Hot Family

Hot Family
Sedikit kehangatan


__ADS_3

"Das, tidak suka penampilan Mama seperti ini. Jika Mama memakainya hanya karena bersiap menyambut duka, maka hijab ini tidak akan membuat Mama terlihat lebih baik di mata siapa pun. Allah tahu niat Mama."


Ucapan Dasen membuat semua yang mendengar terkesiap. Terutama Darren. Pria itu seketika berdiri menghampiri sang anak. Tangannya dengan kasar menarik dan menjauhkan tubuh titisannya itu dari tubuh sang istri.


"Jangan lancang kamu, Das. Siapa yang mengajarimu berkata tidak sopan seperti itu," bentak Darren.


Senja menarik napas dalam, lalu tersenyum tipis untuk meredam emosi sang suami. "Ask, sudahlah. Senja mengerti maksud Dasen."


Baby De buru-buru menjewer Dasen. "Ngawur," bisiknya dengan kesal.


"Ngobrol sama Mama, yuk! Kalian tidak capek kan?" Ajak Senja pada Dasen dan Baby De.


Laki-laki berparas sebelas dua belas dengan Darren muda itu mengangguk manja, seolah dirinya masih anak kecil yang sedang dibujuk karena merajuk. Senja mengamit lengan Dasen dengan manja. Membuat bibir suaminya mengerucut ke depan. Dari dulu hingga sekarang, setiap ingin memarahi Dasen, rasanya tidak pernah leluasa. Selalu ada pembela yang sering kali membuatnya berbalik menjadi tersangka.


Di taman samping rumah yang temaram, Senja, Dasen dan Baby De duduk lesehan. Bersantai di atas dipan dalam gazebo beratapkan jerami kering. Ketiganya masih belum memulai pembicaraan.


"Kenapa bicaranya tidak enak begitu sama Mama? Duka apa yang harus Mama sambut? Apa salah kalau Mama ingin belajar menjadi wanita shalihah? Mama bahkan menyesal kenapa tidak melakukan dari dulu. Padahal daddy sudah sering mengingatkan Mama." Senja menatap Dasen begitu lekat.


Baby De menepuk pelan paha Dasen. Karena saudara sepersusuannya itu tidak segera menjawab pertanyaan Senja. "Das," panggilnya dengan setengah berbisik.


"Maafkan Das, Ma. Das sebenarnya hanya takut Mama meninggalkan kami semua. Seujung kuku pun Dasen belum membahagiakan Mama. Dasen takut perubahan penampilan Mama ini karena Mama sedang mengingat sebuah kematian."


Senja melebarkan senyumnya. Lalu menepuk pahanya sembari berkata, "Sini."


Dasen tanpa berpikir panjang dan dengan senang hati menidurkan kepalanya di pangkuan sang mama. Baby De tersenyum penuh arti. Dia bersyukur terlahir dari perempuan yang lebih banyak memiliki kebaikan dibanding keburukan. Meski hanya menumpang rahim, namun kasih sayang perempuan di depannya itu serasa ibu kandung. Segala hal yang Senja dan Darren berikan, membuat De terkadang lupa, jika dia bukanlah keturunan Mahendra.


"Sini De, lebih dekat sama Mama." Senja menepuk sisi kosong tepat di sampingnya.


"Iya, Ma." Baby De berjalan dengan lututnya mendekati tempat yang ditunjuk oleh Senja.


Setelah De juga berada di dekatnya, Senja pun mulai kembali mengusap rambut kecoklatan Dasen Mahendra.

__ADS_1


"Mama justru merasa terlambat mengingat kematian. Mama seperti sekarang bukan sekedar karena kanker yang ada pada tubuh Mama. Bukan pula karena Mama merasa usia Mama akan segera usai. Percayalah, melihat kesedihan kalian, Mama tidak tega untuk berhenti berjuang. Mama sudah menunda permintaan daddy-mu begitu lama. Padahal sesederhana ini, permintaan yang tidak seharusnya sampai diucapkan berkali-kali. Karena dalam kitab yang kita yakini pun, sudah jelas aturan bagaimana seorang perempuan harus berbusana dan menjaga auratnya." Senja menjeda bicaranya sejenak, dari balik kelambu di dalam ruangan, dia seperti melihat bayangan orang berjalan melewati ruang tengah.


"Mama berharap hijab bukan sekedar menutup rambut Mama, tapi juga mampu menutup aib Mama dan pikiran buruk Mama. Hijab bukan sekedar lambang keshalihan. Sebaik-baiknya hijab adalah yang bisa menutup mata, hati, mulut, dan pemikiran kita dari hal yang tidak baik. Mama masih belajar."


Baby De sepertinya mendengarkan lebih seksama ketimbang Dasen. Terlihat dari raut wajahnya yang sepertinya sedang berpikir dan mencerna kata demi kata. Sedangkan Dasen malah lebih fokus pada wajah Senja yang terlihat lebih keibuan dengan hijabnya.


"Mama cantik," lirih Dasen.


Senja mengernyitkan keningnya sembari memencet hidung mancung anak kesayangannya itu. "Kamu kemana saja, Das? Bukankah dari dulu Mama memang cantik? Duh kamu ini memang kurang peka," kesal Senja.


Dasen mendengus kesal. Mamanya sudah tertular dengan syndrom narsis dan sombongnya Darren Mahendra. "Mama jangan begitu, tidak pantas sama sekali. Biar Daddy saja yang sombong."


"Bener ya? Biar daddy saja. Awas kalau kamu ikut sombong," sahut Baby De.


"Ralat, biar daddy dan Dasen saja yang sombong," kilahnya dengan cepat.


Darren berjalan mendekati tiga orang di dalam gazebo dengan telapak tangan yang disembunyikan di dalam kantong samping celananya. Pria itu masih saja memanyunkan bibirnya.


"Ask ... sudah jangan dibahas lagi. Kita cuman beda pemikiran dikit. Sekarang kami sudah sepakat, terutama soal satu hal." Senja mengucapkannya dengan nada yang terdengar manja.


"Apa itu?" Tanya Darren.


"Senja cantik," jawab Senja, tanpa ragu dan malu-malu.


"Ish ... bukan hal baru kalau itu. Das, minggir, kamu bukan bocah lagi. Sudah punya pacar, sebentar lagi ngebet kawin, jangan lagi tidur di pangkuan mamamu. Sudah nggak cocok." Darren melepas sandal rumahan yang dikenakannya, lalu merangkak naik ke atas dipan di dalam gazebo.


"Dihhhh ... lebih tidak pantas lagi kalau daddy yang tidur di pangkuan mama. Ingat umur, dadd." Dasen tidak mengindahkan kata-kata Darren. Dia malah memeluk Senja dan menciumi perut mamanya itu bertubi-tubi.


Baby De mengedikkan bahunya. Dia sendiri geli dengan perilaku Dasen yang dimatanya memang selalu manja jika sudah bersama Senja. Gelar CEO Kolokan mungkin pantas disematkan pada Dasen.


"Das ...." Darren kembali mengingatkan Dasen sembari menggoyang-goyang kaki Dasen.

__ADS_1


"Nggak, biar Mama yang menentukan, mau sama Daddy atau Das."


Senja tertawa lebar, sejenak melupakan sakit dan kesedihan yang kemarin-kemarin begitu lekat. Suasana malam itu sedikit kembali hangat. Darren dan Baby De saling melempar pandang dengan tatapan penuh arti. Seperti ada pembicaraan tanpa kata yang tersirat dari tatapan itu.


"De, kira-kira apa kata karyawan di kantor kalau tahu kelakuan CEO-nya seperti ini?" Tanya Darren.


De pura-pura berpikir. "Hmmm ... kalau mereka tahu, kayaknya bakalan seru sih. Sok cool, berwibawa, tegas, disiplin, tapi ternyata masih susah disapih."


Tawa Senja semakin terdengar tanpa beban. Darren menggigit bibir bawahnya, rasanya sudah lama sekali tidak melihat wajah istrinya selepas itu.


"Kalau sampai itu terjadi, Dasen akan membuka sejarah. Rahasia kesuksesan Mahendra Corp akan terbongkar di depan publik," ucap Dasen, raut wajahnya begitu serius. Lalu dia bangkit duduk dengan tegak dan memberi peluang dan ruang pada Darren untuk berpindah tempat mengganti posisinya.


"Rahasia apa?" Tanya Senja penasaran.


Dasen menatap Darren, Senja dan Baby De, satu per satu. Ketiga orang itu benar-benar sedang menunggu jawabannya.


"Apa, Das?" Tanya De dengan tidak sabar.


"Kesuksesan Mahendra Corp semakin menanjak manakala CEO-nya menikah dengan perempuan bernama Senja. Istri yang cantik dan menggemaskan membuat sang CEO giat bekerja. Tuntutan mencetak goal lebih banyak dengan hasil berupa anak-anak dengan bibit premium, menjadikan sang CEO terdesak untuk kreatif dan inovatif. Lelah dijadikan alasan setiap kali pulang, hingga tangan sang istri terulur di pundak untuk memberikan sentuhan menenangkan yang berujung ...." Dasen tidak melanjutkan ucapannya karena mata Senja sudah bulat sempurna.


"Dasar omesh," cibir De, sembari turun dari dioan dan langsung masuk ke dalam rumah.


Darren dan Dasen malah melajukan hi-five, membuat Senja mencebikkan bibirnya.


"Dasar, sesama messum memang cocok." Senja melakukan hal yang sama dengan yang De lakukan. Belum sampai masuk, dia berpapasan dengan Zain yang sudah segar dan memakai baju tidur.


"Ma, baru saja Zain mau menyusul ke sana," sapa suami Sekar. Anak pertama Senja itu tidak kaget dengan penampilan sang mama, karena tadi pagi Senja sudah memberi tahu Zain dan Sekar.


"Mama mau ambil air es, lihat daddy sama Dasen. Mereka sedang konslet." Senja menunjuk ke arah Darren dan Dasen yang sedang tertawa lepas, entah apa lagi yang lucu.


Zain tersenyum, rupanya malam ini kehangatan sedang menghampiri. Raut cerah di wajah mamanya begitu kentara.

__ADS_1


"Ma, bisakah kita bicara bertiga? Mama, Daddy dan Zain?"


__ADS_2