Hot Family

Hot Family
Maju mundur hubungai Ai-Zain


__ADS_3

Senja sengaja berdiam diri sejenak. Tidak langsung menjawab, karena ingin memilih kata agar tidak sampai menyakiti hati Airin.


"Sebelumnya, Mama minta maaf ya Rin. Apa yang akan Mama sampaikan ini, tidak mengurangi sedikit pun rasa sayang Mama sama Airin. Sekalipun, Mama ini orang yang melahirkan Zain. Semua keputusan tetap ada di tangan Zain." Senja menatap Airin dengan lembut.


"Jujur, kami ragu, Ma. Zain dan Airin sama-sama tidak yakin sekarang. Cinta ini besar, tentu saja kami ingin saling memiliki. Bukan kematian yang kami takutkan, tapi bayangan mewariskan penyakit pada keturunan membuat kami takut melangkah maju," ucap Zain, matanya begitu sendu.


Senja menatap lembut wajah anak pertamanya itu, matanya kini berkaca-kaca. Dadanya mendadak begitu sesak. Karena seolah anaknya itu tidak bisa terlepas dari kata Kanker dalam hidupnya.


"Jika papamu masih di sini. Tanyakan pada dia, apakah cinta harus memiliki? jawabannya pasti tidak. Papa Rafli, rela melepaskan Mama begitu saja. Dengan cara yang bisa dikatakan jahat dan kejam. Demi apa? demi kesembuhan Zain. Demi melihat Zain hidup." Senja menyeka air mata yang terus membasahi pipinya tanpa henti.


Seolah seperti sedang menyiram luka dengan air garam. Perihnya menusuk hingga ke tulang. Tidak hanya bagi Senja, tapi juga bagi Zain.


Anak laki-laki pertama Senja itu, seketika menidurkan kepalanya di pangkuan sang mama. Pundaknya bergetar karena menahan sedih yang tiba-tiba menyeruak.


"Jika kalian ragu, jangan mengambil keputusan. Pikirkan kembali semua. Tidak perlu terburu-buru. Cinta yang berbalas seharusnya saling memiliki, tapi kadang keadaan memaksa kita untuk melepaskan. Merelakan itu sulit. Terpaksa di awal, tapi dalam perjalanannya kalian akan terbiasa."


"Kami harus bagaimana, Ma?" tanya Arini dengan tatapannya kosong menerawang jauh.


"Kalian sendiri yang tahu jawabannya. Jika pertimbangan kalian adalah keturunan, pikirkan saja apa yang sudah papa Rafli lakukan demi kamu Zain. Pahit dan sakit sedalam apa yang sudah papa kamu rasakan. Jika dia egois, pasti kita sudah tidak akan bertemu." Senja memegang kedua pipi anaknya, lalu mengangkat wajah itu hingga dia bisa melihat betapa dalamnya kesedihan yang tersirat melalui mata.


"Zain, takut Ma. Bagaimana kalau salah mengambil keputusan." ucapnya.


"Mama tidak tahu, kenapa tiba-tiba kalian ragu seperti ini. Tapi mama pastikan, Dari segala luka yang kita rasakan, sakit yang paling menyayat dan berat adalah saat melihat anak kita lemah tak berdaya, tapi kita tidak punya kuasa untuk melakukan apapun."


Zain menggelengkan kepalanya, kini wajah sedih, khawatir dan lelah mendiang papanya terlintas jelas dipikirannya. Wajah itu kerap dilihatnya sejak Zain dinyatakan mengidap kanker, harus kemoterapi dan melakukan berbagai pengobatan.


"Mama tinggal dulu, ya. Jangan buru-buru. Bicarakan berdua, jangan mengambil keputusan sepihak." Senja merengkuh pundak Zain, lalu mengajaknya berdiri bersamaan.


"Satu hal yang harus kalian ingat, sesuatu yang belum terjadi memang seringkali terlihat menakutkan dan mengkhawatirkan. Sering kali kita merasa tidak mampu untuk menjalani. Tetapi percayalah, seberat apapun takdir yang datang, hadapi dan jalani. Ikhlas itu tidak akan datang kalau kalian terus merutuki diri dan hanya jalan di tempat." Senja tersenyum sekilas, lalu meninggalkan Zain dan Airin berdua di kamar.

__ADS_1


"Aa, ke rumah bunda dulu saja ya, Ai. Besok kita bicarakan lagi." Zain hanya mengecup kening Airin sekilas, lalu langsung keluar dari kamar calon istrinya itu.


Laki-laki itu melangkahkan kakinya ke luar rumah. Masuk ke dalam mobil Tesla keluaran terbaru berwarna hitam, lalu langsung mengendarainya dengan kecepatan sedang.


Sampai di rumah calon mertuanya, Zain tidak bisa menyembunyikan raut wajah bimbang berbalut kesedihan.


"Tumben sudah pulang, Zain?" tanya Lena.


"Nanti ke kampus lagi, Bund. Ada janjibsama dosen." Zain mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya, karena sembari melamun, dia tidak merasa kalau gelasnya sudah penuh. Air pun tumpah kemana-mana. Mengaliri meje lalu menetes ke lantai.


"Zain!" teriak Lena, segera menyambar kendi kuno berbahan tanah liat dari tangan Zain. "Kamu ini, mikirin apa? kenapa nuang air saja sampai tumpah-tumpah." perempuan itu segera mengambil lap dan kain pel untuk membersihkan tumoahan air.


"Maaf, Bund. Maaf." ucap Zain, merasa sangat tidak enak.


Zain mengambil kain lap di tangan calon mertuanya, lalu mengepel lantai hingga keramik di sana kembali kering.


"Apa yang mengganggu pikiranmu, Zain?" Lena kembali bertanya pada Zain.


Zain sudah pasti berbohong, karena dia tidak terbiasa berbagi apa yang dirasakannya dengan orang lain, kecuali pada Senja dan Airin.


"Ya sudah, Kamu istirahat saja. Ke kampus jam berapa? Jadi kalau ketiduran, Bunda bisa membangunkan."


"Jam lima, Bund. Terimakasih sebelumnya." Zain melempar senyum santunnya, lalu segera masuk ke kamarnya.


Rumah Airin sangat nyaman, meskipun tidak semewah rumahnya. Selalu lengang dan tenang karena setiap hari Rasyid masih bekerja, Zain pun hampir malam hari saja di rumah ini. Sehari-hari, Lena menyibukkan diri dengan mengurus rumah dan tanaman-tanamannya untuk membunuh kesepian.


****


Kini Senja sudah berada di dalam kamarnya. Dia mengganti baju yang dipakainya tadi dengan daster rumahan seperti biasa. Merapikan ikatan rambut, lalu menghampiri Derya di kamar anak itu.

__ADS_1


"Bagaimana ujianmu, Der?" tanya Senja, sembari duduk di tepian ranjang.


"Lancar,Ma. Semua yang diujikan, sudah Der pelajari dan Der ingat dengan baik."


"Mama tiduran di sini, boleh?" Senja menepuk-nepuk springbed Derya.


"Boleh dong, pasti Daddy masih di tawan Beyza," tebak Derya sembari sedikit terkekeh.


"Biarkan saja. Mama memang kepengen ngobrol santai sama Derya."


"Ngobrol apa, Ma?" tanya saudara kembar Beyza itu tanpa menoleh. Matanyamasih fokus pada buku tebal di depannya.


Belum sempat Senja menjawab, Dasen terlihat masuk ke dalam kamar Derya juga. Anak itu langsung menghempas tubuhnya di atas ranjang juga.


"Di cari-cari, malah rebahan di sini," gerutu Dasen.


"Kalau rebahan di kamar Das, Mama tidak nyaman. Temannya keluar masuk terus," sahut Senja dengan cepat, kecemburuan perhatian Dasen sangat tinggi. Levelnya di atas Beyza.


"Ma, nanti malam tidur sama Das, ya?" tanya anak itu tiba-tiba.


"Sudah mau 17 tahun, Kak. Malu sama gayanya." Derya meledek permintaan kakaknya.


"Biarin! kak Zain saja masih suka tidur dipangkuan Mama. Padahal, sudah mau menikah," balas Dasen.


"Halah, bilang saja mau minta sesuatu sama Mama. Hati-hati, Ma. Pasti ujung-ujungnya rayuan biar dimuluskan permintaan." Derya terus meledek kakaknya.


Dasen tidak peduli, nyatanya apa yang diucapkan Derya memang benar adanya.


"Bu Senja! Pak Darren," teriak Wati dari arah kamar utama majikannya sembari mengetuk pintu dengan sangat keras sampai semua yang ada di lantai dua ke luar dari kamar.

__ADS_1


"Ada apa, Wat?" Senja melihat kepanikan di wajah asisten rumah tangga yang dulu juga mengasuh Dasen sewaktu kecil.


"I-itu, Bu ...."


__ADS_2