
Seperti permintaan Darren sebelumnya. Siang ini, Genta akan menemani pria itu untuk bermain golf.
Genta terlihat tampan dengan menggunakan polo shirt berwarna biru telur asin, celana stretch biru dongker semata kaki, sepatu khusus golf corak putih biru, topi berwarna senada dengan kaos dan lengkap memakai kaca mata hitam untuk melindungi dari terik matahari.
Penampilan Genta sungguh membuat kaum hawa yang melihatnya sesaat enggan untuk mengedipkan matanya. Tampan dan tampilannya jelas berkelas.
Tidak jauh berbeda dengan Genta, tapi tentu saja beda generasi. Darren berpenampilan tidak kalah kerennya. Head to toe, semua sempurna dan istimewa seperti biasa.
Sepertinya, Darren memang sengaja menguji kesetiaan dan kelelakian Genta. Pria itu sengaja memilih dua orang Caddy seumuran Genta yang sangat seksi dan cantik bak seorang model majalah pria dewasa.
Pakaian yang dikenakan Caddy itu pun di luar nalar, sengatan matahari, membuat kulit eksotis kedua caddy terlihat semakin menantang. Kaki jenjang mereka tidak ditutup dengan seragam caddy pada umumnya yang mengenakan celana. Kali ini keduanya memakai rok dua jengkal dari pinggul.
Genta dan Darren kini berada di dalam golf car yang dikemudikan oleh salah seorang caddy, mereka menuju hole pertama untuk saling menunjukkan kebolehan.
"Kamu sering golf, Gen?" tanya Darren, tidak ramah, tapi masih mau berbicara.
"Tidak terlalu sering, Om. Karena tidak banyak relasi yang mengajak, dan saya juga tidak terlalu hobi." Genta menjawab dengan jujur.
"Benarkah? Tapi kamu bisa, kan?"
"Bisa, Om. Kalau sekedar driving, saya sering, Om. Tapi turun ke lapangan seperti sekarang, bisa dihitung jari." Genta benar-benar jujur.
Darren dan Genta menghentikan pembicaraan, karena mereka sudah sampai di hole yang dituju. Satu caddy masing-masing membawakan stik dan perlengkapan dua pria tampam itu. Mereka berjalan mengikuti langkah Darren dan Genta.
Sampai di titik yang dituju, Darren pura-pura sedang menerima telepon. Kedua Caddy mulai beraksi mendekati Genta.
Jangankan mengajak kenalan, sekedar melirik pun tidak. Darren benar-benar mengawasi Genta dalam diam. Meski dengan pura-pura telepon, tapi matanhya tetap meliruk lincah.
Tidak lama, Darren menyudahi panggilan ponselnya. Dia kembali ke permainan. Darren memulai lebih dulu, Approach soat yang dilakukan Darren sungguh membuat Genta keder. Padahal Darren melakukannya dengan dua kali ayunan ancang-ancang stik.
"Om Darren, keren," puji Genta, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
__ADS_1
"Kamu menjadi orang yang kesekian juta ribu yang mengatakannya. Itu tadi belum seberapa." Darren memberikan stik yang dipegangnya pada caddy, sembari memberi kode pada gadis-gadis itu, entah apa yang dimaksud.
Darren agak memundurkan badannya. Ternyata, Caddy itu mengajarkan pada Genta yang memang belum terlalu mahir, cara melakukan ayunan dan pukulan yang tepat.
Setiap kali, caddy itu merapatkan badannya dengan Genta, kekasih Beyza itu dengan sigap selalu bisa menghindar. Bahkan saat ditawarkan untuk diajari sembari dipegangkan tangannya pun, Genta menolak keras.
Darren dalam hati mengakui, untuk urusan godaan dan perempuan, Genta jauh lebih baik dari dirinya jaman dulu.
"Apa menurutmu caddy-nya kurang cantik atau kurang menarik?" pancing Darren.
"Semua caddy seperti itu, Om," saut Genta dengan cepat.
"Iya kamu benar. Om merasa, kamu tidak bersemangat. Mungkin kalau caddy-nya menarik, akan berbeda cerita."
"Genta bukan tidak bersemangat, Om. Tapi, Genta sedang memperhatikan cara Om saat berada di lapangan golf. Karena ini penting. Ckckck... Pesona Om memang luar biasa, pantas relasi Mahendra Corp sangat luar biasa. Pembawaan Om terlihat tenang tapi tepat sasaran. Genta butuh belajar banyak dari, Om."
Pujian Genta sebenarnya cukup membuat Darren yang kadang kala narsis menjadi sedikit melayang, tapi dia masih ingat kalau dia harus menjaga wibawanya.
"Jangan percaya diri, kamu dan Bey masih jauh dari kata mendapat restu. Masih banyak yang harus dibuktikan. Hari ini bukan termasuk ujian, karena om hanya sedang ingin pamer. Kalau ingin menjadi suami Bey, seminimalnya, kemampuanmu harus seperti, Om. Dalam hal apapaun."
Pernyataan Darren barusan, membuat Genta menelan ludahnya dengan kasar. 'Jika perjalanan dan ujian masih panjang, kapan nikahnya. Keburu usia lewat menggemaskan,' batinnya.
Genta dan Beyza memang menginginkan sekali menikah muda. Bahkan Beyza sering berandai-andai di usia 25 tahun anaknya minimal sudah dua.
🍀🍀
Denok dan Dasen sedang berada di sebuah butik dengan brand ternama. Keduanya ingin tampil serasi dan tidak memalukan saat triple date nanti malam diadakan.
Sepasang kekasih dadakan itu memilih pakaian, seolah sedang akan bertemu orang penting saja. Sudah tiga kali mencoba, belum ada satu pun yang cocok.
"Ask, ini punggungnya terbuka begini. Aku takut pas pulang, ketemu bapak, malah disangkanya aku jelmaan sundel bolong." ucap Denok sembari mengomemtari sendiri baju yang dicobanya.
__ADS_1
Dasen sendiri saat ini sudpah fix dengan kemeja slim fit dengan detail 3 corak kain berbeda yang sangat keren. Perbaduan bahan ulos, embos dan kain polos.
Akhirnya setelah hampir sembilan baju dicoba, Denok pun sangat tertarik dengan gaun yang dikenakannya saat ini. Terbuka di bagian bahu karena bermodel sabrina, dengan motif dan perpaduan yang sama dengan yang akan Dasen pakai nantinya.
"Saya ini saja, Mbak. Berapa ya, harganya?" Denok dengan polosnya langsung bertanya sendiri di kasir.
Penjaga kasir itu pun menyeutkan delapan digit angka, seketika Denok memundurkan langka sembari mengembalikan baju itu.
"Kenapa, Ask?" tanya Dasen dengan heran.
"Ini, Ask... Kita beli di Bulan departemen store saja. Di sana ada beli satu gratis satu. Apa kamu tidak tahu? Harga baju tadi, bisa dibuat DP rumah kita kalau sudah mau merencanakan menikah."
Dasen terkekeh mendengar ucapan Denok. "DP? Aku bisa membelikanmu rumah semua orang sejampungmu kalau kamu mau, Nok."
"Sombong," cebik Denok.
"Tapi bener. Sudah ambil baju itu tadi. Aku yang mengajakmu ke sini, berarti aku yang bayar."
"Ya Allah, Ask. Itu harganya setara dengan harga tanah separuh rumahku. Kenapa kalian tidak sayang duitnya. Segitu hanya untuk dipakai sebentar. Orang kaya memang tidak masuk akal," keluh Denok.
"Kamu benar. Kami memang sering tidak masuk akal. Nanti, lama-lama kamu akan terbiasa. Sudah, kamu nurut saja. Jangan sampai kita kalah sama Kak Zain-sekar, dan Derya-Inez," tutur Dasen.
"Astaga! Satu keluarga saja bersaing," gerutu Denok.
"Kami tidak bersaing untuk masalah perempuan. Mama dan daddy bisa memenggal kami jika itu terjadi. Aku hanya ingin membuat kamu tidak minder dan percaya diri. Kamu itu, tidak kalah dengan calon kakak dan adikku."
"Kamu manis sekali," Denok tiba-tiba mengelus pipi Dasen.
"Karena kamu berani menyentuh pipiku, persiapkan pacaran level selanjutnya."
"Apa itu, Ask?" tanya Denok penasaran.
__ADS_1
Dasen menjawab cepat dengan menyentuh bibirnya.