Hot Family

Hot Family
Doa Beyza dan Genta


__ADS_3

"Tuan Dasen, sepertinya tidak paham. Sudahlah. Sultan tidak mengenal dukun, orang pintar dan kawan-kawanya. Uang mereka bisa menerawang segalnya lebih mudah. Tidak ada cenayang yang bisa mengalahkan kesaktian uang" keluh Denok sembari menepuk pundak Rudi, membuat Dasen mengernyitkan keningnya.


Rudi yang rambutnya kini sudah sepenuhnya berwarna putih, hanya meringis karena tepukan Denok.


Sesampainya di restoran khusus beraneka ragam steak, Dasen mengajak Denok duduk di kursi paling ujung ruangan.


"Tuan, kenapa kita tidak makan di warung makan padang saja? Disini pasti tidak ada nasi. Biarpun saya memilih daging tenderloin 500 gram, kalau tidak ada nasi, cacing-cacing di dalam perut saya yang asli Indonesia bagian jawa ini, akan tetap merasa kelaparan," ucap Denok dengan suara pelan.


"Kan karbonya sudah diganti kentang, Nok," sahut Dasen.


"Apa Tuan tidak pernah mendengar kalimat belum makan kalau belum mengunyah nasi ?"


"Tidak pernah! Karena Daddy-ku saja jarang makan nasi."


"Astaga! Bagaimana bertahan hidup tanpa nasi? Kalau kata Bapak, orang yang tidak pernah makan nasi, kemungkinan besar adalah orang sakti. Ckkk... saya kok jadi lebih penasaran sama bapaknya, Tuan. Kesaktiannya pasti tidak main-main. Jangan-jangan dibong ora kobong dicelup ora teles" Denok berdecak kagum sebelum melihat wujud nyata seorang Darren Mahendra.


"Apa itu?" Dasen semakin bingung, karena dia tidak paham bahasa jawa sama sekali.


"Dibakar tidak terbakar, dicelupin ke air tidak basah," jelas Denok.


"Cocok itu. Pak Darren memang begitu. Ra duwe udel malah." Rudi ikut menimpali.


"Apa lagi itu?" Dasen mengernyitkan keningnya lebih dalam lagi.


"Tidak punya malu," jawab Denok, sedikit terkekeh.


"Pak Rud, Das bilangin daddy baru tahu rasa nanti!" ancam Dasen.

__ADS_1


Rudi hanya meringis santai. Jelas-jelas yang dia katakan memang kenyataan. Dia adalah saksi kunci, berapa ra duwe udelnya Darren Mahendra jika berdua saja di dalam mobil bersama Senja.


"Intinya, bapaknya Tuan, memang sakti ya?" Denok sepertinya masih penasaran.


"Daddy-ku sakti sekali. Dia tidak melahirkan, tapi anaknya bisa empat."


Denok sepertinya sedang tidak fokus, atau mungkin memang tidak dapat mencerna kata-kata Dasen. "Ckck... ckck... Bapakku saja cuma punya anak dua. Padahal katanya orang pintar, mungkin pengaruh kebanyakan makan nasi ."


Dasen ingin tertawa lepas, tapi takut Denok tersinggung. Untung saja pelayan datang membawa pesanan mereka disaat yang tepat.


"Nok, kamu yakin tidak pengen kerja di tempat lain. Di kantoran gitu. Yang tidak pakai shift." Dasen kembali memulai pembicaraan disela-sela makan mereka.


"Pengen, Tuan. Tapi saya cuma D3 pariwisata. Saya tidak terlalu pintar masalah pembukuan, neraca laba rugi, laporan bulanan dan lain-lain. Mengoperasikan komputer saya bisa. Tapi sudah tidak paham kalau pakai power point, Microsoft office atau sejenisnya," jawab Denok dengan jujur.


"Kalau kamu mau, aku bisa merekomendasikan kamu di perusahaan mamaku. Asal kamu bersungguh-sungguh, kamu pasti bisa. Sebelum memasuki job desk, kamu akan diberi pelatihan terlebih dahulu. Staf biasa di sana, gajinya juga lumayan besar." Dasen menatap Denok. Sedokit berharap gadis itu menerima penawarannya.


Denok berpikir sejenak, bekerja di hotel adalah impiannya, tapi sudah tiga tahun berlalu, dia tetap saja masih sebagai pelayan. Padahal segala cara dia lakukan, setidaknya, dia juga ingin menjadi seorang supervisi.


Dasen mengernyitkan keningnya karena kembali heran dengan gadis di depannya itu. "Buat apa pakai arah kantor segala?"


"Karena arah kantor sangat menentukan, Tuan. Kata bapak, weton saya ini cocoknya kerja di arah selatan. Kalau bekerja ke arah utara, bakalan seret rejekinya," jawab Denok dengan jelas dan apa adanya.


Dasen menepuk keningnya sendiri dengan keras. Apa yang disampaikan Denok sudah di luar nalarnya. Tapi entah kenapa, dia malah semakin penasaran dengan sosok Denok.


Anak kesayangan Senja itu berpikir dengan keras, dia ingin mencari tahu dan mengenal Denok lebih jauh.


"Nok, bapakmu orang pintar kan? Kira-kira bisa tidak mencari tanggal baik untuk merayakan ulang tahunku?" tanya Dasen dengan konyolnya.

__ADS_1


Kali ini, Denok yang menepuk jidatnya. "Kalau itu, sepertinya tidak perlu bapak saya, Tuan. Saya juga bisa membantu. Tinggal lihat kartu identitas, Tuan. Pasti langsung nampak tanggal baik," jawab Denok dengan sewot.


Keduanya terus berbincang akrab denpgan kekonyolan masing-masing, hingga pertemuan mereka diakhiri dengan janji Dasen yang akan datang ke rumah Denok untuk memesan souvenir. Entah souvenir untuk siapa dan berupa apa, Dasen sendiri tidak tahu. Yang penting ada jalan menuju pertemuan ketiga dan selanjutnya.


.


.


Di sebuah rooftop hotel berbintang lima di negara Aussie, dua orang anak manusia yang sedang dimabuk cinta, sedang saling beradu pandang dan menggenggam tangan dengan rasa sayang.


Mereka adalah Beyza dan Genta. Layaknya candle light dinner sesungguhnya. Gaun malam cantik berbahan satin import warna marun dengan potongan one shoulder off . Tidak ada detail yang menempel di gaun itu. Benar-benar polos. Hanya kalung dengan liontin infinity, pemberian Genta ketika mereka berpisah dulu, yang menghiasi leher jenjang Beyza. Kecantikan Bey, mampu membuat gaun sederhana itu nampak menjadi sangat mewah.


"Aku beruntung menjadi kekasihmu, Bey. Aku berharap. Kamulah cinta pertama dan terakhirku." Genta mengecup punggung tangan Beyza dengan lembut.


Genta tampak sangat tampan, wajahnya yang kalem dan berkharisma, seolah membius mata dan hati Beyza. Gadis itu enggan berpaling ke mana-mana, sejak cintanya tertaut untuk Genta.


"Aku juga beruntung, Gen. Mari kita saling berjanji! Apa pun cobaan kita nanti, kita tidak akan mundur lagi." Beyza melemparkan senyuman yang sungguh mempesona.


Genta berdiri, memutari separuh meja, lalu menundukkan badannya sembari mengulurkan tangan. "Maukah berdansa denganku?"


Beyza seketika mengangguk setuju, matanya tidak lelah memancarkan binar kebahagiaan. Seperti mimpi indah ditidurnya yang panjang. Enam tahun mengunci hati, akhirnya sang pemilik hatinya lah yang membukanya.


Beyza mengalungkan kedua tangannya di leher Genta. Gadis itu tidak canggung saat melakukannya. Begitu juga dengan Genta, dia meletakkan tangannya di pinggul Beyza.


Alunan musik youre still the one milik shania twain, menggerakkan kaki keduanya dengan lembut. Seiring detik berjalan, kepala Beyza semakin tenggelan di dada Genta.


Di tengah rasa bahagia, karena akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali. Terselip doa baik dibenak masing-masing.

__ADS_1


'Ya Allah, jangan buat ini hanya sementara. Aku ingin hubungan ini untuk selamanya. Semoga daddy bisa menerima kami kali ini,' doa Beyza dari dalam hati.


Genta mengecup kening Beyza sedikit lebih lama. 'Ya Allah, lembutkan hati Om Darren. Semoga aku bisa segera meminta izin untuk bisa selalu berada di sisi Bey dengan cara baik-baik. Aku sangat mencintai, Bey. Aku ingin bersama dan memilikinya dengan Ridho-Mu dan juga Ridho kedua orang tua kami, ' batinnya.


__ADS_2