Hot Family

Hot Family
Curhatan dua calon menantu


__ADS_3

"Aku belum pernah," Denok buru-buru menundukkan kepalanya. Bibir Dasen yang merah, membuat otaknya juga sedikit tercemar.


"Nanti aku ajarin," ucap Dasen dengan santainya. Lalu dia membayar baju di kasir.


Setelah dari butik, Dasen mengajak Denok ke rumahnya sebentar. Agar sebelum acara nanti malam, gadis itu sudah bisa akrab terlebih dulu dengan Sekar.


Belum juga sampai di depan pintu utama, Bola mata Sekar terus lincah ke sana ke mari menyaksikan bagaimana mewahnya kediaman Dasen.


Taman, danau buatan, ayunan, selurutan. Dari luaran saja, sudah sangat mencengangkan. Rumah itu, memang hadiah Darren untuk Senja di hari ulang tahun sang istri. Yang di design sangat ramah anak-anak, karena mereka memang mempunyai banyak anak.


Saat mobil berhenti di pelataran pintu utama, Denok melihat alas kaki yang dikenakannya. Rasanya kontras sekali dengan lantai marmer yang akan diinjaknya.Harga satu meter persegi lantai itu, mungkin senilai 10 kali harga flat shoes yang dia kenakan.


Denok tidak berkecil hati, dia lebih ke menyesal, kenapa tadi tidak berpenampilan agak lumayan dengan meminjam barang-barang milik ibunya yang lumayan branded juga meski hanya istri seorang dukun.


Masuk ke dalam rumah, Denok sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa. Foto keluarga Darren Mahendra formasi lengkap menyambutnya.


"Ask, itu semua keluargamu?" tanya Denok, dengan mata tetap tertuju pada Figura berukuran dua kali satu meter di depannya.


"Iya, Yang tengah itu tentu saja daddy dan mamaku, yang perempuan itu adikku, dia kembar sama Derya, tapi memang tidak identik. Kalau aku dan kak Zain, tentu kamu sudah tahu." Dasen menunjuk sofa agar Denok duduk di sana.


"Tuhan memberikan kesempurnaan pada kalian. Kenapa tidak ada yang jelek satu pun di sana. Apakah keturunan kalian mendapat kutukan good looking?" Denok masih tidak bisa berhenti berdecak kagum. Bahkan perempuan yang disebut mama oleh Dasen, masih pantas menjadi kakaknya.


"Bisa jadi seperti itu."

__ADS_1


"Kamu tahu, Das. Kalau ibuku tahu, mamamu secantik ini, dia pasti akan guling-guling minta operasi plastik ke korea."


"Astaga! Meresahkan sekali. Eh, sebentar ya, kamu tunggu di sini dulu. Aku panggilkan kak Zain sama Sekar. Kamu kagumi dulu fotonya, kapan-kapan kalau ada orangnya langsung. Mungkin penilaianmu akan berubah." Dasen berjalan ke ruangan yang lebih dalam. Mencari keberadaan Sekar dan juga Zain.


Karena di sekitaran lantai satu tidak ditemukan. Dasen yakin kedua pasangan yang sudah mendapatkan lampu hijau untuk menikah itu pasti berada di lantai empat. Akhirnya, dia pun mengajak Denok menyusul ke lantai empat.


Benar saja, keluar lift lantai empat, keduanya langsung disambut kemesraan Sekar dan Zain. Calon kakak iparnya itu, sedang menyuapi Zain potongan buah melon.


"Astaga! Pantas saja sekarang setan pada nganggur. Mereka mendadak insecure dengan manusia.Belum dibisikin dosa, sudah tahu jalannya duluan. Ckkk ...," cerocos Dasen, membuat Zain dan Sekar kompak mencebikkan bibirnya. Keduanya enggan menanggapi ucapan Dasen.


"Eh, Denok. Sini gabung sama kita." Sekar beralih ramah ketika melihat Denok.


"Iya, Mbak." Denok meski sedikit canggung, berusaha seramah mungkin. Dia mengambil tempat duduk di dekat Sekar.


"Aku ke bawah dulu ya, Dek. Mau telepon mama dan daddy jadi pulang kapan." Zain beranjak berdiri, setelah melihat Sekar menganggukkan kepala, dia baru berjalan meninggalkan calon istrinya itu.


"Eh, tidak cepat ya, kami sudah merencanakan dua tahun lalu. Lagi pula memang sudah seharusnya kami duluan. Kamu belakangan saja. Taruhan, setelah aku dan Zain. Beyza pasti duluan." Sekar menjawab sekaligus meledek Dasen.


"Beyza? Tidak mungkin. Pacar saja tidak punya. Dia kan terjerat masa lalu. Cantik-cantik gagal move on, banyak yang naksir, tapi mata dan hatinya sudah tertutup Genta. Apa coba bagusnya anak itu. Sok baik saja di depan Mama," dengus Dasen.


Sekar yang belum mengerti kisah Genta sebelumnya, hanya tersenyum. Dia memang sama sekali belum pernah bertemu kekasih Beyza itu. Tapi dari yang dia dengar semalam dari curhatan mereka, Beyza sedang berbunga-bunga karena nama laki-laki yang disebut Dasen tadi.


"Kita, lihat saja," tukas Sekar

__ADS_1


Dasen meninggalkan dua gadis itu berdua saja. Sengaja. Karena dia yakin Denok pasti ingin tahu lebih banyak tentang dirinya dan keluarganya yang lain.


"Mbak Sekar, bagaimana rasanya berada di keluarga seperti ini? Eh, maaf lho Mbak, aku nanyanya tidak sopan. Habis penasaran, takut, dan campur-campur rasanya. Kalau Mbak Sekar, pasti tenang dan diterima. Karena seimbang kelihatannya. Sama-sama berada, lah aku? Entahlah akan bagaimana." Denok dengan gamblang langsung menyampaikan keresahannya.


Sekar menoleh pada Denok dan melemparkan senyum tipis pada gadis di sampingnya itu. "Apa Dasen sudah menyatakan cinta padamu? Kalian baru saja kenal bukan? Kamu bukan perempuan pertama yang diajak ke mari? Tapi kamu memang perempuan yang diajak ngedate bersama kali pertama kali." Sekar tidak menjawab pertanyaan Denok, malah balik bertanya dulu pada gadis itu.


Denok bingung harus berkata apa. Merasa jadian, tapi nyatanya memang tidak ada kata cinta. Ditambah lagi ucapan Sekar yang mengatakan kalau bukan dirinyalah satu-satunya yang di ajak ke rumah ini.


"Kemarin, Dasen tanya weton ke bapak, Mbak. Katanya kalau bapak setuju dan cocok. Bakal diterusin."


"Terus kata bapakmu, apa?" tanya Sekar menjadi semakin penasaran.


"Dari kami berduanya cocok. Masalahnya, kata bapak, Ibunya Dasen bakalan menolak keras hubungan kami."


Sekar menarik napas dalam. Tanpa penerawangan Mbah Grandong, diapun mempunyai dugaan yang sama. "Kalau kamu yakin, jalani saja. Mama Nja itu baik. Sekali pun tidak setuju, keputusan akhir tetap ada di tangan Dasen. Kalau kamu memang cinta ya perjuangkan," sarannya.


"Kalau aku ngomong tidak senang ada laki-laki seperti Dasen mendekati dan mengajak aku jadian, rasanya sombong sekali. Aku seneng sekali, Mbak. Kayak dongeng cinderella, tapi ini versi celana. Bukan sepatu kaca."


"Celana?" Lagi-lagi Sekar dilanda penasaran.


Denok kemudian menceritakan awal pertemuannya bertemu dengan Dasen. Di mana celana menjadi jembatan pertemuan-pertemuan selanjutnya.


Sekar jadi senyum-senyum sendiri mendengar cerita Denok. Dia akan menceritakan pada Zain. Dasen yang biasanya sok perfeksionis, rupanya benar-benar tertarik pada Denok.

__ADS_1


"Menurut Mbak Sekar, aku harus bagaimana? Mbak tahu persis bagaimana keluarga Denok. Rasanya mental sekali kalau disandingkan dengan keluarga ini. Belum apa-apa pengen nyerah, tapi kok sayang. Cari yang kayak Dasen, tidak mungkin ada lagi kan?"


Denok berhasil membuat Sekar kembali geleng-geleng kepala. Gadis di depannya itu memang unik. Sebenarnya, sangat cocok untuk mengimbangi kegilaan Dasen. Gadis-gadis lain yang ingin mendekati titisan Darren Mahendra itu, tentunya akan sedikit kena mental dihadapi Denok dengan karakternya yang takut-takut mau seperti ini.


__ADS_2