Hot Family

Hot Family
Hampa


__ADS_3

"Daddy baik-baik saja. Daddy hanya membayangkan bagaimana sepinya rumah tanpa kalian. Jaga diri baik-baik. Jangan membuat mama repot." Darren berusaha setenang mungkin saat mengatakannya.


Beyza melepas pelukannya perlahan dan melangkah mundur selangkah. "Daddy jaga kesehatan. Jangan begadang kalau tidak ada perlunya."


Darren melangkah mendekati Derya dan langsung memeluk anak itu. "Tetap jadi anak baik dan penurut. Jaga, Bey dan mama."


Suara panggilan dari petugas bandara untuk penumpang pesawat berjenis boeing dengan tujuan Aussie, membuat jantung Darren semakin berdetak cepat. Tangannya pun mulai berkeringat.


Dia tidak akan pernah siap dan tidak menginginkan ini semua terjadi. Sungguh, Darren berharap apa yang terjadi sekarang hanya sebuah mimpi buruk.


Darren melepas pelukannya pada Derya. Lalu beralih menatap Senja dengan sendu.


"Jaga diri baik-baik. Jika kamu lelah dan kecewa pada sesuatu, larilah kepada Tuhan. DIA akan memberimu jalan yang tidak akan membawamu pada masalah yang lain. Aku sudah mengirim pesan pada Dasen, dia hanya membaca pesanku. Aku tahu dia kecewa padaku, tolong sampaikan pada Das, mamanya ini tidak bisa sempurna untuk semua orang." Senja menepuk tangan suamianya dengan pelan.


"Jangan khawatir, aku akan berusaha membuat Dasen mengerti. Hati-hati, Ask... Aku akan sesering mungkin datang menemuimu."


Darren memasukkan tangannya ke saku celana. Salah satu cara dirinya untuk menahan agar tidak menyentuh dan memeluk Senja dengan lancang.


'Tahu diri, Darr... Kamu tidak benar-benar ditinggalkan. Itu sudah terlalu baik untukmu,' Darren kembali mengingatkan dirinya sendiri dalam hati.


Di luar dugaan, Senja malah memeluknya erat dan hangat. "Kadang jarak malah bisa mendekatkan kita. Aku, berharap bisa memahami situasi kita lebih cepat. Aku sedang tidak ingin mempertaruhkan keluarga kita. Saat ini, cara inilah yang terpikir olehku untuk menyembuhkan kecewa. Aku pergi dulu. Jaga kesehatan."


"Jangan berhenti mencintaiku, Ask."


Senja melepaskan pelukannya. Tersenyum tipis, lalu mengajak Beyza dan Derya segera berjalan ke dalam. Panggilan terakhir untuk penumpang dipenerbangannya sudah kembali terdengar.


Darren menatap punggung Senja dan anak-anaknya hingga menghilang dari pandangan. Seketika hatinya merasa hampa. Dia membalikkan badan, melangkah dengan gontai menuju tempat di mana mobilnya terparkir.

__ADS_1


Kembali ke rumah, Darren melihat Zain yang juga baru saja sampai. Keduanya bersamaan menaiki anak tangga.


"Semua akan kembali membaik, Dadd. Kita semua hanya butuh menyesuaikan diri dengan cepat." Zain merangkul Darren seperti seorang sahabat.


"Sampai detik ini. Daddy, tidak yakin apakah daddy bisa memulihkan keadaan kembali." Darren seperti sedang sangat putus asa.


"Daddy tidak sendirian, bukan hanya daddy yang bertanggung jawab atas keutuhan keluarga kita. Yang penting, daddy kuat. Karena daddy nahkodanya." Zain menghentikan langkah tepat di depan kamar Dasen. Dia mendekatkan telinganya di daun pintu.


Darren pun melakukan hal yang sama. Dia pun mengetuk pintu anaknya itu. Sampai tiga kali ketukan. Dasen tidak juga membuka pintu.


Kali ini, Zain yang mencoba mengetuk pintu sambil memanggil nama adiknya. Tapi sama, tetap tidak ada reaksi dari Dasen.


"Dobrak Zain!" perintah Darren dengan nada tegas dan juga khawatir.


Zain memundurkan badannya, lalu menendang pintu itu dengan kakinya. Saat pintu berhasil terbuka, Darren dan Zain langsung masuk ke dalamnya.


Kamar itu sangat berantakan, dengan barang-barang yang sudah bercecer di lantai. Kaca lemari retak dan seprei yang sudah tidak lagi rapi di atas ranjang.


Darren berjongkok di depan Dasen. "Apa yang membuatmu marah Das? Mama? Kamu tahu? Mama tidak meninggalkan kita. Orang dewasa mempunyai masalahnya sendiri. Jangan hanya karena mama tidak di sampingmu saat ini, kamu menganggap mama tidak sayang padamu. Ingatlah, jauh sebelum hari ini mama pergi. Siapa yang selalu ada dan mengurus kita. Kita akan menyusul mama nanti."


Zain ikut duduk dilantai dan menyandarkan dirinya di ranjang. "Mama sangat menyayangimu, Das. Lebih dari siapapun. Jangan meragukan itu. Bahkan saat sedang hamil Bey dan Derya. Kamu tetap prioritasnya."


Darren ikut duduk di lantai tepat di samping Dasen. Dia menepuk pundak anaknya itu agak keras. "Mari kita buat mama selalu merindukan kita. Video call mamamu, dan bertingkahlah menggemaskan. Pasti mamamu tidak akan tahan," candanya.


Dasen menengadahkan wajahnya, matanya sembab dan basah. "Das, juga mau bersekolah di luar negeri?" pintanya, tiba-tiba.


Darren mengusap wajahnya kasar, kalau semua ke luar negeri. Jelas dia berada di rumah sendiri. Tapi menahan Dasen, jelas juga sangat egois.

__ADS_1


"Mau menyusul mama?" tanya Zain.


Dasen menggeleng kuat. "Mau sama, Kak Zain."


"Boleh! Kakak akan uruskan. Kamu ingin sekolah di mana, katakan saja sama kakak."


"Jadi, daddy akan benar-benar sendirian?" tanya Darren, dengan lirih.


"Enggak juga, Dadd. Kan ada mbak Wati, bi Sumi, bi Tuti, pak Ru--" Zain tidak meneruskan ucapannya karena melihat mata daddynya yang sudah melotot lebar penuh kekesalan.


"Kak Zain, berisik." Dasen ikut kesal mendengar candaan Zain.


"Biarkan, Das. Kakakmu itu masih dalam suasana patah hati." Darren membela sekaligus menjatuhkan Zain.


"Daddy pun sedang patah hati. Senja... oh... Senja... remuk hatiku." Zain berdiri sembari terkekeh, wajah daddy-nya semakin terlihat kesal.


"Begitu lebih baik, Dadd. Terlalu sayang kalau wajah daddy yang tampan itu hanya menampilkan kesedihan, ada ekspresi lain yang bisa daddy lakukan. Kesal, kangen, rindu, cem--" Lagi-lagi Zain tidak melanjutkan bicaranya karena Darren melemparkan bolpoin yang tergeletak di sampingnya tepat mengenai bahu anak sambungnya itu.


"Dua orang yang sedang patah hati berkumpul. Bukannya menghibur, makin pening kepala, Das. Mau ke kamar Derya saja. Jangan ada yang menyusul. Das tidak ingin menangis lagi." Das berdiri dengan wajah kesal, mengambil ponsel di nakas lalu berjalan cepat ke kamar Derya.


"Benarkah kita sedang patah hati, Dadd? Sepertinya bukan kita. Yang benar-benar patah hati itu Daddy. Segala kesenangan dunia adanya di Senja Khairunisa Kemala. Sekarang? Senja Khairunisa Kemana?" Zain buru-buru berlari setelah selesai mengatakannya.


"Zainnn!" teriak Darren dengan kesal.


Sepeninggalan Zain, Darren pun berdiri dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Kamar yang kini sudah rapi kembali. Dia menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


"Apa enaknya hidup seperti ini ya, Ask? Rindu itu menyiksa. Apa yang ingin kamu lakukan dengan jarak yang memisahkan kita?" gumam Darren pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sepanjang malam, Darren hanya bergulang guling di atas ranjang, membolak balik bantalnya berkali-kali, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Akhirnya dia keluar ke balkon, menatap langit berharap Senja juga merindukannya.


"Aku akan menyusulmu segera, Ask. Tidak mengapa jika kamu tidak ingin disentuh, asal kamu ada di depanku." Lagi-lagi Darren bergumam lirih.


__ADS_2