
"Kamu saja yang bicara, Ask." Senja mendorong Darren maju lebih dekat pada Dasen.
"Di sana saja." Darren menunjuk sofa panjang di sudut kamar.
Senja membiarkan anak dan suaminya berbicara berdua saja, sedangkan dia sendiri memilih ke luar ruangan, turun ke lantai bawah ke tempat di mana Sekar dan Zain berada.
"Das, Daddy minta maaf. Untuk kali ini, Daddy harus mengatakan, kalau Daddy dan mama, tidak berkenan kamu meneruskan hubungan dengan Denok." Darren memulai pembicaraan keduanya dengan hati-hati.
"Kenapa masa lalu Daddy, seperti menjadi penghalang bagi hubungan kami. Dulu, Bey. Dan sekarang, Das," sungutnya dengan raut wajah kesal.
Darren melipat kedua tangannya di depan dada. "Beda kasus, Das. Beda masalah, tentu saja akan beda penyelesaian."
"Bukankah hanya masa lalu. Daddy yang berbuat dengan ibunya Denok. Kenapa harus kami yang tidak boleh berhubungan?"
Dasen yang memang sangat kritis, tentu saja bisa terus mempertanyakan keputusan daddy dan mamanya. Jelas dia tidak bisa menerima begitu saja.
Darren menatap Dasen dengan tajam, seperti bercermin saat dia seusia anaknya itu. Darren juga tidak mudah menerima larangan Mahendra juga Sarita begitu saja. Selalu saja ada sanggahan yang dilontarkan.
"Itu kenakalan laki-laki dewasa yang lumrah, Das. Bukan hubungan percintaan yang tulus dan terikat secara hati. Daddy membeli Erika, setelah itu urusan selesai. Tapi dia selalu terobsesi dengan Daddy." Darren begitu terbuka pada Dasen. Anaknya itu sudah paham semua hal. Tidak ada gunanya menutup-nutupi.
"Itu sepela, Dadd. Kalian sudah hidup masing-masing. Bahkan Daddy dan mama luar biasa mesra sampai sekarang. Lalu apa masalahnya? Yang menjalin hubungan Dasen dan Denok. Jika kalian tidak menyukai ibunya. Ya sudah, jangan bertemu dengan dia. Sesederhana itu." Dasen kembali menentang Darren dengan logikanya.
"Jika kamu hanya ingin sekedar pacaran dan senang-senang. Jelas ucapanmu masuk akal. Tapi saat kamu serius menuju pernikahan, apa kamu pikir, daddy dan mama tidak akan melamar Denok? Lalu kami bertemu ibunya yang masih sangat penasaran dengan Daddy? Itu memalukan Das, sangat tidak pantas," tegas Darren.
__ADS_1
"Dadd, biarkan Dasen menjalani dulu. Jika memang Denok baik untuk Das, apapun alasannya, kami akan tetap berjalan. Please, Dadd, alasan kalian sungguh tidak bijak. Yag menjalin hubungan adalah Denok dan Dasen. Kalian bisa pura-pura tidak saling mengenal."
Pemikiran Dasen, sudaqq sedikit terpengaruh oleh kehidupan barat. Di mana pernikahan tanpa melibatkan kedua orangtua bisa dianggap sesuatu yang lumrah.
"Tidak, Das. Jika kamu tidak menghargai Daddy dalam hal ini, Daddy akan terima. Karena semua berawal dari kesalahan masa lalu Daddy. Tapi bagaimana dengan mamamu? Apapun keputusanmu, pertimbangkan perasaan Mama Nja. Ingat! jauh sebelum orang lain mencintai dan menerimamu apa adanya. Mamamu lah yang sanggup melakukan apapun untuk kamu," ucap Darren panjang lebar. Tatapannya dalam tapi hangat.
"Das, sangat menghargai Daddy dan Mama, di atas segalanya. Dengan memilih Denok, sama sekali tidak mengurangi rasa hormat dan sayang Das pada kalian." Dasen membalas tatapan tajam Darren tanpa rasa canggung.
"Jadi intinya, kamu akan tetap menjalin hubungan dengan Denok?" Darren berdiri sembari memasukkan tangannya ke kantong celana.
"Das, akan menjalani lebih dulu. Biarkan Dasen menjalani proses hubungan Dasen. Satu hal yang pasti, Das tidak akan melibatkan kalian dalam setiap urusan Dasen. Lagipula, kalau dulu saja mama bisa menerima Genta, kenapa tidak bisa menerima Dasen. Padahal mama selalu mengatakan, seorang anak keturunan penjahat belum tentu juga menjadi penjahat." Dasen turut berdiri melangkah di belakang daddynya.
Darren hanya terdiam. Bisa saja dia lebih keras dari sekarang, tapi malah akan membuat jarak hubungannya dan Dasen akan terbentang. Anaknya juga tidak sepenuhnya salah jika menentang.
Senja pun tidak salah, setiap orangtua, pasti menginginkan anaknya berjodoh dengan pasangan dari keluarga baik-baik. Seperti halnya Darren yang masih tidak ikhlas dengan hubungan Genta dan beyza.
Darren menggelengkan kepalanya, dasen pun meninggalkan kamar tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.
Senja masih di ruang tengah, dia sedang membicarakan seserahan yang akan mereka bawa saat datang ke rumah Sekar dua hari lagi. Zain sebenarnya ingin semua seserahan diurus Sekar sendiri. Tapi Senja menolak. Alasannya selalu sama.
"Kalau seserahan dibeli sendiri sama pihak perempuan, kesannya akan sangat berbeda." Kalimat itulah yang selalu diutarakan oleh Senja ketika dia ingin memutuskan membelikan sendiri semua seserahan yang diminta.
"Ma, kenapa tidak beli di Jogya saja, kan lebih tidak repot bawanya," ucap Zain.
__ADS_1
Senja tersenyum. "Siapa bilang Mama beli di sini. Memang beli Jogya. Ada yang mengurus di sana. Mama hanya memberi instruksi saja dari telepon pintar ini." Senja menunjuk ponsel di genggaman tangan kirinya.
"Mama yakin berangkat bareng kita besok?" Zain masih belum yakin kalau Senja benar-benar ingin mempercepat urusan yang menyangkut pernikahan Zain.
"Iya, bulan depan kurang menghitung hari. Bey akan langsung menggantikan, Mama. Setelah pernikahan kalian. Mama ingin keliling Eropa menggunakan kapal pesiar bersama daddymu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa mengurus diri masing-masing. Kini saatnya mama, benar-benar menghabiskan waktu bersama daddy."
Jawaban Senja membuat Zain dan Sekar tersenyum. Keduanya memang mengidolakan keromantisan dan keharmonisan Senja dan Darren. Meskipun sesekali ada selisih paham dan tidak jarang berujung pertengkaran hebat, tapi pantang keduanya mengucapkan kata cerai.
"Bey, kenapa tiba-tiba mau pulang, Ma?" Zain yang belum tahu menahu sedikit penasaran. Karena selama ini, adik perempuan satu-satunya itu, sangat enggan pulang ke Indonesia.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri," Senja menjawab sembari meninggalkan Zain dan Sekar, Melangkahkan kaki menuju kamarnya di lantai dua.
Saat masuk ke dalam kamar, Senja melihat suaminya sedang berbaring sembari memainkan ponselnya di atas ranjang.
"Bagaimana, Ask?" Senja langsung bertanya.
"Kamu mengenal Dasen lebih baik dariku, Ask."
Jawaban Darren sebenarnya tidak mengejutkan lagi. Senja sudah menduganya. Jelas alasan mereka melarang hubungan Dasen dan Denok, bukanlah alasan yang kuat. Lebih pada ketidaksukaan mereka secara pribadi.
"Sudahlah, suka-suka dia, dan Senja pun akan bersikap seenaknya hati Senja. Anak-anak sudah dewasa, dulu mikirnya bakalan tenang. Karena sudah tidak tergantung sama kita lagi. Makin mereka mandiri dan bisa semuanya sendiri, malah semakin membuat jantungan. Yang satu masalahnya apa, yang satu lagi apa," keluh Senja sembari menghempaskan bokongnya di atas ranjang.
Darren beringsut dan mengganti posisi badannya dengan setengah duduk. Dia mengusap lembut punggung sang istri. "Sabar, Ask. Mereka mempunyai pendapat yang harus kita hargai juga."
__ADS_1
"Senja tahu, tapi Senja juga mempunyai pendapat. Jika Dasen memilih Denok. Dia harus siap, jika Senja tidak akan peduli lagi apapun tentangnya."
Darren menarik napas begitu berat. Memang Senja di hal-hal tertentu jauh lebih keras darinya. Jika Darren bisa dilembutkan hatinya oleh Senja, tidak demikian sebaliknya.