
Senja masih menunggu jawaban dari sang suami. Raut wajahnya begitu tenang, senyuman masih mengembang di sana. Seolah tidak ada kekhawatiran dan sakit yang dirasakan. Ketenangan Senja inilah yang malah membuat Darren tidak nyaman. Menyembunyikan rasa sakit, jelas lelahnya melebihi rasa sakit itu sendiri.
"Ask.... " Senja menepuk bahu Darren yang sedang melamun.
"Iya, kamu boleh bicara sama anak-anak sekarang." Darren mengecup kening Senja, begitu dalam dan hangat. Dia membiarkan bibir merahnya menempel lama di sana.
Rangga memalingkan pandangan ke sisi lain. Sudah banyak pasangan yang tertangkap mata sedang bermesraan di sekitarnya, tapi dua orang di depannya inilah yang sanggup membuat Rangga merutuki kesendiriannya. Melihat kemesraan Senja dan Darren selalu berhasil menimbulkan rasa iri yang hakiki.
"Senja ke toilet sebentar," pamit Senja, sedikit buru-buru.
Darren menatap punggung Senja hingga menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa nyeri. Bukan karena sakit, seluruh jiwanya penuh dengan ketakutan dan juga kekhawatiran. Bayangan buruk terus menghantui pikiran Darren. Sekuat hati berusaha menepis, rasa itu malah semakin kuat menghampiri. Senja adalah napas bagi seorang Darren Mahendra.
Menyadari perubahan raut wajah Darren yang mendadak sendu, Rangga menepuk pundak calon besannya itu. "Cuman ditinggal ke toilet, Darr. Gitu aja mau nangis," candanya.
Darren membalas hanya dengan senyuman. Rangga semakin heran, normalnya, Darren akan membalas ledekan sekecil apa pun. Namun kali ini, pria itu tidak memberikan responnya. Tentu saja Rangga enggan bertanya. Dia tidak mungkin ikut campur akan sesuatu yang bukan urusannya.
"Apa patah hati karena kematian itu sakit?" Tanya Darren tiba-tiba.
"Tidak ada yang benar-benar mati, kecuali kita sendiri mampu menghilangkan bayangan dan ingatan tentang kenangan yang diberikan mereka saat di dunia. Kematian hanya menyadarkan kita, bahwa tidak ada satu hal pun yang mutlak milik kita. Ditinggalkan atau meninggalkan, hanya itu pilihannya."
__ADS_1
Darren mencerna ucapan Rangga. Lalu dia kembali merenung. Bayangan akan kematian dan kehilangan semakin mencekam. Mungkin bagi orang lain terlihat berlebihan, tapi tidak bagi mereka yang memahami rasa cinta sanggup menghadirkan berbagai rasa dalam sekejap.
"Duka akan perpisahan adalah harga yang harus kita bayar karena sudah memilikinya selama hidup. Tidak ada duka, jika tidak ada rangkaian kenangan yang ditorehkan. Kenangan itu tidak akan selesai, bahkan oleh kematian itu sendiri."
Darren buru-buru menyeka air mata yang lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Mendengar kata-kata Rangga, perih batinnya semakin menyeruak. "Cinta kami bukan sekedar rasa yang biasa. Senja memahami aku seperti aku ini adalah bagian dari dirinya sendiri. Bahkan dalam pertengkaran dan perselisihan, kami masih senantiasa menghadirkan rindu."
Rangga mengernyitkan kening hingga kedua ujung alis tebalnya menyatu. Arah pembicaraan Darren kini mulai bisa dia terka. Ada sesuatu yang serius yang kini sedang dihadapi pria di sampingnya. Pembicaraan tentang kematian baginya sangat sensitif. Kematian adalah hal yang tidak pasti. Kedatangannya mutlak hanya Allah yang tahu. Dan Darren sedang membicarakan hal itu, seolah ada kematian yang sudah nampak di depan mata.
Zain, Sekar, Baby De, Beyza, Derya, Denok dan Genta sudah duduk bersama mengelilingi tiga meja yang baru saja digabungkan menjadi satu. Sepanjang obrolan yang seharusnya cukup seru, Zain lebih banyak diam. Sepertinya dia tidak akan tenang sebelum memeriksa kondisi mamanya sendiri.
Tidak lama, Rangga juga turut bergabung di sana. Senja pun sudah kembali mengamit lengan sang suami. Pasangan yang menjadi panutan anak-anaknya itu semakin mendekati meja di mana semua generasi penerus Darren Mahendra berada.
"Boleh Mama mengganggu keasikan kalian sebentar?" Senja bertanya dengan begitu ramah.
Derya berdiri dan menarik dua kursi untuk diduduki mama dan daddy-nya. Lalu semuanya menunggu dalam diam. Masing-masing memiliki dugaan yang hampir semua. Mereka kompak menduga kalau daddy dan mama-nya pasti akan melakukan perjalanan impian dengan menggunakan kapal pesiar keliling Eropa.
Senja menarik napas sedikit berat. Kini dia bingung harus memulai dari mana. Wanita itu menatap satu per satu anaknya. Ada rasa pilu yang tiba-tiba menyeruak menembus dada. Tugas dan tanggung jawabnya sebagai ibu belum selesai, Derya dan Dasen belum benar-benar menemukan pasangan yang pas di hati Senja.
"Mama ingin mengatakan satu hal yang penting. Mama harap apa yang akan Mama sampaikan tidak menjadikan beban pikiran kalian." Senja terlihat sekali sedang berusaha untuk tegar.
__ADS_1
Darren mereemas jemari Senja, dia bisa merasakan betapa dinginnya telapak tangan sang istri. Zain semakin menundukkan kepalanya lebih dalam. Bulir bening sudah berdesakan di pelupuk matanya. Hanya dengan sebuah kedipan, maka air itu akan jatuh membasahi pipinya.
"Jauh-jauh hari, Mama ingin berpamitan pada kalian. Mama minta ijin sekaligus juga meminta maaf. Nanti setelah pernikahan Bey dan Genta, Mama harus meninggalkan kalian semua."
Semua terperanjat mendengar penuturan Senja yang meskipun terlihat santai, namun sorot matanya tidak sanggup menyembunyikan kesedihan yang begitu dalam.
"Aduh, Mama lebay. Mau honeymoon saja pamitnya melow banget," sahut Beyza langsung mendapat anggukan setuju dari Derya dan Dasen. Kecuali Sekar dan Zain, yang lain masih beranggapan apa yang dibicarakan adalah hal yang santai.
"Bukan honeymoon, Bey. Mama akan berangkat ke China bersama Daddy secepat mungkin," ralat Senja dengan cepat.
"Ke China? Kayaknya bukan tempat yang pengen mama kunjungi deh? Bukankah mama pernah cerita kalau mama tidak akan menginjakkan kaki ke sana lagi?" Beyza kembali mengeluarkan suara, mewakili saudaranya yang lain.
"Mama ingin berobat, sayang. Mama tidak ingin menyembunyikan apapun dari kalian. Tapi Mama tidak ingin kalian terganggu apalagi terbebani, semua akan kembali normal dan baik-baik saja. Mama hanya minta doa kalian. Selama tidak ada Mama, kalian harus saling menjaga satu sama lain." Senja buru-buru menyeka air mata yang jatuh tanpa aba-aba di pipi mulusnya.
Beyza, Dasen, dan Derya kompak saling melempar pandang. Keterkejutan jelas nampak dari ketiganya. Denok mengusap lengan Dasen untuk menenangkan kekasihnya itu. Genta pun seketika meraih tangan Beyza.
"Mama sakit apa?" Derya bertanya dengan lirih.
Senja benar-benar berusaha tersenyum dan tegar menatap wajah orang-orang yang dicintainya. Wajah yang mendadak sendu sesaat setelah Senja mengatakan akan melakukan pengobatan.
__ADS_1
Rangga yang duduk tepat disamping Genta turut merasakan suasana yang mendadak hening dan pilu. Dari bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh Darren, jelas sekali kalau pria itu pun sedang bergelut dengan perasaannya. Sebagai kepala keluarga, jelas Darren harus menampilkan ketegaran. Namun sebagai seorang suami, tentu sekarang jiwanya sangat rapuh.
"Mama...." Ucapan Senja tertahan karena Zain tiba-tiba berdiri dengan air mata yang sudah bercucuran.