Hot Family

Hot Family
Dasen vs Genta


__ADS_3

Senja masih sibuk mempersiapkan kamar di lantai satu untuk ditempati Airin selama tinggal bersama mereka. Perempuan itu memastikan semua bersih dan nyaman.


Sesuai permintaan Senja, Zain akan tinggal bersama orangtua Airin. Tentu saja hal itu malah disambut baik oleh Lena dan juga Rasyid.


Zain terlihat sangat tidak bersemangat. Harusnya dia seneng, setidaknya peluang untuk mendapatkan restu daddynya, bukan hanya sebatas angan. Semakin mengenal Airin, Zain yakin daddynya akan menyukai perempuan pilihannya itu. Tapi hidup bersama Rasyid yang memiliki aturan layaknya jaman Belanda dulu, membuatnya sedikit overthinking.


Saat sehat dan tidak sedang kambuh, Airin memiliki semangat yang luar biasa. Bicaranya lugas dan tegas. Gerakannya pun lincah dan cekatan.


"Ma ... Ini beneran tukar tempat tinggal ya? harus ya? Mama bisa gitu pisah jauh-jauh dari Zain?" Zain terus bertanya sembari mengekor kemanapun Senja melangkah.


"Zain ... kamu ini sudah dewasa, sudah berani mau nikahin anak orang, kok nanya-nanya tidak penting kayak gitu. Sekarang atau nanti, kamu tetap harus berpisah sama Mama. Ya kali serumah terus. Rumah opa buyut sudah manggil-manggil buat kamu tempati." ucap Senja, mengingatkan Zain bahwa dia harus menempati rumah mendiang opa buyut Hutama, setelah menikah nanti.


"Ma ... nitip, Airin ya. Kalau daddy sudah terlalu keras, Mama harus lemesin," pinta Zain, membuat Senja seketika menghentikan gerak tangannya yang sedang meletakkan foto Airin dan Zain di atas nakas.


"Maksud, Zain. Kalau daddy sudah terlihat agak keras bersikap sama Airin, mama yang harus menengahi. Supaya daddy cool down." Zain meralat kata-kata pertamanya yang memang sedikit ambigu.


"Makanan Airin harus khusus kayak kamu dulu kan, Zain?"


"Iya, Ma ...."


Senja duduk di bangku kotak di depan meja rias. "Zain, kenapa Airin tidak dibawa ke China?" tanyanya.


"Mama tahu sendiri kan ayahnya Airin itu sangat memegang prinsip. Bagi mereka, biaya pengobatan di sana sangat tidak terjangkau. Mereka tidak mau mengandalkan Zain dan terlalu banyak berhutang budi. Kecuali kami sudah ada ikatan pernikahan, tentu semua akan berbeda," jelas Zain sembari memijat pundak mamanya.


"Kalau memang daddymu sudah oke, lebih baik kalian langsung menikah saja. Bawa Airin berobat. Tunda memiliki momongan," tegas Senja.


"Semoga daddy terketuk hatinya ya, Ma. Zain percaya kuasa Tuhan bisa menyembuhkan sakit Airin." Zain terlihat sangat optimis.


"Semoga saja ... Ya sudah sana, sekarang Mama mau lihat Derya dulu. Badannya panas, adikmu itu terlalu lelah belajar. Minggu depan ada olimpiade di negara S. Owh ya ... oma dan opa akan berkumpul di sini nanti malam. Beritahu Airin, agar tidak kaget karena keluarga kita berkumpul." Senja beranjak keluar kamar, berjalan menapaki tangga untuk naik ke lantai dua menuju kamar Derya.


"Ma ...." sapa Derya sedikit lemah.

__ADS_1


"Iya, Sayang ... Makan ya? Mama bikinkan bubur." Senja mengusap rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.


Derya menggeleng lemah. "Genta akan kemari membawakan sop iga. Derya akan makan banyak nanti."


"Apa Genta akan datang bersama ayahnya?" Senja bertanya dengan raut wajah khawatir. Sejak peristiwa tiga hari yang lalu, Senja sungguh berharap tidak akan bertemu dengan Rangga lagi.


Sungguh memalukan sampai sesuatu yang harusnya dia pakai, karena saking terburu-buru, malah ketinggalan di sana. Parahnya lagi, yang menemukan adalah ayahnya Genta itu. Dan tanpa basa-basi pria itu malah dengan jujurnya mengirimkan gambar kaca mata berenda itu dengan caption Apakah ini punya ibu?. Tentu saja, Senja menjawab bukan.


"Tidak, Ma ... Genta hanya sama drivernya," jawab Derya, membuat Senja menjadi lega.


*******


Beyza menyisir rambutnya perlahan sembari terus berkaca. Memastikan penampilannya harus sempurna ketika Genta datang nanti. Senja tidak mengizinkan Beyza memakai produk kecantikan apapun untuk wajahnya selain cream siang dan malam dengan produk khusus anak seusianya.


Mendengar suara klakson mobil, Beyza segera meletakkan sisirnya. Dengan setengah berlari kegirangan, gadis itu menuruni anak tangga sambil bersenandung kecil. Dress polkadot berwarna mustard selutut, membuat kulitnya yang putih bersih semakin terpampang nyata.


Pintu utama sudah terbuka lebar saat Beyza sampai di sana. Gadis itu mendengus kesal, karena yang datang ternyata Dasen bersama teman karibnya yang bernama Michel.


Michel duduk di sofa ruang tamu yang ditunjuk oleh Dasen. Mata anak lelaki itu menatap Beyza penuh kekaguman khas anak abg, berapi-api dan tidak tertahan.


Beyza mengabaikan Michel, bahkan sedikitpun dia tidak ingin melempar senyumnya pada teman kakaknya itu.


Senyumnya justru mengembang, manakala sebuah mobil Hummer warna hitam berhenti tepat di pelataran pintu utama. Beyza mendekati mobil tersebut. Wajahnya semakin sumringah begitu Genta turun dari sana sembari menenteng kantong plastik transparan berisi dua box makanan.


"Hai ...." Beyza menyapa Genta dengan ramah.


"Hai, Bey ... ini untuk Derya." Genta memberikan kantong plastik ditangannya pada Beyza.


"Terimakasih ... Yuk, kita langsung ke kamar Derya saja!" ajak Beyza, mengabaikan Dasen dan Michel yang memandang Genta dengan tatapan tidak suka.


Genta sama cueknya dengan Beyza. Di mata Dasen, Genta terkesan angkuh dan tidak menghargai dirinya sebagai kakak Derya dan Beyza. Padahal mereka sering bertemu, tapi melempar senyuman seperti hanya formalitas belaka.

__ADS_1


"Hei ... kamu?!" suara Dasen menghentikan langkah Beyza dan Derya.


"Ada apa, Kak?" tanya Beyza dengan kesaal.


"Bukan kamu, tapi dia." Dasen menunjuk ke arah Genta.


"Saya? ada apa dengan saya?" Genta menunjuk dirinya sendiri dengan santai.


"Jangan mentang-mentang kamu dekat dengan semua orang di sini, kamu jadi bisa seenaknya melewatiku. Kalau ketemu aku, cium punggung tangan. Aku ini kakaknya Beyza dan Derya." Dasen menyodorkan tangannya pada Genta.


Beyza mencebikkan bibirnya, lalu menghempas tangan Dasen dengan kuat. "Ish ... masih saja sok berkuasa, kak Zain saja tidak segitunya. Sudah kakak fokus saja sama cewek-cewek yang mau dikadalin. Jangan berulah macam-macam. Ingat! Asrama menanti, Kakak." ucapan Beyza tepat membuat Dasen tidak bisa berkata-kata lagi.


Senja langsung berdiri begitu melihat Genta ada di depan matanya.


"Selamat sore, Tante. Maaf ayah tidak bisa ikut menjenguk Derya, tapi ayah mengirimkan salam untuk Om dan Tante. Salam kawula muda di jamannya. Begitu kata ayah." Genta menyampaikan sesuai dengan apa yang dikatakan ayahnya tadi.


Senja hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. Lalu buru-buru meninggalkan ketiga anak itu di kamar. Entah dia harus bagaimana, untuk melupakan kejadian yang memalukan itu.


"Aku lapar, bisakah kamu mengambilkanku sop iga yang dibawakan Genta?" tanya Derya pada Beyza.


"Tentu saja." Beyza menghubungi asisten rumah tangga melalui telepon internal, untuk meminta tolong dibawakan mangkok dan juga sendok.


Tidak lama kemudian, bi Imas membawakan barang yang diminta Beyza. Setelah itu Beyza langsung menyiapkan makanan untuk Derya. Melihat Genta memperhatikannya, membuat Beyza menjadi gugup. Tangannya sedikit gemetar dan pandangannya tidak fokus. Hingga sendok yang ada di genggamannya pun terjatuh.


Genta dengan sigap berniat membantu mengambilkan. Beyza pun melakukan hal yang sama. Keduanya berjongkok dan menunduk memegang sendok yang sama. Tangan dua abg itu, tentu saja tidak sengaja bersentuhan.


Lagi-lagi, kebetulan sedang menguji detak jantung mereka dalam menyembunyikan perasaan. Saat berusaha berdiri secara bersamaan, kening Beyza malah terbentur dagu Genta.


Pemandangan itu sontak membuat Dasen dan Michel yang melintasi kamar Derya tersontak dan geram. Tanpa bertanya, Dasen langsung mendorong tubuh Genta dengan kasar.


"Apa-apa'an kamu?" tanya Dasen penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2