Hot Family

Hot Family
Bertemu Mbah Gondrong


__ADS_3

Selepas menunaikan sholat maghrib, akhirnya Zain, Dasen dan juga Sekar berangkat juga ke rumah Denok. Ketiganya menaiki mobil yang dikemudikan oleh Rudi. Sesuai arahan Rudi, di sebuah a


Rumah Denok rupanya berada di perumahan padat penduduk. Tapi mencari rumah Denok, tidaklah sulit. Karena melalui balasan pesan pada Dasen tadi, gadis itu memberikan ciri spesifik beserta foto bagian depan rumahnya.


Dan sebelum sampai di jalan yang sedikit membingungkan, Denok juga memberi tahu untuk bertanya pada warga di sekirar sana. Benar saja, begitu nama Mbah Gondrong disebut, warga yang ditanya langsung menunjukkan arah dengan jelas.


Mandengar nama Mbah Gondrong, ketiganya langsung membayangkan sosok laki-laki tua, berperawakan tinggi kurus, jambang lebat dan rambut panjang bergelombang warna putih.


Nyatanya, saat mereka sudah sampai di rumah Denok. Mereka langsung disambut laki-laki dengan usia di atas Darren mungkin tiga sampai lima tahun, badan tinggi besar dengan dada bidang terbungkus surjan lurik khas jawa, rambut lurus hitam berkilau seperti bintang iklan shampo, tapi tetap memakai blangkon. Warna kulitnya sawo matang. Dan yang membuat Zain, Dasen dan Sekar tercengang adalah saat pria itu memperkenalkan dirinya sebagai 'Mbah Gondrong.'


Dasen menelan ludahnya kasar. Nyalinya tidak surut, semangatnya masih berkobar, dan jiwa penasarannya justru semakin tertantang. Tapi yang menjadi bayangannya saat ini adalah tanggapan daddy-nya, jika tahu dia mendekati anak dari seseorang yang bisa dikatakan cukup nyentrik.


Mereka diterima di ruangan yang sepertinya disediakan khusus untuk tamu yang berkonsultasi. Lesehan, karpet tebal warna hitam menjadi alasnya. Aroma hio atau dupa seketika menyapa.


Dasen mengulurkan tangan, ingin memperkenalkan diri. "Saya, Dasen, Mbah." sapanya sok akrab.


Mbah gondrong menganggukkan kepala, wajahnya datar tanpa ekspresi membalas uluran tangan Dasen hanya sekilas.


Zain menahan senyumnya begitu tangan Mbah Gondrong muncul di permukaan. Jemari yang tadinya disembunyikan di bawah meja, kini menampakkan cincin dengan batuan akik yang cukup besar dan menarik perhatian.


Sikuan tangan Sekar yang tepat mengenai lengan Zain, menandakan gadis itu juga memiliki pikiran dan keinginan yang sama dengan dengan calon suaminya. Heran, aneh dan situasi langka. Tidak hanya untuk Mah Gondrong. Tapi juga untuk Dasen, tumben sekali Dasen belum berbisik apapun untuk memberikan penilaian pedasnya.


"Jadi apa tujuan kalian kemari?" tanya Mbah Gondrong dengan suara bariton khas laki-laki.


Zain menoleh pada Dasen, mengira adiknya itu sudah menjelaskan pada Denok yang sampai saat ini belum muncul juga.

__ADS_1


"Begini, Mbah. Perkenalkan, saya Sekar dan ini calon suami saya, namanya kak Zain. Rencananya dalam waktu dekat ini, kami ingin melangsungkan pernikahan." Sekar memilih untuk segera menjawab pertanyaan Mbah Gondrong sembari memperkenalkan dirinya dan juga Zain bergantian.


Mbah Gondrong tidak langsung menjawab, karena Denok muncul membawa nampan berisi teh manis hangat untuk tamu-tamunya.


Sekar kembali menyiku lengan suaminya, melihat tatapan Dasen pada Denok, jelas dia bisa menilai kalau Dasen sungguh terpesona dengan gadis yang sedang meletakkan gelas di atas meja itu. Denok pun terpantau sedang curi-curi pandang pada Dasen.


"Ehemmm... Nok, ajak anak yang tidak berkepentingan ini di beranda depan," perintah Mbah Gondrong diawali dengan deheman. Laki-laki itu menyadari dua anak manusia itu, diam-diam sedang saling menebar pesona.


Denok yang terlampau paham dengan maksud sang bapak, langsung memberi kode pada Dasen agar mengikutinya. Denok mengajak Dasen bersantai di bawah pohon nangka yang ada tepat di samping rumahnya.


Sementara itu, Zain dan Sekar. baru akan memulai perhitungan. Mbah Gondrong mulai bertanya-tanya kepada pasien di depannya itu.


"Apa weton kalian?" tanya laki-laki itu, lalu menghisap rokok elektroniknya dalam-dalam. Aroma buah seketika memenuhi ruangan berukuran empat kali enam meter itu, manakala Mbah Gondrong mengeluarkan asap dari dalam mulutnya. Ternyata, apa yang diprediksikan Rudi, tentang tengwe, sama sekali tidak benar.


"Saya sabtu pahing, Mbah. Kalau calon suami saya, tidak diketahui wetonnya," jawab Sekar dengan cepat, lalu memberikan tanggal, bulan dan tahun lahir Zain dengan lengkap.


"Wetonnya, mas Zain kamis kliwon. Kalian cocik secara neptu. Rejekinya akan makin melimpah. Mbaknya memiliki neptu paling tinggi dalam hitungan jawa. Jumlahnya 18. Kalau sudah punya keinginan, susah untuk dibelokkan. Tapi Masnya juga tidak kalah keras meski neptu 16," ucap Mbah Gondrong sembari menulis-nulis di dalam buku catatannya.


Sekar dan Zain kompak hanya mengangguk, senyum tipis menyunging di bibir keduanya. Karena setidaknya dari segi weton mereka sangat cocok. Itu artinya, saat pertemuan di Jogya tidak akan ada masalah yang timbul karena itu.


Sementara itu Dasen sedang menggencarkan tebaran pesonanya pada Denok. Titisan Darren itu mendadak anti kritik.


"Kok aku tidak melihat ibumu, Nok?" tanya Dasen hati-hati.


"Ibu sedang arisan dengan paguyupan istri-istri paranormal." Jawaban Denok membuat Dasen terheran-heran.

__ADS_1


'Kalah mamaku, istri paranormal saja ada genk sosialitanya,' batin Dasen dalan hati.


Belum selesai rasa heran Dasen, sebuah mobil Camry hitam memasuki halaman rumah Denok. Mobil itu parkir tepat di samping mobil Dasen.


Seorang laki-laki berumur 40 tahunan keluar dari sana, rambutnya hitam klimis karena pomade, kemeja rapi dan celana necis. Dandanannya ala-ala pejabat wakil rakyat. Laki-laki itu duduk di beranda rumah yang merangkap ruang tunggu tamu yang mengantri untuk berkonsultasi dengan Mbah Gondrong.


"Calon anggota perwakilan rakyat, dia meminta dibukakan aura. Simpatisan yang ingin diraih suaranya adalah ibu-ibu di pasar." Denok menjelaskan tanpa diminta. Karena melihat wajah Dasen yang penuh tanya.


Dasen menganggukkan kepala. "Eh, sebentar. Aku lupa." Dasen beringsut dari duduknya, menghampiri Rudi yang tidak berada jauh dari mobilnya.


"Pak Rud, tolong turunkan gulanya."


Driver setianya itu lantas membuka bagasi mobil, mengambil karung berukuran 50kg lalu memanggulnya di pundak.


Denok mengernyitkan keningnya. Jika itu beras mungkin bukanlah hal yang aneh. Tapi jelas di depan karung putih itu tertulis 'GULA' dengan keadaan karung yang masih tersegel rapi.


"Aku bingung harus membawa apa, kata Pak Rudi orang yang datang ke orang pintar biasanya membelikan gula. Jadi hanya segitu yang aku beli kali ini."


Denok menepuk jidatnya, sembari mengantar Rudi masuk ke dalam rumah, melewati tamu yang datang tadi begitu saja.


Rudi diminta meletakkan gula itu di tempat tidak jauh dari Mbah Gondrong sedang bersila. Sekar dan Zain sudah diberi tanggal yang cocok. Tapi obrolan belum selesai, karena Sekar dan laki-laki itu ternyata berasal dari desa yang sama.


"Apa itu, Nok?" tanya Mbah Gondrong pada anaknya.


"Ini gula, Pak. Yang membawa dia." Denok menunjuk ke arah Dasen yang baru menyusul di ambang pintu.

__ADS_1


Mbah Gondrong melihat Dasen dengan tatapan menyelidik, dari atas hingga ke bawah.


__ADS_2