Hot Family

Hot Family
Modus


__ADS_3

Dasen masih diam. Otak cerdas dan akalnya yang biasanya segudang benar-benar sedang tidak bisa diajak kompromi sekarang. Tidak ada pilihan lain, yang terlintas di kepalanya selain menjawab dengan jujur.


"Das... Daddy dan Mama masih di sini menunggu jawabanmu," ucap Darren, sengaja menaikkan sedikit nada bicaranya.


"Janji besok akan datang lagi ke sana sama..." Dasen tidak meneruskan kalimatnya, sedikit melirik sang mama yang menatapnya dengan tatapan tidak selembut biasanya.


"Janji datang sama siapa?" Darren semakin tidak sabar.


"Ehmmm... itu, datang sama... ehm...." Dasen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Firasatnya mengatakan, Daddy dan mama-nya pasti akan menimpuknya kali ini.


"Pasti aneh-aneh. Jelas ini, Ask... Pasti akal buaya Darren Mahendra yang digunakan. Lihat wajahnya, persis sama bapaknya saat berbuat licik." Senja mulai menilai raut muka Dasen.


Darren mendengus kesal, selalu saja yang melekat jelek pada anak-anaknya selalu dihubungkan dengan dirinya.


"Das, janji apa? Daddy tidak mau kamu mengakali pihak berwajib. Bisa dihukum lebih berat lagi kalau sampai kamu mengerjai mereka," Darren menakut-nakuti titisannya.


"Cuma janji akan datang sama mama, membawakan makanan khusus untuk Pak Togar. Sekalian tanya kabar Michel," jawab Darren dengan hati-hati. Lalu dia melirik kembali ke arah Senja, berharap sang mana masih menjadi pihak yang selalu mendukungnya.


"Tidak boleh! Mamamu tidak boleh ke mana-mana besok. Apalagi untuk kembali ke kantor polisi itu. Mata pak Togar itu sangat genit." Darren menjawab dengan ketus.


"Dadd, please!" rajuk Dasen.


"Tidak! sekali tidak, tetap tidak!" tegas Darren.


"Begini saja, Mama siapkan makanannya. Untuk pak Togar dan teman-temannya, juga untuk Michel. Tapi Mama tidak akan ikut. Mama, kali ini tidak mau ikut mengambil tanggung jawab atas kesalahanmu. Kamu seharusnya bisa bertanggung jawab sendiri." Senja pun dengan tegas menolak.


Dasen pun menyerah. Dia sudah tidak punya nyali lagi untuk membujuk Senja dan Darren. Sudah bagus, dia hanya disidang ringan seperti ini.


"Baiklah! Dasen besok perginya sama pak Rudi saja," ucap Dasen, dengan wajah lemas yang memelas.


"Ya sudah, urusan kita selesai sementara. Kalau tiba-tiba, Daddy ada terpikirkan hukuman yang cocok. Nanti Daddy panggil lagi." Darren langsung mengamit pinggul Senja, mengajak sang istri untuk beristirahat ke kamar mereka.

__ADS_1


"Ma, apakah Mama tidak ingin memeluk Dasen dulu? Das kangen?" rajuk Dasen dengan manja. Padahal Darren dan Senja sudah sampai di ambang pintu.


"Hukuman pertama yang terpikirkan oleh Daddy saat ini adalah dilarang mencium dan memeluk Mama Nja selama ada Daddy di dekat Mama," sahut Darren sebelum istrinya menjawab permintaan Dasen.


"Huft... berat, itu pasti hanya modus Daddy yang merasa kalah pesona dengan Das," gumam Das, dengan kesal.


"Das... tidak ada protes. Kamu boleh bangga karena mempunyai wajah yang mempesona, tapi ingat pesona itu kamu dapatkan dari mana. Percayalah! wujudmu tidak akan seperti ini, kalau bapakmu adalah Rudi." Darren menanggapi dengan sombong sambil kembali berjalan. Meninggalkan Dasen yang terlihat masih belum puas berdebat dengannya.


Senja hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Darren dan Dasen. Sifat yang sama, sungguh membuat mereka jarang akur jika sedang bersama.


Saat melewati ruang tengah, Zain, Derya, Beyza dan Genta masih ada di sana. Mereka memang sengaja menunggu hasil sidang Dasen.


"Mama sama Daddy, istirahat dulu ya. Nanti, kalian makan malam duluan saja," ucap Senja sembari menatap mereka satu per satu.


"Siap ma. Di bawah kendali Zain," sahut anak pertama Senja.


"Ma, besok Mama tidak lupa kan?" tanya Derya hati-hati.


"Masih ingat, sayang. Mama tidak lupa kalau sudah janji mau menemani Genta ke makam bundanya." Senja tersenyum sembari duduk di samping Zain.


Fisik dan pikirannya memang sama-sama lelah, tapi tidak ada salahnya berkumpul bersama anak-anak sejenak.


"Wuihh... anak angkat, dapat keistimewaan juga dari mama orang," cibir Dasen sembari melirik Genta.


"Das..." tegur Senja.


"Kenapa Mama tidak istirahat?" tanya Zain.


"Sebentar, Mama ingin bersama kalian." Senja menatap ke depan dengan pandangan menerawang.


"Bey, besok boleh ikut tidak? Bey, juga ingin tahu makamnya bundanya Genta." Beyza terlihat sangat bersemangat.

__ADS_1


"Boleh dong," sahut Genta, tidak kalah semangat.


Senja kini fokus menatap Zain yang sedang sibuk dengan ponselnya. Beyza, Derya dan Genta kembali bermain uno block. Dasen memilih untuk mengambil makanan di dapur.


"Bagaimana?" tanya Senja menepuk pundak Zain.


"Semua baik-baik saja, Ma. Airin sudah setuju untuk mengundang Oma-oma dan Opa-opa. Jujur, Zain merasa waktu Airin semakin dekat, Ma. Bahkan cairan infus saja tidak terlalu bagus mengalir di tubuhnya." Zain mengucapkan dengan sendu.


"Jika takdir nantinya memisahkan kalian. Mama yakin kamu bisa melewati semuanya dengan baik. Tidak semua yang kita mau, harus kita dapatkan. Kita berserah diri saja, Zain. Kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik. Biarkan sekarang kuasa Tuhan yang berjalan."


"Terimakasih, Ma. Terimakasih karena Mama selalu ada untuk Zain. Semoga Mama selalu diberi kesehatan, kekuatan dan umur panjang. Zain ingin membahagiakan Mama lebih lama."


Senja meraih tangan Zain, lalu menepuk-nepuk punggung tangan anak itu dengan lembut. "Andai waktu bisa diputar kembali, Mama ingin kalian kembali kecil saja. Biar hanya Mama dan Daddy yang menghadapi kehidupan yang tidak melulu indah dan mudah. Sekarang kalian sudah besar. Apalagi kamu, sudah mau menikah. Mau tidak mau. Mama harus membiarkan kalian mengalami sedih dan kecewa, agar kalian tahu. Hidup memang tidak semulus pipi Mama."


Zain yang tadinya mendengar dengan serius menjadi tertawa saat mendengar ujung kalimat mamanya.


"Kenapa Mama jadi narsis begini? Darren syndrom sepertinya semakin merajalela di rumah ini," ucap Zain sembari terkekeh pelan.


Senja beranjak berdiri sembari menutup mulutnya yang menguap lebar. "Mama ke atas dulu. Pengen istirahat. Nanti, kalian makan dulu saja."


Semua mengangguk setuju dengan kompak. Senja pun naik ke atas, masuk ke kamar. Menyusul Darren yang sepertinya sudah tertidur pulas.


Senja mengambil baju ganti terlwbih dahulu, lalu ke kamar mandi untuk menyegarkan dan membersihkan diri sejenak.


Setelah itu, dia pun naik ke atas ranjang, berniat untuk mengikuti Darren yang mungkin sudah memasuki alam mimpi. Dia masuk ke dalam selimut dengan sang suami.


Tanpa berpikir macam-macam Senja pun tidur membelakangi suaminya seperti biasa. Tapi baru saja memejamkan matanya, Darren bergeser merapatkan diri ke tubuh istrinya dan memeluknya dari belakang. Daster yang sudah tersingkap, membuat paha belakangnya merasakan sesuatu yang keras dan hangat sedang berkedut memberikan signal seperti biasa.


"Ask... bukannya tadi pusing? pengen istirahat? terus kenapa tidak memakai bawahan?" tanya Senja tanpa menoleh.


"Kamu lama sekali di bawah. Aku sudah menunggu sampai benar-benar pusing. Ayo! Kita lemaskan pikiran dan otot-otot kita yang tegang karena ulah anak-anak." tangan Darren sudah bekerja aktif menurunkan segitiga berenda milik sang istri.

__ADS_1


__ADS_2