Hot Family

Hot Family
Merayu Senja


__ADS_3

"Boleh sayang. Mau ngobrol di mana?" Senja kembali melihat Dasen dan Darren yang masih asik bertukar cerita.


"Di sana juga boleh, Ma." Zain mengikuti arah tatapan mata sang mama.


"Kamu tunggu di sana dulu ya Zain. Mama mau ambil minum dulu sebentar." Senja bergegas berjalan ke arah dapur.


Zain pun mengayunkan kakinya mendekati Darren dan Dasen. Kedua laki-laki itu sedang membicarakan masalah bisnis yang jelas bukan merupakan pembicaraan yang menarik baginya.


"Das ...," panggil Zain dengan nada biasa saja.


"Iya, Kak." Dasen menjawab santai.


" Kak Zain mau membicarakan sesuatu dengan Daddy dan mama."


Dasen tahu pasti apa yang sedang ingin dibicarakan oleh Zain. Namun entah mengapa, kakaknya itu dengan jelas menginginkan dirinya tidak ikut terlibat dalam pembicaraan itu.


"Jika ini tentang mama, kenapa Das harus pergi dari sini? Apa menurut kakak, Dasen ini masih anak kecil yang tidak berhak ikut memberikan pandangan?" Dasen bertanya dengan raut wajah sangat serius.


Zain tidak langsung menjawab. Dia menatap Darren yang kini kembali memasang wajah dingin. Darren bukan anti membicarakan apa yang diderita Senja, namun wajah serius Zain membuat Darren menyimpan kekhawatiran sendiri.


Dasen masih menunggu jawaban Zain. Tidak sabar, dia kembali berkata, "Kak, Dasen juga menginginkan yang terbaik untuk mama. Mungkin Dasen tidak mengerti secara detail seberapa berbahayanya kanker yang tumbuh di tubuh mama. Jangankan kanker, mama sakit flu biasa saja, Dasen tidak tega. Sekali lagi Das tanya? Ini tentang mama bukan?"

__ADS_1


Darren meraup wajahnya kasar. Sikap Dasen persis seperti dirinya. Tidak peduli siapa lawan bicaranya, jika dia meyakini sebuah kebenaran, sampai bagaimana pun akan dikejar.


"Iya, ini tentang mama. Jika kamu ingin tetap di sini. Pastikan kamu tidak mengeluarkan ide atau pendapat yang tidak masuk akal, Dan jangan bereaksi berlebihan." Zain akhirnya mengijinkan Dasen untuk ikut mendengarkan apa yang akan dia sampaikan.


Senja kembali muncul dengan membawa segelas air putih di tangannya. Setelah berada di dalam Gazebo, Senja memberikan gelas itu pada Darren.


"Mau bicara apa, Zain? Hasil pemeriksaan mama? Apa kamu juga akan menyarankan pengangkatan rahim secepat mungkin? Dan itu artinya mama harus merelakan calon adik kalian?" Senja dengan gamblang bertanya. Mendahului mengucapkan sesuatu yang seharusnya keluar dari mulut Zain.


Darren seketika menatap Zain. Dia berharap ada seseorang yang mau menjelaskan lebih detail tentang apa yang diucapkan sang istri.


"Ask? Zain?" Tanya pria yang ketampanannya semakin bertambah seiring bertambahnya usia.


"Kanker ovarium mama sudah menuju ke stadium tiga. Pengangkatan rahim adalah satu-satunya jalan. Karena usia kandungan mama juga blm memenuhi syarat minimal untuk melakukan kemoterapi. Jika mama bersikeras menunggu waktu itu, kemungkinan kanker sudah semakin menjalar. Tumbuh kembang janin pun akan terpengaruh. Dan kemungkinan terburuk akan semakin lebar, untuk mama dan juga untuk janin mama." Zain menjelaskan dengan bahasa yang sesederhana mungkin agar dapat dipahami semua dengan mudah.


Kini semua mata tertuju pada sosok wanita yang selama ini menjadi napas sekaligus nyawa bagi seluruh penghuni di kediaman Darren Mahendra. Apa yang dirasakan Senja, selalu memberikan dampak yang langsung dirasakan oleh yang lain. Jika Senja sedih suasana rumah akan terasa suram.


"Mama tidak mau. Senja tidak sanggup, Ask. Dia berhak hidup dan terlahir ke dunia seperti kalian." Wanita itu mengusap perutnya dengan lembut.


Zain mencoba tersenyum. Dia teringat akan Pesan Sekar. Menjelaskan semuanya, memberikan waktu sang mama untuk berpikir, lalu tidak menekannya untuk segera memutuskan. Diburu waktu, tapi jangan terburu-buru.


Zain yang kebetulan duduk tepat di samping Senja meraih kedua tangan mamanya dengan lembut. "Janin itu belum bernyawa, Ma. Jika Mama melakukan pengobatan setelah usia kandungan Mama empat bulan. Jelas itu sangat berbahaya. Itu sama saja dengan saat Mama sedang menyebrang di jalan raya, tapi tidak menoleh ke kanan dan ke kiri."

__ADS_1


Ekor mata Senja melirik pada sang suami. Pria itu membalas lirikan itu masih yang sama dengan tatapan tadi. Senja buru-buru mengalihkan lirikannya itu pada Dasen. Anak kesayangannya itu menatapnya penuh harap.


"Mama boleh memikirkannya dahulu. Maksimal setelah pernikahan Bey dan Genta, Zain harap, Mama mau menjalani prosedur pengangkatan sel kanker sekaligus pengangkatan rahim."


Wanita itu melepaskan tangannya dari tangan Zain, lalu menggeser sedikit duduknya hingga menghadap Darren. Suaminya itu terdiam tanpa kata. Senja menatap lekat raut wajah pria yang sudah hidup bersamanya lebih dari dua puluh tahun itu.


Sementara Dasen memilih untuk tidak menyampaikan pendapatnya sedikit pun. Dalam hati, dia berharap mamanya setuju dengan arahan Zain. Jauh di atas segalanya, kesembuhan Senja adalah yang utama.


"Dalam ajaran agama kita, mengangkat janin dari dalam kandungan karena dikhawatirkan mengancam kondisi si ibu, atau si ibu sedang melakukan proses penyembuhan dari penyakit yang serius itu boleh, Ma. Tidak haram dilakukan. Apalagi ruh belum ditiupkan ke janin Mama." Zain memecahkan keheningan dan kecanggungan sesaat akibat pembicaraan yang lumayan serius.


"Ask ...." Senja perlahan menyentuh lengan Darren.


"Keputusan ada di tanganmu, Ask. Jika kamu tanya pendapatku. Tentu saja aku ingin kamu melakukan sesuai apa yang dikatakan Zain. Kita ikhlaskan janin kita. Allah sudah memberikan kita anak-anak yang hebat ...."


"Dan anak-anak yang hebat itu, pasti akan memberikan cucu-cucu yang gemoy. Satu anak memberikan lima cucu, pasti luar biasa sekali." Dasen memotong ucapan Darren yang belum usai. Ucapannya itu disambut mata Zain yang membulat sempurna.


"Ayolah, Ma. Tuhan membenci umatnya yang keras kepala. Di rumah ini, hanya dua orang yang boleh keras kepala, Darren Mahendra dan Dasen Kyun Mahendra, yang lain adalah orang-orang yang bijaksana dan bijaksini," cerocos Dasen membuat Darren reflek menepuk jidatnya sendiri.


Sementara Senja hanya bisa mengelus dada, dan Zain berdecih kesal. Padahal tadi sudah diperingatkan, namun tetap saja Dasen tidak mengindahkan.'


"Ma, tidak ada kesembuhan yang bisa di dapat dengan mudah. Ada perjuangan dan harga yang harus dibayar. Seperti Zain yang bisa sembuh karena Papa Rafli. Maaf, Ma, tidak bermaksud membandingkan. Jika papa bisa merelakan hidup, cinta, dan kebahagiaannya demi Zain, seharusnya mama pun sanggup melakukan hal yang sama. Janin itu berharga, begitu pun dengan kami anak-anak mama yang lain. Janin itu belum bernyawa, sedangkan kami sudah bernyawa ... nyawa yang akan kehilangan jiwa jika sampai mama meninggalkan kami," ucap Zain panjang lebar.

__ADS_1


Dasen mengangguk setuju dengan semua yang disampaikan Zain begitu pun Darren.


__ADS_2