
Setelah penyatuan itu telah mencapai puncak kenikmatan. Senja dan Darren saling menggenggam tangan, masih di atas ranjang sembari mengatur nafas yang masih sedikit memburu.
Dengan satu tangannya, Senja meraih ponselnya di atas nakas. Lalu mengaktifkannya kembali. Tidak berselang lama, serentetan bunyi notifikasi pesan masuk terdengar bertubi-tubi.
Senja menunggu hingga bunyi itu mereda, baru membuka aplikasi berbalas pesannya.
"Ask, Bey dan Der datang ke kantor." Senja segera berdiri dengan keadaan tubuhnya yang masih polos. Memunguti pakaiannya yang berhamburan di lantai.
"Astaga, panjang sekali omelan anak ini. Jangan sampai mereka tahu kita sedang berdua. Senja mandi dulu." Senja berlari ke dalam kamar mandi.
Darren melakukan hal yang sama, mengaktifkan kembali ponselnya. Sama seperti istrinya, teror beberapa panggilan masuk dan puluhan pesan terkirim dari Beyza. Setelah membaca sebagian dia pun memilih menyusul Senja ke dalam kamar mandi.
********
Di kantor Mahendra Corp. Dua orang anak duduk di ruangan sang CEO. Satu anak duduk dengan tenang sembari mengamati layar ponselnya, satu lagi mondar-mandir tidak tenang sembari sesekali mengumpat kesal. Siapa lagi kalau bukan Derya yang tenang dan Beyza yang tidak sabaran.
"Bey, ponsel Daddy dan Mama sudah aktif." Derya memberi tahu saudara kembarnya dengan semangat.
Beyza membuka fitur whatsapp di ponselnya, benar kata Derya, dan kedua orangtuanya itu last seen hampir bersamaan.
"Ayo, telepon cepet! kamu hubungi, mama," perintah Beyza.
Keduanya pun langsung menekan nomor yang di tuju di layar ponsel masing-masing. Tiga kali menekan tombol dial, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang teleponnya terhubung.
Andai kedua anak itu tahu, Senja dan Darren bukannya meeting, tetapi malah menambah porsi kesenangan mereka yang tidak lekang oleh waktu di kamar mandi.
Beyza dan Derya masih belum menaruh kecurigaan. Keduanya tetap berpikir positif. Hanya kecemasan yang sedang mendominasi.
Amar--sekretaris Darren, masuk membawakan camilan untuk si kembar tidak identik itu.
"Om, pasti Om Amar tahu di mana daddy meeting?" selidik Beyza.
__ADS_1
Amar mengkerutkan keningnya. "Meeting?"
Beyza dan Derya kompak mengangguk.
Amar, sudah belasan tahun menjadi sekretaris Darren Mahendra. Tapi kadang kepintarannya membaca situasi belum terasah sempurna. Apalagi saat menghadapi anak-anak, dia merasa berdosa jika sampai berbohong.
"Pak Darren tidak ada meeting hari ini."
Jawaban Amar, sontak membuat Beyza menatapnya tajam. "Terus, daddy kemana?"
"Mungkin makan siang." Amar menjawab dengan santai.
Beyza dan Derya kembali saling melempar pandang. Sepertinya pulang adalah solusi terbaik. Tentu saja di otak Beyza sedang memikirkan hukuman untuk mamanya.
Iya, hanya Senja yang akan dihukum. Tidak dengan Darren. Karena sudah biasa tidak ada daddynya saat pulang ke rumah atau saat berkunjung mendadak ke kantor. Tapi kalau Senja yang tidak ada, itu sudah benar.
****
"Derya, menghubungi Senja lagi, Ask." Senja buru-buru menarik resleting dresnya.
"Beyza juga. Sudahlah. Katakan saja meeting mendadak dan sangat penting." Darren mengerlingkan matanya dengan nakal.
"Sudah tua, masih saja genit," omel Senja.
"Tua itu hanya masalah angja, Ask. Nyatanya, semua masih sama kecuali durasi yang lebih pendek," kekeh Darren.
Senja mengikat rambutnya tinggi, memamerkan lehernya yang jenjang dan sedikit bagian bahunya yang putih mulus.
"My hot Mama," Darren memeluk Senja dari belakang.
"Senja harus pulang, kita pakai mobil masing-masing ya. Kita mengajari anak-anak untuk selalu berkata jujur. Apa jadina kalau kita ketahuan berbohong."
__ADS_1
"Kita tidak sedang berbohong, Ask. Kita memang sedang meeting. Benar kan? dan kamu, membuat aku menandatangani kerjasama dengan perusahaanmu lagi. Tidak sembarangan project bisa dialihkan ke Mahendra Corp. Perusahaanmu terlalu licik, mereka mengirimkan perempuan yang tahu benar di mana letak kelemahanku." Darren mengecup leher istrinya bertubi-tubi.
"Stop! deal selesai. Terimakasih atas kerjasamanya. Lain kali saya tidak mau melakukan deal di apartemen lagi. Ujung-ujungnya tanda tangan dilakukan di atas pusar. Apa memang seperti itu cara kerjamu?" selidik Senja.
"Ngawur! Hanya dengan satu perusahaan yang harus seperti itu cara dealnya dan kamu pun jangan sampai melakukan hal ini dengan perusaaan lain. Aku akan membuat perusahaan dan orangnya tinggal nama, kalau sampai kamu berani melakukannya." Darren melepas pelukannya.
"Kita pulang, satu mobil saja, ya. Intinya kita tidak berbohong. Karena kita memang meeting. Hal-hal lain yang terjadi, itu disengaja dan dilakukan atas kesadaran penuh." Darren mengamit pinggul Senja, mengambil clutch lalu mengajak istrinya meninggalkan apartemen.
*****
Zain menatap heran pada Beyza yang langsung menghempaskan bokongnya di sofa dengan bibir yang sudah maju beberapa senti dan wajah merona merah menahan kesal sekaligus amarah.
Derya, meskipun agak kesal, tapi wajah dan sikapnya masih setenang biasa. Kontrol emosi Derya tergolong sangat bagus untuk anak seusianya.
"Tidak ketemu, mama?" Zain menebak sekaligus bertanya.
Airin hanya diam dan mengamati kedua calon adik iparnya itu. Lima hari tinggal bersama, tidak memuatnya bisa cepat memahami. Ada saatnya anak-anak itu bersilap sangat dewasa, tapi ada kalanya begotu kolokan dan terlalu berlebihan dalam menghadapi sesuatu.
"Mama tidak ada di kantornya, katanya sih meeting. Mama sudah melanggar janji. Tadi Bey dan Der sudah ke kantor daddy, tapi daddy pun tidak ada. Tidak masalah kalau daddy. Karena memang pasti lebih sibuk dan belum waktunya pulang. Kak Zain tahu kan? Mama selalu bilang, ucapan pertama yang berlaku. Mama cuma pamit ke kantor, kenapa sekarang malah ke mana-mana," gerutu Beyza panjang lebar.
"Astaga,Bey! bisa saja, mama ada urusan mendadak. Kenapa semua harus lapor sama kamu. Daddy saja tidak mungkin seketat itu," ucap Zain.
"Daddy akan seperti ini. Bey, yakin. Daddy pasti akan lebih panik." Bey sangat yakin saat mengucapkannya.
Berselamg sepulu menit dari itu, Darren dengan wajah santai dan Senja dengan raut agak khawatir memasuki rumah.
Zain, Airin, Beyza dan Derya langsung menatap keduanya dengan pandangan penuh selidik. Mereka masih ingat betul dengan pakaian yang digunakan orangruanya itu saat berpamitan tadi pagi.
"Kenapa bisa bareng?" selidik Beyza, to the point.
"Tadi, Daddy dan Mama meeting di tempat yang sama. Jadi sekalian saja pulangnya." Darren menjawab dengan cepat.
__ADS_1
Darya kini yang menatap mama dan daddynya bergantian, tidak tajam, namun cukup membuat sungkan. "Kenapa bajunya berbeda? tadi berangkat bukan ini?" tanyanya.