Hot Family

Hot Family
Sekar, Zain dan Airin.


__ADS_3

Sekar sudah terlihat rapi dan sangat cantik dengan dress brokat selutut warna biru langit, tidak ada detail berlebihan yang melekat di badannya. Hanya kalung emas putih dengan liontin berbentuk huruf Z yang menghiasi leher jenjangnya. Rambutnya dikuncit tinggi, seperti ekor kuda, dengan tali pita warna senada dengan dressnya.


Gadis itu memang cantik dengan kesederhanaannya. Dandanan dan segala hal tentang dirinya tidak berlebihan.


Tas selempang berwarna broken white menambah tampilannya menjadi sangat elegant. Zain sendiri juga sudah siap. Kemeja slim fit warna biru dongker, membuat tampilannya sempurna.


Keduanya berjalan menuju mobil lengkap dengan driver yang sudah menunggu di pelataran pintu utama. Karena driver Zain sedang libur. Maka Dasen meminjamkan Rudi pada kakaknya khusus malam ini. Dasen yang sedang malas berpetualang, memilih berdiam diri di rumah.


Malam ini, mereka memang akan datang ke acara tasyakuran ulang tahun Airin. Untung saja Sekar datang ke Indonesia lebih cepat. Kalau tidak akan membuat Zain dilema kalau sampai datang sendirian ke acara itu.


"Cantik banget sih, calon istri kakak ini." Zain menowel hidung Sekar dengan gemas.


Rudi melirik spion tengah mobilnya, gelagat tidak beres mulai tercium di hidungnya. Sudah terlalu hapal dengan gerak tubuh seseorang yang hendak berciuman, membuatnya bisa tahu arah yang akan dituju Sekar dan Zain saat ini.


"Kak, Sekar kangen sekali sama kakak." Gadis itu merapatkan sandarannya di bahu Zain.


"Kakak juga. Setelah ini kita akan kerja sama-sama, jadi tidak ada kangen lagi. Kapan pun, di mana pun, bisa berdua." Zain menggapit dagu Sekar dengan ibi jari dan jari telunjuknya, lalu menundukkan kepalanya sedikit.


"Ada Pak Rudi, Kak," bisik Sekar sangar lirih sembari melirik driver calon adik iparnya itu.


"Tenang saja, Pak Rudi sudah terlatih sebelumnya. Kita bukan orang pertama mencemari mata dan telinga Pak Rudi." Zain meyakinkan Sekar.

__ADS_1


Tidak bisa menolak, akhirnya kedua bibir anak manusia yang sedang dilanda cinta itu pun saling bertautan. Keduanya saling mengecap dan melum4ta, hingga bunyi decapan mengalahkan suara musik yang diputar pelan oleh Rudi.


Tangan Sekar mer3mas lengan Zain semakin kuat, ketika ciuman mereka semakin dalam dan panas. Lidah keduanya saling melilit dan bermain lincah. Keduanya sudah sangat ahli.


'Tobat Gusti... ampun! Semoga Den Dasen, tidak begini. Kalau sampai kayak Bapak Ibu juga. Bisa-bisa saya pensiun dini saja. Mana tidak setiap hari ketemu istri. Tega sungguh tega,' keluh Rudi dalam hati.


Sekar dan Zain menghentikan kegiatan mesra keduanya, setelah merasakan laju kendaraan melambat karena sudah sampai di hotel diadakannya acara.


Calon istri Zain itu, segera mengambil kaca kecil dan lipstik di tasnya, memperbaiki polesan bibirnya yang pudar akibat disesap rakus oleh Zain.


"Kalau kita kerja bersama, sepertinya Sekar akan boros lipstik."


"Tenang, kalau perlu, kakak akan buatkan pabrik lipstik buat Sekar. Kurang apa coba?" Zain menaik turunkan alisnya dengan tatapan nakal.


Keduanya lalu segera turun dari mobil. Sekar mengamit lengan Zain dengan posesif. Keduanya menjadi pusat perhatian di acara, karena tidak sedikit teman Airin yang hadir, juga kenal dengan Zain tentunya. Mereka sangat shock dengan kehadiran Zain bersama perempuan berwajah cantik. Keduanya bahkan tampak serasi.


"Selamat ulang tahun ya, Rin. Ini kado dari kami." Sekar memgambil sesuatu dari tasnya dan memberikan kotak kecil berisi gelang rantai emas putih yang dipilih sendiri oleh Sekar. Karena tadinya Zain tidak berniat memberikan apapun pada Airin.


"Terimakasih." Airin menerima dengan canggung, matanya melirik ke arah Zain yang malah sedang menatap Sekar penuh cinta.


Sakit tapi tidak berdarah. Tidak ada hak sedikit pun bagi Airin untuk cemburu. Kisah mereka sudah berakhir lama, cinta dalam diri Zain sudah berpaling tempat. Hanya saja, cinta di hati Airin tetap tumbuh dengan subur.

__ADS_1


Acara pun dimulai. Tangan Sekar tidak terlepas sedetik pun dari lengan Zain. Seolah mengerti betapa posesifnya Sekar malam ini, Zain pun bersikap sangat manis. Dia bukannya tidak tahu, mata Airin yang sering mencuri pandang padanya. Tapi, Zain memilih mengabaikan. Menjaga perasaan Sekar jauh lebih penting daripada terus menoleh pada masa lalu.


Hingga terjadilah hal yang sedikit tidak mengenakkan. Saat pemotongan kue pertama. Airin tanpa ragu mendekati dan memberikannya pada Zain. "Terimakasih, atas semua yang sudah Aa berikan. Meskipun Airin bukan siapa-siapa Aa. Tapi, Aa masih mau menanggung biaya pengobatan Airin. Terimakasih, A'."


Ucapan Airin seketika membuat Sekar melepaskan tangannya dari lengan Zain. Dia memundurkan langkahnya. Sungguh Sekar tidak pernah tahu kalau Zain masih memberikan uang pada mantan calon istrinya itu.


Menyadari Sekar pasti kaget, Zain menetima saja kur di tangan Airin dengan cepat tanpa mengucap apapun. Lalu Zain memundurkan langkah, mensejajarkan posisinya kembali dengan Sekar. "Aku bisa menjelaskan,"


Sekar mengangguk lemah, meski dia kesal. Dia tidak ingin menunjukkan kemarahannya di hadapan semua orang, apalagi di depan Airin. Dia harus bisa menjaga emosinya dengan baik.


Setelah Airin kembali ke tempatnya, Zain mengajak Sekar keluar. Dia pah betul bagaimana sifat calon istrinya itu. Cara memendam kekesalannya bagaikan gunung es, di permukaan hanya nampak sedikit, tapi didalamnya ada bongkahan yang lebih besar lagi.


"Maaf, kamu harus mendengarnya dari orang lain. Tapi aku memberi kartu itu sudah lama, dan aku tidak mengisinya lagi sejak aku memulai hubungan denganmu. Sungguh. Aku hanya membantu meringankan beban kedua orangtuanya. Tidak semata-mata demi Airin. Mungkin uang itu memang masih ada sampai sekarang. Aku bisa menunjukkan bukti transaksinya kalau kamu tidak percaya. Sejak aku bersamamu, sungguh aku tidak menambah saldonya." Zain menggenggam erat kedua tangan Sekar.


Gadis itu menatap mata Zain dengan tajam. Melihat dengan seksama, adakan ketidak jujuran yang tersirat dari raut wajah dan tatapan matanya. Tapi Sekar tidak menemukan kebohongan di sana. Zain bukan tipe lelaki pembohong. Dia sangat menghargai hubungan dan kesetiaan.


"Kali ini aku percaya," ketus Sekar.


"Lain kali pun harus percaya, Sekarang atau nanti, Kakak selalu setia." Zain merengkuh pundak Sekar ke dalam pelukannya.


Sepasang mata milik Airin berkaca-kaca melihat Zain yang terlihat begitu menyayangi Sekar. Mungkin memang sudah saatnya dia memupus harapannya pada Zain. Sudah waktunya Airin berhenti berharap.

__ADS_1


"Sudah, jangan sedih begini. Ingat kata Mbah Gondrong. Hari baik kita satu bulan lagi," bisik Zain tepat di daun telinga Sekar, membuat gadis itu tersipu malu-malu.


Airin segera membalikkan badannya, tidak tahan lagi dengan apa yang disaksikan di depan mata.


__ADS_2