama berlalu, jarak yang memisahkan dan tidak adanya kabar apapun, tidak membuat perasaan sayang, kagum dan cintanya pada Beyza berkurang.
Genta berjalan mendekati Beyza, memberanikan diri memangkas jarak yang sudah lama terbentang. Binar cinta dan kerinduan, jelas terlihat dari tatapan mata keduanya.
Tanpa kata keduanya saling memeluk. Beyza menangis di dada Genta sesenggukan. Menumpahkan rindu dan cinta yang lama tertahan.
Genta mengusap rambut Beyza dengan lembut. Cinta memang kadang memang tidak butuh sebuah ungkapan dari bibir. Mata dan bahasa tubuh mereka cukup untuk menterjemahkan betapa besar cinta keduanya.
Rangga tersenyum tipis, sedikit miris. Tidak pernah menyangka, cinta yang dulu dinilainya hanya cinta sesaat khas anak abg, ternyata bukanlah cinta yang biasa.
Sekalipun tumbuh besar ditangannya yang memebaskan Genta untuk bergaul, nyatanya darah seorang Aris yang setia dan hanya mengenal Jingga dalam hidupnya, mengalir sangat kental ditubuh Genta.
"Kenapa kamu tidak mencariku, Gen? Tahukah kamu? Aku sama sekali tidak bersemangat menatap masa depan karena aku, seperti kehilangan harapan." Beyza memukul manja dada Genta yang kini sangat bidang.
"Benarkah aku tidak mencarimu? Siapa yang mengirimi hadiah-hadiah kalau begitu?" Genta memencet hidung mancung Beyza dengan gemas.
Beyza seketika melepas pelukannya. Ada rasa kaget sekaligus senang. "Jadi yang mengirim hadiah-hadiah padaku itu, kamu?"
"Tentu saja, aku. Siapa yang mengagumimu sebesar itu, selain aku." Genta mengacak rambut Beyza.
__ADS_1
Rangga meraba dadanya, berharap kesempatan kedua kali ini, tidak semenyakitkan kisah mereka saat remaja. Dia hanya berharap Genta bahagia, mendapatkan gadis impiannya. Kali ini, Rangga tidak akan mengalah jika Daren masih saja menentang. Dia yang akan berada terdepan membuat impian Beyza dan Genta bersama menjadi kenyataan.
Dari kejauhan Michel hanya berani mengamati pertemuan Beyza dan Genta dengan tatapan miris. Jelas, dia merasa kalah sebelum berjuang.
Dulu saja dia mempunyai segalanya, Beyza tidak meliriknya. Apalagi sekarang? Michel memilih meninggalkan resto itu, mungkin saran Beyza benar, lebih baik dia kembali ke Indonesia dan meminta pekerjaan pada Dasen.
Kembali pada Genta, Beyza dan Rangga yang kini duduk dan makan malam yang kemalaman bertiga.
"Setelah ini, kami akan mengantarmu pulang." Genta tidak hentinya memandang Beyza yang semakin cantik dan dewasa di matanya. Sejauh yang dia tahu, Beyza sekarang memang sudah membuang sifat manjanya jauh-jauh.
Sesekali saja sifat itu muncul ketika bersama daddy-nya, itu pun sedikit berjarak sekarang.
"Gen... Hari ini adalah hari pertama kita bertemu kembali sekaligus hari jadian kita. Biarlah om Rangga menjadi saksi, kalau mulai sekarang kita tidak akan saling menghindar dan menjauh kemana-mana lagi. Apa pun masalahnya nanti. Kita tidak boleh menyerah. Ahhh... aku sudah tidak sabar bercerita pada mamaku." Beyza tampak begitu bahagia dan bersemangat.
"Not now, Bey. Aku akan menjadikan kamu kekasihku dengan cara yang pantas. Bukan dengan begini. Sama sekali tidak romantis. Tunggu, Aku yang harus menjadikanmu kekasihmu. Bukan sebaliknya." Genta kembali mengacak rambut Beyza, membuat gadis itu memanyunkan bibirnya dengan manja.
Rangga hanya meringis mendengar dua anak manusia yang sudah lama jatuh cinta dan tidak bertemu, kini dipertemukan kembali drngan keadaan yang entah lebih baik atau tidak. Bahkan dia sendiri, tidak pernah lagi bertemu dengan Darren atau Senja.
.
.
Zain akhirnya bisa bernapas lega, Sekar mau menerima telepon darinya. Bahkan saat sudah pulang ke Indonesia nanti, Sekar tidak ingin langsung pulang ke Jogya.
Zain tidak tahu apa tujuan Sekar, yang pasti, gadis itu ingin beberapa hari di Jakarta terlebih dahulu.
Tanpa Zain ketahui, Sekar ingin sesekali bertemu langsung dari Airin. Karena selama ini, dia hanya tahu sebatas nama dan foto saja.
Zain terlalu baik dan tidak tegaan, Sekar harus sedikit menjaga agar Airin tidak berpikiran lebih lagi. Karena sejauh yang Sekar tahu, Airin betah hidup menjadi single sampai saat ini.
"Zain, kamu bawa vitamin c atau apa gitu? Mama sepertinya mau flu." Senja langsung menghampiri Zain yang sedang duduk santai di ruang baca.
__ADS_1
Anak pertama Senja itu, langsung menempelkan punggung tangannya di leher dan kening mamanya. "Sebentar, Zain cek suhu badan mama dulu."
Sembari menunggu Zain yang sedang mengambil peralatan untuk memeriksa kondisinya, Senja melongokkan kepalanya melihat sisi kamar yang ditempati Inez, tampak tertutup rapat. Sementara Derya masih di lantai dua bersiap-siap tampil maksimal sesempurna mungkin. Karena hari ini, DNG Corp akan resmi di bawah kendalinya.
Zain datang membawa tas yang berisi berbagai alat dokter standartnya. Anak itu segera memeriksa suhu badan mamanya.
"38, Ma. Lebih baik, Mama tidak ikut ke acara. Daripada Mama nanti malah pingsan. Mama, mikirin apa lagi sih?" Zain yang hafal betul kebiasaan Senja langsung bertanya.
"Mikirin apa lagi? Banyak Zain. Mama pikir setelah kalian dewasa dan memilih hidup masing-masing. Mama bisa tenang. Nyatanya, kekhawatiran Mama, akan kehidupan kalian kedepannya, masih saja sama."
"Yang harus mama lakukan adalah percaya pada kita. Kecewa, sedih, marah dan bahagia. Biarlah kami merasakan dan menikmati prosesnya. Mama harus percaya pada kami. Tugas Mama dan Daddy sekarang hanya mendoakan kami dan sedikit mengingatkan." Zain memegang lengan mamanya, memasang alat elektrik untuk memeriksa tekanan darah.
"Agak tinggi juga, Ma. 160/80. Mama sepertinya harus berlibur."
"Iya, mungkin. Setelah ini Mama akan mengajak daddy ke tempat Beyza." Senja melihat dengan kagum Derya yang sangat tampan dan berwibawa saat menuruni anak tangga.
Zain mengembalikan perlengkapannya kembali ke dalam kamarnya.
"Apa Der sudah pantas menjadi seorang Ceo?" Derya merangkul mamanya dengan manja.
"Keturunan Darren Mahendra dari lahir, sudah pantas menjadi Ceo," sahut Darren tiba-tiba muncul dan ikut merangkul Senja.
"Der, mau memanggil Inez dulu."
Derya langsung berjalan menuju kamar di mana kekasihnya itu berada. Dia mengetuk pintu berkali-kali, tapi tidak ada yang menyahut. Akhirnya, Derya membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci. Tidak ada Inez di dalam sana.
"Ay... Ay...." Derya memanggil Inez berkali-kali di depan toilet. Tapi ternyata di dalam toilet pun kosong.
Derya berlari ke luar sembari terus berterik memanggil Inez.
"Ada apa sih, Der?" Senja bertanya sedikit kesal, karena mendengar anaknya itu terus berteriak.
__ADS_1