
"Tentu saja serius, Oma," jawab Airin, pelan dan hati-hati.
"Eomma!" dengus Senja dengan lirih tapi sedikit kesal.
Ketegangan terjeda sesaat, karena perawat datang untuk mengganti cairan infus Senja.
Airin mengambil nafas dalam dan menghembuskan perlahan, mencoba menenangkan dan menguatkan hati. Mengingat setiap ucapan Zain yang tadi sudah memberikan tips menghadapi keluarganya.
"Kemala, butuh tenang dan istirahat, Eomma. Jangan bahas apapun dulu," ucap Senja sangat lirih.
"Tapi, Kak ...." ucapan Chun terhenti karena gelengan kepala Bae mengisyaratkan anaknya itu untuk tidak menentang kakaknya.
Perawat kembali keluar ruangan. Berjaga di ruang tengah lantai dua. Sementara Airin aman, karena Senja yang sedang terjaga dengan mata yang kadang hanya terbuka sedikit, membuat Bae dan Chun Cha segan untuk mengorek Airin lebih jauh.
"Sini, Rin. Kamu duduk sini saja." Senja menepuk bagian kosong tepat di samping pinggulnya.
"Iya, Ma," ucap Airin sembari mendudukkan bokongnya perlahan di sana.
Perempuan itu kembali menemukan ketenangan dan mendapatkan kekuatan lebih. Airin menatap Bae dan Chun Cha bergantian dengan ramah.
"Kami sangat menyayangi Zain, sebenarnya tidak masalah, kamu berasal dari kalangan mana. Kami sudah punya cukup banyak uang. Kami hanya takut kamu memanfaatkan Zain untuk mendapatkan pengobatan terbaik," Bae kembali tidak bisa menahan diri.
"Eomma!" Senja kembali mengingatkan eommanya. Kepalanya tidak malah membaik, tapi rasanya kembali berat kalau mereka tetap berada di ruangan yang sama.
"Rin, kamu kembali ke kamarmu. Makan siang, minum obatmu lalu istirahat. Kunci kamarmu, sampai Zain datang jangan keluar kamar." Senja memaksakan dirinya untuk berbicara agak panjang, meaki akhirnya nafasnya terasa sesak. Flu yang melandanya sangat meresahkan. Membuat hidungnya benar-benar tersumbat. Etah sekarang mana yang harus didahulukan. Sakit kepala, flu, atau hati dan pikirannya yang sedang penuh beban.
"Baik, Ma. Airin ke bawah dulu, ya. Mama istirahat." Calon istri Zain itu lalu membungkukkan badannya sedikit sembari melempar senyum pada Bae dan Chun Cha, lalu meninggalkan kamar dengan perasaan yang sangat lega. Pundaknya seperti baru terlepas dari beban batu ratusan kilogram.
******
Beyza dan Derya menapaki anak tangga dengan semangat. Mendengar sepupu mereka datang, tentu membuat hati bahagia. Andai Senja sehat, mereka pasti akan hangout bersama. Sekedar jalan-jalan, nonton, atau nongkrong di kafe.
Saat membuka kamarnya, Beyza langsung menjerit kegirangan, begitu juga dengan tiga gadis lain yang sedari tadi sudah menunggu sembari rebahan sembari memainkan ponsel masing-masing. Ketiganya langsung beringsut dan menghampiri Beyza. Kini, empat gadis itu berpelukan layaknya teletubbies.
"Apakah, aku boleh bergabung memeluk kalian?" goda Derya.
__ADS_1
Empat gadis itu kompak mencebibikkan bibir. Lalu kembali mengambil posisi masing-masing di ranjang Beyza.
"Jangan sok ganteng, Der," cibir Bianca.
"Memang aku ganteng, Bi."
"Ishh, sekarang memang ganteng karena cuman kamu cowoknya. Kalau ada Das, belum tentu. Kalau aku sih suka Das," sahut Baby De.
"Dasar, Kak De. Kalau aku sih suka yang kayak Derya begini. Manis dan keliatan baik-baik." timpal Carina.
Derya senyum-senyum kepedean sembari menjatuhkan bokongnya di sofa single yang ada di sudut kamar Beyza.
"Eh, setelah ini ada temanku mau datang. Tahu mama sakit, dia mau membawakan bubur khusus untuk mama," ucap Derya.
Beyza seketika menatap saudara kembarnya itu. "Jangan katakan kalau dia itu Genta?"
"Memangnya selain Genta, ada lagi yang kenal sama mama?" Derya malah balik bertanya.
Beyza terlihat tidak senang, mendadak dia gelisah. Saudara sepupunya juga cantik-cantik, tentu saja dia khawatir Genta akan tertarik dengan salah satu dari mereka.
"Kamu kenapa, Bey?" tanya Bianca.
Beyza mengambil baju di walk in closet khusus miliknya. Lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan setengah melamun.
"Dasen kemana Der? kok tidak pulang bareng kalian?" tanya Baby De, sedikit heran.
"Katanya sih, pulang bareng Michel. Temennya itu kan kesepian, bokap nyokapnya sibuk mulu. Jadi pulang sekolah, dia seringnya ke sini dulu."
"Cakep, Nggak?" tanya Bianca.
"Oriental, ala-ala appa Hyeon dan appa Eunji," jawab Derya dengan menyebut nama adik Senja yang kembar.
"Owh." Baby De menanggut-manggutkan kepalanya.
"Kalau temanmu yang mau ke sini, cakep gak?" kali ini Carina yang bertanya.
__ADS_1
"Cakep, pinter, dan pekerja keras. Dia lebih senang membantu Omanya di kafe ketimbang keluyuran tidak jelas." Derya seperti sedang mempromosikan Genta.
Beyza keluar dari kamar mandi, mendengar ucapan Derya. Bibirnya menjadi sedikit maju satu senti.
"Mau ke daddy sebentar, sama lihat mama." Beyza keluar dari kamarnya tanpa menoleh lagi.
"Apa Bey masih suka memeluk dadsy Darr?" tanya Bianca dengan mengerutkan keningnya pertanda heran.
"Selalu! itu sudah menjadi rutinitas wajib bagi Beyza."
"Astaga." Bianca dan Carina mengatakannya dengan kompak.
Mereka melanjutkan obrolan dengan seru, saling meledek lalu tergelak bersama. Tapi kedatangan bi Imas, menghentikan keseruan mereka dengan paksa. Makan siang sudah siap, itu artinya mereka harus segera turun.
********
Semua sudah berada di ruang makan, kecuali Dasen dan Senja tentunya. Airin pun ada di sana. Duduk di antara Chun Cha dan Bae. Meskipun tubuhnya sedikit gemetaran, dia berusaha untuk seenang mungkin.
"Der, mana kakakmu?" tanya Darren.
"Katanya nanti pulang bareng Michel, Dad," jawab Derya.
Darren mengeraskan rahangnya, menahan amarah dan kecewa. Kali ini, Dasen sungguh keterlaluan. Sudah tahu mamanya sedang sakit karena terlalu stres memikirkan dirinya. Tapi anak itu masih saja sibuk main-main. Memang sudah saatnya Darren mengambil sikap agak keras untuk Dasen kali ini.
"Kamu bisa masak, Rin?" tanya Chun Cha, tiba-tiba sembari mengambilkan nasi putih lengkap dengan lauknya untuk Aleandro.
Airin menatap Chun Cha dengan lembut. "Tidak bisa, Mi. Bunda tidak mengijinkan Airin melakukan banyak pekerjaan di rumah," jawab Airin dengan jujur.
"Siapkah kamu menjadi istri Zain? dia bukan hanya anak pertama Darren Mahendra, tapi dia juga satu-satunya pewaris RSZ Corp. Kesempurnaan Zain tidak hanya dari segi fisik dan materi, tapi kepribadiannya juga istimewa. Jika kamu perempuan yang biasa-biasa saja, maka perempuan lain akan mudah masuk di kehidupan pernikahan kalian nanti." Bae berbicara tanpa filter. Terdengar menyakitkan, tapi memang apa yang diucapkan itu fakta.
"Airin, tidak akan menjadi perempuan yang biasa saja, Eomma. Airin, memang jauh dari kata sempurna, tapi Airin akan berusaha melengkapi apapun yan menjadi kekurangan dan kebutuhan Aa." Perempuan itu langsung menjawab dengan menatap lembut pada Bae.
Darren terlihat acuh tak acuh dengan cecaran pertanyaan yang ditujukan untuk Airin. Dia memang sengaja tidak ikut campur agar diapun tahu sampai sejauh mana kelayakan Airin mendampingi Zain.
Arham dan Aleandro sendiri malah menikmati makanannya. Pura-pura tidak tahu dan tidak mendengar istri mereka sedang melakukan uji mental untuk calon istri Zain. Seperti sikap laki-laki pada umumnya, kalau memang tidak suka sebaiknya memilih diam.
__ADS_1
Sementara anak-anak malah terlalu asik dengan obrolan ringan mereka. Ada beberapa kursi kosong yang menjadi jarak antara orang dewasa dengan posisi mereka saat ini. Membuat dua kelompok berbeda usia itu tidak saling mencampuri pembicaraan masing-masing, jika tidak sengaja dipanggil atau ditanya.
"Rin?! maaf kalau ini menurutmu sedikit kejam. Tapi apakah kamu pernah berpikir, kalau kemoterapi dan segala pengobatan yang akan kamu jalani itu memakan waktu yang tidak sebentar. Kalaupun kalian menikah, kamu harus menunda kehamilan. Belum lagi kalau ternyata semua langkah penyembuhanmu mengganggu kondisi hormonmu. Bisa jadi kamu tidak bisa hamil. Apa yang akan kamu lakukan? bukankah setiap pernikahan selalu mengharapkan momongan? Apakah kamu sangat egois, hingga mengajak Zain ikut merasakan bebanmu?" Pernyataan dan pertanyaan Bae membuat yang ada di meja makan, kecuali anak-anak, sontak menghentikan kegiatan makannya.