Hot Family

Hot Family
Sekilas tentang wajah asli Inez


__ADS_3

Darren melipat kembali sajadah yang baru dipakainya untuk sholat subuh. Semalaman terjaga, tidak membuat matanya mengantuk sedikit pun. Meski fisik mungkin lelah, tapi pikiran tidak mau diajak santai dan tenang.


Di satu sisi, Darren tidak mungkin meninggalkan Derya sendirian. Tapi di sisi lain, wajah Senja yang sendu selalu membuatnya terbayang-bayang. Di situasi seperti sekarang, baik Senja maupun Derya, sama-sama membutuhkan teman untuk sekedar berbicara.


Derya yang menjalankan sholat di atas brankar terlihat lebih segar. Dia juga sudah tidak merasakan pusing lagi.


"Dadd, Derya ingin pulang," pintanya.


"Kamu merasa lebih baik?"


"Sudah, Dadd. Derya, tidak betah di sini. Kasihan mama juga kalau daddy nungguin Der terus."


"Daddy lebih kasihan karena mamamu pasti sedang banyak beban, Der. Tanpa Daddy sekali pun, mamamu sanggup menjalankan hidup ini. Daddy selalu berharap, hanya Daddy yang bisa membuat mamamu menangis, sedih dan kecewa. Karena Daddy tau cara menyembuhkannya, dan ada kalian yang akan menghibur mama. Tapi saat rasa-rasa itu datang karena kalian, sungguh daddy tidak bisa berbuat apa-apa." Pandangan Darren menerawang ke depan. Entah pada titik mana dia meletakkan fokusnya.


Derya memegangi dadanya. Sakit rasanya mendengar perkataan sang daddy. Seumur hidup kebaikan dan kepatuhannya, dia hancurkan sendiri dengan satu hal yang sangat memalukan.


"Maafkan, Derya, Dadd. Derya janji tidak akan membuat masalah ini berlarut-larut. Derya siap, apapun bentuk kekecewaan dan kemarahan Mama, Der, akan terima."


Darren tersenyum tipis, dia pribadi tidak ingin mempermasalahkan hal yang sudah terjadi dengan penyesalan dan kekecewaan panjang. Bukan karena dia menyetujui seex bebas atau memaklumi perbuatan Derya. Darren sendiri juga memilili masa lalu yang buruk. Baginya, yang terpenting sekarang adalah Derya sudah menyesali kesalahannya dan ada niat untuk memperbaiki keadaan.


Tentang kecewa yang sudah terlanjur ditorehkan, hanya waktu dan sikap Derya sendiri yang akan menyembuhkan. Seorang Ibu seperti Senja, tentu memiliki waktunya sendiri untuk kembali bisa bersikap senormal biasanya. Sekali pun doa tetap terlantun dan perhatian tetap dicurahkan, kekecewaan adalah hal yang tidak bisa hilang dengan cepat.


Di kediaman Darren Mahendra di Jakarta, hanya ada Dasen dan Zain yang bersiap di meja makan. Keduanya memakan menu yang berbeda. Sampai saat ini, Zain lebih sering memakan makanan kukus dibanding yang lain. Sesekali saja dia makan makanan bebas.


"Bi, kok makanan kita beda? Kan tidak ada Mama?" tanya Dasen, sedikit heran. Karena jika tidak ada Senja. Menu siapapun bisa dibuat sesuka hati.


"Semalam Bu Senja menghubungi Bi Siti, Den. Menunya sudah di atur sama Ibu." Asisten rumah tangga senior itu menjawab dengan sopan.

__ADS_1


"Oh." Dasen langsung memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


Zain terlihat sibuk berbalas pesan dengan Sekar sembari menghabiskan makanan di depannya perlahan.


"Kak, memang Derya sakit apa sih? Mama kenapa langsung ke sana? Kalau Dasen sakit sekarang, apa mama juga akan buru-buru pulang?" Dasen bertanya bertubi-tubi.


Sudah terlalu lama mamanya itu mendiamkan dirinya. Beberapa pesan yang Dasen kirim, tidak satu pun yang dibalas. Bahkan sejak di negara S, Senja tidak membaca pesannya sama sekali.


"Kamu tuh makin lama makin mirip sama daddy. Ditinggal sebentar untuk memperhatikan yang lain, bawaannya ribet. Pernah gak kamu mikir? Saat mama selalu belain kamu, bagaimana perasaan yang lain?" Zain balik bertanya dengan santai.


"Kalau Das sih bodo amat. Yang penting, Mama Nja buat Das."


"Egois. Persis Daddy. Anak mama bukan hanya kamu," dengus Zain, mengakhiri makan paginya.


"Titisan Darren Mahendra. Tiada lawan," timpal Dasen, dibalas hanya dengan cebikan sinis oleh kakaknya itu.


Zain mencuci tangannya di wastafel. "Das, kamu masih lanjut sama Denok?"


"Sebentar lagi, kurang seminggu, Das."


"Hah? Cepet amat? Sekar tidak hamil kan?" Dasen bertanya sembarangan.


"Ngawur saja kamu itu. Tentu saja tidak. Lagi pula, mulai sekarang, kamu harus belajar memanggil Sekar dengan sebutan 'kak' juga. Dia kakak iparmu, Das," tegas Zain.


"Wusshh... Sesuai urutan, setelah ini, berarti Dasen yang akan menikah."


"Berani taruhan?" tantang Zain.

__ADS_1


"Berani. Kakak mau apa?"


"Villa di bali. Yang viewnya langsung ke pantai. Kamu mau apa?" Zain kembali bertanya.


"Peternakan sapi di pegunungan. Kalau sudah tidak bekerja. Das ingin hidup tenang di daerah yang sejuk dan jauh dari keramaian."


"Pernikahan salah satu si kembar, jelas akan terjadi lebih dulu. Firasat kakak mengatakan, kamu akan menjadi si bungsu dalam hal pernikahan."


"Deal." Zain dan Dasen saling menjabat tangan. Keduanya sama-sama menyimpan keyakinan akan menang dalam taruhan ini.


Kembali ke rumah sakit, di mana Derya dirawat. Darren sedang mengurus adminiatrasi di kasir. Sedangkan Derya sudah bersiap pulang dan menunggu di ruang rawat inapnya. Jarum infus sudah dilepas. Wajahnya sudah segar, meski beban pikiran jels terlihat dari wajahnya.


"Kenapa ponselmu tidak aktif, Ay." Suara Inez yang tiba-tiba muncul tanpa mengetuk pintu, membuat Derya terlihat kaget.


"Kenapa? Kamu tidak menyukai kedatanganku? Kamu pikir, setelah kamu mengambil semua dariku, kamu bisa meninggalkanku begitu saja?" Cecar Inez.


Derya menatap Inez dengan pandangan tajam. "Di situasi seperti ini, bisakah kamu bersabar sebentar? Aku akan bertanggung jawab, Nez. Aku tidak akan lari ke mana-mana, meski aku tahu bukan hanya aku saja yang harusnya bertanggung jawab. Karena aku tidak mengajak dan memaksamu untuk melakukannya," tegas Derya.


"Setelah melakukan hubungan itu, seharusnya kamu lebih mencintaiku, Ay. Kamu semestinya melindungi dan bersamaku dalam kondisi apapun. Bukan malah meninggalkan dan menghindariku seperti ini." Inez meninggikan nada bicaranya.


"Jaga emosimu, Ay. Ini rumah sakit. Satu hal yang seharusnya kamu mengerti. Aku ini ke rumah sakit karena sakit, bukan menghindar dari kamu." Derya mulai kesal. Tapi dia masih menjaga emosinya.


Inez mendekatkan dirinya pada Derya. "Aku butuh kamu, Ay. Tolong jangan tinggalkan aku."


"Bersabarlah, Ay. Kita hadapi dan selesaikan satu per satu. Tolong jangan membuatku bertambah pusing sekarang."


"Bagaimana aku bisa bersabar lagi sekarang? Kamu tahu, setelah aku menceritakan semua, mamamu malah mengusirku. Dia memintaku untuk pulang ke Indonesia, dan memberiku waktu seminggu untuk menceritakan semua pada orangtuaku." Inez menjeda bicaranya, sekedar melihat reaksi Derya.

__ADS_1


"Apa mamamu tidak tahu kalau di luar sana juga banyak pasangan berbeda agama? Jangan diam saja, Ay. Lakukan sesuatu. Nikahi aku secepatnya. Kamu sudah dewasa, ambillah sedikit resiko." Inez berusaha menggenggam tangan Derya, tapi laki-laki itu menolak dengan memundurkan badannya.


Darren yang sedari lima menit yang lalu memasuki ruangan dengan perlahan, tidak kuat lagi bersembunyi lama-lama. "Siapa kamu hingga merasa berhak mengatur kehidupan anakku?"


__ADS_2