Hot Family

Hot Family
Menuju hari pernikahan Beyza


__ADS_3

Pernikahan di atas kapal pesiar sungguh tidak sesederhana yang ada dibayangan Genta dan Beyza. Technical meeting yang di adakan lima hari sebelum acara pernikahan, sudah membuat mereka berkata "Astaga! Pantas mahal sekali." Apalagi, kapal pesiar itu disewa secara private, di mana mereka tidak akan berbagi dengan penumpang lainnya untuk melakukan perjalanan dari pelabuhan perak surabaya menuju Pulau Dewata Bali.


Perjalanan melalui bagian dari perairan nusantara itu, harus di tempuh selama kurang lebih dua puluh delapan hingga tiga puluh jam perjalanan. Sesungguhnya bukan waktu tempuh yang ideal untuk seseorang yang tidak dalam kondisi segar bugar. Namun Senja tetap bersikukuh pada keinginannya. Pernikahan adalah moment sekali seumur hidup yang tidak bisa diulang.


Sedari dulu, Beyza selalu berangan-angan ingin melangsungkan pernikahan di atas kapal pesiar. Semua detailnya selalu diceritakan pada sang mama. Tentu Senja tidak ingin meredupkan harapan putri satu-satunya begitu saja.


Sebagai antisipasi, tim dokter pun sudah dipersiapkan. Baik dokter umum, dokter Spesialis Kandungan Senja yang sengaja diundang beserta perawat, sampai dokter Spesialis Onkoligi. Semua lengkap dengan peralatan medisnya.


"Apa semua sudah cukup?" Genta bertanya pada Beyza.


"Sepertinya sudah. Aku deg-deg'an, Kang. Makin ke sini, makin grogi," bisik Beyza.


Genta tersenyum tipis. Sesungguhnya dia merasakan hal yang sama. Namun dia tidak mau memperlihatkannya pada Beyza atau pada yang lain.


Rangga yang duduk dekat dengan Sekar dan Zain, menatap calon kedua mempelai teesebut dengan mata yang berembun. Bulir bening berdesakan di pelupuk matanya. Selangkah lagi, usai sudah tugasnya mendampingi Genta. Akan ada sosok lain yang menggantikannya, berada di samping Genta dalam kondisi apa pun.


"Sepertinya cukup. Pastikan saja, mulai sekarang dan terakhir besok, semua tiket pesawat ke Surabaya sudah terkirim. Konfirmasi semua undangan. Pastikan tidak ada miss sedikit pun." Zain mengambil alih mengakhiri meeting terakhir menuju pernikahan putri satu-satunya keluarga Darren Mahendra.


Beberapa saat kemudian ruang meeting itu pun hanya menyisakan Beyza, Genta, Rangga, Sekar, dan Zain. Mereka sengaja tetap di sana, sekalian makan malam bersama.


"Gen, kamu yakin bisa menanggung biaya pernikahan kalian sendiri?" Zain bertanya dengan tatapan tegas yang hangat pada calon adik iparnya tersebut.


Genta menoleh sekilas pada Rangga, lalu membalas tatapan Zain dengan senyumnya yang lembut namun tidak kalah hangat. "Yakin, Kak. Genta masih sanggup. Meski harus menguras tabungan lebih dalam, tapi tidak masalah. Setelah pulang dari Bali, Genta akan bekerja lebih keras." Genta menjawab dengan jujur.


Rangga terkekeh mendengar jawaban Genta. "Bukan hanya lebih dalam, Zain. Habis kayaknya. Sepertinya, kita layak memberi angpao berupa cek dengan nominal sepuluh digit saat pernikahan mereka."


"Tidak-tidak, kan kita sudah menulis di dalam undangan dan sudah kita katakan secara lisan juga. Tidak menerima sumbangan atau kado berbentuk apa pun kecuali doa." Genta menanggapi dengan serius.

__ADS_1


"Doa yang terpenting. Kami menginginkan semua yang datang mendoakan kesembuhan mama. Hanya itu," timpal Bey.


Zain tersenyum bangga pada Beyza dan Genta. "Semoga semua berjalan lancar. Kakak pasti akan doakan kalian."


"Tapi serius ya kalian tidak minta kado dari kami? Mungkin kalian butuh sprei atau gelas set buat isi rumah baru?" Tanya Sekar, disambut tawa tertahan dari Zain.


"Apa? Kenapa Kak Zain mukanya begitu? Di keluarga Sekar, kalau yang nikah saudara memang dikasih kado. Maaf kita ngak sama. Nggak level juga. Mana ada kado kok rumah, mobil sport, tiket bulan madu. Duh, bisa-bisa sawah kami terjual." seloroh Sekar dengan sombongnya.


Rangga mengernyitkan keningnya dengan heran. Sementara Beyza dan Genta yang sudah mulai hapal sikap Sekar hanya bisa bereaksi sama seperti Zain.


"Jangan kaget, Om. Sombong tidak hanya milik mereka yang kaya. Yang biasa kayak kami pun juga boleh sombong . Asal percaya diri dan betah malu." Sekar mengerlingkan satu matanya pada Zain.


Zain mencubit pipi Sekar dengan gemas. Bey menyandarkan kepala di lengan Genta yang langsung menyambut dengan mengacak mesra rambut sang kekasih.


"Astaga! Jomblo gini amat nasibnya," lirih Rangga sembari merangkul kursi di sebelahnya yang kosong tidak berpenghuni.


Di tempat yang berbeda Derya menyempatkan diri mencari kemeja kerja untuk dirinya sendiri. Saat memilih-milih tidak sengaja tangannya menyentuh tangan lembut seseorang.


"Maaf," ucap Derya sembari menatap sosok itu dengan wajah sedikit merasa bersalah.


Sosok itu hanya mengangguk, dia tidak berani menatap Derya. "Tidak mengapa," ucap sosok tersebut.


"Kamu Mecca kan? Anak pak Farhan? Masih di sini?" Derya bertanya dengan tidak sabar.


"Iya, Bang. Adik-adik saya beberapa kuliah di sini."


"Cari kemeja buat siapa? Mau aku bantu carikan?" Tawar Derya.

__ADS_1


"Tidak perlu, Bang. Terimakasih. Adik-adikku nggak rewel kok." Mecca melambaikan tangannya pada pelayan toko. Begitu seorang pelayan mendekatinya, Mecca menunjuk salah satu item dan meminta dicarikan enam potong untuk jenis yang sama.


Derya menyambar sembarangan beberapa kemeja yang tadi sempat dilihatnya. Bersamaan, keduanya membayar di kasir yang bersebelahan. Derya dan Mecca pun keluar dari toko tersebut dengan jeda yang tidak begitu lama.


Enam remaja kira-kira berusia sembilan belasan tahun langsung menghampiri Mecca. Berebut membawakan barang bawaan perempuan tersebut. Sesaat semua berhenti di depan toko, sembari menengadahkan kepala ke deretan resto yng berada satu lantai di atas mereka. Sepertinya mereka sedang memilih resto untuk makan malam bersama.


Mecca sedikit melirik Derya yang nampak heran dengan menggunakan ekor matanya. Salah satu adik Mecca juga turut memperhatikan Derya.


"Abang kenal sama teteh?" Tanya remaja laki-laki itu sembari menepuk sopan pundak Derya.


"Oh...Eh...Iya, Kamu adiknya Mecca? Saya Derya, rekan bisnis Pak Farhan." Derya mengulurkan tangannya dengan ramah.


"Firza," sambut remaja yang menyapanya.


Yang lain ikut memperhatikan saudaranya yang berkenalan dengan Derya, termasuk Mecca.


Mendapatkan kode dari Firza, yang lain pun menjabat tangan dan berkenalan dengan Derya satu per satu. Faisal, Figar, Firman, Fani, dan Fano. Nama itu terlintas begitu cepat. Membuat Derya harus menggunakan daya ingatnya lebih ekstra. Apalagi untuk membedakan Fani dan Fano yang kembar identik.


"Kalian mau makan malam kan? Kebetulan aku juga mau makan. Kalau kalian mau, kalian bisa bergabung denganku. Ada makanan timur tengah yang sangat enak dan pastinya halal. Pasti cocok dengan selera kalian. Jangan merasa tidak enak, aku tidak akan mentraktir kalian. Kita bayar sendiri-sendiri." Derya mengatakan hal itu karena tahu pasti, Mecca pasti akan menolak dibayarkan. Dari sikap yang ditunjukkan dua kali pertemuan, jelas perempuan itu tidak ingin terikat balas budi.


Mecca menatap keenam adiknya satu per satu. Mereka kompak menganggukkan kepala. Sepertinya beberapa dari mereka, memahami maksud terselubung dari Derya. Tentu saja membuat mereka malah membuka jalan.


"Bang, boleh tidak aku sok tahu," bisik salah satu si kembar pada Derya.


"Memangnga kenapa?" Tanya Derya.


"Sepertinya Abang tertarik sama Teh Mecca. Kalau pun iya, tidak masalah. Tapi Abang harus berjuang dengan keras dan sungguh-sungguh," jawab si kembar bernama Fano.

__ADS_1


"Maksudnya?" Derya kembali bertanya. Kali ini rasa ingin tahunya benar-benar sangat tinggi.


__ADS_2