
Sepanjang perjalanan dari stasiun ke rumah, Senja masih saja betah berdiam diri. Jangankan mengajak Darren berbicara, menoleh pun tidak. Ketika suaminya itu mengajak berbicara, jawaban yang dilontarkan hanya sebatas mengangguk dan kadang menggeleng.
Darren masih mencoba bersabar. Sementara dia mengikuti apa saja kemauan Senja. Meski dalam hati kekesalan sudah mulai menghinggapi hatinya. Sejauh yang dia ingat, kehamilan anak-anaknya selalu tidak disambut dengan baik oleh sang istri. Di awal kehamilan, ada saja alasan Senja untuk kesal terhadapnya. Usia kehamilan yang rapat, atau karena anak yang lain masih terlalu kecil.
Pria itu terlihat sangat berusaha menekan emosinya. Seperti biasa, semua kesalahan seolah hanya ditujukan padanya. Padahal sekali pun, mereka tidak pernah melakukan hubungan badan dengan paksaan. Kalau pun awalnya Senja agak malas, tapi di tengah-tengah selalu lebih semangat dan malah lebih agresif.
"Kamu mau pulang dulu, atau sekalian ke dokter saja?" Darren berusaha bertanya dengan lembut.
Senja mengedikkan bahunya sembari menggeleng pelan. Yang membuat Darren sulit untuk mengartikan maksud istrinya.
"Iya atau tidak? Ngomong, Ask. Mana aku paham artinya." Darren sedikit tegas saat mengatakannya.
"Nanti. Aku capek." Senja menyebut dirinya sendiri dengan kata 'aku' pertanda memang dia sedang kesal.
Darren menarik napas dalam, lalu melemparkan pandangan ke luar kaca mobil. Sungguh dalam hati, dia tidak menyesali mempunyai anak lagi di usia yang kelewat matang. Dengan tekhnologi kedokteran, dan kemampuan financial mereka yang sangat mapan, kondisi Senja bisa di awasi dengan ketat. Bahkan dia bisa menyewa perawat atai dokter spesialis kandungan sekaligus untuk memperhatikan setiap hal tentang Senja nantinya.
Sampai di pelataran pintu utama. Begitu mobil berhenti, Senja langsung turun dari mobil terlebih dahulu. Perempuan itu langsung masuk ke dalam rumah. Mengabaikan Darren yang pasrah dengan mengelus dadanya sendiri.
Dasen, Beyza dan Baby De yang sedang menunggu waktu makan malam, melihat mama mereka memasuki rumah dengan wajah yang jauh dari kata ceria seperti sebelum-sebelumnya.
"Mama tidak makan malam sekalian?" Baby De menghampiri Senja yang ingin menaiki tangga dengan setengah berlari.
__ADS_1
"Mama pengen berendam. Kalian makan dulu." Senja menjawab dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
"Ma, Bey bikinkan janji sama Dokter Nuke, ya? Agak malaman tidak mengapa, kan dekat saja dari sini. Biar semua pasti dan tidak saling khawatir. Kata kak Zain, lebih cepat lebih baik." Beyza sedikit merendahkan suaranya saat bertanya. Tidak ada kekesalan, meski terkesan datar.
Dasen sendiri, tidak menoleh sama sekali. Padahal dia duduk di ruang tengah di mana paling dekat dengan tangga yang sudah dipijak sang mama. Senja melirik Dasen dengan perasaaan yang tidak enak.
"Iya, mama mandi dulu." Senja menjawab cepat lalu langsung menaiki tangga dengan buru-buru, Darren yang melihat Senja tidak memperhatikan langkahnya segera mengambil langkah lebar untuk berjaga-jaga tidak jauh dari langkah istrinya itu. Pria itu sedikit mengabaikan anak-anaknya yang sebenarnya sudah hendak menyapa.
Sampai di kamar, Darren menahan lengan Senja yang hendak langsung masuk ke dalam kamar mandi. "Jika mau marah denganku, silahkan. Jika tidak mau berbicara atau melihatku, juga terserah. Tapi ingat, anak itu tidak berdosa, Ask. Dia ada karena kita. Anak-anak yang lain mau marah, kesal, dan tidak suka. Itu bukan alasan buatmu untuk menolak anugerah yang diberikan Tuhan pada kita."
Senja melepaskan tangan Darren dari tangannya. "Aku mau ke Dokter Nuke sama anak-anak saja."
Darren sedang tidak ingin berdebat. Sudah tahu persis bagaimana Senja jika sudah tidak enak hati. Semakin dipaksa, malah akan semakin menjadi. Hanya jika nanti kesabaran Darren sudah habis, biasanya Senja akan sedikit melunak sendiri.
"Das? Kenapa sih? Di luar sana, banyak yang masih bersusah payah agar bisa memakan nasi. Kamu malah menyia-nyiakan makanan uang sudah ada di depanmu." Baby De menegur Dasen sembari menepuk pundak titisan Darren Mahendra itu.
"Aku mau makan di luar saja deh. Mau cari udara segar." Dasen langsung berdiri, mengambil kunci sepeda motor sport lengkap dengan helmnya.
Entah pikiran atau niat, motornya malah mengarah ke rumah kontrakan Denok dan Erika. Sejak dicerai mbah gondrong, Erika memutuskan keluar dari rumah. Sebagai anak, Denok tidak tega meninggalkan ibunya tinggal sendiri, apalagi dalam keadaan Erika yang tidak bisa melihat keindahan dunia lagi.
Mendengar suara motor berhenti tepat di depan rumah kontrakannya. Denok pun segera melihat siapa yang datang. Saat Dasen melepas helmnya, Denok tidak sengaja bergumam dengan suara lirih, "Astaga! Aku butuh napas buatan. Itu mantan pacar ganteng banget. Bisa tidak jadi pacar lagi saja."
__ADS_1
Dasen bisa menebak apa yang ada dipikiran Denok saat ini. Dengan santai, dia mendekati mantan kekasihnya itu sembari menebar senyuman yang makin membuat Denok merremas-remas ujung atasan yang dikenakannya.
"Lama tidak ketemu, jangan bilang aku semakin ganteng. Aku memang tidak diciptakan mempunyai banyak kekurangan, jadi wajar jika kamu mengagumiku. Tunjukkan saja, jangan ditahan seperti itu. Matamu tidak bisa bohong, meski mulutmu sedang ingin mengingkari dengan berkata aku terlalu percaya diri." Dasen langsung menggoda Denok. Satu alisnya naik turun dengan sangat nakal.
"Kenapa Mas Dasen ke mari?" Denok menjadi salah tingkah.
"Memang kenapa? Tidak boleh?" Dasen bertanya balik.
"Boleh kok. Duduk mas. Aku buatkan minum dulu." Denok hendak masuk, tapi Erika keluar merayap dengan bantuan tongkatnya.
"Siapa Nok?" Tanya Erika.
"Temannya Denok. Ibu masuk saja." Denok menuntun Ibunya untuk kembali masuk ke dalam.
Dasen merenggangkan badannya sembari duduk di beranda kontrakan Denok. Sebuah bangku anyaman dari bahan sintetis menjadi tempatnya melepaskan penat sejenak.
Tidak lama kemudian, Denok muncul dengan membawa segelas teh hangat untuk Dasen.
"Kamu kenapa, Mas?" Tanya Denok dengan hati-hati begitu melihat Dasen terlihat sedikit murung.
"Aku kesal sama mama. Masak mama hamil lagi. Terus kalau aku punya adik, mama pasti akan lebih perhatian sama bocil itu. Sekarang saja sama aku tidak seberapa dekat, apalagi nanti," keluh Dasen tanpa ragu.
__ADS_1
Denok ingin tertawa lepas, tapi sebisa mungkin dia tahan. Rupanya masalah Dasen saat ini adalah kecemburuan dan kekhawatiran takut perhatian Senja tidak lagi sama. Ya, Dasen si titisan Darren, tentu saja menginginkan perhatian sang mama lebih besar pada dirinya dibanding yang lain.