Hot Family

Hot Family
Ketahuan


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Darren membersihkan badannya terlebih dahulu. Sedangkan Senja duduk santai di ruang tamu sembari membaca majalah kecantikan dan fashion milik Beyza.


Ketika isi piring sudah kandas berpindah ke dalam perut. Beyza segera berdiri. "Kang, aku keluar dulu. Sekalian melihat situasi. Jika Kang Genta mendengar suaraku sedang terbatuk-batuk. Segera sembunyi di balkon." Beyza keluar kamarnya dengan wajah yang dibuat sesantai mungkin.


"Sudah selesai video conference-nya, Bey?" tanya Senja sembari menurunkan sedikit majalah yang menutupi wajahnya.


"Su-sudah, Ma." Beyza menjawab sambil berlalu ke dapur.


Darren keluar kamar dengan kondisi yang sudah segar, rambutnya basah. Tidak ada uban yang terlihat di sana, bukan karena belum ada. Tapi Darren menolak tua dengan selalu rutin mewarnai rambutnya dengan warna coklat alami. Begitu halnya dengan Senja.


"Tidur, yuk! Besok Bey kan kerja. Ngobrol-ngobrolnya bisa dilanjut besok-besok." Darren menarik tangan Senja dengan lembut.


"Tidur? Benarkah? Meragukan sekali," sindir Senja sembari meletakkan majalah di atas meja.


Beyza yang hendak kembali, membiarkan dulu kedua orangtuanya bermesraan. Dia berharap keduanya segera masuk ke dalam kamar dan tertidur. Bagaimana pun tidak mungkin Genta berada di kamarnya semalaman.


"Bey, Mama dan Daddy. Tidur dulu, ya. Kamu jangan malam-malam tidurnya," ucap Darren.


"Beres, Dadd." Beyza mendekatkan badannya pada Darren dan Senja. Menyodorkan kening untuk dikecup secara bergantian oleh daddy dan mamanya.


"Good night, sayang." Darren dan Senja kompak mengatakannya, lalu segera masuk ke dalam kamar mereka.


Beyza segera masuk ke dalam kamar, lalu segera menguncinya kembali.


"Aman?" tanya Genta hampir tidak terdengar.


"Aman, tapi tunggu satu jam lagi. Mama suka terbangun kalau mendengar suara pintu sedikit saja. Aku yakin, mereka belum benar-benar tidur. Kita tunggu saja dengan sabar." Beyza menarik tangan Genta menuju balkon yang ada di kamarnya.


Benar dugaan Beyza, Senja dan Darren memang belum tidur. Keduanya sedang asik melakukan sesuatu yang memang rutin dilakukan sebelum tidur.

__ADS_1


Darren dengan posisi berdiri, dan Senja duduk di tepian ranjang, menunduk menikmati sesuatu di mulutnya. Satu tangannya memegangi bagian yang tidak sepenuhnya masuk ke dalam mulut.


Merasa mulutnya semakin mengetat, Senja melepaskan benda keras itu begitu saja, lalu membalik badannya dengan manja.


Seperti sudah bahasa tubuh masing-masing, Darren segera mengarahkan kepemilikannya pada celah sempit di antara dua paha istrinya, erangan dan d3sahan tertahan pun lolos dari mulut keduanya.


Darren mer3mas dua gundukan sintal Senja dengan lembut. Kini, racauan mulai lolos dari mulutnya. Dia semakin mempercepat hentakan pinggulnya. Tidak lama kemudian, desir halus terasa membasahi kepemilikannya, pertanda Senja sudah sampai terlebih dulu. Dia pun semakin semangat memacu. Dua sampai empat kali hentakan, akhirnya rasa yang sudah dinantinya muncul juga.


Lega meskipun agak terengah-engah. Tapi kecelakaan kecil terjadi, saat dia menarik kepemilikannya dari lubang kesayangannya, Darren merasakan pingulnya terasa nyeri.


Senja membalik badannya segera. "Ask, kamu kenapa?" tanyanya begitu melihat Darren meringis kesakitan sambil memegang pinggul kanannya.


"Tidak tahu, Ask. Tiba-tiba nyeri. Terlalu semangat mungkin." Darren dipapah Senja untuk berbaring di atas ranjang.


"Bukan terlalu semangat, Ask. Tapi terlalu sering. Usia memang tidak bisa bohong. Mungkin sudah seharusnya kita mengurangi jadwal pergulatan," ledek Senja sembari memakai bajunya kembali.


"Tidak bisa! Itu tidak boleh terjadi. Punya istri secantik dan seseksi ini, tidak boleh disia-siakan." Darren tetap keukeh, meski wajahnya masih meringis.


"Halal. Jika bukan kamu, aku juga tidak bisa seperti ini. Semakin berumur, kamu semakin membuatku pusing. Kenapa kamu seperti candu bagiku, Ask. Sungguh, jika Tuhan menghendaki. Biar aku saja yang meninggal lebih dulu, aku tidak sanggup jika aku yang kamu tinggal."


"Dan Senja akan menikah lagi," goda Senja. Dia enggan menanggapi dengan serius setiap kali Darren mengajaknya berbicara tentang kematian.


Suaminya itu langsung menatapnya tajam. Darren tentu tidak suka ditinggal menikah lagi, dia tidak akan pernah rela. "Aku akan menghantuimu, jika sampai itu terjadi."


"Kalau hantunya setampan ini, Senja tidak akan takut dihantui. Digerayangi pun mau." Senja masih terus menggoda suaminya.


"Ask... Auwwww...." Darren hendak melakukan gerakan cepat dengan menarik tangan Senja, tapi pinggulnya terasa semakin nyeri.


Sementara itu, di kamar sebelah mereka. Beyza dan Genta masih mengatur napas masing-masing. Ciuman yang baru saja mereka lakukan, sungguh terasa liar daripada biasanya. Hampir saja mereka terlena, untung saja Genta dan Beyza sama-sama teringat pesan Senja.

__ADS_1


"Aku harus segera pulang, Bey." Genta berdiri dan segera kembali masuk ke kamar dengan sedikit salah tingkah.


Beyza buru-buru menyusul Genta. "Sebentar, aku lihat keadaan dulu."


Anak perempuan satu-satunya Darren Mahendra itu membuka pintunya perlahan. Di rasa cukup aman, dia mematikan lampu ruang tamunya.


"Sudah aman." Beyza menarik tangan Genta, lalu menyalakan ponselnya untuk lebih menerangi jalan.


Di saat bersamaan, Senja keluar dari kamarnya untuk membuat air hangat untuk mengompres pinggul Darren.


Melihat dengan samar-samar, ada dua orang berjalan mengendap-endap di ruang tamu. Membuat pikiran negatif Senja bekerja lebih dominan. Dia mengambil kemoceng yang tergantung di jalan menuju dapur. Dengan cepat, tanpa melihat dengan teliti terlebih dulu. Senja memukul kedua orang itu bergantian dengan membabi buta.


Genta dan Beyza sama-sama menahan teriakan. Meski badan mereka sudah remuk karena pukulan. "Ma, ini Bey," lirih Bey, sembari meringis kesakitan.


Seketika Senja menyalakan lampu ruangan. "Astaga, Bey, Gen...." Istri Darren itu menahan suaranya, keberadaan Genta membuatnya cepat memahami keadaan.


"Kang Genta cepat pulang. Aku akan mengatasi ini, sebelum daddy ikut keluar." Beyza mendorong Genta segera ke arah pintu.


"Ask...." Teriakan Darren dari dalam, membuat langkah Genta lebih lebar dari sebelumnya. Dia harus buru-buru pergi, sebelum Darren benar-benar ikut muncul ke permukaan.


"Genta, kangen Mama," lirih Genta, masih sempat-sempatnya berbicara seperti itu meski dirinya sudah berada di ambang pintu.


Senja masih terbengong-bengong, pikiran negatifnya semakin berjalan. Menduga Beyza sudah berbuat lebih dengan Genta.


"Ask...." Teriakan Darren lagi-lagi membuat Senja bingung harus yang mana dulu yang diselesaikan.


"Kamu hutang penjelasan pada Mama, Bey!" Ucap Senja, dengan tegas dan tajam.


Senja melangkahkan kakinya menuju dapur, membuat air panas seperti rencananya semula. Setelah mengunci pintu depan, Beyza buru-buru menyusul mamanya.

__ADS_1


"Ma, Bey bisa jelaskan. Tapi tidak sekarang. Percayalah! Bey tidak melakukan apapun yang mama khawatirkan. Beyza bisa menjaga diri dengan baik. Yang barusan terjadi, itu karena Daddy dan Mama, datang terlalu mendadak. Kalau Bey, tidak menyembunyikan Genta di dalam kamar. Apa jadinya tadi?" Beyza bergelayut manja di lengan Senja berusaha merayu mamanya itu dengan sepenuh hati.


__ADS_2