
"Ke rumah? Ketemu ibu atau bapak? Terus orangtuamu bagaimana? Bu Senja sudah setuju? Kenapa mendadak? Apa tidak terlalu cepat?" Bukannya menjawab, Denok malah memberikan cecaran pertanyaan pada Dasen.
"Mama biar jadi urusanku. Yang penting kamu setuju apa tidak?" Dasen mengatakannya sambil merapikan rambutnya yang menjuntai jatuh di dahi.
"Aku setuju saja. Cuman, a---," Denok tidak jadi meneruskan perkataannya.
Perempuan tersebut meraba dadanya yang sangat menonjol. Kekhawatiran tiba-tiba menghampiri. Padahal inilah yang dia tunggu-tunggu. Menikah bukan tentang seberapa lama mereka saling mengenal dan berpacaran. Karena pada akhirnya, pernikahan adalah proses belajar memahami dan menerima pasangan seumur hidup. Akan tetapi, bukan itu yang menjadi pikiran Denok saat ini.
Menyaksikan betapa megahnya pernikahan Beyza dan Genta, melihat keluarga besar Dasen yang jelas luar biasa, nyali Denok mendadak menciut membayangkan pernikahannya.
"Nok, kamu kenapa? Kok malah melamun?Nggak suka?" Dasen melambaikan telapak tangannya sejengkal di depan wajah Denok. Membuat perempuan tersebut seketika tergagap.
"Bu--bukan begitu. Nanti ya, mas. Kalau di Jakarta saja kita bicarakan lagi. Kurang lima belas menit lagi aku boarding. Nggak enak, ntr nanggung. Karena panjang yang harus kita bahas, dan tentunya akan lama," tukas Denok.
Ingin rasanya Dasen menjawab yang panjang dan lama itu lebih enak. Namun, logikanya masih bisa berjalan dengan baik. Dia harus menjaga sikap agar tidak dinilai mesum oleh kekasihnya sendiri.
"Ya sudah. Mungkin aku baru pulang ke Jakarta besok. Kalau ada daddy di samping mama, semua sudah aman. Jadi aku tidak terlalu kepikiran meninggalkan mama."
Keduanya lalu melanjutkan obrolan dengan tema yang lebih sederhana. Sampai suara panggilan kepada penumpang dengan tujuan dan pesawat yang tertera di tiket elektonik Denok terdengar, keduanya baru berpisah.
Di lain tempat, tepatnya di sebuah kamar hotel dengan fasilitas mewah khas bintang lima, Beyza dan Genta sedang bermalas-malasan di atas ranjang. Beyza dengan manja menjadikan paha Genta sebagai bantalan kepalanya.
__ADS_1
Meski pengantin baru, keduanya tidak melakukan aktivitas yang biasanya sangat dinanti oleh pasangan baru yang lain. Genta dan Beyza harus sama-sama bersabar untuk menjajal kenikmatan dunia untuk pertama kalinya. Tentubsaja, dikarenakan tamu bulanan Beyza yang datang disaat yang tidak diharapkan.
"Kang ... boleh nggak Bey yang coba duluan?" Bey bertanya sedikit ragu. Namun, jari telunjuknya terus bergerak membentuk garis dan lengkungan tak beraturan di sekitar pangkal paha Genta.
Sebelum menjawab, Genta sedikit menggeser bokongnya sembari menahan kepala sang istri. Beyza terdiam sekali pun, Si umbi batang, sudah merambat tumbuh. Apalagi diberi sentuhan jemari seperti itu, sungguh umbi batang seketika ingin dicabut sampai ke akarnya.
"Kang, kok diem? Boleh, ya? Hitung-hitung praktek apa yang Bey lihat tadi di kamar mandi." Beyza semakin mengarahkan jemarinya lebih dekat pada pusat tertanamnya si umbi. Bahkan jemari itu jelas bisa merasakan umbi semakin mengeras.
"Apa, Mbak? Apa yang di kamar mandi?" Genta terlihat bingung.
Beyza tidak menjawab dengan kata-kata. Putri satu-satunya dari Darren Mahendra itu meraih ponsel yang tadi sudah diletakkan di sebelahnya. Dengan gerakan tangan yang cepat, Beyza membuka galeri dan menunjukkan sesuatu pada Genta.
"Astaga! Mbak nakal sekali." Genta menepuk kening Beyza dengan gemas.
Genta tidak tahu harus berbuat apa. Mendadak dia menjadi canggung. Pipinya terlihat merona merah karena malu.
"Ehmm... a---,"
Beyza dengan cepat berpindah posisi. Dia menindih tubuh Genta dan membungkam mulut sang suami dengan mulutnya. Membuat pria tersebut tidak bisa lagi berkata-kata atau pun berkutik.
Beyza dengan nakal menggoyangkan pinggulnya dengan pelan. Semakin terasalah kekerasan di area tengah tubuh Genta. Lidah Beyza kali ini mendominasi. Sedikit membuat Genta kewalahan akibat serangan liar yang sungguh tidak dia duga.
__ADS_1
"Mbak ...." Suara Genta terdengar serak---mendeesah di sela jeda yang diberikan Beyza dalam peraduan bibir mereka untuk sekedar mengambil napas.
Beyza beringsut bangkit dari tubuh Genta. Lalu dia menuntun sang suami agar berdiri dengan lutut, sama seperti dirinya.
"Nurut saja, ini masih belajar. Mohon dimaklumi kalau tidak seenak ekspektasi atau bayangan."
Ucapan Beyza sejenak membuat Genta ingin tertawa. Kenapa ada belajar untuk hal seperti ini. Sungguh menggelikan, dan pastinya akan menjadi siksaan bagi Genta. Apalah artinya dipuaskan tanpa memuaskan. Tentu kurang sempurna bagi pasangan yang mendamba kebahagiaan dengan meneguk kenikmatan bersama.
"Kang Genta tangannya di belakang aja, atau di atas juga boleh. Asal jangan sentuh apapun di badan Bey. Ini kesempatan Bey untuk praktek." Suara Beyza terdengar semakin sensual di telinga Genta. Belum apa-apa, sungguh pikiran pria tersebut sudah berkelana membayangkan sang istri melakukan sesuatu seperti video yang ditunjukkan tadi.
Bibir keduanya kembali bertautan. Lagi-lagi Beyza masih mendominasi. Meski kini Genta sudah melakukan perlawanan, namun belum seberapa dibanding dengan serangan Beyza. Genta yang lembut penuh cinta, agak harus belajar liar untuk menghadapi dan mengimbangi Beyza.
Jemari kedua tangan Bey dengan lincah membuka kemeja pendek yang dikenakan Genta. Setelah berhasil membuat dada bidang sang suami terpampang nyata. Bey segera membebaskan bibir Genta.
Berbekal pengetahuan dari video-video kiriman dari salah satu temannya yang bernama Fivin, dan dikolaborasikan dengan naluri alami manusia pada hasrat kebirahiian, Beyza mulai menyusuri inci demi inci bagian dada Genta dengan lidahnya yang lumayan panjang.
Berkali-kali Genta terlihat mengeliat, menarik diri, dan mendessah serta menggigit bibir bawahnya sendiri. Apalagi saat lidah istrinya itu mengitari butiran hitam di dadanya. Sungguh membuat tubuhnya seperti mendapat sengatan hasrat yang memaksanya semakin meronta ingin dipuaskan.
Kepala Beyza semakin menunduk ke bawah. Indera pengecapnya berganti mengitari pusar yang di sisi atas bawahnya terdapat bulu tipis menggoda.
Pelan dan pelan, tangan Beyza menurunkan celana yang menutup bagian tubuh Genta dari pinggul ke bawah. Dan saat Beyza mulai meraba untuk menggenggam tanpa melihat. Seketika dia terdiam. Satu tangan yang tadinya digunakan untuk mengusap lengan Genta naik turun, kini diginakan untuk ikut menggengam umbi batang yang ada di antara dua paha Genta.
__ADS_1
"Kang, ini ...."